Invoice

Leave a comment
Current issues / Papua

Sudah dua kali dalam seminggu ini aku duduk di warung kopi depan lapangan Timika Indah, untuk menulis. Tapi selalu saja gagal.

Ada banyak hal yang berkelebatan di pikiranku, mulai dari konflik sektarian yang sekarang sedang terjadi di Timika, tentang sagu, tentang museum Uncen Jayapura yang merana itu, tentang anak-anak Aibon yang menguasai daerah perumahan belakang warung ini di saat malam tiba. Semuanya cuma sekedar lewat saja. Belum bisa aku rawat menjadi sebuah tulisan.

Berbagai cerita yang aku pikirkan di atas, sementara ini masih jadi paragraf-paragraf sporadis. Lebih cocok untuk di-twit-kan, lalu menghitung berapa retweet dan reply yang aku terima. Aku tidak mau seperti itu. Aku mau mengalami epifani, momen “Aha! Itu dia!” yang ekstatis itu.

Alih-alih “Aha!”, yang aku alami sekarang ini adalah “Akai, panas sekali seh. Mari tong pulang sudah, tidur di rumah.”

Aku lalu memikirkan hal lain. Yang sedang terjadi di depan mataku, di sekitaran lapangan Timika Indah; orang-orang yang baru pulang dari gereja, berbagai jenis yang kendaraan yang lalu lalang dari tadi, tulisan propagandis “rakyat tau saya, saya tau rakyat”, awan-awan gemuk yang menjanjikan hujan, lapangan Timika indah yang dihiasi sampah, dan lain sebagainya.

Aku, dan Anda sekalian mungkin, seperti kata Roland Barthes, terus menerus menyiksa diriku dengan pikiran, hasrat, sesal, dan amarah, yang datangnya bukan dari diriku.

Apalagi di masa menjelang Pemilu seperti sekarang ini. Kita terus menerus dihabisi oleh berita, yang sudah tidak bisa kita bedakan lagi dengan rumor, tentang politik dan semua personanya. Si a ingkar janji, karena itu jangan pilih dia. Sementara si b, yang menuduh, adalah seorang penjahat kemanusiaan. Di sisi lain, si c, yang penuh kemunafikan, sedang menyusun rencana untuk menjadikan negara ini menjadi Indonistan.
Kita kemudian ikut memberikan penilaian, “menganalisa”, ngetwit dukungan untuk si b karena kegagahannya menunggang kuda, dan menentukan sikap di dalam bilik pemilihan suara.

Toh, ada banyak anak muda yang senang dengan banalitas ini, dengan ketidaksadarannya bahwa yang dia lakukan itu salah. Bahwa membela seorang pembunuh itu sah, karena bayarannya cocok, sudah “berdamai dengan masa lalu,” atau karena pembunuhan manusia-manusia Indonesia itu “wajar adanya.” Seperti Adolf Eichmann, dan algojo-algojo Tragedi Nasional Indonesia 1965 yang sampai mampusnya pun tidak merasa ada yang salah dengan membantai orang Yahudi.

Aku doakan kalian bisa memanfaatkan invoice-invoice yang kalian terima itu untuk membuat masa mudamu berkesan.

Ah… Itu dia. Aku ternyata sudah menulis. Tentang banalitas politik Indonesia sekarang ini, yang berisik dan tidak membuatmu makin sehat, baik rohani maupun jasmani, tapi toh tidak bisa kita hindari juga. Bahkan di tempat yang jauh sekali dari pusaran kekuasaan seperti di Timika ini.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s