Dear Bimpet

Leave a comment
Current issues / Tentang kawan
Bimo Petrus di dalam tahanan. Foto: anonim

 

Aku berterima kasih kepadamu karena telah mengajarkan aku untuk bersetia pada cita-cita, pada keluhuran kemanusiaan, yang kamu perjuangkan tanpa pamrih, dan karenanya gema langkahmu masih terdengar hingga hari ini. Di saat orang banyak menyebut namamu, di antara sekian nama lainnya, yang hilang disapu mesin kekuasaan bernama Orde Baru, pelan-pelan mulai membicarakan bahwa dirimu dan sekian jiwa lainnya yang hilang adalah keniscayaan dan karena itu sebaiknya dilupakan.

Aku tidak perlu bilang bahwa bahkan kini mereka telah mencalonkan orang yang merasa memiliki kuasa penuh atas jiwamu sebagai presiden republik ini.

Aku hanya perlu bilang, kepadamu saja, karena sepertinya tidak ada orang muda lain yang bisa memahami apa yang aku rasakan saat ini, bahwa banyak orang muda yang melecehkan perjuangan dan pengorbananmu, dengan menukar keyakinan mereka dengan begitu mudahnya seperti membalik telapak tangan.

Seorang kenalan bahkan bisa menukar keyakinannya dalam waktu satu hari saja ketika seorang calon presiden mengumumkan wakilnya, yang juga mengecewakan diriku juga dan membuatku tercenung selama beberapa saat. Aku menghargai pilihannya. Terutama di saat sulit seperti ini, ketika mendadak dua pilihan yang ada seolah sama saja . Dia tentu punya pertimbangan dan perhitungan pribadi akan pilihan barunya itu, partai sang jenderal penculikmu. Dalam satu hari saja.

Yah, mungkin saja. Dia sepertinya orang yang cerdas. Karena setelah dia mengumumkan, tiba-tiba saja dia sudah mendapat banyak bahan pembenaran tindakannya. Dalam satu hari saja, kawan.

Sekarang ini dia pasti punya segudang jawaban, dan bahkan serangan untukku. Yang dia tidak punya adalah; perkenalan yang luar biasa dengan sosok dan pengorbananmu, gagasan Indonesia yang kamu perjuangkan, dan karena itu: kebijakan menentukan sikap dalam pilihan yang ada saat ini. Dia lebih memilih memuaskan kekecewaannya katimbang menimbang dengan baik, mengumbar kekecewaannya katimbang mendalaminya, seterusnya hingga membawanya ke golongan para penculikmu dan hingga waktu mengungkap motivasi dirinya yang sebenarnya.

Kini dia berdiri bersama dengan –meminjam kata-kata Subcommandate Insurgente Marcos– antek yang sedang bertugas dalam penguburanmu dan jiwa-jiwa lainnya di negeri ini, seraya sistem berkata: “kau tidak masuk hitungan, kau tidak bernilai apa-apa, tak ada yang menangisimu, tak ada yang bakal marah oleh kematianmu, tak ada yang bakal mengikuti jejakmu, tak ada yang membopong hidupmu.”

Itu kata sistem, yang sempat goyah, tapi kini hendak mengembalikan dirinya. Kata-kata sistem itu yang kini diamini banyak orang muda di Indonesia.

Mungkin aku yang salah sangka pada kenalanku itu. Mungkin dia memang cuma segitu saja kualitasnya dan sekedar membonceng gempita pemilihan presiden kali ini demi motivasi pribadinya. Entah kenapa aku yakin sekali inilah yang akan kamu katakan kepadaku seandainya kita ngobrol di warung kopi Lik Man di depan Universitas Airlangga.

Yang jelas kini aku merasa lega bisa berbicara denganmu, Bim. Berbicara denganmu, sebagai kawan abadi yang bisa mendengarkan, bukan hanya sekedar membicarakanmu, apalagi melupakanmu.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s