Belajar Mengelola Air dari Belanda

comments 8
Current issues / Web 2.0


Belum lama ini aku melihat sebuah acara menarik di Discovery Channel. Di acara itu dijelaskan bahwa kota-kota besar dunia sedang berusaha menata dirinya menghadapi perkembangan zaman. Kota besar seperti Chicago misalnya, untuk mengatasi cepatnya laju pertumbuhan kota dan penduduk, sedang membangun kota di bawah tanah.

Amsterdam, ibukota Belanda, sedang menata dirinya untuk membuat hal serupa. Tapi masalahnya, jika penggalian dilakukan seperti di Chicago, gedung-gedung kuno di kota itu terancam ambles karena kondisi tanah di bawah kota Amsterdam yang sangat rentan. Solusi mereka ternyata cukup hebat dan sederhana. Supaya tidak menimbulkan guncangan, maka mesin penggali diletakkan di kanal-kanal yang sudah dikeringkan. Di situlah penggalian dilakukan. Setelah selesai, kanal kembali dialiri air, dan voila, Amsterdam kembali unik seperti sedia kala.

Proyek itu kabarnya masih belum rampung dan akan butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Agak ragu juga sebenarnya; bisa selesai, ga? Tapi negara kecil berpenduduk 16 juta jiwa itu terkenal sebagai negara yang ulet serta konsisten dengan proyek jangka panjang.

Mereka sudah terbiasa mencari jalan keluar kreatif dan mengerjakan proyek-proyek ambisius, seperti Zuiderzeewerken yang dimulai tahun 1918. Bahkan sudah sejak lama, orang Belanda dipercaya mengerjakan proyek pengelolaan air di luar Belanda seperti pengeringan daerah di Cambridgeshire, Inggris dan pembangunan kanal kota Gothenburg, Swedia pada abad 17 hingga pemanfaatan daerah rawa-rawa dan gurun di sepanjang sungai Awash, Ethiopia pada tahun 1953.

Beberapa temanku berpendapat bahwa mahakarya Belanda dalam konstruksi adalah Afsluitdijk, kanal dan bendungan yang dibangun antara tahun 1927 dan 1933. Padahal ada lagi proyek pengelolaan air yang jauh lebih rumit dan bermanfaat di Belanda, Deltawerken.

Deltawerken adalah megaproyek yang dikerjakan dari tahun 1950 hingga 1997 (!) dan bertujuan untuk mengelola daerah delta tiga sungai besar di Eropa; Rhine, Meuse, dan Scheldt. Sepanjang sejarah Belanda, daerah delta tiga sungai besar tersebut adalah daerah langganan banjir.

Banjir melanda desa Serooskerke, Belanda

Studi awal dilakukan pada tahun 1937 oleh Rijkswaterstaat (Departemen Pekerjaan Umum). Hasilnya, banyak wilayah di Belanda rentan bencana akibat badai dan naiknya air laut, terutama di daerah muara sungai Rhine, Meuse, Schelde yang padat penduduk (dalam versi Belanda tentunya).

Daerah muara sungai Rhine-Meuse-Scheldt; berkah sekaligus bencana

Proyek ini sempat mangkrak beberapa saat akibat Perang Dunia II dan pro – kontra di masyarakat Belanda tentang salah satu bagian proyek Deltawerken, yakni rencana penghadang badai di Oosterschelde yang dipandang akan merusak lingkungan.

Akhirnya, pada 21 Februari 1953, komisi pembangunan Deltawerken dibentuk. Tujuannya cukup jelas; pengeringan dan perlindungan daerah langganan banjir dan perlindungan daerah supaya tidak menjadi daerah payau. Maka dimulailah proyek jangka panjang berbagai macam konstruksi seperti bendungan, kanal, pintu air, dan modifikasi aliran sungai. Megaproyek ini juga sangat memperhitungkan perencanaan urban dan ekologi serta keterlibatan para pemangku kepentingan.

Hasilnya, Belanda semakin aman terhadap banjir dan memiliki daerah baru yang dapat dimanfaatkan. Beberapa spesies ikan dan tanaman memang terpengaruh akibat pembangunan beberapa proyek Deltawerken, tapi kini ekosistem dan spesies baru muncul menggantikan yang hilang. Deltawerken kini diakui sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia modern oleh American Society of Civil Engineers.

Penghadang badai Oosterschelde, nampak pulau Neeltje Jans di kejauhan.

Tidak heran jika senator Mary Landrieu dari Negara bagian Louisiana, Amerika Serikat, memuji Belanda sebagai “pemimpin dunia dalam perlindungan banjir secara menyeluruh, memadukan perencanaan tanah, teknologi dan rekayasa sipil mutakhir, serta edukasi masyarakat secara ekstensif” (27 September 2008, www.hollandtrade.com)

Sekarang para insinyur Belanda sedang memikirkan pekerjaan selanjutnya setelah Deltawerken selesai, seperti memikirkan permasalahan seperti meningkatnya permukaan air laut akibat pemanasan global dan penurunan ketinggian tanah.

Seharusnya pemerintah Indonesia juga mulai memikirkan proyek serupa. Apalagi mengingat ibukota negara kita tercinta yang semakin sering kebanjiran serta daerah delta Sungai Bengawan Solo. Hitung saja berapa kota dan luas daerah produktif yang berada di delta sungai Bengawan Solo dan dampak yang akan kita rasakan jika Bengawan Solo sudah benar-benar rusak.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

8 Comments

  1. reza says

    sebagai (mantan) warga surabaya, aku berharap pemkot surabaya bisa banyak belajar dari para insinyur belanda sebelum surabaya semakin sering terendam air saat hujan dan menjadi separah jakarta.

  2. teguh says

    Iya tuh, jaman Belanda sistem pengairan bagus, mis di jakarta. Ada bendungan dan jalan inspeksi bendungan yg asri dan nyaman. mana karya Indo? hanya meneruskan dan lebih buruk kondisinya.

  3. Menurutku pas jaman kolonial, Belanda juga udah mulai program pembenahan sungai-sungai di Indonesia … coba deh perhatikan waduk, pintu air dan saluran air bawah tanah etc… cuman pas Indonesia merdeka, kita terlalu ribut2 dengan kekuasaan dan korupsi sana sini sampai hal seperti ini kurang diperhatikan, blueprint yang udah dibuat dari jaman belanda tidak diteruskan lagi … plus global warming memperparah itu semua…

    Sebagai rakyat, kita udah lakukan kewajiban bayar pajak (yang naujubilah ribetnya dan lumayan nguras kocek) …
    Kapan ya pemerintah kita bosan dengan korupsi dan mulai melakukan kewajibannya membenahi kekurangan2 dalam fasilitas negeri kita?

  4. reza says

    kalo belanda aja butuh waktu 47 taon buat selesaikan proyel deltawerken, apalagi indonesia. bisa2 malah butuh 2x lebih lama plus dengan proses dan hasil yang ga jelas. duh, aku nih kok jadi anak bangsa yang slalu sangsi sama proses perbaikan negaranya snediri. benernya pengen optimis tapi takut sakit ati karna sering2 hasilnya ga sperti yang ku harapkan.

  5. berarti Kementrian Pekerjaan Umum harus studi banding ke Belanda dung?
    di desa kelahiran saya, ada bendungan yang dibuat Belanda. itu awet banget sampai kini….

    komentari blogku dung….

    http://andikahendramustaqim.blogspot.com/2010/04/ingin-bertemu-para-penemu-kotak-ajaib.html
    http://andikahendramustaqim.blogspot.com/2010/04/belajar-inovasi-dari-di-belanda.html
    http://andikahendramustaqim.blogspot.com/2010/04/inovasi-belanda-tak-terpisahkan-dari.html

    makasih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s