Wikimapia: Timika dan Kuala Kencana

Leave a comment
Papua / Web 2.0

Wikimap of Mimika

Wikimap of Mimika


Karena Google Earth tidak bisa diakses aku sempat kesulitan mencari peta Timika dan Mimika. Padahal perlu sekali. Google Map informasinya kurang memadai. Dari Rendra aku dapat informasi bahwa Wikimapia cukup bisa diandalkan. Setelah aku coba ternyata benar juga. Cukup luas daerah Mimika yang sudah dipotret dari atas sana. Yang bikin kurang nyaman adalah banyaknya informasi yang ditinggalkan orang. Masa cuma rumah kos saja dikasih tanda.

Aku menambahkan tiga penanda di peta yang sudah ramai penanda itu;
1. Kantor LPMAK 1-2
2. LPMAK 3-4 (Ex Incubator PTFI)
Keduanya ada di Timika
3. Rumah di Kuala Kencana (cari ke arah utara dari Timika)
4. Asrama Penjunan
5. Distrik Akimuga

Selamat jalan-jalan di Mimika….

Aroanop

Leave a comment
Papua

peta-aroanop-rev-p-tabuni1

Luka di telapak kakiku sudah mulai kering. Dua hari kemarin sempat bengkak. Entah kenapa. Mungkin karena aku kurang cocok dengan obat antibiotik dari dokter di Klinik Kuala. Hampir setiap kali ketemu orang di sini selalu dapat sapaan yang cenderung mengerikan untuk didengar; “hei, kaki rusak ya dari Aroanop”. Hehe. Mereka memang punya banyak kosakata yang terdengar lucu kalau didengar selain kaki rusak, seperti ketawa besar-besar (tertawa keras-keras), gigi rubuh (gigi rontok kena hantam), atau mabuk tinggi (mabuk berat).

Kaget sekali pas dokter bilang kalau lukaku tidak perlu dibersihkan. Lumpur di Aroanop tidak infectious. Jauh lebih berbahaya debu di kota Timika. Ya sudah akhirnya cuma aku bilas saja dengan air di rumah sebelum aku beri salep pemberian dokter.

Selama dua hari kaki yang luka itu mengantarkanku jalan-jalan di Aroanop. Mulai dari rumah Simson guru honorer di Omponi ke lokasi yang dekat seperti gereja dan klinik sampai yang jauh di Ombani 1.

Dalam perjalanan menuju Ombani 1 itu aku terjerembab di genangan lumpur yang ternyata dalamnya hampir selutut. Sementara aku dan Pak Yohan terengah-engah mendaki, anak-anak kecil itu berlompatan seperti kodok. Seolah-olah semua batu yang ada di jalanan tidak pernah berubah posisinya sejak mereka belum lahir. Sebelum Ombani 1 ada unit pemukiman namanya Ombani 2. Ada honai besar yang masih baru. Dari dalam terdengar suara mama-mama sedang bercakap-cakap. Honai itu berdiri tepat di dekat helipad. Aku ga bisa membayangkan seperti apa keadaannya kalau ada helikopter yang mendarat. Tapi sepertinya honai itu cukup kokoh untuk menahan deru angin helikopter.

“Oke kita lanjut ke atas” kata Octovianus Jangkup, pemuda dari Aroanop yang kini kuliah di Bandung. Aku langsung menyesali keputusanku untuk ikut perjalanan itu. Mestinya aku tetap di Omponi saja berbicara-bicara dengan guru-guru kontrak atau main di sungai Arwanogom yang mengalir deras.

Beberapa jam sebelumnya aku sudah mendaki hingga ke Ombani 2 bersama Octovianus. Tapi begitu kembali ke Omponi, Pak Yohan mengajak naik kembali. Aku mengiyakan karena aku kira sampai ke jembatan saja dan tidak sampai naik ke kampung paling atas. Walah. Jadilah jalan sengsara ala Aroanop. Hehe.

Kaget banget pas sampai di atas. Tanahnya putih! seperti di pantai. Katanya anak-anak “ini kapur…”. Di bagian lain Aroanop katanya malah ada air yang warnanya biru terang. Mungkin kandungan mineralnya tinggi sekali. Maklum saja, Aroanop berada tidak jauh dari Grasberg, yang sekarang dieksplorasi Freeport.

Beberapa pemuda sedang bermain voli. Seperti main voli di Kuta saja. Tanahnya putih cerah. Saking takjubnya aku dengan tanah ini, aku tidak menginjak batangan kayu seperti yang dilakukan Pak Yohan. Bluss…kaki kananku masuk ke sebuah lobang yang diisi lumpur yang warnanya seperti kopi susu. Dalam sekali ternyata, hampir selutut. Untuk beberapa saat aku mencoba mempertahankan sandalku, tapi akhirnya menyerah. Aku tinggalkan saja sandal itu terbenam lumpur Aroanop.

Masyarakat Aroanop tinggal di rumah yang kualitas dan bentuknya bagus sekali. Katanya bantuan dari Freeport dan sebuah yayasan yang namanya Watsing. Aku sempat melihat bagian dalam rumah ketika kami singgah di rumah kepala desa. Hujan mendadak turun dengan deras dan memaksa rombongan kecil kami, Pak Yohan, Octo, aku, dan lima anak yang mengikuti kami dari Omponi.

Pak kepala desa sedang bekerja di “perusahaan” (Freeport maksudnya). Hanya ada mama di rumah. Beliau menyajikan keladi rebus dan tumis daun labu yang enak sekali. Lumayan untuk mengisi tenaga sebelum menempuh perjalanan menuruni lereng ke Omponi.

Hari sudah mulai gelap ketika kami meninggalkan rumah kepala desa. Beberapa kali kami berhenti untuk berbicara dengan warga Ombani 2. Ramah-ramah sekali mereka. Tidak seperti di Timika. Kalau sudah berjumpa dengan seorang warga, bersiaplah merasakan kehangatan persahabatan orang Amungme dengan jabat tangan khas mereka, kut, dan sapaan, “amole…”. Kalo ga salah aku pernah cerita soal kut ini di tulisanku yang judulnya Amole.

Wah benar saja. Sudah mulai surup kalo kata orang Jawa. Cahaya matahari sudah mulai hilang. Padahal masih jauh jalan ke bawah. Harus hati-hati memilih pijakan batu. Apalagi aku bercakar ayam sekarang.

Hup. Hup. Anak-anak itu…lincah sekali mereka. Malu juga aku harus beberapa kali berpegangan tangan supaya tidak kehilangan keseimbangan. Sampai akhirnya aku menginjak batu yang lumayan tajam. Sakitnya baru terasa ketika aku selesai mandi di rumah Simson.

Akhirnya nampak juga jembatan gantung yang menghubungkan Ombani 2 dan Omponi. Pemuda-pemuda Arwanop masih bermain voli.

“Tidak gampang, meno….” kata Octo kepadaku yang sedang berjalan tertatih-tatih. Hehe. Aku cuma meringis. Tidak gampang memang naik gunung.

Aiii….

Foto-foto Aroanop

Surabaya-Johnny (1929)

comment 1
Kliping

1
Ich war jung, Gott, erst sechzehn Jahre
Du kamest von Birma herauf
Und sagtest, ich solle mit dir gehen
Du kämest für alles auf.
Ich fragte nach deiner Stellung
Du sagtest, so wahr ich hier steh
Du hättest zu tun mit der Eisenbahn
Und nichts zu tun mit der See.
Du sagtest viel, Johnny
Kein Wort war wahr, Johnny
Du hast mich betrogen, Johnny, in der ersten Stund
Ich hasse dich so, Johnny
Wie du dastehst und grinst, Johnny
Nimm die Pfeife aus dem Maul, du Hund.

Surabaya-Johnny, warum bist du so roh?
Surabaya-Johnny, mein Gott, ich liebe dich so.
Surabaya-Johnny, warum bin ich nicht froh ?
Du hast kein Herz, Johnny, und ich liebe dich so.

2
Zuerst war es immer Sonntag
So lang, bis ich mitging mit dir
Aber schon nach zwei Wochen
War dir nicht nichts mehr recht an mir.
Hinauf und hinab durch den Pandschab
Den Fluß entlang bis zur See:
Ich sehe schon aus im Spiegel
Wie eine Vierzigjährige.
Du wolltest nicht Liebe, Johnny
Du wolltest Geld, Johnny
Ich aber sah, Johnny, nur auf deinen Mund.
Du verlangtest alles, Johnny
Ich gab dir mehr, Johnny
Nimm die Pfeife aus dem Maul, du Hund.

Surabaya-Johnny, warum bist du so roh ?
Surabaya-Johnny, mein Gott, ich liebe dich so. Surabaya-Johnny, warum bin ich nicht froh ?
Du hast kein Herz, Johnny, und ich liebe dich so.

3
Ich hatte es nicht beachtet
Warum du den Namen hast
Aber an der ganzen langen Küste
Warst du ein bekannter Gast.
Eines morgens in einem Sixpencebett
Werd ich donnern hören die See
Und du gehst, ohne etwas zu sagen
Und dein Schiff liegt unten am Kai.
Du hast kein Herz, Johnny
Du bist ein Schuft, Johnny
Du gehst jetzt weg, Johnny, sag mir den Grund.
Ich liebe dich doch, Johnny
Wie am ersten Tag, Johnny
Nimm die Pfeife aus dem Maul, du Hund.

Surabaya-Johnny, warum bist du so roh ?
Surabaya-Johnny, mein Gott, ich liebe dich so. Surabaya-Johnny, warum bin ich nicht froh ?
Du hast kein Herz, Johnny, und ich liebe dich so.

Joni Surabaya

1
Waktu itu , ya Tuhan, aku masih muda, baru enam belas tahun
Kau datang dari Birma
Dan bilang, harusnya aku ikut kau
Kau yang tanggung semuanya.
Aku tanya apa kerjamu
Kau jawab, sumpah
Aku kerja di kereta api
Tak ada hubungan dengan laut.
Banyak ngomong kau, Joni
Tak ada yang benar, Joni
Kau bohongi aku, Joni, sejak pertama
Aku begitu benci kau, Joni
Cara kau berlagak dan nyengir, Joni
Copot itu cangklong dari moncong, anjing kau.

Joni Surabaya, kenapa kau begitu kejam ?
Joni Surabaya, ya Tuhan, aku begitu cinta kau.
Joni Surabaya, kenapa aku tidak senang ?
Kau tak punya perasaan, Joni, dan aku begitu cinta kau.

2
Pertama semuanya serba indah selalu
Begitu terus sampai aku ikut kau
Tapi baru dua minggu saja aku
Di matamu tak ada lagi yang benarnya.
Pulang-pergi lewat Punjab
Menyusur sungai sampai ke laut:
Sudah kulihat diriku di cermin
Seperti sudah umur empat puluhan
Kau bukanya mau cinta, Joni
Kau maunya uang, Joni
Tapi aku, Joni, tidak peduli, aku dimabuk asmara.
Kau mau semuanya, Joni
Aku berikan lebih, Joni
Copot itu cangklong dari moncong, anjing kau.

Joni Surabaya, kenapa kau begitu kejam ?
Joni Surabaya, ya Tuhan, aku begitu cinta kau.
Joni Surabaya, kenapa aku tak senang ?
Kau tak punya perasaan, Joni, dan aku begitu cinta kau.

3
Aku dulu tidak peduli
Kenapa kau pakai nama itu
Tapi di sepanjang pantai
Kau tamu yang terkenal.
Suatu pagi di losmen murahan
Aku ‘kan dengar gemuruh laut
Dan kau pergi, tanpa pamit
Dan kapalmu di dermaga.
Kejam kau, Joni
Bajingan kau, Joni
Dan kau mau pergi, Joni, kenapa.
Aku begitu cinta kau, Joni
Seperti waktu hari pertama, Joni
Copot itu cangklong dari moncong, anjing kau.

Joni Surabaya, kenapa kau begitu kejam ?
Joni Surabaya, ya Tuhan, aku begitu cinta kau.
Joni Surabaya, kenapa aku tak senang ?
Kau tak punya perasaan, Joni, dan aku begitu cinta kau.

Sumber: Fahmi Faqih, Sigit Susanto – Milis Apresiasi Sastra (apsas@yahoogroups.com)

30

comment 1
Tentang kawan

Dulu aku pernah bernazar tidak akan merayakan ulang tahunku yang ke tiga puluh di Surabaya. Dua ulang tahunku sebelumnya aku rayakan di Yogyakarta. Rasanya kok seperti balik kucing gitu lho, kata orang Jawa, kalo merayakan di Surabaya.

Bukannya aku benci Surabaya. Tapi ya mau gimana lagi meno, Surabaya kurang pas buat aku. Sama seperti kamu merasa kurang pas tinggal di Nabire dan malah betah berlama-lama di Timika, kota yang katanya kota terkotor di Papua ini. Ah sudahlah, ini kita tidak sedang bicara soal Timika, tapi soal umur dan soal pilihan-pilihan. Kadang memang ada hal yang tidak bisa kamu perdebatkan. Termasuk soal di kota mana kamu merasakan dirimu berkembang pesat dan di kota kamu merasa mandek tidak bergerak.

Dan soal ulang tahunku, eh kok ya keturutan ga ngerayain di Surabaya. Malah di tempat yang jauh banget dan tidak pernah aku bayangkan bakal aku tinggali, di Papua. Tapi justru di tempat ini aku menemukan banyak hal soal diriku.

Dulu di setiap ulang tahun aku biasa bikin semacam evaluasi diri dan resolusi ke depan. Kali ini tidak. Dan bukan karena sibuk kerja atau jauh dari teman-teman, tidak. Sekalipun kamu menyampaikannya dengan urat lehermu meninggi dan dengan nada nyaris-histeris, pendapatmu pantas aku catat. Selain memang benar adanya dan karena rasanya aku pernah dengar dari seorang penulis (Albert Camus kalau tidak salah), tapi karena pendapatmu itu merupakan kesimpulan atas hal yang aku rasakan akhir-akhir ini. Kamu bilang kalau pada umur 30 tahun orang itu harus benar-benar memahami dirinya, apa saja kelemahan dan kualitas dirinya, mengerti kemampuan diri dan memperkirakan kegagalan-kegagalan yang akan dihadapi. Dan yang lebih penting, menerima semua dirinya apa adanya.

Aku pikirkan hal itu saat aku pelan-pelan merayap kerangka penyangga tulisan Jayapura City di pemancar di Jayapura. Dari situ kamu bisa melihat kota Jayapura yang nyaman terlindung Teluk Apo dan dikaruniai lanskap kota yang luar biasa indahnya karena dipeluk oleh gugusan bukit-bukit. Samudra pasifik yang mahadahsyat dan pernah menjadi medan laga Perang Dunia II itu seperti ikut terdiam menyaksikan Jayapura. Kalau saja saat itu aku mendengar suara jeritan burung-burung camar, seperti nada dering telepon genggammu, mungkin aku akan langsung melompat ke bawah. Begitu indahnya aku jadi pengen mati di situ.

Tapi tanpa terjun bebas pun sebenarnya aku sudah mati, atau paling tidak ada bagian dalam diriku yang selama ini begitu menguasai diriku diam-diam meloncat ke bawah. Ini masa baru. Tidak bisa lagi aku membanding-bandingkan semua peristiwa, menimbang-nimbang kelemahan dan keunggulan diri seperti dulu. Sekarang aku (kok anehnya) sudah semakin dekat dengan Samudra Sangkan-Paran, maha rahim asal dan tujuan diri, harus semakin belajar membaca angin dan tidak menggulung atau memutar layar sambil berteriak-teriak tapi dengan penuh keteguhan bahwa aku akan mencapai tujuan dengan selamat.

Selamat ulang tahun, diri.

Tolak RUU Anti Pornografi & Pornoaksi

Leave a comment
Current issues

Bikin undang undang kok ga pernah bener. Kalau UU ini berlaku semua mama dan meno di Timika dan seluruh Papua sini tidak bisa bikin tarian perang lagi, tidak bisa bakar batu, tidak bisa upacara adat, dan banyak tidak bisa lainnya. Lebih jengkel tadi siang, udah atm antri lama banget, satpamnya belagu, baju kecipratan kuah rendang, eh lihat berita di tv kok ya liputan demonya organisasi Islam yang memandang solusi masalah syahwat adalah penerapan syariat Islam. Dasar logika kelas kambing.

Hati-hati di Jalanan (Timika)

Leave a comment
Papua

Uh. Capek. Banyak banget kerjaan. Bisa jadi pulang malam lagi nanti ini. Pak Yohan dan Pak Musa masih ke Milepost 21. Lihat tempat untuk lokasi pelatihan staf Biro Pendidikan. Setelah mereka balik mau lanjut ngerjain sebuah pekerjaan.

Bisa dipastikan nanti kami (Pak Yus, Fredy, Jones, dan aku) akan melintasi jalanan sepi antara Timika-Kuala Kencana yang berjarak kurang lebih 20 km itu. Dari Timika ke SP2 masih agak rame. Tapi setelah kuburan dekat jembatan, suasana akan lebih sepi dan gelap. Mau masuk Kuala Kencana apalagi, rumah-rumah dan bangun digantikan oleh hutan lebat.

Dulu sebelum ke Papua aku sering dengar soal “uang kepala” yang selalu dikisahkan dengan cara yang sangat mengerikan. Memang benar mengerikan adanya. Menubruk orang di Papua sini bisa mengakibatkan orang yang lalai mengemudi itu “didenda” hingga milyaran rupiah. Apalagi jika sampai meninggal dunia. Wah bisa ratusan milyar.

Kalau yang ditabrak hewan peliharaan seperti anak ayam atau babi agak sedikit ringan. Paling harus kuat ngeyel. Seperti bule teman Fredy yang pernah menabrak babi. Sang pemilik babi langsung menurunkan tuntutannya setelah si bule yang sempat gemetar ketakutan akhirnya mampu “naik banding” dengan beargumen; “bapa, ini babi jalan di jalanan manusia. Salah siapa?”

Sebenarnya argumen si bule itu bisa keok juga seperti yang dialami teman Jones, yang melanggar anak ayam. Si pemilik anak ayam menolak ganti rugi berupa uang yang sebenarnya bisa untuk beli beberapa ekor ayam dan bahkan ganti rugi berupa enam ekor ayam. Kata meno itu, “ah tidak, ini anak ayam bisa bikin telur, telur bisa bikin ayam lagi, bisa bikin kue…”. Entah bagaimana kelanjutan perdebatan teman Jones soal anak ayam yang sepanjang dan sama sia-sianya seperti lagu Anak Ayam Turun Seribu.

Fredy sendiri pernah apes. Mobil yang dia kendarai belum jauh lepas dari parkiran kantor ketika tiba-tiba brekk..Sebuah ojek menabrak mobilnya. Bukan sopir ojeknya yang Fredy khawatirkan, tapi mama penumpang ojek itu yang nyaris nyemplung ke selokan. Sekedar catatan, hampir semua selokan Timika sini dalamnya sekitar 1m.

Sang sopir yang orang Makassar itu langsung melabrak Fredy. Untungnya ada beberapa saksi yag meringankan Fredy, mengatakan bahwa si ojek yang ngawur karena ngebut.

Lebih lega Fredy ketika Mama yang baru bangkit setelah jumpalitan itu malah menuding muka si tukang ojek, “ah benar, ini ojek memang dari tadi kebut-kebutan.”

Huhh…Makanya aku selalu hati-hati di jalan. Walaupun jalanan lengang dan mulus antara Timika-Kuala Kencana kadang mengundang kita untuk memacu gas.

Apalagi kalau hari Senin seperti ini. Pengennya pulang, mandi, makan, dan tidur. Larut malam aku akan terbangun dan membaca atau menulis. Setelah itu ngudud di depan rumah melihat berbagai macam hewan malam.

Menjelajah Dunia Maya

Leave a comment
Web 2.0

Ada fenomena komunikasi dewasa ini yang cukup layak menjadi perenungan kita, bahwa perkembangan internet harus diikuti dengan kepemilikan gadget. Maka, semakin seringlah kita melihat kafe dipenuhi orang yang membawa laptop dan tangan-tangan yang mengenggam iPhone atau Blackberry, tapi tidak bisa memanfaatkan internet dengan efektif. Perkembangan teknologi mestinya memacu produktivitas, dalam kerja maupun peningkatan kapasitas pribadi.

Padahal selain efektif, internet tentu juga harus ekonomis. Buat apa harus beli iPhone atau smart phone lainnya jika kita tidak harus mengirim berita atau membuka kotak surat setiap hari? Ini bukan pembelaan bagi yang berkantong cekak seperti mahasiswa atau pekerja produktif tapi defisit melulu seperti saya ini, tapi saya yakin semua pengembang program internet bertujuan memudahkan kehidupan tanpa harus menambah beban baru dan dengan niatan menjadikan internet sebagai ruang luas tak terbatas untuk berbagi ilmu dan pengetahuan oleh siapa saja.

Pemerintah sebenarnya sudah cukup tanggap dengan perkembangan internet, dengan mengembangkan Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas) dan Buku Seri Elektronik (BSE). Tapi masih perlu usaha keras untuk menyinergikan upaya itu dengan pengaruh kuasa modal dalam perangkat keras pendukung internet, seperti komputer dan laptop murah.

Sementara itu kita, di komputer kantor dengan koneksi yang memble, komputer warnet yang sudah butut, atau komputer pribadi di rumah, setiap hari diiming-imingi laptop murah, smart phone dan berbagai gadget lainnya. Sembari kita membayangkan semua benda itu, kita tersesat di jagat dunia maya, tercangkul di dalam berbagai program social networking (jejaring sosial) macam Friendster, Facebook, atau Myspace.

Sebuah survei di majalah BusinessWeek edisi Juli 2007 menempatkan Jakarta sebagai kota yang paling banyak melakukan aktivitas di ranah blog, jauh di atas Beijing dan Mumbai. Tapi kenapa Indonesia tidak banyak bicara di dalam perkembangan dunia internet seperti India? Kenapa kampanye Visit Indonesia Year 2008 tidak cukup banyak berbicara di jagad maya? Pertanyaan-pertanyaan itu patut kita imbangi dengan beberapa torehan prestasi generasi muda yang mampu menggunakan keuntungan internet.

Saya yakin bahwa juga banyak orang yang memikirkan produktivitas kita berinternet, dan suatu saat pasti akan jadi gerakan semacam menggunakan listrik dengan efektif. Saat ini saya hanya akan mengajak berbagi kiat dan siasat menggunakan internet dengan efektif dan produktif menurut bidang kerja dan minat kita masing-masing.

Baca lebih lanjut >>

Infonie ver 2.0

Leave a comment
Web 2.0
From infonie

Akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke wordpress. Terserah kamu mau bilang ini pengkhianatan atau bagaimana. Toh aku masih pake hampir semua produk Google dan usaha Google untuk mengorganisasikan semua hal di dunia ini. Akun di blogger ini tidak akan aku hapus. Untuk kenang-kenangan.

Pertama belajar bikin blog ya pake blogger, tahun 2003 dulu. Aku dulu biasa ngenet di sebuah warnet yang kotor dan lambat sekali koneksinya di dekat rumah. Setelah lulus kuliah aku biasa ngenet di sebuah warnet di daerah Bratang yang sama mutunya dengan warnet dekat rumahku. Entah kenapa di Surabaya jarang sekali ada warnet bagus.

Blog ini awalnya sempat diniatkan untuk jadi tempat nulis rame-rame. Ari sempat nimbrung sebelum akhirnya dia mencuri ilmu blog dan membuat blog sendiri yang (rasanya) lebih bermutu isinya ketimbang blogku. Dasar taoke. Muhaimin juga pernah ikutan. Tapi mungkin dia lebih tepat berdakwah lewat kamera ketimbang blog.

Masa paling sepi mungkin tahun 2004 sampai 2006. Pas aku tinggal di Yogyakarta blog ini malah semakin kuabaikan, gara-gara bermimpi bisa mahir PHP dan bikin web sendiri. Tapi setelah ke Surabaya lagi malah rajin nulis. Sekalipun sebagai pelampiasan sumpek kerja tapi aku ga pernah ngrasani kantor di blog. Sama sekali bukan topik yang menghibur, baik untuk diriku sendiri maupun untuk orang lain.

Semua posting di blog ini juga bisa dibaca di akun multiply-ku yang aku bikin untuk cari-cari mp3.

Baiklah kawan. Selamat datang di rumah baruku.

Google Account Ngadat

Leave a comment
Web 2.0

Asu. Seharian kemarin aku panik. Beberapa account google yang aku gilai selama ini ngadat tidak bisa diakses, seperti gmail dan blogger. Google reader aku belum sempat cek. Picasa baik-baik saja tapi untuk unggah gambar lama sekali. Tidak seperti biasanya.

Tidak hanya itu, situs web lain yang selalu aku gunakan juga tidak bisa diakses, seperti del.icio.us dan wordpress. Email kantor sendiri juga lambat sekali untuk kirim email.

Setelah mencuri-curi waktu di antara rapat anggaran aku bisa mengakses semua situs web itu lewat vtunnel. Tapi belum puas juga. Wong biasanya ga ada masalah kok.  Masa kena virus? Ah itu kan cuma terjadi sama orang-orang yang selalu apes sama komputer aja. Apalagi yang sifatnya merusak seperti ini.

Tapi setelah aku baca-baca beberapa artikel di Techspot, akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa laptopku kena virus. Bahkan mungkin jenis yang berbahaya, yang sampai mencuri ”identitas”ku di dunia maya. Aneh. Padahal aku ga pernah melakukan transaksi on-line.

Sebuah artikel di International Herald Tribune menjelaskan bahwa sejak pertengahan tahun ini banyak pengguna Gmail yang kerepotan karena ga bisa buka emailnya karena sistem google dibajak oleh perusahaan yang namanya Zoho. Yah begitulah. Namanya juga dagang. Sesekali saling sikut.

Setelah komputer aku pindai dengan software pelacak spyware adware dan barang-barang haram internet lainnya, akhirnya pas di sore hari aku bisa buka Gmail dan Yahoomail. Sesuai petunjuk di techspot aku lakukan beberapa langkah pengamanan email.