Oliana!!!

comments 3
Papua
Oliana Omaleng

 

Di Papua aku tidak banyak berpikir soal hantu. Ada beberapa pengalaman “kehantuan”  memang yang kualami, seperti kaki ditarik mahkluk hijau besar di Hotel Serayu dan lihat orang gemuk pake celana kolor lewat kamarku. Keduanya dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar.

Di Aroanop aku mendengar beberapa cerita soal Suanggi dari anak-anak. Tapi selebihnya alam Papua tidak membuat aku banyak berpikir soal hantu.

Sampai di suatu sore yang damai sepulang kerja. Aku baru saja berganti pakaian dan nonton TV di ruang tengah. Reza lagi di kamar. Romo kalau tidak salah sedang ke Yogyakarta. Hujan deras di luar.

Kalau tidak salah aku lagi terpaku nonton siaran berita dan sedang berbicara dengan Reza yang masih ngendon di kamar. Tiba-tiba di sudut pandanganku aku menangkap sesosok makhluk kecil berwarna hitam. Apa itu? Batinku. Biasanya aku seperti kalau melihat cicak yang merayap di tembok kamar. Pandangan seperti itu biasanya disertai dengan desiran di hati. Lebih tepatnya seperti jarum jam yang berhenti pas di jam 12 dan baterenya habis. Deg!

Mahkluk hitam itu berdiri di ujung sofa di dekat pintu rumah. Nyata sekali. Akhirnya aku punya cerita melihat hantu! Hantu! Eh, tuyul ding, tepatnya. Tuyul! Perasaanku sama persis seperti yang digambarkan orang-orang yang melihat hantu. Berhenti tercengang kaku dan lemas secara bersamaan.

Setelah beberapa saat dalam keheningan, aku berhasil meraih kesadaranku dan langsung teriak keras-keras, “…Aduh, Yuliana..kalau masuk rumah bilang permisi dulu…”

“Tuyul” itu ternyata Yuliana. Anak kecil yang tinggal di rumah sebelah. Nama lengkapnya sebenarnya Oliana Omaleng. Aku baru tahu setelah dia muncul di depan rumah beberapa hari kemudian dengan kaos bergambar foto dirinya dan tulisan Oliana Omaleng di bawahnya. Oalah…Oliana…Oliana…

Hebatnya Oliana tidak kaget mendengar teriakanku. Bahkan ketika aku sampai jungkir balik di sofa untuk membuang kekagetanku. Benar-benar jungkir balik dengan kepala di bawah. Reza sampai kaget mendengar teriakanku dan melihatku jungkir balik di sofa.

Oliana cuma diam saja sambil memegang bajunya yang basah di tangan kiri dan permen di tangan kanannya. Duh. Setelah puas jungkir balik aku meminta dia memakai bajunya yang basah biar tidak masuk angin.

“Hush, diam, cerewet kamu..” bentakku halus padanya ketika dia tanya apa itu masuk angin dan siapa orang di foto anak-anak Kamoro di Potowayburu yang aku pasang di atas TV.

Setelah pakaiannya selesai kupasangkan dan ternyata terbalik, dia langsung memborbardirku dengan banyak pertanyaan, “mana temanmu?” (Romo maksudnya), “Ini siapa?” (Gambar Bunda Maria yang dia tunjuk).

“Ini Bapa Yesus pu mama…” balasku sambil memberikan gambar itu padanya. Eh malah tanya lagi, “namanya siapa?”

“Bapa Yesus pu mama nama Maria.” Duh Bunda Maria inikah caramu mengingatkanku untuk ikut doa Rosario, batinku saat itu sambil teringat email-email undangan doa Rosario yang tidak pernah aku gubris.

Kunjungan Oliana selalu seperti itu sudah. Selalu banyak pertanyaan dan keingintahuan. Tapi baru sekali itu dia bikin kaget orang.

Setelah semua permennya habis dan gambar Bunda Maria berpindah tangannya, sepertinya Oliana sudah merasa selesai dengan kunjungannya. Mungkin juga dia sudah tahu kalau Mamanya mencari.

Aku mengantarkan Oliana ke halaman rumah. Hujan deras sudah berhenti. Hanya gerimis kecil. Oliana berjalan pelan pulang.”Daa…itu mama ada cari…” balasku ketika dia menoleh dan menanyakan sesuatu hal yang tidak kudengar jelas.

Selamat malam, Oliana. Besok kalau sudah besar jangan suka bikin kaget orang dan  jangan lupa sama Om, ya. Kali itu Oliana yang tidak mendengarku karena aku mengucapkannya dalam hati.

 

 

Akimuga

Leave a comment
Papua
Akimuga

Nama Akimuga (aku lebih memilih menggunakan Akimuga katimbang Agimuga, seperti Kaokanao katimbang Kokonao) sudah aku dengar sejak pertama kali kenal dengan Pak Abraham Timang. Demikian pula sejarahnya yang panjang, sekalipun hanya melalui penjelasan-penjelasan yang membingungkan dari Pak Abraham Timang dan Pak Titus Kemong. Di internet dan perpustakaan Kuala Kencana tidak banyak informasi yang aku dapatkan tentang distrik di sebelah timur Timika ini, selain penjelasan singkat mengenai kasus kejahatan dan program-program pemerintah yang dijalankan di Akimuga.

Selama setahun aku di Timika, selalu saja aku tidak sempat ikut perjalanan ke Akimuga. Tapi ada untungnya juga. Karena perjalanan terakhir ke Akimuga diwarnai dengan insiden yang menegangkan, speedboat yang mengangkut tim Biro Pendidikan nyaris meledak. Semua penumpang, kecuali Pak Titus Soway motorist, melompat ke dalam sungai dan demgan segera ditelan kegelapan malam dan kegagapan diri mereka berenang dengan pakaian lengkap.

Kalau aku ikut pasti udah bingung, mau nyelamatin diri atau kamera, atau malah diselamatkan teman karena timbul tenggelam. Kemarin dari helikopter aku lihat sungai yang menjadi jalur ke Akimuga. Panjang sekali. Kalau tidak ada perubahan rencana, sungai itu yang akan aku lalui minggu depan.

Perjalanan akan dimulai dari Kuala Kencana – Timika untuk menjemput teman-teman; Timika – Hiripau, tempat sandar speedboat; Hiripau – (kemungkinan) Amamapare atau mungkin langsung tembak ke Omawita menerobos keluar dari daerah kontrak karya PTFI; Omawita – Otakwa, kalau tidak salah ini sudah mulai masuk daerahnya orang Asmat; Otakwa – Fakafuku; Fakafuku – Kiliarma, kampung pertama dari rangkaian tiga kampung Kiliarma-Amungun-Aramsolki yang legendaris itu.

Semoga dari perjalanan kedua ke Akimuga aku akan membawa lebih banyak cerita. Perjalanan pertama kemarin bukannya tanpa cerita. Ada banyak sekali cerita. Bahkan sebuah cerita yang perlu diketahui semua manusia di Indonesia, bahwa tanah Akimuga pernah dicemari kejahatan militer dan masih terasa hingga kini dampaknya.

Kalau saja aku tidak malas dan pekerjaan tidak banyak pasti akhir minggu sudah bisa kupasang di sini tulisan itu. Tapi aku janji, kawan, akhir minggu ini akan aku selesaikan.

Selalu Ada Jalan Lain

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Current issues / Papua

Sore itu, langit Jila mulai dirundung awan gelap. Hawa dingin mulai datang menyergap. Tapi entah kenapa saya merasa hawa di Jila tidak sedingin di Aroanop dan tidak mengurungkan niat saya untuk berjalan hanya dengan bercelana pendek ke arah sekolah. Mungkin tubuh saya sudah cukup beraklimatisasi dengan hawa dataran tinggi setelah beberapa kali kunjungan ke beberapa tempat di dataran tinggi Kabupaten Mimika.

Tidak jauh dari sekolah yang saya tuju ternyata ada Pak Bambang dan Pak Andre Palambu. Mereka adalah para guru SD Hoya yang baru saja menghabiskan perjalanan dua malam berjalan kaki dari Hoya ke Jila. Mereka sedang duduk-duduk di lima buah batu besar yang tersusun seperti seperangkat meja makan keluarga. Saya langsung bergabung dengan mereka. Tidak lama kemudian, Pak Yohan Zonggonau, kepala Biro Pendidikan LPMAK juga ikut bergabung dengan kami.

Tidak lama kemudian dari arah sekolah datang seorang pria muda. Dia berjalan dengan tenang dan pasti menyusuri jalan setapak di depan SD. Tanpa rasa canggung dia langsung bergabung dengan kami. Pak Bambang dan Andre Palambu ternyata mengenalnya. Pria muda itulah yang menemani mereka dalam perjalanan dari Hoya ke Jila.

Dia ternyata baru pulang dari kebunnya di sebuah desa di selatan Jila. Di kebun miliknya sendiri itu Jakub Dolame menanam berbagai macam tanaman, mulai dari sayuran dan betatas.

Jakub hanya menjawab singkat ketika saya tanya jarak dari tempat kami nongkrong ke kebunnya, “jauh sekali…” balasnya singkat. Ketika saya tanya apakah dia ikut Tes Potensi Akademik untuk penerimaan beasiswa LPMAK tadi siang, dia juga menjawab dengan singkat dan tegas, “tidak…”

Jakub tahu sekali bahwa hari ini akan ada tes penerimaan beasiswa. Teman-temannya di sekolah sudah memberitahunya. Tadi siang rupanya Jakub sedang sibuk di kebunnya. Saya bisa membayangkan dia meneruskan pekerjaannya di kebun setelah sesaat memandang helikopter warna kuning yang kami tumpangi terbang di atas kebunnya. Baru pada sore hari setelah semua urusan di kebun beres dia memutuskan datang ke sekolah.

Jika tidak aral melintang, pada pertengahan tahun ini mereka yang dinyatakan lulus tes beasiswa LPMAK akan dikirim ke berbagai SMA di Jawa dan Sulawesi Utara. Sementara beberapa puluh anak berangkat melanjutkan studi ke luar Mimika, puluhan ratusan bahkan ribuan lainnya tinggal di Mimika dan bergulat dengan kenyataan. Termasuk mungkin Jakub Dolame, yang tidak menyesal karena tidak ikut tes beasiswa LPMAK.

Penerimaan beasiswa LPMAK telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dana komitmen sosial yang disalurkan PTFI, sejak namanya masih dana 1% hingga menjadi dana kemitraan sekarang ini. Sejak itu ribuan anak dari Kabupaten Mimika dibiayai studinya, kebanyakan di luar Kabupaten Mimika.

Namun ternyata seorang Jakub Dolame tidak menyesal karena tidak ikut tes beasiswa LPMAK. Besar kemungkinan masih ada banyak lagi Jakub Dolame yang lain, yang merasa bahwa Jila atau kampung mereka, sekalipun terpencil dan tidak ada listrik, tidak bisa dianggap “terbelakang”, yang merasa tidak harus meninggalkan Mimika untuk mencapai impian mereka. Apakah salah bercita-cita atau menjadi seorang kepala kampung atau petani yang sukses? Apakah semua orang harus jadi dokter atau pilot dan sekolah di Jawa atau Sulawesi?

Dunia pendidikan juga tidak luput dari bias wacana “sifat terbelakang” dan “kemajuan”, bahkan pendidikan adalah produsen utama dan pelestari bias tersebut. Sifat “susah maju” masyarakat Kamoro karena kekayaan alam daerah pesisir dan sifat “keras kepala” orang gunung karena kerasnya kondisi alam adalah salah satu contoh bagaimana pandangan yang bias itu sudah menjadi mitos, diterima begitu saja dan tidak dipertanyakan.

Sedikit sekali orang yang bisa melihat sisi lain karakter masyarakat Amungme dan Kamoro dengan cerdas. Apalagi mereka yang menentukan kebijakan pendidikan nasional di Jakarta sana. Bagi mereka, tidak ada model lain pendidikan di luar standar pendidikan nasional. Tidak ada jalan lain bagi mereka yang ingin “maju” kecuali melalui model pendidikan yang sekarang ini.

Padahal kenyataannya, semakin banyak muncul jalan lain dalam kondisi pendidikan Indonesia dewasa ini, seperti yang ditunjukkan Butet Manurung dengan Sokola Rimba-nya di pedalaman Jambi atau Mas Baharudin di Salatiga dengan SMP Qaryah Thayibah.

Seharusnya Seperti Jan Sochor

Leave a comment
Foto

Jan Sochor

 

Seharusnya seperti ini hasil foto-foto pentahbisan imam Keuskupan Timika beberapa bulan lalu. Banyak sekali sudut pandang dan komposisi bagus yang terlewatkan begitu saja. Padahal cahayanya tidak terlalu terik saat itu, masih pagi. Bedanya mungkin adalah ritme. Arak-arakan di Malaga ini pasti pelan sekali, seperti jalan salib atau passio pada masa Paskah. Sementara arak-arakan pentahbisan imam Keuskupan Timika lebih mirip pesta orang Kamoro dan orang Mee. Saking meriahnya sampai aku sendiri larut hingga nyaris mengikuti gaya jogetnya Mama-mama Kamoro yang rancak itu. Mas Sochor ini pasti punya banyak waktu untuk mengamati dan menentukan komposisi foto.

Anyway, bravo buat mas Jan Sochor, fotografer kelahiran Republik Ceko yang sekarang ulang-alik antara Amerika Selatan dan Eropa.

 

Doa Penulis Gagal Di Hari Ulang Tahunnya

Leave a comment
Tentang kawan

Aku percaya bahwa kata-kata tidak akan pernah mengecewakan aku. Bahwa kata-kata adalah satu-satunya sumber penghidupanku, baik rohani dan jasmani.

Dalam saat-saat tergelap aku kembali menemukan kehidupan dari kata-kata yang Dia tinggalkan di selokan, di bawah kursi warung yang kotor, di jalanan, di ruang tamu yang sepi, dan tuts-tuts komputer yang berdebu.

Dalam saat-saat terbaikku, kata-kata menunjukkan begitu banyak hal yang begitu bisa aku lakukan untuk memuliakan kehidupan dan manusia.

Hanya melalui kedua ruang hatiMu yang aku alami di kehidupan ini itulah aku bisa meraba diriMu dan ikut menjadi bagian dari keIlahianMu, yang bagiku nampak seperti bunga mawar yang tersaput lumpur; karena justru dalam derita Kau menunjukkan diriMu dan dalam kegetiran hidup Kau menemani semua umatMu.

Bahwa penuntun dari jemariku yang menorehkan kata-kata adalah hatiMu yang bekerja melalui semua ciptaanMu, sesamaku yang dina, yang dalam sepi mendengar suara kasutMu namun tak kuasa menumpahkannya dalam kata-kata selain dalam pengharapan sederhana yang terucap lirih.

Aku percaya bahwa kata-kataku adalah perpanjangan dari karya kasihMu, yang senantiasa menawarkan pengharapan dan sebuah alas untuk memasuki pintu hatiMu, bagi siapapun yang membaca atau mendengarnya.

Menaga Nemunki*

Leave a comment
Papua

Menaga Rugby Club

Pada zaman dahulu, semua mahkluk hidup tinggal di dalam perut bumi. Mereka semua hidup tentram di bawah pimpinan Menaga Nemunki (papa Kuskus).
Suatu saat, mereka melihat seberkas sinar menyelinap masuk ke dalam perut bumi dari antara akar-akar pepohonan dan celah-celah bebatuan. Seketika suasana di dalam perut bumi menjadi gaduh.

“Ai, Lau-lau, ko ada lihat itu? Terang sekali” kata burung Mambruk kepada Lau-lau.
”Ada apa di atas sana?” tanya burung kasuari.
”Mari kita pergi lihat,” ajak Lau-lau dan burung Mambruk kepada hewan-hewan yang lain.
”Hei hei, apa-apaan ini? Berhenti sudah,” Menaga Nemunki mencoba mencegah hewan-hewan yang penasaran itu.
“Kitong bahagia di bawah sini, buat apa naik ke sana,” tambah Menaga Nemunki.
“Ah Bapa, kitongss hanya mau lihat ada apa di atassss ssssana,” kata ular sambil berdesis.

Menaga Nemunki tidak berdaya mencegah rasa penasaran akan dunia di atas yang cahayanya masuk melalui akar pepohonan dan celah bebatuan. Yang pertama mencoba adalah burung kasuari, tapi akhirnya dia gagal. Lalu giliran ular yang mencoba. Dia berusaha menyelinap melalui celah bebatuan, tetapi Menaga Nemunki memegang ekor ular dan menariknya kembali hingga terjatuh.

Sedangkan manusia tidak bisa menggali tanpa tidak ketahuan Menaga Nemunki. Badan manusia terlalu besar, sudah pasti akan dengan mudah dilihat Menaga Nemunki.

Tapi ternyata, tanpa sepengetahuan Menaga Nemunki, anjing berhasil membuat sebuah terowongan menuju dunia luar. Terowongan yang dibuat anjing itu cukup besar hingga dapat dilalui semua mahkluk, termasuk manusia.

”Berhenti!” cegah Papa Kuskus. Tapi terlambat sudah, semua mahkluk sudah pergi meninggalkan perut bumi. Sejak itu, semua mahkluk hidup tinggal di atas bumi dengan bahagia.

Semua mahkluk hidup berterima kasih kepada anjing, kecuali Kuskus. Oleh karena itu kini anjing selalu membantu manusia berburu kuskus.

*Dikutip dari Cook, Carolyn Diane Turinsky (1995), The Amung Way; the Subsistence Strategies, the Knowledge and the Dilemma of the Tsinga Valley People in Irian Jaya, Indonesia.
*Legenda asal muasal orang Amungme, pernah dikutip oleh seorang “antropolog” tanpa menyebutkan sumber aslinya dan tanpa memverifikasi ke masyarakat Amungme.

Penembak Misterius di Kaki Gunung

Leave a comment
Current issues / Papua
Jobsite PTFI

Jobsite PTFI

Siapapun pelakunya, rentetan peristiwa penembakan di sekitar areal Freeport ini telah mencapai target mereka; menyebarkan ketakutan. Sejak ditembaknya rombongan Sesko Polhutkam dua hari lalu, suasana jadi agak mencekam. Warga Kuala Kencana yang beraktivitas di Timika, 20 km dari Kuala Kencana, sudah meninggalkan Timika sejak pukul 4 sore. Di siang harinya sempat ada isu penembakan di Kuala Kencana. Ternyata hanya mobil yang melindas botol kosong. Di saat seperti ini memang mulut manusia jadi lebih efektif dan bahkan menyamai kekuatan mulut senapan dalam menyebarkan ketakutan.

Aku sendiri juga jadi ketar-ketir. Kuala Kencana itu kurang lebih sejajar dengan Mile 30-an. Di peta daerah kontrak karya PTFI bisa kamu lihat. Timika berada sejajar dengan Milepost 26.  Penembak misterius itu berkeliaran di daerah antara Milepost 30 hingga Milepost 50-an, daerah perbatasan antara daerah ulayat orang Amungme di pegunungan Jayawijaya dan orang Kamoro di dataran rendah. Bagi masyarakat Amungme dan Kamoro, daerah itu adalah daerah perjumpaan pertama dan selanjutnya menjadi daerah tempat barter antara orang Amungme dan Kamoro. Di tempat itulah para penembak misterius berkeliaran.

Aku bisa membayangkan bagaimana ngerinya naik mobil lewat jalan yang gelap dan hutan di kiri kanan jalan lalu ditembak. Dalam perjalanan pulang dari Ayuka (sekitar 20 km selatan Timika) mobil yang aku tumpangi dengan seorang teman dilempar beberapa “anggota” mabuk yang ingin menumpang. Suaranya keras sekali sampai aku kira mereka menembak. Padahal hanya melempar batu sambil misuh-misuh.  Kami menolak memberi tumpangan karena mereka berenam sementara bagian belakang mobil sudah dipenuhi peralatan fotografi milik kantor. Sebenarnya mobil mau aku hentikan untuk memeriksa kondisi dan, mungkin, balas memaki mereka. Tapi akhirnya aku dan temanku hanya bisa memaki-maki “anggota” mabuk itu sambil menginjak pedal gas dalam-dalam. Suasana sekeliling yang gelap membuat perjalanan jadi terasa lebih menegangkan. Itu baru dilempar batu. Bisa aku bayangkan ngerinya mendengar suara letusan di dalam kegelapan dan mendadak orang di sebelah kita berteriak kesakitan.

Semoga peristiwa ini cepat diungkap dan tidak tertumpuk permasalahan lain lagi. Apalagi setelah dua bom meledak di Jakarta pagi ini.

Maju Lancar Mundur Kena

Leave a comment
Papua

Setelah memastikan pintu rumah terkunci, aku melangkah ke mobil dan menyalakan mesin. Di rumah sebelah, seperti biasa, beberapa mama duduk-duduk, mungkin lagi nggosip. Anak-anaknya Bu Siahaan bermain. Cuaca mendung pagi ini. Jam di hapeku menunjukkan angka 07:35. Saatnya berangkat ke Timika.

Setelah mesin mobil menyala aku menata beberapa kaset yang aku bawa. Hanya satu saja yang bisa aku nikmati, album kumpulan lagu terbaiknya Gin Blossoms. Oke berangkat.

Tiba-tiba kudengar suara teriakan. Tidak jelas urutannya. Suara mama-mama dan suara pria bercampur menjadi satu. Sekilas aku dengar ada yang teriak, “motor!”. Aku langsung mengerem mendadak. Ternyata ada motor yang diparkir pas di belakang mobil, dan kalau aku tadi menginjak gas lebih dalam pasti sudah hancur itu motor.
Posisi motor itu tidak terjangkau ketiga spion yang ada di mobil.

Aku jadi ingat beberapa kejadian seperti ini. Sebelum aku cuti, dua kali aku nyaris melindas orang hanya karena tidak nampak di ketiga spion. Padahal sudah aku lihat baik-baik tiga kaca pembantu penglihatan itu.

Yang pertama di jalan masuk RT 4 setelah aku mengantar Mbak Riri. Di gerbang masuk ada dua anak-anak yang berlarian. Tidak lama setelah aku parkir dan memundurkan mobil supaya pas di depan rumah Mbak Riri, mendadak ada suara “duk!” dan suara teriakan mama-mama. Lalu ada dua anak yang berlari.

Ternyata mereka lari mulai dari ujung jalan masuk RT ke jalan setapak di samping rumah Mbak Riri melintasi mobilku dan nyaris kulindas. Tetangga Mbak Riri yang pemarah itu langsung keluar dan marah-marah. Aku cuma diam aja. Anak-anak itu sama sekali ga kelihatan.

Wajah mereka terlihat bingung. Ketika aku tanya apakah mereka kena tabrak atau tidak, salah seorang di antara mereka bilang “tidak”.

Peristiwa yang kedua pas habis beli makan malam di terminal Kuala. Kejadiannya sama seperti ketika aku nyaris melindas anak-anak. Tapi kali itu di terminal mantan calon korbanku adalah beberapa pemudi.

Bedanya mereka langsung pergi sambil ngomel-omel. Mereka terus mengomel bahkan setelah mereka berjalan beberapa meter dari tempat parkir.

Ada banyak hal yang bisa terlindas, selain motor dan manusia. Bisa saja ada babi atau anjing yang duduk-duduk di belakang mobil. Pokoknya harus hati-hati. Ketiga spion harus benar-benar difungsikan dan dibantu sepasang mata kita. Aku jadi paham sekarang kenapa di Kuala banyak orang selalu mengklakson setiap kali hendak menggerakkan mobil mereka.

Meriahnya Pentahbisan Imam Keuskupan Timika

comments 5
Catatan pertunjukan / Musik / Papua
From Tahbisan Imam

Beruntung sekali aku bisa mengikuti misa pentahbisan Imam pada hari minggu lalu (19 April 2009). Meriah sekali. Kekecewaan karena tidak bisa nonton Karapau di kampungnya Pak Anton di Hiripau agak terobati.

Perarakan dimulai dari halaman SMP St. Bernardus dan berakhir di Katedral Tiga Raja. Jaraknya kira-kira 500 meter. Aku parkir mobil di Gelael di seberang SMP St. Bernardus, yang sudah dipadati beberapa kelompok tari Kamoro. Sementara jalan di depan Gelael ditutup dan diramaikan oleh kelompok kesenian orang Kei.

Perayaan pentahbisan ini memang kental sekali dengan nuansa Kamoro dan Kei. Selain karena dilakukan di Timika, tapi juga karena dua imam yang akan ditahbiskan dari suku Kamoro dan Kei. Sesaat setelah aku sudah di dalam halaman sekolah, di jalan melintas satu mobil pick up mengangkut orang-orang Mee (Ekagi) yang datang jauh-jauh dari kabupaten Paniai. Mereka datang untuk menyatakan rasa hormat kepada orang Kamoro dan Kei yang berkarya di daerah Paniai. Para penari Kamoro sendiri ada yang datang dari Timika dan dari Keakwa, di pesisir timur Mimika.

Kesenian Kamoro ternyata menarik sekali. Ada unsur spontanitas dan vitalitas hidup yang luar biasa di nyanyian-nyanyian mereka. Teriakan pemimpin kelompok sekalipun keras dan lantang sama sekali tidak menyiratkan agresi. Tarian mama-mama membuat banyak orang di pinggir jalan dan para fotografer jadi ikut bergoyang (untungnya saya cukup tahu diri untuk tidak ikutan goyang, hehe).

Formasi tari mereka seperti ini; para penari dibagi dalam empat lajur, dua lajur di bagian dalam adalah para pria yang membawa panah menyanyi dan menari lalu sesekali berhenti dan merapat ketika terompet bambu ditiup. Sementara para mama-mama berada di dua lajur terluar. Gerakan para mama-mama ini lebih rancak dibandingkan gerakan para penari pria. Di belakang para penari itu para imam yang bertugas di seluruh daerah Keuskupan Timika berjalan berarakan. Paling belakang adalah Bapa Uskup Mgr. John Philip Saklil.

Jalanan lurus itu berujung di sebuah pertigaan. Di sana sudah menanti kelompok tari orang Mee dan orang Kei.  Para umat di gereja yang mungkin sudah kepanasan dan bosan menunggu di gereja atau mungkin penasaran mendengar keributan di luar, berhamburan keluar gereja dan membuat pertigaan di depan Katedral Tiga Raja jadi ramai sekali. Terakhir kali aku melihat pertigaan itu ramai adalah ketika orang Kei bentrok dengan polisi pada awal tahun 2009. Tuhan memang cinta Papua. Tempat yang pernah bersimbah darah itu kini disiram kemeriahan kasihNya.

Setelah itu barulah para penari memberi ruang pada dua imam yang akan ditahbiskan dan rombongan imam Keuskupan Timika memasuki Katedral. Para imam yang akan ditahbiskan adalah P. Joseph Ikikitaro, Pr dari Keakwa dan P. Samuel.

Misa berlangsung seperti biasa sampai pada bagian pentahbisan. Banyak sekali orang yang ingin jadi fotografer, mulai dari yang fotografer resmi gereja sampai yang fotografer modal kamera hape. Tapi anehnya tidak nampak banyak fotografer amatir yg membawa kamera SLR. Padahal setahuku di Timika dan Kuala Kencana ada banyak penggemar fotografi. Mungkin mereka lebih suka motret kupu-kupu daripada manusia. Aku sendiri jadi jengah saking banyaknya orang yang pengen motret. Untung aku baru dapat lensa Tamron 18-200mm. Tidak perlu mondar-mandir dan bisa tenang mengeksplorasi angle mana yang menarik. Lagipula aku datang bukan sebagai fotografer tapi sebagai umat dan warga Timika.

Dalam posisi itulah aku mengikuti acara sampai siang hari. Ketika orang-orang Mee membawakan tarian mereka, yang sempat membuat para polisi ketar-ketir karena dikira orang marah. Hehe.

Foto-foto acara pentahbisan imam Keuskupan Timika bisa dilihat di sini.