Orang Bajo Suku Pengembara Laut; Pengalaman Seorang Antropolog

comments 2
Buku

orang-bajo-copy

Judul: Orang Bajo Suku Pengembara Laut; Pengalaman Seorang Antropolog
Penulis: François-Robert Zacot
Penerjemah: Atika Suri Hanani
Tebal: 482 hal
Penerbit: KPG – EFEO – Forum Jakarta Paris (2008)

Setiap hari kisah orang-orang Bajo berlangsung di depan mata kami…

Buku ini adalah kisah perjumpaan seorang antropolog dengan suku Bajo yang tinggal di Pulau Nain (di utara Manado) dan Torosiaje (Gorontalo). Lebih jauh dari itu, buku ini juga merupakan rekaman jujur mengenai perjumpaan dan dialog antara manusia dari dua kebudayaan yang berbeda.
Sekalipun menggunakan gaya penceritaan yang personal (aku – sudut pandang orang pertama), berbagai catatan mengenai cara hidup dan deskripsi tempat tinggal orang Bajo jauh dari kesan dramatis dan malah menghilangkan pertanyaan klasik mengenai subyek dan obyek dari benak kita. Si “aku” yang datang jauh-jauh dari Prancis bukanlah aku-yang-mengamati tapi aku-di-dalam kalian atau aku-yang-ada-karena kalian.
Sejak halaman pertama kita diajak masuk ke dalam perenungan semacam itu. Gaya penceritaan dalam catatan pengalaman François-Robert Zacot ini berhasil mengajak pembacanya menangkap tujuan etnografi, yakni perluasan pengertian tentang “kemungkinan-kemungkinan yang ada pada manusia (human possibilities) melalui studi tentang bentuk-bentuk kehidupan lain”.

Menurut pengakuan François-Robert Zacot sendiri, gaya penceritaan “aku” yang mencampurkan catatan pengalaman pribadi penulis dan deskripsi etnografis dipilih karena masyarakat Bajo baru dapat diteliti dari segi etnografis jika masuk ke dalam masyarakat Bajo dan karena berbagai macam kesulitan selama penulis berada di dalam masyarakat Bajo bukanlah residu penelitian tapi justru bahan yang memperkaya informasi mengenai asas-asas kehidupan masyarakat Bajo (hal. 10).

Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa dalam buku ini kita kerap menjumpai catatan-catatan yang tergolong “ajaib” seperti catatan mengenai pengalaman François-Robert Zacot mengenakan sarung dan diintip anak-anak Bajo (hal. 37), sikap bungkam dan berbelit-belit orang Bajo ketika ditanya mengenai sejarah mereka (hal. 303), kejengkelan atas sikap orang Bajo yang suka meminta barang apapun yang ada di rumah François-Robert Zacot (hal. 288) atau julukan-julukan yang diberikan François-Robert Zacot kepada beberapa individu.

Beberapa kali saya terpaksa menutup buku karena tertawa keras-keras, tapi juga dalam waktu yang bersamaan merenungkan berbagai proses penyesuaian diri yang pernah saya alami selama ini, terutama pengalaman terkini saya di Papua. Menjadi tidak jelas kemudian, siapa yang saya tertawakan; François-Robert Zacot atau saya sendiri.
Semua deskripsi “ajaib” itu bukan ditulis tanpa alasan atau sebagai hiasan semata. Mengenakan sarung dan diintip anak-anak adalah bagian dari proses penyesuaian fisiologis yang dijalani François-Robert Zacot. Hidup di dalam masyarakat bahari Bajo berarti harus membuang jauh-jauh ruang privat. Masyarakat Bajo tinggal di dalam rumah yang didirikan di atas laut dan sebagian kecil di dalam leppa (perahu kecil) (hal.128). Selain kehilangan ruang privat karena rumahnya selalu didatangi orang-orang Bajo, François-Robert Zacot sampai ikut mengalami sendiri dampak dari kurangnya interaksi dengan daratan, kakinya lemah karena kurang bergerak dan merasa asing saat menginjak daratan.
Ungkapan kejengkelan François-Robert Zacot pada sikap bungkam dan berbelit-belit orang Bajo merupakan warna manusiawi yang dibubuhkan François-Robert Zacot dalam pembahasan mengenai cara pandang orang Bajo terhadap dunia. Sejarah orang Bajo diwarnai perpisahan yang menyakitkan dengan daerah asal mereka. Butuh waktu lama bagi François-Robert Zacot sebelum akhirnya dia berhasil mendapatkan cerita rakyat Bajo yang memberi petunjuk atas misteri asal-usul orang Bajo (hal. 215). Selain itu sikap bungkam, salah satu petunjuk menarik mengenai asal-usul dan sikap orang Bajo memandang dunia adalah pantangan orang Bajo untuk menyebutkan “timur” dalam arah mata angin (hal. 382, 392).

***

Tidak lama setelah selesai membaca buku ini, saya melihat tayangan mengenai orang Bajo di sebuah acara di stasiun televisi. Sang pembawa acara (yang biasanya mewakili karakter anak muda Jakarta masa kini), menjelaskan cara hidup orang Bajo sambil tertatih-tatih melewati jalanan kayu di kampung orang Bajo. Dengan penuh rasa takjub, pembawa acara dan kamerawan acara itu menyorot kebiasaan perempuan-perempuan Bajo yang mengenakan bedak tebal di wajah mereka. Seperti acara televisi lainnya, liputan atas orang Bajo itu singkat saja dan berkali-kali disela tayangan iklan.

Ada ajakan untuk mengenal berbagai macam budaya di Indonesia melalui tayangan tersebut, tapi bentuk perkenalan macam apa yang sebenarnya hendak dianjurkan bagi para pemirsa televisi? Jangan-jangan kita sedang meniru sikap orang Eropa yang terheran-heran dan tertawa melihat orang dan gaya hidup Jawa atau Batak pada pameran-pameran kolonial yang kerap diadakan pada akhir abad 19 di Eropa.

Selama beberapa abad, masyarakat Bajo berkembang sebagai masyarakat yang menumpukan nasib dan daya hidup mereka pada cara hidup maritim mereka. François-Robert Zacot melakukan penelitian tepat pada saat ketika cara hidup maritim mereka tersebut berada di dalam ambang perubahan, ketika rezim Orde Baru sedang mengkonsolidasikan kekuatan mereka. Semua perbedaan masyarakat harus disingkirkan demi kepentingan keutuhan bangsa dan pembangunan nasional. Bentuk-bentuk pemerintahan adat dan lokal yang tidak bisa mengakomodasi kepentingan pusat untuk sentralisme harus minggir. Maka demikianlah François-Robert Zacot terheran-heran melihat alat pengeras suara yang mengumandangkan berbagai macam instruksi untuk masyarakat Bajo di Torosiaje. Cara hidup maritim masyarakat Bajo pun dipandang sebagai bentuk tindak subversif karena menolak untuk hidup menetap di darat.

Pada buku versi Indonesia yang terbit tahun 2008 ini, François-Robert Zacot mengingatkan para pembaca akan kenyataan dan masalah jati diri yang kini dihadapi masyarakat Bajo (hal. 13). Paksaan untuk hidup di darat, desakan agama atas adat istiadat orang Bajo, dan serbuan media massa yang mengekspos gaya hidup mereka, membuat masyarakat Bajo seolah menyaksikan dan merelakan jati diri mereka hilang secara perlahan-lahan. Sementara, di sisi lain Indonesia, di sebuah kamar atau ruang makan, kita menikmati tayangan di televisi mengenai orang Bajo.
Orang Bajo bukan satu-satunya masyarakat di Indonesia yang sedang mengalami pengikisan jati diri. 30 tahun pemerintahan yang sentralistik dan mengutamakan deru industri telah membuat orang orang Bajo, Dayak Kadori di Kalimantan, Orang Rimba di Riau, orang Amungme dan Kamoro serta tujuh suku lainnya di Mimika, terpaksa meninggalkan masa lalu dan menanggalkan jati diri mereka dengan sangat menyakitkan.

Saya jadi sedih membaca ajakan François-Robert Zacot yang dia tulis di halaman kata pengantar. Karena jangankan berpikir untuk memandang semua masyarakat di Indonesia sebagai warisan berharga sejarah dan kemanusiaan Indonesia, memandang mereka “yang lain” tanpa prasangka saja kita masih kesusahan. ***

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

2 Comments

  1. wikra says

    bagaimana caranya saya bisa mendapatkan buku ini.
    saya tertarik untuk membacanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s