Hati-hati di Jalanan (Timika)

Leave a comment
Papua

Uh. Capek. Banyak banget kerjaan. Bisa jadi pulang malam lagi nanti ini. Pak Yohan dan Pak Musa masih ke Milepost 21. Lihat tempat untuk lokasi pelatihan staf Biro Pendidikan. Setelah mereka balik mau lanjut ngerjain sebuah pekerjaan.

Bisa dipastikan nanti kami (Pak Yus, Fredy, Jones, dan aku) akan melintasi jalanan sepi antara Timika-Kuala Kencana yang berjarak kurang lebih 20 km itu. Dari Timika ke SP2 masih agak rame. Tapi setelah kuburan dekat jembatan, suasana akan lebih sepi dan gelap. Mau masuk Kuala Kencana apalagi, rumah-rumah dan bangun digantikan oleh hutan lebat.

Dulu sebelum ke Papua aku sering dengar soal “uang kepala” yang selalu dikisahkan dengan cara yang sangat mengerikan. Memang benar mengerikan adanya. Menubruk orang di Papua sini bisa mengakibatkan orang yang lalai mengemudi itu “didenda” hingga milyaran rupiah. Apalagi jika sampai meninggal dunia. Wah bisa ratusan milyar.

Kalau yang ditabrak hewan peliharaan seperti anak ayam atau babi agak sedikit ringan. Paling harus kuat ngeyel. Seperti bule teman Fredy yang pernah menabrak babi. Sang pemilik babi langsung menurunkan tuntutannya setelah si bule yang sempat gemetar ketakutan akhirnya mampu “naik banding” dengan beargumen; “bapa, ini babi jalan di jalanan manusia. Salah siapa?”

Sebenarnya argumen si bule itu bisa keok juga seperti yang dialami teman Jones, yang melanggar anak ayam. Si pemilik anak ayam menolak ganti rugi berupa uang yang sebenarnya bisa untuk beli beberapa ekor ayam dan bahkan ganti rugi berupa enam ekor ayam. Kata meno itu, “ah tidak, ini anak ayam bisa bikin telur, telur bisa bikin ayam lagi, bisa bikin kue…”. Entah bagaimana kelanjutan perdebatan teman Jones soal anak ayam yang sepanjang dan sama sia-sianya seperti lagu Anak Ayam Turun Seribu.

Fredy sendiri pernah apes. Mobil yang dia kendarai belum jauh lepas dari parkiran kantor ketika tiba-tiba brekk..Sebuah ojek menabrak mobilnya. Bukan sopir ojeknya yang Fredy khawatirkan, tapi mama penumpang ojek itu yang nyaris nyemplung ke selokan. Sekedar catatan, hampir semua selokan Timika sini dalamnya sekitar 1m.

Sang sopir yang orang Makassar itu langsung melabrak Fredy. Untungnya ada beberapa saksi yag meringankan Fredy, mengatakan bahwa si ojek yang ngawur karena ngebut.

Lebih lega Fredy ketika Mama yang baru bangkit setelah jumpalitan itu malah menuding muka si tukang ojek, “ah benar, ini ojek memang dari tadi kebut-kebutan.”

Huhh…Makanya aku selalu hati-hati di jalan. Walaupun jalanan lengang dan mulus antara Timika-Kuala Kencana kadang mengundang kita untuk memacu gas.

Apalagi kalau hari Senin seperti ini. Pengennya pulang, mandi, makan, dan tidur. Larut malam aku akan terbangun dan membaca atau menulis. Setelah itu ngudud di depan rumah melihat berbagai macam hewan malam.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s