Orang Kamoro dan Liturgi

comments 2
Catatan pertunjukan / Papua

Paskah kali ini akhirnya aku bisa memenuhi janjiku dengan Pak Anton Mipitapo untuk ikut misa di Hiripau, dan bisa lihat meriahnya perayaan komuni pertama (di sini istilahnya sambut baru).

Sebelum misa Paskah kedua dimulai, sudah banyak orang berkumpul di halaman gereja Santo Mikael Hiripau. Umumnya para orang tua anak-anak yang akan dibaptis. Tidak lama kemudian datanglah beberapa mama-mama datang membawa rok rumbai-rumbai yang akan dikenakan waktu menari. Mereka itu yang kemudian mengiringi ritus pembuka misa saat Romo Teguh maju ke altar.

From Ayuka – Hiripau
From Ayuka – Hiripau

Di saat persembahan, mereka kembali menari mengiringi petugas yang membawa persembahan ke depan. Mama-mama yang datang terlambat dan anak kecil juga ikut menari. Sebagian ikut mengiringi persembahan, sebagian lagi yang duduk di deretan bangku paling belakang. Padahal sebelumnya, baik mama-mama maupun bapak-bapak dan remaja, pada duduk membisu.

Mungkin bagi orang Kamoro, memuliakan Tuhan adalah menjadi satu dengan ritme lagu alam. Melihat mama-mama itu bergoyang, aku jadi ingat riak sungai Wakia dan air payau yang terjebak di akar pohon mangi-mangi (bakau). Liturgi yang didatangkan dari Barat bagi mereka mungkin seperti sungai yang sedang surut airnya.

Aku sendiri dulu paling sering kabur dari gereja. Sampai sekarang aku masih ingat sekali bagaimana Papa menegurku karena aku kabur dari gereja tepat sebelum komuni. Padahal aku baru saja menerima komuni pertama. Bagiku saat itu (dan kadang saat ini juga sebenarnya walaupun sudah semakin jarang), liturgi adalah tirai yang malah memisahkanku dari diriku sendiri dan Tuhan.

Seperti itulah keadaannya di Ayuka. Di kampung yang terletak kurang lebih 10 km dari Mapurujaya ini, misa Sabtu Suci berlangsung dengan aneh. Tidak satu pun petugas misa yang siap dan sepertinya tidak ada satu orang pun di dalam ruangan itu yang ngeh bahwa mereka sedang memperingati kebangkitan Kristus. Entah apa yang membuat bapak-bapak itu mengenakan kemeja batik mereka dan berangkat ke gereja.

Menurut Pak John Nakiaya, penasehat Sekretaris Eksekutif LPMAK dan tokoh masyarakat Kamoro, proses inkulturasi gereja di Mimika memang masih dirasa kurang. Apalagi jika dibandingkan dengan yang terjadi di Asmat, suku yang masih serumpun dengan suku Kamoro. Inkulturasi gereja dengan budaya Asmat membuat orang Asmat merasa menjadi bagian utuh dari gereja dan liturgi, bukan hanya pengisi bangku gereja.

From Ayuka – Hiripau

Untungnya, bagi Romo Teguh, keunikan sifat orang Kamoro di Ayuka tidak membuatnya kapok tapi justru tertantang. Menurut Romo Teguh, pelajaran inkulturasi budaya Mee di dataran tinggi Paniai perlu dikembangkan juga buat orang Kamoro. Romo Teguh merasa tertantang untuk memasukkan unsur-unsur budaya Kamoro dalam liturgi, seperti iringan pukulan tifa.

(Ikutan) Kepergok Membaca

Leave a comment
Buku / Foto / Papua

Biasanya yang menghentak aku dengan ide-ide baru adalah jpgmag. Baru sekarang aku disadarkan oleh sebuah blog dari Indonesia sendiri, namanya kepergok membaca.

Baru sekarang aku sadar bahwa aku hampir tidak pernah (baik sengaja maupun tidak sengaja) memotret orang yang sedang membaca. Mungkin karena di Papua membaca bukan kebiasaan yang populer dan jarang sekali aku melihat orang Papua membaca. Sebentar… dulu di Jawa pun aku juga jarang melihat orang membaca. Paling cuma membaca koran atau brosur. Tapi membaca buku? Hmmm…kayanya jarang. Bahkan di kampus sekalipun.

Menurut keterangan di blog itu, blog kepergok membaca diselenggarakan untuk menyambut hari buku sedunia yang dirayakan setiap tanggal 23 April.

Hari buku sedunia sendiri adalah kegiatan UNESCO. Di Indonesia perayaan hari buku sedunia diadakan oleh Forum Indonesia Membaca, yang sayangnya tidak dijelaskan apa dan siapa saja anggota forum ini. Mungkin semacam kumpulan penerbit dan toko buku, serta editor dan penulis. Tapi di situsweb worldbookday indonesia, dijelaskan bahwa tujuan hari buku sedunia adalah untuk menyemangati masyarakat, terutama kalangan anak–anak dan remaja untuk mengeksplorasi manfaat dan kesenangan yang bisa didapat dari buku dan membaca.

Setelah aku bongkar-bongkar, ternyata ada juga foto orang membaca di koleksi pribadiku. Aku mengirimkan empat foto, semuanya di Papua. Ada satu foto yang sebenarnya enggan aku ikutkan. Foto itu menyampaikan kesan sedih dan mengabarkan betapa parahnya kondisi pendidikan di Papua. Silakan lihat foto yang paling bawah dan nilai sendiri bagaimana.

Tapi baiknya memang aku kirim semua, yang kesannya positif dan (seolah-olah) pesimis.

Misa Terakhir Pastur Gabriel

comments 3
Film

(Resensi film “The Mission”)

Sutradara: Roland Joffé
Sinematografi: Chris Menges
Musik: Ennio Morricone
Produksi: 1986
Durasi: 2:06

Pada pertengahan tahun 1750-an, kurang lebih 250 tahun setelah Columbus mendarat di Benua Amerika, orang Guarani yang hidup nomadik di Rio de La Plata di Paraguay akhirnya berjumpa dengan peradaban Barat.

Seperti sudah kita ketahui, perjumpaan masyarakat asli Amerika dengan peradaban Barat adalah perjumpaan yang perih. Orang Guarani diburu dan dijadikan budak oleh orang Spanyol, sekalipun sebenarnya pada masa itu Spanyol sudah tidak mengakui perbudakan. Bahkan Gereja Katolik sendiri juga sudah tidak mengakui perbudakan. Namun apa mau dikata, dihapusnya perbudakan tidak berarti musnahnya praktik perbudakan, apalagi yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

***

Dengan latar belakang sejarah itulah, film garapan Roland Joffé yang dirilis tahun 1986 ini dibuat. Film dimulai dengan adegan Uskup Altamirano (Ray McAnally), perwakilan Vatikan untuk Amerika Latin, memdiktekan laporannya bagi Vatikan. Laporan yang gamang. Di satu sisi Uskup Altamirano melaporkan tunainya tugas membereskan daerah misi ordo Serikat Jesuit di sebuah daerah di Amerika Latin yang dipersengketakan Spanyol dan Portugis. Sementara di satu sisi Uskup Altamirano seperti menyayangkan tindakannya sendiri, yang menyebabkan musnahnya daerah misi Jesuit dan jatuhnya orang Guarani ke dalam perbudakan oleh bangsa Portugis.

Padahal sungguh tidak mudah untuk meraih kepercayaan orang Guarani. Seorang pastur yang mencoba masuk ke kehidupan orang Guarani kemudian disalibkan dan dibuang ke sungai. Hingga kemudian datanglah seorang pastur muda yang bernama Gabriel (Jeremy Irons).

Dengan hanya berbekal seruling, pastur Gabriel berangkat menempuh perjalanan berat menyusuri sungai dan mendaki air terjun untuk mencapai daerah orang Guarani. Ketika akhirnya berjumpa dengan orang Guarani, pastur Gabriel menggunakan serulingnya untuk membuat kontak. Hasilnya, dia diterima dengan baik oleh orang Guarani. Kehidupan orang Guarani berkembang. Mereka tidak hanya memiliki perkampungan yang layak tapi juga memiliki perkebunan-perkebunan mereka sendiri.

Sementara di sisi lain, dikisahkan transformasi Mendoza (Robert De Niro), seorang pemburu budak yang membunuh adiknya sendiri dan menjadi orang linglung yang disiksa rasa bersalahnya. Mendoza kemudian menemukan jalan penebusan dosa dan rasa bersalahnya dengan menyeret semua peralatan perangnya menuju ke perkampungan orang Guarani bersama dengan pastur Gabriel.

Setelah menerima pengampunan dari orang Guarani, Mendoza turut menjadi penggiat dalam daerah misi dan bahkan memutuskan menjadi pastur.

Kehadiran Uskup Altamirano beserta delegasi Spanyol dan Portugis di daerah misi pastur Gabriel menjadi penggerak cerita. Uskup Altamirano sebenarnya datang untuk membawa pesan Vatikan, daerah misi harus gulung tikar untuk diserahkan ke Portugis. Berani menolak resikonya Portugal akan memutuskan hubungan dengan gereja Katolik.

Dalam turne-nya itu, Uskup Altamirano malah menjadi gentar. Dia menyaksikan bagaimana masyarakat lokal setempat, orang Guarani, tidak hanya diberi label “sudah dikristenkan” tapi juga dimampukan agar sederajat dengan orang Eropa. Orang Guarani tidak hanya mampu menyanyikan lagu-lagu Gregorian dengan baik, tapi juga mampu mengelola perkampungan dan perkebunan mereka sendiri sama baiknya dengan yang dikelola orang Eropa.

Tapi toh, gereja tak kuasa menolak arus politik saat itu. Daerah misi harus dialihkan ke Portugal dan orang Guarani harus kembali ke hutan atau jadi budak.

Berbeda dengan rumusan film-film Hollywood (seperti Avatar yang sekarang sedang heboh), para Jesuit tidak serta merta menolak keputusan itu dan mengajak orang Guarani yang sangat kecewa dengan gereja untuk memberontak.

Sekalipun sama-sama menolak perintah Uskup, pastur Gabriel memilih untuk “membantu mereka (orang Guarani) sebagai pastur” sedangkan pastur Mendoza dan seorang Jesuit lainnya (Liam Neeson) memilih menanggalkan jubah pastur dan memulai perlawanan bersenjata.

Pastur Gabriel memilih memimpin misa terakhir untuk orang Guarani di saat Mendoza dan mantan Jesuit lainnya menyiapkan perlawanan bersenjata. Keduanya kemudian rebah diterjang peluru pasukan Portugis. Di saat-saat akhir tersebut, film nyaris tidak diwarnai dengan dialog. Adegan demi adegan datang silih berganti membuat kita bertanya-tanya; pastur Gabriel dan Mendoza sama-sama menolak perintah, tapi pilihan siapa yang lebih bermakna?

***

Kita juga boleh memilih, penggalan film mana yang secara visual menyuarakan akhir riwayat kemajuan Suku Guarani; apakah ketika Pastur Gabriel akhirnya terhempas ke tanah bersama dengan monstran yang dipegangnya beserta anak-anak dan perempuan Suku Guarani, ketika Pastur Rodrigo menyadari bahwa jebakannya ternyata sia-sia belaka, atau ketika juru runding Portugis dan Spanyol membentangkan peta dan memasukkan daerah orang Guarani masuk ke wilayah Portugis.

Seperti ajakan Romo Bas (Kompas, Desember 2009), orang Guarani bisa diganti dengan orang Amungme, Kamoro, Dayak Iban, atau Orang Rimba dan setelah itu kita bayangkan seperti apa akhir kehidupan masyarakat adat di negara kita dan dampaknya bagi perkembangan derajat kemanusiaan bangsa kita.

Tidak heran jika kemudian Vatikan memasukkan film ini dalam daftar film yang terpuji sepanjang seratus tahun sejak pertama kali film diperkenalkan. ***

Papua Memanggilmu Menjadi Guru!

comments 5
Foto / Papua

RES_Poster 2 copy3

Papua adalah provinsi yang dilimpahi kekayaan alam yang melimpah. Sayangnya hingga kini sebagian besar masyarakat Papua tidak memilki akses layak kepada pendidikan, kesehatan, dan kemandirian ekonomi.

Anak-anak berduyun-duyun datang ke sekolah, sekalipun menempuh perjalanan jauh dan tidak ada guru yang mengajar. Di pedalaman dan daerah kota keadaannya kurang lebih sama. Mereka membutuhkan orang-orang muda yang mau membantu mengisi hari-hari mereka dengan belajar mempersiapkan diri untuk meraih masa depan.

Beranikah kamu memberikan sepenggal kehidupanmu kepada masyarakat Papua dengan menjadi guru?

Poster Pendidikan Papua

comments 4
Foto / Papua

 

RES_Poster copy2

Foto di poster ini aku ambil di depan gedung SD YPPK (atau Inpres, ya?) Atuka, Mimika. Hari sedang mendung saat itu. Di dalam gedung sekolah, anak-anak duduk diam di meja mereka. Beberapa kelas nampak kosong tidak ada guru yang mengajar. Ketika aku mengintip di jendela, nampak ada yang sibuk menulis, ada yang bersenda gurau dengan temannya, ada juga yang cuma memandangiku sambil tersenyum. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa pernah bertemu dengan anak itu.

Kedatangan rombongan kami pagi itu di Atuka yang sepi tentu sangat menarik perhatian. Sebagian anak-anak di ruang kelas yang tidak ada gurunya langsung berhamburan keluar.

Anak-anak Papua umumnya sangat ramah dengan kamera. Mereka akan langsung mengarahkan pandangan mereka ke kamera. Seolah-olah mereka tahu bahwa ada mata yang tersembunyi di balik lensa kamera dan ke mata itulah pandangan mereka bukan tertuju, bukan ke lensa kamera.

Dari beberapa foto di depan SD Atuka saat itu, foto anak inilah yang paling aku suka dan rasanya sangat menggambarkan semangat anak-anak Papua untuk maju. Awalnya aku beri body text tapi rasanya mata anak ini sudah cukup berbicara. Tinggal tambah header text “pendidikan untuk semua”.

Silakan bagi yang mau download dan pakai di web (kalau dicetak sepertinya kurang bagus), sejauh tidak untuk tujuan komersial dan hal-hal yang menganjurkan SARA, kekerasan, anti-gender, dan anti-demokrasi.

Untuk foto tanpa watermark silakan hubungi saya melalui email: onny.wiranda@gmail.com

Ribuan Kilometer dari Patung Pembebasan Irian Barat

comments 6
Catatan Perjalanan / Papua
From Akimuga

Helikopter yang mengangkut kami akhirnya mendarat di lapangan SMP Negeri Akimuga di Kiliarma. Biasanya setiap helikopter mendarat, lokasi pendaratan akan segera dipenuhi anak-anak. Tapi kali itu tidak. Hanya ada Pak Frans Pogolamun, Kepala Sekolah SMP Negeri Akimuga, yang berdiri di beranda bangunan kayu bercat merah muda. Dia sendirian menahan deru angin helikopter dan tidak sadar bahwa sebuah payung yang tergeletak di sampingnya diterbangkan angin hingga jauh ke halaman belakang gedung itu.

Sesaat setelah helikopter pergi, Pak Frans segera menyambut rombongan kami. Tidak lama kemudian nampak seorang pria lain muncul dari gedung sekolah bersama beberapa anak sekolah. “Selamat datang…” sahutnya sambil memilih pijakan tanah yang bebas dari lumpur. Di belakangnya, anak-anak berjalan dengan gontai dan bergantian mengucapkan salam dengan ekspresi datar.

Tidak lama kemudian datang perintah dari Pak Frans bagi anak-anak sekolah itu untuk mengangkut barang-barang bawaan rombongan kami ke rumah Mama Kristina Kemong.

Kami segera menempuh jalan utama di Kiliarma. Di sepanjang sisi jalan, hanya ada beberapa bangunan dari kayu yang sudah lapuk dan kosong. Selebihnya adalah semak-semak yang membatasi jalan dengan hutan rimba. Serombongan kecil orang Toraja yang membawa peralatan memancing berpapasan dengan kami. Mereka hendak pergi memancing di pelabuhan. Anak-anak sekolah sudah jauh mendahului rombongan kami.

Tiba-tiba di sebuah kompleks bangunan rombongan kami berhenti. Pak Frans Pogolamun hanya menjawab singkat ketika aku bertanya kenapa kita berhenti, “lapor dulu ke aparat.” Ternyata kompleks itu adalah asrama Brimob. Pak Yohan Zonggonau bergegas masuk beranda asrama dan berbicara dengan beberapa anggota Brimob yang sedang duduk-duduk. Di situ mungkin Pak Yohan menyebutkan nama-nama orang di rombongan ini; aku, Romo Teguh, Bu Ros, Pak Anton Rerung, dan Mama Kristina Kemong.

Setelah beberapa saat Pak Yohan keluar dan berjalan mendahului kami menuju ke sebuah bangunan di seberang asrama Brimob, kantor Koramil yang berdiri tepat di samping barak Batalyon Infantri 571/Eme Neme Kangasi. “Lapor lagi?” tanyaku pada Pak Frans. Yang aku terima sebagai jawaban hanya sebuah anggukan.

Para Brimob dan tentara yang ditugaskan di sini kebanyakan masih muda dan sekilas nampak seperti anak kuliah yang sedang nongkrong di kost mereka. Kami langsung melanjutkan perjalanan setelah Pak Yohan selesai wajib lapor.

Jalan yang kecil dan berlumpur yang kami lalui ini ternyata adalah jalan arteri Kiliarma. Terbentang lurus dari pelabuhan di selatan dan menghubungkan pusat distrik Akimuga lokasi SD YPPK Belakmakma, Puskesmas, kantor polisi, kantor distrik, gereja, serta kompleks aparat militer tempat rombongan kami harus lapor beberapa kali.

Selain sekolah, Puskesmas, dan kompleks aparat, semua bangunan yang kami lalui nampak kosong dan tidak terawat. Beberapa rumah penduduk juga nampak tidak berpenghuni. Tidak banyak orang yang bisa disapa, tidak banyak hal untuk dibicarakan. Rombongan kami berjalan seperti sekelompok orang tersesat.

***

Distrik di sebelah timur Kabupaten Mimika ini menyimpan sejarah perkembangan orang Amungme, salah satu suku pemangku hak ulayat di Kabupaten Mimika. Orang Amungme di Akimuga berasal dari daerah pegunungan seperti Waa, Noema, Bella, Alama, dan Tsinga. Mereka diajak bermigrasi ke daerah dataran rendah oleh Gereja Katolik dan dipimpin oleh Mozes Kilangin pada akhir dekade 1950-an.

Setelah penerapan Otonomi Khusus pada tahun 2001 dan pemekaran Kabupaten Mimika dari Kabupaten Fak-Fak, Akimuga saat ini adalah sebuah distrik yang terdiri dari kampung Amungun, Aramsolki, Fakafuku, dan Kiliarma sebagai pusat distrik.

Distrik ini tidak memiliki akses yang memadai ke pusat Kabupaten Mimika di Timika, karena dibatasi kawasan kontrak karya PT Freeport Indonesia yang membelah wilayah Kabupaten Mimika menjadi dua bagian dan kawasan Taman Nasional Lorentz yang mengurung distrik Akimuga. Akimuga bisa dicapai melalui perjalanan lewat sungai selama 10 jam. Pilihan lainnya adalah dengan pesawat Mimika Air milik Kabupaten Mimika atau helikopter milik Airfast.

Di Akimuga orang Amungme mendapatkan lebih banyak tanah untuk berkebun dan para misionaris memiliki akses yang lebih mudah untuk menjangkau masyarakat Amungme. Para misionaris tidak perlu menantang jajaran pegunungan Jayawijaya. Mereka bisa menjangkau orang Amungme dari basis misi di Kaokanao dengan menggunakan perahu atau jalan darat yang datar.

Pindah ke dataran rendah berarti orang Amungme tinggal di wilayah adat orang Kamoro, suku yang mendiami daerah pesisir timur Papua, yang sudah sejak tahun 1920an melakukan kontak dengan pemerintah Belanda. Tapi rupanya para misionaris dan pemerintah Belanda sebelumnya sudah mempersiapkan perpindahan itu dengan baik.

Orang Kamoro dengan senang hati menerima saudara-saudara mereka orang Amungme tinggal di dataran rendah. Sekalipun demikian tidak semua orang Amungme ikut turun gunung. Sebagian masih tinggal di gunung hingga saat ini sekalipun tempat tinggal mereka sudah menjadi daerah operasi PT Freeport Indonesia sejak tahun 1967.

Maka dibukalah beberapa daerah baru di timur sungai. Orang Amungme dari Belakmakma tinggal di Kiliarma, dari Bulujaulaki tinggal di Amungun, dan dari Putsinara di Aramsolki.

Para pemudanya mendapatkan pendidikan hingga tingkat SD. Tamat SD mereka meneruskan SMP di Kaokanao, dengan biaya dari orang tua mereka sendiri. Pak Abraham Timang misalnya. Pria asal Kiliarma ini dulu biasa menjual kayu bakar di Kaokanao untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama sekolah.

Aku membayangkan Pak Abraham kecil menyusuri jalan setapak ini ke arah pelabuhan meninggalkan kampungnya menuju ke Kaokanao. Apakah dia juga berjalan dalam sepi seperti kami sekarang ini?

Beberapa anak kecil muncul dari sekolah. Seperti anak Papua di Mimika lainnya mereka membalas sorot kameraku dengan sorot mata mereka yang penuh keceriaan dan gairah kehidupan. Beberapa langkah dari sekolah Mama Kemong mempersilakan kami masuk ke tempat tinggalnya.

Tempat tinggal Mama Kemong berbentuk rumah panggung dari kayu. Ruang tengahnya cukup luas. Cukup luas untuk dipecah menjadi sebuah ruang tamu, dua kamar dengan dinding tripleks, dan sebuah ruang keluarga. Kamar mandi dan tungku perapian diposisikan di sisi kanan dan kiri rumah.

Hanya Romo Teguh yang ngeh bahwa bangunan yang ditempati Mama Kemong itu bekas gereja. Mama Kemong memang terpaksa menempati gereja yang terlantar itu sebagai rumah tinggalnya. Sama seperti guru lainnya di Akimuga, rumah dinas guru yang dijanjikan Dinas P&P tidak kunjung jadi sekalipun mereka sudah bertahun-tahun mengajar. Para guru umumnya numpang tinggal di rumah penduduk atau menempati rumah/bangunan yang sudah ditinggalkan.

Cerita Mama Kemong tidak hanya berhenti di situ. Seperti umumnya orang Papua, Mama Kemong tukang cerita yang hebat. Salah satu ceritanya adalah tentang ular. Dia ceritakan dengan detail dan hidup sekali tentang pengalaman seorang mama yang berusaha menangkap ular tapi malah menimbulkan kehebohan di Kiliarma karena ularnya lepas. Apalagi kalau sudah cerita mop.

Beberapa saat kemudian, Pak Albertus Tsolme, Kepala Sekolah SD YPPK Belakmakma, ikut datang bergabung. Pak Yohan Zonggonau mengutarakan maksud kedatangan rombongan kami, yaitu untuk merekrut anak-anak Akimuga untuk masuk di Asrama Penjunan milik LPMAK (Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro).

Mama Kemong dan Pak Tsolme spontan menyambut gembira permintaan Pak Yohan untuk membuat daftar anak-anak yang bisa masuk Asrama. Menurut mereka, anak-anak perlu mendapatkan pendidikan yang baik. Tinggal di Akimuga tidak membuat mereka maju. Kebanyakan guru tidak betah tinggal di Akimuga dan memilih tinggal di Timika. Biasanya mereka baru muncul saat ujian. Selain itu dengan tinggal di asrama, anak-anak akan terhindar dari pengaruh buruk seperti mabuk.

Parahnya, yang kerap mengajak mabuk adalah anggota Koramil Akimuga. Anak-anak yang kebetulan sedang lewat di depan Koramil dicegat dan diajak mabuk. Kalau menolak dipukuli. Kalau sudah “mabuk hancur”, mereka akan berjalan keliling kampung dan menggedor rumah-rumah penduduk untuk minta makan atau tanpa alasan yang jelas.

Rumah Mama Kemong sendiri pernah beberapa kali disatroni gerombolan pemabuk. Oleh karena itu, setiap mulai gelap, Mama Kemong selalu memastikan tidak ada barang berharga yang tertinggal di luar rumah dan mengunci semua pintu dan jendela. Aku jadi ingat beberapa hal.

Pertama, dalam perjalanan pulang dari Ayuka, kampung orang Kamoro di selatan Timika, mobilku sempat dicegat dan dilempar batu oleh beberapa orang “anggota” yang marah karena aku menolak permintaan mereka untuk menumpang.

Kedua, beberapa kisah mengenai Akimuga. Seperti kisah Pak Yoseph Deikme yang tinggal di SP (Satuan Pemukiman) 9. Pak Yoseph kelahiran Akimuga, tapi sudah lama dia meninggalkan Akimuga dan belum berniat kembali hingga sekarang. Dia meninggalkan Akimuga pada akhir tahun 1970-an dan mengenangnya dengan penuh kesedihan.

Saat itu “ABRI” datang ke Akimuga untuk menghancurkan kekuatan OPM dan menangkap Kelly Kwalik, orang Amungme mantan guru yang kemudian jadi salah satu pimpinan OPM. Akimuga (dan Jila, sebuah desa di pegunungan tengah) dianggap sebagai basis dan jalur perlintasan Kelly Kwalik. Kedatangan tentara ke Akimuga ini dipicu oleh perang gerilya OPM di daerah pegunungan tengah dan peledakan pipa konsentrat PT Freeport Indonesia.

Bukannya merasa aman, warga Akimuga malah ketakutan setiap melihat tentara Indonesia. Tidak peduli tua muda, setiap ada barang datang di pelabuhan semua orang Amungme yang ada di kampung dipaksa mengangkut barang-barang dari pelabuhan ke Amungun yang jaraknya sekitar 10 km. Siapa berani menolak berarti dia anggota/simpatisan OPM. Kalau sudah seperti itu, hanya air mata yang “jatuh berguguran”, kata-kata dan perasaan terhina disimpan dalam-dalam.

Kisah sedih lainnya aku dengar dari Pak Abraham. “Waktu itu orang Papua dianggap binatang, pak,” kata Pak Abraham. “Pesawat kasih jatuh bom di kampung,” sambungnya. Menurut Pak Abraham, kejadian itu terjadi ketika dirinya masih SD, sekitar tahun 1978. Setelah dia meninggalkan Akimuga, tidak banyak lagi yang dia tahu tentang nasib orang-orang yang mati dan keluarga yang ditinggalkan. Yang dia tahu, mereka yang mati dikuburkan bersama-sama di sebuah lokasi yang sekarang jadi hutan pohon karet.

Orang Amungme yang aku temui umumnya selalu antusias untuk membicarakan hal ini, tapi seperti tidak berniat menjadikannya sebagai hal yang serius. Cuma sekedar obrolan sambil lalu saja. Kecuali mungkin Pak Titus Kemong, yang memandang “perang besar” di Akimuga itu perlu diungkap atau paling tidak diingat.

Sama seperti Pak Abraham, Pak Titus meninggalkan Akimuga setelah lulus SD. Pak Titus yang sekarang bekerja di LPMAK ini beberapa kali berkunjung ke Jawa untuk mengunjungi anak-anak dari Kabupaten Mimika yang sekolah di Jawa dan ikut pelatihan pengembangan kapasitas.

Dalam sebuah kesempatan kunjungan di Bandung, Pak Titus beristirahat di sebuah taman setelah seharian ikut pelatihan. Tak berapa lama kemudian datang beberapa orang bergabung di warung es cendol tempat Pak Titus nongkrong. Mereka menanyakan banyak hal kepada Titus, mungkin karena terlihat sangat berbeda dengan orang di taman itu. Pak Titus, yang awalnya menjawab pertanyaan mereka sambil lalu, mendadak memalingkan pandangannya ketika kedua orang itu mengaku pernah bertugas di Akimuga. “Kalian pelanggar HAM! Mana komandan kalian?” bentak Pak Titus.

“Saya langsung minta diantar ke markas Kopassandha,” kata Pak Titus. Di situ, Pak Titus langsung bertemu dengan komandannya. Pak Titus sudah lupa namanya. Yang jelas Pak Titus langsung menyampaikan pelanggaran HAM yang dilakukan satuan itu di kampung halamannya pada akhir tahun 1970-an. Sikap keras Pak Titus ditanggapi dengan tenang oleh komandan itu, yang tidak pernah bertugas di Akimuga. Pembicaraan langsung berubah total ketika Pak Titus mengetahui bahwa komandan itu beragama Katolik. Bahkan Pak Titus sempat berkunjung ke rumahnya.

Sedangkan Mama Kemong sendiri mengaku, dialah satu-satunya marga Kemong yang tersisa di Akimuga saat ini. Sisanya sudah mati dan sebagian yang selamat memilih meninggalkan Akimuga.

Bukan hanya tentara yang membunuhi orang Amungme saat itu, tapi juga orang Dani dari pegunungan tengah, yang entah bagaimana mendadak muncul di Akimuga. Padahal tidak ada perkara antara orang Dani dan orang Amungme yang biasanya menyulut perang suku seperti pembunuhan, pencurian, atau perzinahan. “Kejam sekali mereka,” kata Mama Kemong mengakhiri cerita sambil membongkar-bongkar noken-nya yang besar sekali.

Sejak “perang besar” itu, tutur Pak Abraham, kehidupan di Akimuga semakin lesu. Tidak ada lagi asrama, sekolah perkebunan, dan lahan perkebunan. Banyak warga Akimuga memilih meninggalkan Akimuga dan memulai hidup baru di Timika.

Menjelang sore, Pak Albertus pamit untuk menyiapkan pertemuan rombongan kami dengan para orang tua dan beberapa tokoh masyarakat. Sebelum pergi, Pak Albertus menyampaikan bahwa sebaiknya ada asrama untuk anak-anak di Akimuga. “Biar seperti pendidikan zaman dulu,” kata Pak Albertus.

Ternyata harapan Pak Albertus adalah harapan semua orang Akimuga yang hadir pada pertemuan itu. Bahkan “para orang tua sudah merelakan tanah adat mereka untuk pendidikan anak-anak Amungme”, kata Pak Robert Deikme sekretaris desa sambil menunjuk tanah kosong di belakang sekolah.

***

Keesokan harinya rombongan kami harus kembali berjalan ke halaman sekolah SMP Negeri Akimuga untuk menunggu jemputan helikopter. Kami berjalan bersama dengan beberapa murid SMP dari Bela dan Alama yang tinggal di sebuah rumah kosong di seberang “rumah” Mama Kemong. Pak Albertus Tsolme ikut ke Timika untuk mencari guru-guru SD YPPK Belakmakma yang “kandas” di Timika.

Kami kembali melalui kantor Koramil, Yonif 571, dan Brimob yang saling berhadapan. Pak Yohan kembali mampir untuk pamit pulang sambil ngobrol-ngobrol dengan para anggota Yonif 571 di beranda barak mereka. Sisa rombongan kami memilih menunggu di Puskesmas Akimuga.

Dari kejauhan nampak seorang anggota tiba-tiba keluar dari dalam barak sambil menenteng senapan SS-1 dan bersenda gurau. Setelah mengokangnya dan memilih posisi di dekat Pak Yohan, dia mengarahkan senapan standar TNI itu ke udara dan suara letusan senjata menghiasi langit Akimuga, “Dorr..!!!”. Wajah Pak Yohan langsung berubah jadi tegang.

“Ga kena…ga kena…” sambut para anggota Brimob di seberang barak Yonif. “Rentetan boleh…” sahut salah seorang anggota Brimob. Di belakangnya seorang anggota Brimob lainnya keluar sambil menenteng AK-47 dan menembakkannya. “Krakkk…krakk…” suara rentetan khas AK-47 itu tentu tidak mampu ditiru SS-1.

“Biasa itu, mereka kasih habis peluru sebelum pulang ke Timika,” kata dokter Puskesmas sambil mengajakku dan Romo Teguh masuk ke dalam Puskesmas.

Sepasang bapa mama dan anak mereka melanjutkan langkah mereka yang tadi terhenti karena mendengar suara tembakan. Mereka mau ke Puskesmas mengantar anak mereka yang sakit. Anak-anak di SD YPPK Belakmakma dan SMP Negeri Akimuga pasti sudah hilang kagetnya dan kembali melanjutkan pelajaran mereka, sekalipun tidak ada guru di kelas.

Di sini, ribuan kilometer jaraknya dari patung pembebasan Irian Barat di Jakarta, orang Amungme berusaha membebaskan diri mereka dari kenangan mengerikan masa lalu dan menatap masa depan mereka. ***

Onnes Kurkdjian, Fotografer Surabaya

Leave a comment
Buku / Foto

Perkembangan fotografi di Indonesia kerap dikaitkan dengan Kassian Cephas, fotografer mula Indonesia dari Yogyakarta. Padahal selain Kassian Cephas, ada lagi fotografer yang karya-karyanya cukup membantu usaha mengenal masa lalu kita. Salah satunya adalah fotografer dari Surabaya, Onnes Kurkdjian.

Baca lebih lanjut

Onnes Kurkdjian, Fotografer Surabaya

comment 1
Tentang kota

Perkembangan fotografi di Indonesia kerap dikaitkan dengan Kassian Cephas, fotografer mula Indonesia dari Yogyakarta. Padahal selain Kassian Cephas, ada lagi fotografer yang karya-karyanya cukup membantu usaha mengenal masa lalu kita. Salah satunya adalah fotografer dari Surabaya, Onnes Kurkdjian.

Onnes Kurkdjian dilahirkan pada tahun 1851 di Armenia. Onnes adalah seorang fotografer yang memproduksi stereograf, rangkaian foto dokumentasi. Salah satu karyanya adalah Ruines d’Armenie, Ani (Reruntuhan Armenia, Ani), satu set foto mengenai reruntuhan bangunan di distrik Ani, Armenia. Koleksi foto yang dikemas sangat apik itu dilengkapi booklet yang memuat informasi dari setiap foto dalam bahasa Armenia dan Prancis. Pemerintah Rusia, yang saat itu baru saja memasukkan distrik Ani dan Yerevan ke dalam wilayah Kekaisaran Rusia, memandang penerbitan koleksi foto dengan bahasa Armenia dan Prancis sebagai tindakan separatis. Oleh karena itu Onnes kemudian memilih meninggalkan Armenia.

Pada tahun 1885, Onnes meninggalkan tanah airnya dan bertolak ke Singapura. Tapi hanya dua bulan saja dia tinggal di Singapura dan menuju ke Surabaya.

Di Surabaya, Onnes bekerja untuk seorang fotografer Armenia. Akhirnya Onnes mendirikan studio foto miliknya sendiri, Atelier Kurkdjian, di Surabaya yang mempekerjakan tiga puluh fotografer dan beberapa asisten ruang gelap. Kebanyakan foto yang diproduksi studio foto Onnes kini sangat dihargai karena muatan antropologinya. Salah satunya adalah foto-foto yang digunakan di buku panduan pariwisata Come to Java, yang diterbitkan tahun 1922 oleh Biro Pariwisata Hindia Belanda.

Obyek foto dalam buku ini sesuai dengan perkembangan fotografi saat itu, yakni panorama alam Jawa, proyek-proyek pemerintah kolonial seperti perkebunan dan irigasi, serta potret kehidupan masyarakat Jawa pada masa kolonial.

Come to Java


Onnes meninggal di Surabaya pada tahun 1903. Sepeninggal Onnes, perusahaan fotografinya diambil alih perusahaan medis Helmig.

Karya-karya Onnes Kurkdjian bisa dilihat di sini

Si Kecil Ducroo

Leave a comment
Buku / Keluarga

Kisah mengenai masa kecilku ini dimulai dari beberapa fakta yang aku temukan dari orang tuaku. Dokumen tertulis pertama yang aku temukan mengenai masa kecilku adalah sebuah salinan yang sudah menguning dari Bataviaasch Nieuwsblad, yang memuat pengumuman kelahiranku. Pada halaman utama, terpampang sebuah artikel mengenai Perang Boer (di Afrika Selatan); “Kaum Boer meneruskan pengepungan mereka atas Ladysmith, dan terus mendekatinya.”

Aku dilahirkan bersamaan dengan perayaan arwah tahun 1899, pada hari Kamis pukul 13.45 sore hari. Dua belas tahun sebelumnya, mama pernah mengalami kesulitan saat melahirkan adikku, Otto. Saat mengandung diriku, mama sudah lebih tua dan lebih memperhatikan kesehatan. Dokter yang menangani mama mencoba membuatku “tetap kecil”. Dokter itu meminta mama melakukan diet ketat supaya dia dapat senantiasa mengecek perkembangan tulangku di dalam kandungan mama. Kini rasanya metode semacam itu sudah tidak dilakukan lagi. Tapi dalam kasusku, dokter itu berhasil mencapai hasil yang dia inginkan. Aku dilahirkan dengan berat enam pon. Namun ajaibnya, dalam perkembangan tubuhku, tinggi badanku malah melebihi kedua tinggi badan kedua orang tuaku. Hidungku besar sekali. Mungkin karena ada lebih banyak daging daripada tulang di dalamnya. Ayah jadi takut sekali dengan hidung besarku itu, sampai dia meminta dokter untuk menghilangkan kelebihan hidung, atau untuk menanyakan dari mana datangnya kelebihan itu.

Aku dilahirkan di kamar pandjang di Gedong Lami, di paviliun utama yang menhadap ke sungai. Proses kelahiran diriku sangat menyusahkan ibu dan membuatnya harus mengalami perawatan setelah melahirkan diriku. Ibu percaya bahwa satu-satunya cara untuk membuatnya tetap hidup adalah dengan minum anggur merah dengan es. Dokter yang menangani adalah orang yang “manis”. Namanya Wittenrood, yang selalu dieja oleh para suster dengan wit en rood (putih dan merah). Ibu tidak mampu memberiku susu, bahkan susu kaleng, atau krim gandum. Setelah dua hari mereka berpikir bahwa aku pasti akan mati. Ayah kemudian mengirim beberapa orang untuk mencari seorang perempuan di sekeling perkebunannya yang mau menjadi ibu inang bagiku. Tapi tidak seorangpun muncul di rumah. Mungkin karena para penduduk di sekitar perkebunan ayah pada takut dengan ayah atau dengan rumah kami, atau mungkin juga karena mereka begitu benci dengan ayah. Dua dan tiga orang kemudian dipaksa datang ke rumah, tapi mereka terlihat begitu kotor dan enggan, hingga ibu dan ayah memutuskan untuk tidak terlalu memaksakan diri mencari mama inang demi kebaikan diriku. Akhirnya, saat aku semakin pucat dan kurus dan kedua orang tuaku hanya bisa memandangiku sambil bersedih, Niah datang. Niah adalah seorang perempuan dari desa Kebon Dalem. Saat itu Niah membawa serta Tjemplo, yang sedang sibuk menyusu kepada Niah, dan yang kemudian menjadi saudara inangku. Menurut mama, Niah adalah perempuan yang “suka tertawa genit dan memiliki payudara indah”. Ingatanku atas Niah baru tersusun secara jelas akhir-akhir ini berkat bantuan pengalaman dan gambar. Dia adalah perempuan berperawakan dan berparas namun wajahnya kadang terlihat lugu sekali, dengan mata yang sayu serta mulut yang membersil. Wajah Tjemplo, anak Niah dan saudara inangku, begitu mirip sekali dengan wajah ibunya. Aku masih ingat saat dia masih berumur delapan tahun dan tersenyum ramah sekali kepadaku. Alima datang ke kehidupanku saat aku masih berumur empat bulan.

Aku masih berumur delapan belas bulan saat keluargaku tinggal di Sukabumi. Saat itu aku nyaris mati akibat diserang demam. Serangan demam itu disebabkan oleh letusan Gunung Kelud. Sepanjang hari kota Sukabumi diguyur hujan abu. Orang tuaku tinggal di rumah kediaman Patih. Kebetulan istri sang patih adalah kawan baik mama. Mereka semua mengira aku akan mati dan sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Menurut dokter, aku terserang meningitis. Mama dan istri Patih kemudian memberi aku suntikan urus-urus. Beberapa jam kemudian penyakit itu hilang dari tubuhku. Saat dokter datang lagi di sore hari, aku sudah bisa tertawa-tawa di hadapannya. Dokter itu kemudian bersikukuh dengan penjelasan bodohnya atas kesembuhanku menganggapnya sebagai sebuah keajaiban. Rasanya ada yang salah dengan narasi saya ini. Sebuah rekoleksi yang keliru. Karena yang diceritakan mama saya sebenarnya berkaitan dengan kisah serangan penyakit yang lain. Ketika kami di Sukabumi, seorang dokter berjanggut mirip kambing yang bernama De Haan (artinya; Ayam Jantan) –nama yang cukup mengesankan– memberiku obat pencahar yang pada awalnya terasa enak namun setelah habis diminum rasanya begitu memuakkan. Aku muntahkan keluar semua obat itu sebelum obat itu mulai bekerja di dalam tubuhku. Kepalaku rasanya mau pecah, begitu banyak perempuan Sunda yang keluar dan masuk secara terburu-buru. Kali itu mama tidak sependapat dengan cara dokter menangani diriku. Tapi peristiwa itu sebenarnya terjadi empat tahun kemudian, saat kami akan bepergian ke Teluk Pasir.

Pintu yang terbuka itu merupakan pintu masuk ke sebuah kamar yang gelap yang bakal berujung di kamar pandjang. Seberkas cahaya terlihat datang dari kamar lain. Alima menggendongku menggunakan selendang ke sana ke mari, ke dalam kamar penghubung yang gelap itu, dan melalui pintu yang terbuka. Badan Alima yang kecil dan kurus, terasa begitu berbeda dengan badan mama yang besar. Aku mulai mengantuk dan mendaratkan kepalaku di dadanya, Alima mulai menyanyi “Dung indung, si toetoet bobo…”, lagu yang dimodifikasi dari lagu “Nina Bobo” yang kondang itu. Rupanya, Alima telah memberiku nama kecil, “si kecil toetoet”. Sedangkan dia sendiri menjadi Ma Lima. Seperti halnya di Batavia, huruf “a” di akhir kata diucapkan menjadi “e” yang lembut. Selain di lagu itu, Ma Lima juga muncul di lagu lain yang sudah dimodifikasi, seperti:

Burung kakatua
Mentjlok di djendela
Ma lima sudah tua
Giginja tinggal dua

Serta lagu lain yang pernah aku dengarkan di Cicurug. Dibandingkan Burung Kakatua, lagu yang ini nuansanya lebih sedih:

Ular kili, ular kumbang
Kumbangnya djamur
Ma lima gede utang
Ditagih, mabur

Kedua lagu itu tidak akan aku lupakan. Kedua lagu itu adalah lagu yang paling menyentuh di masa kecilku. Aku tidak pernah tertawa saat mendengarkan kedua lagu tersebut, sekalipun sosok Ma Lima muncul di kedua lagu tersebut dalam peran yang lucu. Kedua lagu itu memang bulan lagu lucu, tapi lagu yang sedih dan melankolis, sejenis lagu yang akan kamu nyanyikan saat patah hati.

Saat aku berusia empat tahun dan tinggal di Cicurug, beberapa kali Alima hendak pergi dari rumah. Suami Alima datang dari Batavia dan memaksa membawa Alima ke Batavia bersamanya. Namanya Djimbar. Wajahnya serius dan dihiasi kumis warna abu-abu. Sosok si Djimbar ini agak berbeda dengan sosok orang pribumi pada umumnya. Mirip pembantu rumah tangga, tapi juga mirip mandor. Dia selalu membawa serta sebuah tongkat. Mama selalu memperlakukan Djimbar dengan penuh hormat. Aku senang dan juga menaruh hormat pada Djimbar, karena dia selalu membawakan aku oleh-oleh. Tapi aku juga menaruh curiga padanya, karena selalu ada kemungkinan dia akan membawa Alima pergi dariku.

Suatu sore, Alima menangis tersedu-sedu dan Djimbar pergi meninggalkan rumah sambil marah. Alima telah memutuskan untuk tetap tinggal dan merawat diriku. Aku menduga bahwa sebelumnya mama membujuk Alima supaya tetap tinggal, “kamu tidak akan meninggalkan si kecil Toetoet khan, Alima?” Yang kemudian dibalas dengan pembantu yang sudah tua itu, “tidak nyonya, jangan khawatir”. Sore itu Alima terus menangis, menolak ajakan suaminya, pria yang penuh harga diri itu. Beberapa tahun kemudian, Alima kembali bersedih. Kali itu karena berita kematian Djimbar suaminya. Anak Alima, Djasima, datang ke rumah kami menemui Alima untuk meminta uang ongkos penguburan. Alima kemudian memberinya sejumlah uang dan mengajaknya bicara Djasima dengan sikap yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Sekalipun demikian, Alima tidak pergi mengunjungi penguburan suaminya.

Aku masih menyimpan foto diriku bersama dengan Alima, mungkin setahun sebelum kematiannya. Saat itu aku sudah sedikit lebih tinggi darinya. Mama kemudian menunjukkan foto Alima yang sudah diperbesar. Foto itu menunjukkan sosok Alima saat aku masih kecil sekali dan belum bisa mengenalinya secara sadar. Foto yang diperbesar itu terlihat buruk, tapi menurut mama paling tidak foto itu menunjukkan dengan jelas sosok Alima saat baru pertama kali mulai bekerja bagi keluarga kami. Kata mama padaku, “Foto ini jangan dibuang. Perempuan ini meninggalkan suami dan keluarganya demi kamu”.

Sumber: Eduard du Perron (1999), Country of Origin, Periplus: Singapore. Lihat bagian 7; Child Ducroo.

Profil penulis
Eduard du Perron. Dilahirkan di Meester Cornelis, Jatinegara, 2 November 1899, dari keluarga keturunan Prancis. Dalam novel autobiografinya ini, Country of Origin (Tanah Asal Usul), E. du Perron melukiskan potret ibunya sebagai seorang “nyonya besar” yang mengurus segala seuatu dari serambi belakang. Selain menulis dan berkegiatan dalam dunia sastra, E. du Perron juga banyak membantu kalangan nasionalis awal Indonesia.

Teknologi Tepat Guna untuk Pedalaman

comments 2
Papua / Tokoh

Teen’s DIY Energy Hacking Gives African Village New Hope

Posted using ShareThis

Tautan di atas akan membawa kita ke tulisan tentang pengalaman William Kamkwamba menggunakan teknologi kincir angin di Malawi, Afrika bagian selatan. Selain sulitnya akses kepada pendidikan dan kesehatan, masyarakat yang tinggal di pedalaman juga menghadapi kesulitan akses kepada energi.

Selain kisah di atas, ada beberapa kisah lain yang bisa dijadikan referensi, seperti:

1. Yayasan Air Putih. Membuktikan bahwa Teknologi Informasi punya kekuatan untuk melakukan perubahan sosial. Lihathttp://airputih.or.id/
2. Gomukh. Pengalaman-pengalaman di India soal pengelolaan air. Lihat: http://www.gomukh.org/water_sanitation.html