Bis Ajaib

Leave a comment
Catatan Perjalanan
Gedung-gedung sintal di Hanoi

Gedung-gedung sintal di Hanoi

2014-12-30 17.55.14
Seperti ini wujudnya interior bis antar kota nyaman yang disarankan Toan, concierge di sebuah hotel di Hanoi. Nampak di belakangku adalah seseorang dari dua orang turis Israel yang sepertinya juga kena anjuran manis naik bis ke Hoi An. Setelah deal dengan Toan, kami dijemput sebuah taksi dan seseorang yang naik motor dan nampak tergesa-gesa. Sepertinya dia makelar bis. Dari tempat kami menginap di Lo Su, taksi mengarah ke Old Quarter Hanoi. Di Hanoi sepertinya orang tidak kesulitan mencari alamat. Di dalam labirin kota tua dengan jalanan yang ramai itu, sang makelar dan sopir taksi dengan gampang menemukan hotel tempat dua orang turis asal Israel yang ikut juga di bis ini.
“Pertama kali naik bis ini?” Tanyaku sambil membenahi posisi duduk akibat tergencet badan dan tas ransel mereka yang besar. Untung Sasi duduk di kursi depan. Tapi toh dia mengomel juga.
“Bau badan mereka itu, lho, pasti sudah lama ga mandi.” Katanya.
***
Dulu sekali, ada teman yang bilang, kalau mau merasakan demokrasi. Merasakan lho ya, bukan memikirkan, imbuhnya, naiklah bis kota. Dalam bus Surabaya-Malang, ucapan temanku itu benar adanya. Kita tidak punya kuasa untuk menentukan siapa yang akan duduk di sebelah kita. Semua indra kita harus terbuka untuk berbagai rangsangan yang datang. Mulai dari bau knalpot yang bocor masuk ke dalam kabin bus hingga bau rheumason dan aroma muntah dari penumpang di belakang yang baru saja muntah. Kita dipaksa terbuka dengan keadaan, berdialog, dan entah mau kita jadikan apa, bisa jadi sumpah serapah soal buruknya transportasi Indonesia atau jadi catatan perjalanan yang nikmat dibaca.
Beberapa hari sebelum Sasi dan aku memutuskan naik bus yang memakan waktu 16 jam ini, aku agak ragu dengan kemampuan Sasi menghadapi suasana bus dan perjalanan yang melelahkan. Dia memutuskan mau naik bus karena kata Toan (sambil menunjukkan foto-foto hasil Googling), kursinya bisa ditekuk jadi tempat tidur, AC dan Wifi mengalir lancar.
“Aku dulu sudah biasa naik bis 6 jam Surabaya ke Yogyakarta atau lebih lama lagi dari Surabaya ke Jakarta. Kamu?” tanyaku ke Sasi.
“Gakpapa. Aku sudah bawa obat anti mual dan mending naik ini daripada naik pesawat. Cuma 35 USD”
Mendadak, atau untuk sementara waktu, Sasi berubah dari Flashpacker jadi Semi-backpacker. Okelah. Balasku santai.
***
Keluar dari keramaian Old Quarter, taksi kemudian mlipir ke pinggir jalan raya. Ada dua bus besar yang sudah parkir. Sepertinya bukan pangkalan bus resmi. Setelah menunjukkan tiket, seorang pria yang pemarah mengajak kami masuk ke dalam dan meminta kami melepas sepatu. Dia menyorongkan sebuah kantong plastik. “Isi disini,” katanya dalam bahasa isyarat.
Bis besar itu sudah dimodifikasi untuk perjalanan jauh. Ada 2 lantai. Di lantai atas aku hitung ada 19 kursi dari depan ke belakang. Di bawah sepertinya juga ada 19 kursi. Beberapa penumpang pertama yang masuk bersamaan denganku dan Sasi adalah sepasang turis laki-laki dari Israel yang setaksi dengan kami, sepasang turis perempuan dari Spanyol sepertinya dan sepasang muda-mudi dari Belanda. Setelah itu datang seorang pemuda Vietnam.
Tidak lama kemudian bis yang mangkal di jalan raya dekat Sungai Merah itu segera dipenuhi penumpang. Di bawah ada 4 orang Vietnam. 1 ibu memangku anaknya yg berusia 5 tahunan. Pasti berat rasanya memangku anak yang gemuk itu. Tapi toh si ibu tidak nampak terganggu. Mereka sepertinya sudah biasa naik bis ini. Orang Vietnam pasti bayar lebih murah dibanding turis-turis macam kami ini.

Semua yang dibilang Toan benar adanya kecuali soal Wifi. Kursi selonjor bisa ditekuk ke belakang, supaya bisa rebahan. Yang tidak dijelaskan adalah panjang kursi. Dengan tinggi 175 cm, kakiku ternyata tidak bisa lurus. Sedikit menekuk.

2014-12-30 21.39.20

Sandal pinjam untuk turun di tempat peristirahatan

Sandal pinjam untuk turun di tempat peristirahatan

Jam 6:20 malam, bis berangkat. Sambil melihat deretan mozaic terpanjang di bantaran sungai Merah yang disusun untuk merayakan 1000 tahun kota Hanoi, aku mencoba mencari posisi yg paling nyaman untuk kakiku yg tdk bisa terlentang lurus. Sasi, dengan tinggi badan 150 cm, tidak ada masalah. Dia nampak senang sekali. Apalagi bisa lihat pemandangan di luar.

Untuk mengusir kebosanan dalam perjalanan naik bis yang lama seperti Surabaya – Yogya atau Surabaya – Jakarta, aku dulu biasa mengaitkan tempat yang aku lewati dengan sejarah tempat itu yang aku tahu. Sekarang, tidak banyak yang aku tahu soal jalur antara Hanoi dan Hoi-An. Kecuali bahwa kami akan melewati Hue, kota tua tempat terjadinya pertempuran seru antara tentara Amerika Serikat dan gerilyawan Vietcong. Bis terus melaju melalui jalanan antar kota yang gelap.

Jam 8.20, bis berhenti menjemput pasangan bule di sebuah hotel di tempat yang seperti kota level kabupaten. Di papan penunjuk arah tertulis “Thanh Hoa 58km”. Lepas dari kota itu, sopir bis menunjukkan kelakuan yang tidak jauh beda dengan sopir-sopir bis malam di Jawa; ngebut dan main seruduk, klakson-klakson kendaraan, dan ngerem mendadak. Sasi mulai nampak gelisah.

Kelakuan itu semakin menjadi hingga Sasi terbangun dan, seperti biasa, langsung mendesis tanda jengkel. Cewek bule di depan Renata juga nampak khawatir. Lalu memandangi pacar di sebelahnya seperti ingin berbagi kekhawatiran sambil agak menyalahkan pacarnya. Mungkin naik bis ini pilihan atau saran pacarnya.
Aksi nyetir ugal-ugalan itu mendadak berhenti untuk mengisi bensin. Di sini bensin pakai RON 92. Harganya sekitar 17ribuan Dong/liter. RON95 lebih mahal 1000an Dong. Murah itu, kata Son, kenalanku di Hanoi.

Sekitar 15 menit kemudian, kondektur berteriak-teriak dengan Bahasa Vietnam. Kepada bule di depanku dia bilang dengan Bahasa Inggris level primitif; “Kamu bisa turun 20 menit lagi.” Si bule nampak kebingungan. Dia merasa seperti diusir disuruh turun.

Kuperjelas dalam Bahasa Inggris semi-modern supaya semua orang paham; “Bisa istirahat 20 menit?”.

“Iya, jangan bawa sepatu. Kami sediakan alas kaki, balasnya.

Lalu dia minta aku bilang ke bule-bule di belakangku. Aku balas, bilang aja sendiri, kan cuma bilang stop fot (“s” di akhir kata sering dieja jadi “t”) 20 minutes. Maka melajulah dia ke belakang dan menjelaskan. Tapi ternyata jadi ribut karena bule-bule itu tidak paham apa maksudnya. Sasi kemudian membantu menjelaskan.

Di tempat perhentian, aku beli kopi dan pisang. Tidak kuturuti rasa laparku. Aku cuma merokok dan minum kopi. Di tempat yg lebih kotor daripada tempat pemberhentian bis di Ngawi itu, ada 2 bis lain yg memuntahkan orang-orang yg kelelahan. Mereka langsung membeli makan dan minum.
2014-12-30 21.01.22
2014-12-30 21.16.00

Menanti bis berangkat

Pemuda Viet di sebelahku tadi juga makan dan segera menunggu di dekat bis. Di dalam bis aku tanya dia nama tempat ini, yang langsung dibalasnya dengan bahasa isyarat, nama saya? Iya aku balas. Namanya Giang a Tua. Benar seperti itu yg tertera di KTPnya, yang dia tunjukkan padaku.

Jam 8 pagi bis tiba di Hue. Penumpang jurusan Hue dan Hoi An diminta turun untuk ganti bis. Penumpang jurusan Danang tetap di bis. Sambil menunggu, aku makan pisang yang aku beli di tempat perhentian. Pisang yang enak itu langsung terasa hambar setelah seseorang mengumumkan bahwa perjalanan dari Hue ke Hoi-An masih makan waktu 4 jam lagi.

Setelah menunggu sekitar 15 menit, sebuah bis tiba. Kali ini seperti bis biasa. Aku duduk di sebelah Sasi yang sudah kelelahan. Masih mampir di beberapa hotel untuk menjemput penumpang yg mau ke Hoi-An. Pemandangan tidak bisa begitu dinikmati. Pantai di Danang yang sudah aku nantikan karena muncul di film Apocalypse Now, nampak sepi dan bergelombang besar, dikepung jalanan besar dan gedung-gedung besar. Danang memang kota bisnis. Beda sekali dengan Hanoi yang bahagia dengan kekunoan dan kendesoan-nya.

Bis terus melaju. Melewati sebuah jembatan yang nampaknya masih baru. Berhiaskan naga. Di ujung jembatan itu ada museum kebudayaan Champa yang ingin sekali aku kunjungi. Entah kenapa bis berjalan pelan sekali sejak dari Hue. Perjalanan terasa begitu membosankan. Untunglah bis kemudian berhenti lagi. Sambil minum kopi dan makan lumpia aku ngobrol dengan seorang pemuda Vietnam. Katanya nama tempat ini Long Co, satu jam perjalanan lagi ke Hoi-An.
Ya seperti ini memang kalau naik bis, kataku mencoba menabahkan Sasi yang sudah sangat tidak sabar tiba di Hoi-An. Beberapa bule yang tadi naik bis bersamaku juga ikut di dalam bis ini dan sudah mulai berebut posisi duduk yang enak dengan sepasang suami istri Vietnam di belakang mereka, yang meminta mereka menegakkan kursi. Si ibu ngomel-ngomel terus dan meminta suaminya menegur pasangan bule  yang cuek itu. Di luar, jalanan nampak semakin mengecil hingga akhirnya kami tiba di Hoi-An.

2014 in review

Leave a comment
Uncategorized

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A New York City subway train holds 1,200 people. This blog was viewed about 8,100 times in 2014. If it were a NYC subway train, it would take about 7 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Di Tengah Kekayaan Alam, di Ambang Kelaparan

Leave a comment
Current issues / Papua
Orang Kamoro di Omauga, Mimika.

Orang Kamoro di Omauga, Mimika.

Menurut Balai Penelitian Tanaman Palma Kementarian Pertanian Republik Indonesia, luas areal tanaman sagu di Indonesia mencapai 1,2 juta hektar. Sekitar 90% lahan itu berada di Papua. Lalu kenapa sekarang orang Papua semakin jarang makan sagu? Bahkan berita tentang kelaparan semakin sering kita dengar di Papua, di Yahukimo, dan belum lama berlalu di Jewa, sebuah desa dekat Aroanop, tidak jauh dari tambang Freeport.

Sejarah menunjukkan bahwa suku-suku besar di dunia ini banyak yang musnah karena perkara yang nampaknya sepele, seperti pangan dan penyakit. Menurut Jared Diamond (2013), ada banyak kasus dimana masyarakat pemburu-pengumpul tetap mempertahankan corak produksi mereka, sekalipun telah berinteraksi lama dengan masyarakat petani seperti antara suku-suku Indian di lembah sungai Colorado, Amerika Utara dan di sungai Vis di Afrika Selatan (hal.134). Yang lebih menarik dari riset Jared Diamond adalah, masyarakat di pantai utara Jerman baru beralih menjadi petani 1300 tahun setelah berinteraksi dengan masyarakat Linearbandkeramik yang tempat tinggalnya hanya berjarak 200 km dari pantai utara. Jadi bisa dimengerti kemudian, kenapa upaya pemerintah untuk memperkenalkan petani dari Jawa dengan orang Kamoro lebih banyak gagalnya. Perlu niat dan semangat untuk melihat dan mengawal transisi sejarah seperti halnya yang ditunjukkan oleh riset Jared Diamond.

Lebih jauh Jared menunjukkan bahwa suku-suku di Papua tidak pernah mendomestikasi pohon sagu atau pohon pandan besar. Mereka hanya meningkatkan produksi tumbuhan liar yang dapat dimakan itu dengan menebang pohon-pohon yang bersaing dan tumbuh terlalu dekat, menjaga alur di hutan rawa sagu, dan membantu pertumbuhan tunas sagu baru dengan membabat pohon sagu yang sudah tua (hal.137).

Seorang teman yang baru pulang dari pesisir pantai Mimika bilang bahwa sebenarnya ada jalan lain, karena umumnya masyarakat Kamoro menjual keraka (kepiting) kepada pengusaha-pengusaha. Biasanya masyarakat Kamoro mendapatkan imbalan sekitar 200 hingga 300 ribu untuk sekian kilo kepiting, tapi biasanya habis untuk rokok dan pinang. Menurut saya itu bukan jalan keluar. Itu solusi semu, seperti menyiram air kepada orang yang sedang kehausan, terasa segar tapi tapi tidak membayar dahaganya.

 

Usaha Pemerintah dan Dunia Usaha

Beda dengan beras, sagu memerlukan waktu lama untuk panen. Bisa lima tahun lebih menunggu sebuah pohon bisa diambil manfaatnya. Pangkur sagu sendiri, memerlukan kerja dalam waktu yang lama. Tapi pertanyaannya, kenapa beras bisa dipanen secara teratur? Kenapa sagu dan ubi, yang begitu melimpah-ruah di Papua, tidak bisa dipanen secara teratur seperti halnya padi di Jawa atau tempat lain di Indonesia?

Atas dasar itu mungkin kemudian muncul beberapa pemikiran. Pemerintah punya ide menerbitkan Peraturan Menteri No.15  tahun 2013 dengan tujuan khusus yang sangat bagus, antara lain: meningkatkan kesadaran, peran, dan partisipasi masyarakat dalam mewujudkan pola konsumsi pangan serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan pokok beras; meningkatkan partisipasi kelompok wanita dalam penyediaan sumber pangan dan gizi keluarga, dan; mendorong pengembangan usaha pengolahan skala Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sumber karbohidrat selain dan beras terigu. Bahkan belum lama ini terdengar rencana Perum Perhutani untuk membuka pabrik sagu di Sorong Selatan.

Selain itu ada juga inisiatif dari pemerintah dan dunia usaha, namanya MIFEE (Merauke Integrated Farm and Energy Estate) atau Proyek Perkebunan Pangan dan Energi Terpadu Merauke. Proyek yang dioperasikan oleh lebih dari 80 perusahaan ini menggunakan 2 juta hektar lahan di Kabupaten Merauke. Diluncurkan pada tahun 2010, proyek ini merupakan bagian dari Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) bertujuan untuk menempatkan Indonesia sebagai negara yang berdikari dalam hal pangan pokok. Proyek ini kemudian menjadi proyek kontroversial karena menggusur lahan perburuan dan lahan sagu masyarakat asli Kabupaten Merauke.

Di Kabupaten Mimika sendiri, kini LPMAK (Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro) bekerjasama dengan Keuskupan Timika sedang mengupayakan budidaya sagu. Riset dan konsultasi publik telah dilakukan dan kini sejumlah lahan untuk perkebunan dan pengolahan sagu telah disiapkan di Keakwa, Mimika Barat.

 

Libatkan Sektor Pendidikan

Usaha pemerintah yang telah dijelaskan di atas sekarang belum nampak hasilnya. Sedangkan MIFEE kini malah jadi urusan internasional karena Indonesia dipandang sebagai negara yang tidak mengindahkan kepentingan masyarakat adat Papua.

Pemerintah perlu mengembangkan sense of crisis, bahwa sekarang ini masyarakat asli Mimika, baik Kamoro atau Amungme, sedang di ambang kelaparan. Kedua, yang namanya kebijakan itu tidak bisa serta merta mengajak masyarakat. Jika memang serius ingin melihat diversifikasi pangan, sebuah transformasi meninggalkan budaya “kalau-belum-makan-beras-itu-belum-makan” maka perlu melibatkan sektor pendidikan. Sosialisasi perlu dilakukan sejak dini mulai dari sekolah dasar dan sekolah menengah, baik melalui materi pelajaran dan contoh nyata dari para guru. Sekolah menengah atas dan Perguruan tinggi, di Papua khususnya, perlu diajak dan didorong untuk melakukan inovasi.

 

Penutup

Peta Ketahanan Pangan yang dilansir oleh World Food Programme pada tahun 2009 menunjukkan bahwa Provinsi Papua dan Papua Barat termasuk dalam provinsi di Indonesia yang memiliki masalah kekurangan gizi kronis (stunting) dan prevalensi underweight (kekurangan berat badan) yang cukup parah. Kita tidak perlu heran kenapa banyak anak Kamoro dan Amungme yang tidak sekolah atau tidak belajar dengan baik sekalipun sudah mengenyam pendidikan menengah atau atas. Bisa jadi karena masalah perut yang belum beres. Sebaliknya, kita perlu bertanya, benarkah bahwa orang Kamoro dan Amungme yang hidup di tengah kekayaan alam Papua, sedang berada di ambang kelaparan?

 

Sumber Pustaka:

  • Diamond, Jared (2013), Guns, Germs, and Steel: Rangkuman Riwayat Masyarakat Manusia, Jakarta: KPG.
  • Dewan Ketahanan Pangan, Departemen Pertanian RI dan WFP (2009), Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Indonesia, Jakarta: PT. Enka Deli Jakarta.
  • Peraturan Menteri Pertanian No.15/Permentan/OT.140/2/2013
  • Forest Peoples Programme, Pusaka, Sawit Watch (2013), Manis dan Pahitnya Tebu: Suara Masyarakat Adat Malind dari Merauke, Papua. Jakarta.

Selamat Jalan, Eri (Sebuah Obituari)

comment 1
Tentang kawan
Eri Susanto (paling kanan berkemeja batik) di sebuah acara. Foto: Romo Didik.

Eri Susanto (paling kanan berkemeja batik) di sebuah acara. Foto: Romo Didik.

Aku lupa pastinya, kapan dan bagaimana aku mengenal seorang Eri Susanto. Yang aku ingat hanya latar belakangnya, yakni suasana antara bulan April 1997 hingga Mei 1998; kekesalan akan “kuningisasi”, Pemilu palsu dan pidato2 yg menjemukan, paksaan halus tapi mengancam untuk pilih Golkar, kecongkakan tentara yang -pada suatu hari di tahun 1997 saat aku masih SMA- menggebuki dengan tanpa ampun beberapa pemuda yang sepertinya baru saja demo di dekat sekolahku.

Pada bulan Februari 1998, di Universitas Kristen Petra saat itu, suasana yang aku rasakan itu tidak terasa di kampus. Hidup berjalan sebagaimana adanya. Tapi ternyata ada juga beberapa orang yang sama sumpeknya dengan aku. Ada Doyok, Dimas, Edo, Casper, Joseph, Eri, Duro, Herwindo, Sondik, Gunawan, Christo, Yudi, Hok Gwan, Dwi, Linus Ireeuw, dan banyak teman lain. Sebuah nama kemudian dipilih; GEMPUR. Singkatan dari Gerakan Mahasiswa Petra untuk Reformasi. Seingatku ada yang sempat permisi dengan Gempur Aji Pambrasto, mahasiswa Arsitek 1995 yang namanya cerminan semangat anti-Soeharto dari ayahnya. Awalnya Gempur Soeharto tapi terus diganti jadi Gempur Adi Pambrasto (Pasukan Pemberantas Soeharto). Hehe.

Semua mahasiswa yang terlibat di GEMPUR memiliki selera dan ketajaman masing-masing dalam diskusi politik. Yang paling asyik aku amati adalah Doyok, Eri, dan Dimas. Mungkin karena mereka lebih senior dan banyak pengalaman. Tapi diskusi dengan Eri lebih dari sekedar rame membahas kebusukan rezim Orba dan teori2 konspirasi yang laris sekali saat itu atau rencana demonstrasi. Dari sekedar kesal dengan rezim Orba, aku “dikenalkan” dengan prinsip-prinsip demokrasi yang sejati, tentang hubungan antara teologi dengan perubahan sosial, tanpa banyak mengumbar jargon, apalagi menyuruh membaca “Dasar-dasar Ilmu Politik” karangan Miriam Budiarjo.

Padahal saat itu yang diutamakan adalah yang berani turun ke jalan dan meneriakkan jargon2 perubahan. Sesuatu yang hanya selang setahun sebelumnya dipandang sebagai tindakan makar. Mahasiswa Petra yang sebelumnya dipandang tidak akan berani turun ke jalan ternyata ikut turun juga. Sekalipun awalnya, aku ingat sekali, sempat di-briefing dulu supaya menjaga diri.

 ***

Pada 21 Mei 1998, secara mengejutkan sang jenderal memilih untuk “lengser” (sumpah aku benci sekali istilah ini). Suasana mendadak berubah; dari suasana ketakutan setelah peristiwa kerusuhan rasial di beberapa kota besar Indonesia dan semangat perubahan total menjadi kegembiraan yang hampa dan singkat. Setelah itu banyak orang bilang supaya kembali hidup normal karena soeharto sudah pergi. Seolah-olah dengan soeharto pergi, Indonesia sudah sembuh dari pileknya. Padahal ini bukan pilek, ini sinus, pikirku saat itu. Perlu perawatan, perlu pengetahuan akan penyakit itu, perlu menaksir seberapa banyak kerugian yg dialami, perlu tahu bagaimana agar tidak kena sinus lagi. Mundurnya soeharto telah menjadi sebuah “placebo” yang manjur.

Kita semua galau (sekalipun saat itu istilah galau beda penggunaannya). Soeharto memang sudah turun, tapi masa gitu aja sih? Apakah masalahnya hanya di soeharto? Bagaimana dengan pemerintahan yang dia bentuk sekarang ini, bagaimana dengan hartanya yang diambil dari kekayaan alam bangsa ini?

GEMPUR masih sering mendiskusikan perkembangan politik dan memikirkan langkah berikutnya. Kami masih turun ke jalan dan berjejaring dengan mahasiswa dari kampus lain di Surabaya. Sekalipun soeharto sudah mundur, tapi masih ada Dwifungsi Abri, Pemilu yang dijanjikan haruslah Pemilu multipartai, dan soeharto harus diadili atas semua kejahatannya. Seperti daftar belanjaan, kami terus berusah mencentang semua daftar belanjaan yang sudah didapatkan.

Kalau tidak salah pada bulan Agustus 1998, aku ikut Workshop Analisa Sosial di Paroki Aloysius Gonzaga, Surabaya sesuai “ajakan” Eri (ah, entah itu Eri yang ajak atau aku yang merasa terajak akibat sering ngobrol dengan Eri). Workshop itu dipimpin seorang imam Jesuit, namanya Romo Suryawasita, Sj. Gayanya mirip Eri, nyantai tapi penuh pengetahuan.

Rasanya seperti memilih pil warna merah di film Matrix. Pil yang membuatmu tersentak dari kenyamanan dan merasakan pahitnya realita; tidak sekedar melihat keadaan dan fenomena, tapi mendalami fakta. Melihat sejarah bukan sekedar rangkaian kejadian, tapi sebuah dialektika. Tidak hanya menggunjingkan gagasan tapi menuliskannya. Tidak lagi hidup di dunia yang semu nan kaku, tapi mulai mendekati kesejatian.

Tidak hanya perkara soeharto mundur tapi soal ketidakadilan sosial yang telah membelenggu negeri ini sejak 1965. Tidak hanya soal korupsi dan nepotisme Keluarga Cendana, tapi soal akumulasi modal di tangan segelintir orang. Tidak hanya soal sekumpulan anak muda yang marah, tapi soal kelas menengah yang kuat dan mau berkorban.

Eri juga mengenalkan aku ke lingkungan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Ke sebuah kampung di Surabaya. Saat itu aku terkaget-kaget melihat alm. Brewok yang memang brewok betul dan teman2nya yg jam 11 malam masih ngopi dan ngobrol soal politik, ketemu seorang pengurus PRD Surabaya yang namanya ajaib bagiku; Safii Kemamang, soal terawangan Brewok tentang Bimo Petrus yang diduga berada di sebuah tempat di Jakarta.

Yah, seperti di film Matrix, kamu tiba2 menemukan dirimu di antara orang2 yang oleh dunia yang mapan dipandang sebagai manusia yang aneh, yang dengan bodohnya menempatkan dirinya di luar sistem. Padahal kalau kamu manut dengan sistem itu, hidupmu niscaya akan “baik2 saja”.

 ***

Akibatnya cukup jelas. Drama pengunduran diri soeharto, yang telah menjadi “placebo” sakitnya demokrasi Indonesia saat itu tidak mempan untukku. Sekarang masalahnya bukan hanya menyeret soeharto ke pengadilan, tapi bagaimana mengubah sistem demokrasi dan ekonomi yang tidak berpihak kepada rakyat.

Seiring dengan itu, aku semakin jarang bertemu Eri. Aku lebih sering bertemu orang2 yang dikenalkan oleh Eri kepadaku, membaca buku-buku yang topik dan temanya aku kenal dari Workshop Ansos bersama Romo Suryo. Kalau tidak salah, menjelang akhir masa pemerintahan Gus Dur, Eri juga punya tugas lain untuk diselesaikan; studinya. Demikian pula dengan diriku. Bisa kuliah di Petra itu hasil keringat orang tuaku, karena itu harus aku selesaikan, seberapapun jengahnya. Dengan berat hati, dunia aktivisme politik aku tinggalkan.

Kontak semakin terputus setelah aku lulus, apalagi sejak aku pindah ke Papua tahun 2008. Padahal setiap bernostalgia soal 98, aku selalu menyebut Eri sebagai salah satu orang yang punya pengaruh besar, seorang “influencer” atau “maven”, tapi tidak pernah mencoba meluangkan waktu menjalin kembali pertemanan. Rasanya seperti punya hutang.

Hutang yang sekarang aku rasakan datang menagih dengan lembut sekaligus mau meminta pemutihan karena sudah seharusnya lunas, saat aku mendengar berita kepergian Eri di Facebook. Sekalipun diputihkan, ada syarat yang harus aku jalani, mengucapkan terima kasih dan menggambarkan seorang Eri yang aku kenal. Ga perlu terlalu banyak kata: Kamu orang hebat, Eri. Aku menghormatimu.

Kepergianmu pun menjelang peringatan St. Ignatius Loyola yang jatuh setiap tanggal 31 Juli, pembaharu gereja dan peletak dasar Ajaran Sosial Gereja. Seolah kamu menegaskan bahwa hidup ini adalah soal memilih, hidup biasa-biasa saja atau hidup luar biasa, menjadi sekedar teman cangkruk atau menjadi teman dalam perutusan, seperti di film Matrix –memilih melihat yang semu atau yang sejati- dan seperti yang diajarkan St. Ignatius Loyola, untuk “memilih apa yang lebih membawa aku kepada semakin besarnya kemuliaan Allah dan keselamatan sesama.”

Selamat jalan, Eri. Sampai jumpa lagi. Terima kasih sudah membantu aku memilih menjalani hidup yang tidak biasa-biasa saja tapi juga tidak berusaha nampak sebagai orang yang luar biasa.

 

Dear Bimpet

Leave a comment
Current issues / Tentang kawan

 

Aku berterima kasih kepadamu karena telah mengajarkan aku untuk bersetia pada cita-cita, pada keluhuran kemanusiaan, yang kamu perjuangkan tanpa pamrih, dan karenanya gema langkahmu masih terdengar hingga hari ini. Di saat orang banyak menyebut namamu, di antara sekian nama lainnya, yang hilang disapu mesin kekuasaan bernama Orde Baru, pelan-pelan mulai membicarakan bahwa dirimu dan sekian jiwa lainnya yang hilang adalah keniscayaan dan karena itu sebaiknya dilupakan.

Aku tidak perlu bilang bahwa bahkan kini mereka telah mencalonkan orang yang merasa memiliki kuasa penuh atas jiwamu sebagai presiden republik ini.

Aku hanya perlu bilang, kepadamu saja, karena sepertinya tidak ada orang muda lain yang bisa memahami apa yang aku rasakan saat ini, bahwa banyak orang muda yang melecehkan perjuangan dan pengorbananmu, dengan menukar keyakinan mereka dengan begitu mudahnya seperti membalik telapak tangan.

Seorang kenalan bahkan bisa menukar keyakinannya dalam waktu satu hari saja ketika seorang calon presiden mengumumkan wakilnya, yang juga mengecewakan diriku juga dan membuatku tercenung selama beberapa saat. Aku menghargai pilihannya. Terutama di saat sulit seperti ini, ketika mendadak dua pilihan yang ada seolah sama saja . Dia tentu punya pertimbangan dan perhitungan pribadi akan pilihan barunya itu, partai sang jenderal penculikmu. Dalam satu hari saja.

Yah, mungkin saja. Dia sepertinya orang yang cerdas. Karena setelah dia mengumumkan, tiba-tiba saja dia sudah mendapat banyak bahan pembenaran tindakannya. Dalam satu hari saja, kawan.

Sekarang ini dia pasti punya segudang jawaban, dan bahkan serangan untukku. Yang dia tidak punya adalah; perkenalan yang luar biasa dengan sosok dan pengorbananmu, gagasan Indonesia yang kamu perjuangkan, dan karena itu: kebijakan menentukan sikap dalam pilihan yang ada saat ini. Dia lebih memilih memuaskan kekecewaannya katimbang menimbang dengan baik, mengumbar kekecewaannya katimbang mendalaminya, seterusnya hingga membawanya ke golongan para penculikmu dan hingga waktu mengungkap motivasi dirinya yang sebenarnya.

Kini dia berdiri bersama dengan –meminjam kata-kata Subcommandate Insurgente Marcos– antek yang sedang bertugas dalam penguburanmu dan jiwa-jiwa lainnya di negeri ini, seraya sistem berkata: “kau tidak masuk hitungan, kau tidak bernilai apa-apa, tak ada yang menangisimu, tak ada yang bakal marah oleh kematianmu, tak ada yang bakal mengikuti jejakmu, tak ada yang membopong hidupmu.”

Itu kata sistem, yang sempat goyah, tapi kini hendak mengembalikan dirinya. Kata-kata sistem itu yang kini diamini banyak orang muda di Indonesia.

Mungkin aku yang salah sangka pada kenalanku itu. Mungkin dia memang cuma segitu saja kualitasnya dan sekedar membonceng gempita pemilihan presiden kali ini demi motivasi pribadinya. Entah kenapa aku yakin sekali inilah yang akan kamu katakan kepadaku seandainya kita ngobrol di warung kopi Lik Man di depan Universitas Airlangga.

Yang jelas kini aku merasa lega bisa berbicara denganmu, Bim. Berbicara denganmu, sebagai kawan abadi yang bisa mendengarkan, bukan hanya sekedar membicarakanmu, apalagi melupakanmu.

Museum Loka Budaya, Jayapura

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Papua

Sudah beberapa kali ke Jayapura, tapi baru satu kali aku mengunjungi Museum Loka Budaya yang berlokasi di Abepura, Jayapura. Itu pun karena kebetulan ada acara kantor di auditorium Universitas Cenderawasih yang bersebelahan dengan Museum Loka Budaya.

Selain Museum Loka Budaya, ada beberapa lagi tempat yang ingin aku kunjungi, yaitu Museum Daerah dan Taman Budaya di Waena ke arah Sentani. Keduanya tidak pernah aku kunjungi hingga hari ini, lebih karena tampilannya. Bayangkan saja, kedua tempat itu berada di depan tempat parkiran angkutan kota yang khas Indonesia, kumuh dan tidak tertata.

Buku katalog tempat wisata Lonely Planet edisi tahun 2007 mencatat dengan tepat mengenai Taman Budaya; the state of dilapidation of this park is a sad reflection of the general decline of Papua. Kondisi Taman Budaya yang terbengkalai adalah cerminan kemunduran Papua. Sekalipun tidak dijelaskan apa yang mundur tapi jelas bahwa yang dimaksudkan adalah kemunduran budayanya, yang terdesak dengan budaya dari luar Papua.

Tapi Museum Loka Budaya ini nampak lebih hidup. Saat aku datang , ada sebuah rombongan turis dari luar negeri yang juga datang berkunjung. Staf museum yang saat itu bertugas juga ramah dan informatif. Katanya, setiap hari ada dua kali rombongan turis mancanegara yang datang, biasanya adalah para turis yang baru saja ke daerah lain di Papua seperti Wamena atau Asmat.

Poster "Irian Jaya"

Poster “Irian Jaya”

Stoneworks

Stoneworks

Tongkat komando dari Lembah Baliem

Tongkat komando dari Lembah Baliem

Koleksi Museum

Koleksi Museum

Turis mancanegara

Turis mancanegara

Museum yang didirikan tahun  1970 ini memiliki koleksi berbagai macam artefak dan benda etnografi lainnya dari seluruh tanah Papua hingga sejumlah 2500 barang. Museum Loka Budaya banyak sumbangan dari John Rockefeller, jutawan Amerika yang menggilai budaya Papua dan akhirnya mati di Papua, Pemerintah Kerajaan Belanda, para arkeolog dan antropolog yang pernah bertugas di Papua, bahkan hingga pejabat sipil dan TNI. Itu menurut situswebnya.

Menurutku, jumlah itu memang tidak mengada-ada. Bisa jadi malah lebih dari 2500 barang. Mengingat ada sekitar 250 suku di Papua. Tentu saja belum semua warisan budayanya dikoleksi atau mungkin malah belum sempat menelurkan artefak yang bisa dikoleksi atau sudah rusak. Benda seperti Noken misalnya, memerlukan penyimpanan yang baik dan perawatan.

Di balik kekagumanku pada berbagai macam artefak di Museum Loka Budaya, tersirat kekhawatiran akan kelestariannya. Dengan suhu ruangan yang tidak stabil dan lembab, bisa jadi banyak artefak yang akan rusak.  Belum lagi masalah keamanan. Aku tidak melihat ada petugas keamanan atau kamera pengawas. Pengunjung juga bebas keluar masuk tanpa ada pengawasan dan bisa membawa tasnya. Sekalipun ada pengumuman resmi bahwa pengunjung dilarang membawa tas atau kantong.

Museum yang setiap hari buka dari pukul 08:00 hingga pukul 15:00 ini gratis. Asyik ya. Sebenarnya lebih asyik jika menyediakan brosur gratis pula dalam jumlah banyak. Ketika itu aku sempat bertanya pada salah satu staf dan katanya sedang kehabisan brosur.

Yang mengagetkan, selain benda mati, Museum Loka Budaya ternyata juga menyimpan benda yang pernah hidup alias mahkluk hidup yang sudah diawetkan. Apakah karena biawak dan kus-kus adalah bahan baku Tifa dan hiasan kepala suku-suku di pegunungan tengah, karena itu perlu diawetkan dan dipajang? Entahlah.

Kus-kus

Kus-kus

Biawak aka Soa-soa

Biawak aka Soa-soa

Mungkin selain biawak dan kus-kus, ada juga produk budaya yang lebih liat dan laten, seperti lagu dan cerita-cerita rakyat Papua atau cara orang Kamoro menangkur sagu, dipamerkan di sebuah ruangan di Museum Loka Budaya. Sebuah ruangan yang tidak sempat aku datangi karena keterbatasan waktu. “Ayo mari cepat sudah. Acara (di auditorium) sudah mau mulai. Orang sudah banyak datang itu,” kata temanku mengingatkan.

Kami berjalan kembali ke koridor depan, menyusuri lemari dan ruangan yang penuh dengan relikui dan ornamen sebuah kebudayaan. Ada yang masih hidup dan banyak juga yang sudah musnah diterjang perubahan zaman. Patung Mbikao orang Kamoro misalnya. Sekarang sudah jarang sekali muncul karena semua ritual dan falsafah hidup orang Kamoro sudah rusak dan dipandang “tidak relevan” dengan nilai-nilai yang ada di Papua sekarang ini.

Memandang pakaian "Mbi-Kao"

Memandang pakaian “Mbi-Kao”

Sebagai museum yang terletak di ibukota provinsi, Loka Budaya harus terus dikembangkan karena menjadi “juru bicara” kebudayaan Papua. Sebagai sebuah museum  yang berada di tengah-tengah sebuah kebudayaan Papua yang unik, Loka Budaya perlu berangkat menjemput semua bentuk kekayaan budaya Papua yang sekarang ini sedang berhadap-hadapan dengan kebudayaan lain.  Karena jika memang akan hilang, kita masih bisa bilang; “ah itu bisa ko lihat di Jayapura.” Sekalipun pedih, saya kira itu masih mendingan daripada kita bilang, seperti yang banyak aku dengar di Papua; “ah itu ada di Leiden sana.”

Selamat berkunjung ke museum.

Invoice

Leave a comment
Current issues / Papua

Sudah dua kali dalam seminggu ini aku duduk di warung kopi depan lapangan Timika Indah, untuk menulis. Tapi selalu saja gagal.

Ada banyak hal yang berkelebatan di pikiranku, mulai dari konflik sektarian yang sekarang sedang terjadi di Timika, tentang sagu, tentang museum Uncen Jayapura yang merana itu, tentang anak-anak Aibon yang menguasai daerah perumahan belakang warung ini di saat malam tiba. Semuanya cuma sekedar lewat saja. Belum bisa aku rawat menjadi sebuah tulisan.

Berbagai cerita yang aku pikirkan di atas, sementara ini masih jadi paragraf-paragraf sporadis. Lebih cocok untuk di-twit-kan, lalu menghitung berapa retweet dan reply yang aku terima. Aku tidak mau seperti itu. Aku mau mengalami epifani, momen “Aha! Itu dia!” yang ekstatis itu.

Alih-alih “Aha!”, yang aku alami sekarang ini adalah “Akai, panas sekali seh. Mari tong pulang sudah, tidur di rumah.”

Aku lalu memikirkan hal lain. Yang sedang terjadi di depan mataku, di sekitaran lapangan Timika Indah; orang-orang yang baru pulang dari gereja, berbagai jenis yang kendaraan yang lalu lalang dari tadi, tulisan propagandis “rakyat tau saya, saya tau rakyat”, awan-awan gemuk yang menjanjikan hujan, lapangan Timika indah yang dihiasi sampah, dan lain sebagainya.

Aku, dan Anda sekalian mungkin, seperti kata Roland Barthes, terus menerus menyiksa diriku dengan pikiran, hasrat, sesal, dan amarah, yang datangnya bukan dari diriku.

Apalagi di masa menjelang Pemilu seperti sekarang ini. Kita terus menerus dihabisi oleh berita, yang sudah tidak bisa kita bedakan lagi dengan rumor, tentang politik dan semua personanya. Si a ingkar janji, karena itu jangan pilih dia. Sementara si b, yang menuduh, adalah seorang penjahat kemanusiaan. Di sisi lain, si c, yang penuh kemunafikan, sedang menyusun rencana untuk menjadikan negara ini menjadi Indonistan.
Kita kemudian ikut memberikan penilaian, “menganalisa”, ngetwit dukungan untuk si b karena kegagahannya menunggang kuda, dan menentukan sikap di dalam bilik pemilihan suara.

Toh, ada banyak anak muda yang senang dengan banalitas ini, dengan ketidaksadarannya bahwa yang dia lakukan itu salah. Bahwa membela seorang pembunuh itu sah, karena bayarannya cocok, sudah “berdamai dengan masa lalu,” atau karena pembunuhan manusia-manusia Indonesia itu “wajar adanya.” Seperti Adolf Eichmann, dan algojo-algojo Tragedi Nasional Indonesia 1965 yang sampai mampusnya pun tidak merasa ada yang salah dengan membantai orang Yahudi.

Aku doakan kalian bisa memanfaatkan invoice-invoice yang kalian terima itu untuk membuat masa mudamu berkesan.

Ah… Itu dia. Aku ternyata sudah menulis. Tentang banalitas politik Indonesia sekarang ini, yang berisik dan tidak membuatmu makin sehat, baik rohani maupun jasmani, tapi toh tidak bisa kita hindari juga. Bahkan di tempat yang jauh sekali dari pusaran kekuasaan seperti di Timika ini.

Terbang Tinggi di Atas Bumi Mimika

comment 1
Papua
Pesawat Trigana Air mendarat di landasan udara Kaokanao, Mimika. Foto © Thobias Maturbongs

Pesawat Trigana Air mendarat di landasan udara Kaokanao, Mimika. Foto © Thobias Maturbongs

Siapapun yang berjuang dengan harapan satu-satunya memperoleh materi sesungguhnya tidak memperoleh apa pun yang bernilai untuk hidup… Pesawat bukanlah tujuan: semata-mata hanya alat. Alat seperti bajak.

–          Antoine de Saint-Exupery, Bumi Manusia

Di kota yang tidak banyak hiburan seperti Timika, menonton pesawat mendarat dan tinggal landas di bandara Mozes Kilangin Timika adalah sebuah rekreasi yang menyenangkan. Setiap pagi atau sore hari, apalagi di akhir pekan, jalan dekat bandara dipenuhi orang-orang yang menonton kesibukan bandara Mozes Kilangin.

Bukan hal yang luar biasa sebenarnya. Tapi di Timika, ada semacam ketakjuban ketika kita melihat helikopter dan pesawat-pesawat perintis yang berukuran kecil terbang landas dan berbelok ke pegunungan tengah, yang membentang abadi menghiasi cakrawala bandara Mozes Kilangin dan kota Timika.

Di bandara Mozes Kilangin Timika atau Sentani Jayapura, pesawat-pesawat milik AMA dan MAV serta Trigana dan Susi Air, nampak seperti mainan dibandingkan pesawat jet maskapai penerbangan besar seperti Garuda Indonesia, Airfast, Merpati, dan Sriwijaya Air. Tapi pesawat mainan itulah yang menembusi kabut dan lereng-lereng pegunungan tengah dan mendarat di landas pacu kecil yang kadang lebih mirip lapangan volley kelas kampung.

Kecuali satu obrolan singkat dengan pilot helikopter Airfast dalam perjalanan ke Potowayburu, saya tidak pernah mendapatkan gambaran kehidupan para pilot helikopter atau pesawat perintis. Hingga akhirnya, berkat perkembangan teknologi, saya berkenalan dengan Matt Dearden, seorang pilot Susi Air dari Inggris. Orangnya masih muda dan rajin mendokumentasikan pengalamannya melalui tulisan, foto, dan rekaman video.

***

Matt Dearden mendapatkan lisensi sebagai private pilot di Aero flying school di Bristol, Inggris pada tahun 2006. Setelah itu dia melanjutkan pelatihannya hingga mendapatkan lisensi sebagai commercial pilot dari Bristol Flying Centre.

Setelah mengantongi lisensi terbang, Matt mendapatkan pekerjaan di Indonesia pada tahun 2009 bekerja di Susi Air sebagai co-pilot pesawat Cessna C208 Carvan. Pada tahun 2012, Matt pindah ke Papua masih di maskapai yang sama. Bedanya, pesawat yang digunakan di Papua adalah Pilatus PC-6 Turbo Porter.

Pilatus bisa memuat 9 penumpang beserta barang-barang bawaan mereka. Jika semua kursi disingkirkan, Pilatus mampu memuat 850 kg kargo ke daerah manapun di Papua. Tidak heran jika Pilatus kemudian menjadi sangat populer di Papua, karena kemampuannya untuk mendarat di landas pacu yang pendek.

Menurut pria yang pernah bekerja sebagai seorang programmer komputer ini, sudah lama sekali dia mendengar tentang asyiknya terbang di Papua. Ada sensasi tersendiri dengan menerbangkan pesawat dari kota besar menembus cuaca dan bentang alam yang menantang menuju desa-desa yang terpencil.

Pilatus PC-6 Bush Flying – Timika, Papua from IndoPilot on Vimeo.

Beberapa tempat yang sangat berkesan baginya adalah lembah menuju Hitadipa, serta desa-desa yang terletak di lokasi yang sangat dramatis seperti Deneode, Kegata, Apowo, dan Idedua. Desa-desa, yang bagi Matt, akan dengan cepat mengalami perubahan seiring dengan semakin lancarnya transportasi udara. Di banyak tempat yang dikunjungi Matt, tanda-tanda kemajuan zaman mulai nampak, sekalipun sama artifisialnya dengan di Timika, seperti listrik dan telepon genggam.

Setiap hari aktivitas Matt dimulai jam 5:30 untuk melakukan pemeriksaan pesawat. Lalu jam 6:00 Matt memulai penerbangan pertama dari lima penerbangan dalam satu hari. Tugas Matt selesai sekitar jam 14:30. Rutinitas itu dijalani selama 6 hari dalam seminggu.Kehidupan seorang pilot, apalagi pilot pesawat perintis, adalah hidup yang spartan menuntut disiplin dan ketangguhan pribadi.

Nalio Jangkup (kiri), anak muda Amungme yang berhasil meraih cita-citanya menjadi pilot. Foto © Octovian Jangkup

Nalio Jangkup (kiri), anak muda Amungme yang berhasil meraih cita-citanya menjadi pilot. Foto © Octovian Jangkup

Karena itu, bagi anak-anak muda Amungme yang sekarang sedang mengikuti pelatihan dan sudah mulai terbang, Matt berpesan agar mereka menjadi pribadi yang aktif, jangan segan untuk bertanya pada instruktur atau pilot dan selalu dengarkan apa yang disampaikan pilot, tapi juga jangan sungkan memberitahu pilot apabila ada hal yang dirasa kurang pas.

***

Kehidupan seorang pilot pesawat perintis di pedalaman Papua tentu sangat berbeda jauh dengan kehidupan pilot pesawat jet. Tidak ada yang glamor dari terbang ke kampung-kampung di pegunungan tengah, membantu menurunkan barang, melihat orang bertengkar, memperbaiki pesawat, dan membersihkan lapangan pendaratan. Di akhir pekan, Matt memanfaatkan waktu luangnya untuk berdiskusi dengan pilot-pilot lain di mess tempat tinggalnya, berolahraga dan mengedit foto serta membuat tulisan untuk blognya, yang kemudian menginspirasi banyak orang di seluruh dunia.

Ketika aku beritahu bahwa kisah-kisahnya mengingatkanku akan pengalaman Antoine de Saint-Exupery, pilot pesawat cum penulis dari Prancis, Matt membalas ringan: “saya kurang tahu apakah (saya) bisa dibandingkan (dengan de Saint-Exupery), yang jelas saya suka membagi pengalaman. Suatu hari nanti mungkin saya akan nulis buku, tapi sekarang ini rasanya ngeblog sudah cukup.”

Tidak heran jika tagline blog Matt adalah “Why would you want to fly a big jet?” (Buat Apa Menerbangkan Pesawat Jet?”). Ya, buat apa menerbangkan pesawat jet, jika ternyata hanya terjebak dalam rutinitas kerja belaka.


Ditulis berdasarkan obrolan melalui email pada 12 November 2013 dan beberapa  informasi dari blog pribadi Matt Dearden http://indopilot.blogspot.com