Aroanop

Leave a comment
Papua

peta-aroanop-rev-p-tabuni1

Luka di telapak kakiku sudah mulai kering. Dua hari kemarin sempat bengkak. Entah kenapa. Mungkin karena aku kurang cocok dengan obat antibiotik dari dokter di Klinik Kuala. Hampir setiap kali ketemu orang di sini selalu dapat sapaan yang cenderung mengerikan untuk didengar; “hei, kaki rusak ya dari Aroanop”. Hehe. Mereka memang punya banyak kosakata yang terdengar lucu kalau didengar selain kaki rusak, seperti ketawa besar-besar (tertawa keras-keras), gigi rubuh (gigi rontok kena hantam), atau mabuk tinggi (mabuk berat).

Kaget sekali pas dokter bilang kalau lukaku tidak perlu dibersihkan. Lumpur di Aroanop tidak infectious. Jauh lebih berbahaya debu di kota Timika. Ya sudah akhirnya cuma aku bilas saja dengan air di rumah sebelum aku beri salep pemberian dokter.

Selama dua hari kaki yang luka itu mengantarkanku jalan-jalan di Aroanop. Mulai dari rumah Simson guru honorer di Omponi ke lokasi yang dekat seperti gereja dan klinik sampai yang jauh di Ombani 1.

Dalam perjalanan menuju Ombani 1 itu aku terjerembab di genangan lumpur yang ternyata dalamnya hampir selutut. Sementara aku dan Pak Yohan terengah-engah mendaki, anak-anak kecil itu berlompatan seperti kodok. Seolah-olah semua batu yang ada di jalanan tidak pernah berubah posisinya sejak mereka belum lahir. Sebelum Ombani 1 ada unit pemukiman namanya Ombani 2. Ada honai besar yang masih baru. Dari dalam terdengar suara mama-mama sedang bercakap-cakap. Honai itu berdiri tepat di dekat helipad. Aku ga bisa membayangkan seperti apa keadaannya kalau ada helikopter yang mendarat. Tapi sepertinya honai itu cukup kokoh untuk menahan deru angin helikopter.

“Oke kita lanjut ke atas” kata Octovianus Jangkup, pemuda dari Aroanop yang kini kuliah di Bandung. Aku langsung menyesali keputusanku untuk ikut perjalanan itu. Mestinya aku tetap di Omponi saja berbicara-bicara dengan guru-guru kontrak atau main di sungai Arwanogom yang mengalir deras.

Beberapa jam sebelumnya aku sudah mendaki hingga ke Ombani 2 bersama Octovianus. Tapi begitu kembali ke Omponi, Pak Yohan mengajak naik kembali. Aku mengiyakan karena aku kira sampai ke jembatan saja dan tidak sampai naik ke kampung paling atas. Walah. Jadilah jalan sengsara ala Aroanop. Hehe.

Kaget banget pas sampai di atas. Tanahnya putih! seperti di pantai. Katanya anak-anak “ini kapur…”. Di bagian lain Aroanop katanya malah ada air yang warnanya biru terang. Mungkin kandungan mineralnya tinggi sekali. Maklum saja, Aroanop berada tidak jauh dari Grasberg, yang sekarang dieksplorasi Freeport.

Beberapa pemuda sedang bermain voli. Seperti main voli di Kuta saja. Tanahnya putih cerah. Saking takjubnya aku dengan tanah ini, aku tidak menginjak batangan kayu seperti yang dilakukan Pak Yohan. Bluss…kaki kananku masuk ke sebuah lobang yang diisi lumpur yang warnanya seperti kopi susu. Dalam sekali ternyata, hampir selutut. Untuk beberapa saat aku mencoba mempertahankan sandalku, tapi akhirnya menyerah. Aku tinggalkan saja sandal itu terbenam lumpur Aroanop.

Masyarakat Aroanop tinggal di rumah yang kualitas dan bentuknya bagus sekali. Katanya bantuan dari Freeport dan sebuah yayasan yang namanya Watsing. Aku sempat melihat bagian dalam rumah ketika kami singgah di rumah kepala desa. Hujan mendadak turun dengan deras dan memaksa rombongan kecil kami, Pak Yohan, Octo, aku, dan lima anak yang mengikuti kami dari Omponi.

Pak kepala desa sedang bekerja di “perusahaan” (Freeport maksudnya). Hanya ada mama di rumah. Beliau menyajikan keladi rebus dan tumis daun labu yang enak sekali. Lumayan untuk mengisi tenaga sebelum menempuh perjalanan menuruni lereng ke Omponi.

Hari sudah mulai gelap ketika kami meninggalkan rumah kepala desa. Beberapa kali kami berhenti untuk berbicara dengan warga Ombani 2. Ramah-ramah sekali mereka. Tidak seperti di Timika. Kalau sudah berjumpa dengan seorang warga, bersiaplah merasakan kehangatan persahabatan orang Amungme dengan jabat tangan khas mereka, kut, dan sapaan, “amole…”. Kalo ga salah aku pernah cerita soal kut ini di tulisanku yang judulnya Amole.

Wah benar saja. Sudah mulai surup kalo kata orang Jawa. Cahaya matahari sudah mulai hilang. Padahal masih jauh jalan ke bawah. Harus hati-hati memilih pijakan batu. Apalagi aku bercakar ayam sekarang.

Hup. Hup. Anak-anak itu…lincah sekali mereka. Malu juga aku harus beberapa kali berpegangan tangan supaya tidak kehilangan keseimbangan. Sampai akhirnya aku menginjak batu yang lumayan tajam. Sakitnya baru terasa ketika aku selesai mandi di rumah Simson.

Akhirnya nampak juga jembatan gantung yang menghubungkan Ombani 2 dan Omponi. Pemuda-pemuda Arwanop masih bermain voli.

“Tidak gampang, meno….” kata Octo kepadaku yang sedang berjalan tertatih-tatih. Hehe. Aku cuma meringis. Tidak gampang memang naik gunung.

Aiii….

Foto-foto Aroanop

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s