Review Situsweb – Literacy Bridge

Leave a comment
Papua / Web 2.0

Screenshot situsweb Literacy Bridge

Dulu aku biasa nulis soal review situsweb di blog-ku yang lama.  Tapi karena kita sepakat bahwa yang sudah lewat biarlah lewat maka aku tulis di sini, dan semoga aku tetap akan nulis review situsweb di sini. Perlu disepakati sekali lagi bahwa; karena saya bukan praktisi IT dan desainer maka review ini kesannya amatiran sekali.

Halaman awal situsweb Literacy Bridge ini sangat bagus sekali. Pengunjung langsung akan terjerat banner gambar besar yang berganti setiap beberapa detik. Situsweb ini milik sebuah lembaga yang memiliki program unik; membangun literasi masyarakat di Ghana, Afrika, dengan audio book dan bukan dengan buku. Lebih jelas soal lembaga ini bisa klik di halaman ini.

Aku jadi ingat kata istriku yang sekarang mengajar di sekolah internasional, “yang penting anak itu bisa membangun logika berbahasa dulu baru diajar menulis, bukan kebalikannya”.Di Papua sini, anak masih susah membaca sampai SMP karena para guru menekankan anak untuk bisa menulis. Itu pun kalau gurunya ada di tempat tugas.

Desainer situsweb ini tahu bahwa koleksi foto adalah aset tapi juga bisa jadi bencana, seperti yang layaknya kita jumpai di situsweb LSM atau lembaga yang menjejali situswebnya dengan foto. Tidak semua halaman di situsweb ini dihiasai foto. Nampak benar bahwa foto-foto yang diunggah menunjukkan penggunaan alat yang disebut Talking Book, ada ibu-ibu, bapak-bapak di ladang, anak sekolah, yang menggunakan Talking Book.

Tapi sayangnya di halaman testimonial, yang bersaksi tentang alat itu adalah para bapak dan ibu, anak-anak tidak nampak entah kenapa.

Pemilihan dan penempatan foto yang cermat diimbangi dengan pemanfaatan ruang yang efisien bagi teks. Tidak serta merta sang desain menjejali situsweb dengan teks sampai pengunjung harus menelusur browser jauh ke bawah.

Yang bikin agak membosankan mungkin latar belakang situsweb yang berwarna coklat. Jadi ingat salah satu template blog di WordPress. Satu-satunya bagian yang menjadi aksentuasi adalah tombol “Donate now” di pojok kanan atas.

Situsweb ini bisa jadi referensi yang pas bagi LSM atau lembaga yang ingin memajukan pendidikan di daerah seperti Papua dengan memanfaatkan teknologi.

Selamat membaca….

Kisah Apeya dan Takumemyau (Cerita Rakyat Kamoro)

comments 3
Catatan Perjalanan / Papua

Ditulis berdasarkan cerita Agapitus, Timika Pantai

Muara sungai di daerah antara Uta - Potowayburu, Mimika

Sungai Ipa sedang surut airnya. Saat yang tepat untuk pergi mencari makan di muara sungai. Muara sungai menyediakan segalanya untuk mereka, mulai dari gurita, ikan, dan keraka. Apeya membayangkan banyaknya ikan dan gurita yang bisa mereka tangkap. Apeya dan anaknya dengan tenang mendayung perahu menuju muara sungai.

Tidak lama kemudian terdengar suara aneh.

‘Ibu, suara apa itu?” Tanya anaknya.

“Ai, benar, suara apa itu?’ Kata Apeya sambil mengarahkan pandangan ke langit, asal suara itu.

Akhirnya, di batas langit, nampaklah sumber suara itu. Ternyata Takumemyau. Buaya bersayap. Orang-orang takut sekaligus hormat kepada mahkluk yang satu itu.

Ada dua jenis Takumemyau, yang baik dan yang jahat. Apeya tidak tahu, Takumemyau mana yang sedang terbang di atas mereka.

“Dia terbang di atas kita, Ibu. Mau apa dia?”

“Tidak tahu, kita terus jalan saja.”

Takumemyau berbalik arah. Dari cakrawala dia menukik ke bawah ke arah sungai. Badan dan sayapnya yang besar menyebarkan ketakutan. Apeya mempercepat kayuhannya.

Sempat terpikir dalam benak Apeya untuk lari masuk ke mangi-mangi. Tapi terlambat. Takumemyau menukik ke arah perahu mereka.

Cakar-cakar Takumemyau mencengkeram Apeya dan membubung membawa Apeya. Dayung Apeya terjatuh di sungai. Anaknya menjerit keras tapi tidak ada seorang pun di sekitar mereka.

“Hendak kau bawa ke mana aku?” Jerit Apeya. Takumemyau tidak menjawab. Kepak sayapnya yang besar terdengar begitu mengerikan dan membawa Apeya semakin membubung tinggi.

“Mama!” Teriak anak. Takumemyau tak menggubris.

“Beritahu orang kampung, mama dibawa pergi Takumemyau!” Balas Apeya.

“Takumemyau! Hendak kau bawa ke mana diriku?” Tanya Apeya lagi.

“Apeya. Aku bawa kau ke rumah barumu” balas Takumemyau. Suara Takumemyau terdengar seperti orang yang memakan kapaki (tembakau) banyak sekali. Parau.

Takumemyau terbang ke arah gunung besar. Apeya jadi ingat, biasanya jika cuaca cerah, Apeya biasa memandangi gunung yang berselimutkan benda aneh berwarna putih itu.

Kini Apeya tidak percaya bahwa dirinya sedang menuju ke gunung itu. Tanpa terasa mereka sudah hampir tiba di puncak gunung. Udara dingin sekali. Takumemyau menukik ke sebuah dataran. Apeya teringat pada anaknya.

Tiba-tiba Apeya menyadari, Takumemyau membawanya ke sebuah gua yang besar sekali.

“Apeya, inilah rumah barumu” ujar Takumemyau sambil meletakkan Apeya di sebuah batu besar.

Di sekelilingnya Apeya melihat dinding gua dilabur cahaya yang terang. Beberapa air terjun kecil mengalirkan air yang nampak segar sekali.

Di sudut-sudut gua tertumpuk banyak sekali makanan. Sebagian Apeya bisa mengenalinya, tapi sebagian besar lagi Apeya tidak tahu makanan jenis apa itu.

“Semua yang kamu butuhkan ada di sini” kata Takumemyau.

Apeya takjub setengah mati. Tidak pernah dia melihat tempat seperti ini. Apalagi di dalam perut gunung.

Sementara itu jauh di kampung Apeya, orang-orang tidak bisa melakukan apa-apa selain mendaraskan kisah Apeya dan Takumemyau. Jika cuaca sedang cerah, dari sungai tempat Apeya dibawa pergi Takumemyau, mereka bisa melihat gunung nun jauh di sana tempat tinggal baru Apeya.

 

 

Pesta Natal Berujung Maut

Leave a comment
Papua / Tentang kota

Karnaval peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-65 itu diikuti sekolah-sekolah, institusi pemerintah, dan kelompok masyarakat. Yang menarik, ada sebuah rombongan yang tidak menampilkan keceriaan , tapi kemarahan. Rombongan itu terdiri dari mama-mama yang mengenakan ikat kepala “anti miras” dan memegang botol air mineral yang diisi cairan berwarna pekat kemerahan. Seorang mama menuangkan isi kaleng Coca-Cola ke dalam botol sambil berteriak-teriak dan mengacungkan gelas plastik ke arah penonton karnaval di pinggir jalan.

Mereka adalah para ibu rumah tangga yang tergabung dalam Koalisi Rakyat Anti Miras (KRAM). Kelompok yang dipimpin mama Theresia Magal ini gencar melakukan kampanye ganyang Miras (Minuman Keras) di Timika dan beberapa kali melakukan penggerebekan tempat-tempat yang dikenal sebagai tempat penjualan Miras seperti di Koperapoka dan Gorong-gorong.

Saking marahnya bahkan beberapa di antara terlihat seperti mabuk beneran. Mungkin bersama beberapa orang di pinggir jalan saat itu, aku tersenyum dan ikut mengamini salah satu stigma yang diberikan kepada orang Papua, tukang mabuk.

Langsung terbayang di benakku adegan-adegan seperti seorang meno yang sudah “mabuk tinggi” di Rimba Golf Kuala Kencana mengancam temannya yang berusaha mengajaknya pulang, “he, ko tahu, saya ini guru!” atau orang Kamoro yang dalam keadaan mabuk menumpang mobilku dan menolak turun dari mobil setibanya di tujuan.

Selama ini sepertinya semua orang, sekalipun prihatin, merasa tenang-tenang saja dengan penggambaran orang Papua seperti itu. Kecuali ya mama-mama anti miras yang di tengah siang bolong berteriak-teriak menghujat Miras.

Hingga pada akhirnya di suatu hari di awal tahun 2011 ini aku memahami benar kenapa mama-mama itu tidak hanya sekedar prihatin, tapi marah besar.

***

Orang Papua selalu menyambut Natal dengan penuh suka cita. Tapi dalam suatu kebetulan yang aneh, pesta yang diadakan IPMAMI (Ikatan Persaudaraan Mahasiswa Mimika) di Bandung pada 30 Desember 2010 hingga 1 Januari 2011 dan pesta yang diadakan masyarakat Kamoro di Nayaro, Timika, berakhir dengan perih duka cita.

Kegiatan yang diawali dengan ceramah tentang organisasi dan ibadah itu pada awalnya berlangsung lancar, sekalipun beberapa peserta yang datang dari berbagai kota di Jawa dan Manado sudah nampak mabuk.

Acara yang berlangsung di Hotel Lembang, Bandung itu semakin lama nampak semakin tidak terkontrol. Jadwal acara yang sudah disiapkan panitia tidak berjalan. Bahkan panitia acara sempat bersitegang dengan beberapa kelompok mahasiswa dan pelajar. Hingga akhirnya pada 31 Desember 2011 panitia benar-benar kehilangan kendali atas keadaan.

Para mahasiswa dan pelajar berkumpul di kelompok-kelompok kecil dan mengkonsumsi Miras dalam jumlah yang sangat banyak. Menurut Pascalis Abner, Kepala Biro Pendidikan LPMAK (Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro), jenis minuman yang dikonsumsi antara lain adalah bir, anggur, dan minuman oplosan lokal.

Usai pesta pada 1 Januari 2011, semua peserta acara kembali ke kota studi mereka masing-masing. Keesokan harinya, hampir semua peserta acara tersebut mengalami gejala keracunan Miras seperti pusing, mual, dan badan terasa panas. Akibat terlalu parahnya tingkat keracunan dan lambatnya penanganan, dua orang mahasiswa, Anastasius Pogolamun dan Benyamin Magal akhirnya meninggal dunia di Bandung. Sedangkan Hubertus Maurumako meninggal dunia di Jakarta dan seorang lagi, Felix Soway, meninggal dunia di Yogyakarta.

Selain itu 38 mahasiswa dan pelajar asal Mimika harus mendapatkan perawatan intensif di berbagai rumah sakit di Jawa. Seorang lagi, Roby Tsolme, kemungkinan akan mengalami kebutaan permanen.

Ironisnya, salah satu korban, Benyamin Magal, adalah putra dari mama Theresia Magal, pimpinan Koalisi Rakyat Anti Miras (KRAM). Padahal mama Theresia sengaja menyekolahkan anaknya ke Jawa untuk menghindari pengaruh Miras di Timika.

Sebagian mahasiswa dan pelajar asal Timika adalah penerima beasiswa dari LPMAK (Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro). Sekalipun demikian, LPMAK tidak membiayai perayaan Natal yang berubah jadi pesta Miras itu.

LPMAK membantu pemulangan jenazah dan kini tengah melakukan penyelidikan atas peristiwa tersebut serta melakukan sosialisasi bersama dengan tokoh masyarakat, tokoh gereja, dan pemerintah kepada peserta beasiswa LPMAK dan kepada orang tua.

Sementara itu pada hari yang sama, di Nayaro, kampung orang Kamoro di sebelah timur Timika, perayaan Natal juga melibatkan Miras. Hasilnya, lima warga kampung Nayaro tewas dan seorang mengalami kerusakan syaraf setelah mengonsumsi racikan spiritus, kuku bima, dan air kelapa. Bahkan ada yang mengatakan bahwa salah satu bahan racikan minuman maut itu adalah minyak rem.

***

Peredaran di Miras di Timika selama ini memang tidak terkendali. Sekalipun pemerintah daerah setempat sudah mengesahkan Perda No 5 tahun 2007 tentang larangan Memproduksi, Menjual, Mengedarkan dan Mengonsumsi Minuman Beralkohol, berbagai jenis Miras masih bisa dengan mudah didapatkan di Timika. Tinggal pilih mau apa: Sopi, Cap Tikus, Saguwer, atau minuman oplosan seperti yang diracik warga Nayaro.

Sekalipun tercatat sebagai Perda tahun 2007, Perda anti Miras itu baru efektif dilaksanakan pada tahun 2010. Pada pertengahan 2010 kalau aku tidak salah, beberapa tempat penjualan Miras yang cukup terkenal seperti di Gorong-gorong, Koperapoka, dan SP IV memang sempat tiarap. Tapi setelah itu mereka bisa berdagang dengan bebas seperti biasa. Bahkan pada bulan Juli 2010, Koalisi Rakyat Anti Miras (KRAM) sempat mendapatkan perlawanan dari sekelompok mama-mama.

Peredaran Miras bahkan sudah mencapai kampung-kampung di daerah pesisir selatan Mimika. Seorang guru di Timika Pantai menceritakan bagaimana dia beberapa kali mengusir perahu yang berjualan Miras dari kampung ke kampung. “Tapi mungkin sudah terlambat, orang sudah telanjur suka…” keluhnya.

Menurut Pater Vincent Suparman, Scj, rohaniwan Katolik yang lama bertugas di Mimika, orang Papua, khususnya Amungme dan Kamoro, tidak mengenal minuman beralkohol seperti orang Flores atau Jawa dengan minuman araknya dan Batak dengan Tuaknya (korespondensi pribadi, 15 Januari 2011).

Peredaran Miras memang hanya satu poin saja dari daftar panjang dampak laju modernisasi dan segala nilai-nilai barunya yang terus mendesak tatanan budaya masyarakat Amungme dan Kamoro. Walaupun kelihatan mendengarkan khotbah di gereja, masyarakat sebenarnya enggan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan gereja, tutur Pater Vincent.

Bukan hanya gereja , pemerintah dan lembaga adat juga merasa tidak berdaya. Menurut Cantius Amareyau, salah satu tokoh masyarakat Kamoro, peristiwa pesta Miras di Bandung penghujung 2010 itu sebenarnya bukan peristiwa baru. Hampir setiap tahun ada saja pesta Miras sekalipun tidak menyebabkan jatuhnya korban jiwa sebanyak peristiwa di Bandung. “Kebiasaan minum Miras itu dimulai di Timika…” tutur Cantius Amareyau.

Pater Vincent berharap, peristiwa ini membuka mata semua pihak di Timika, mulai dari pemerintah, gereja, dan tokoh masyarakat untuk saling bekerjasama membangun generasi muda.

Hal ini senada dengan ajakan Pater Armandus Rahadet, Pr, yang sekalipun merasa sangat prihatin dengan peristiwa jatuhnya korban akibat miras, melarang umat setempat untuk melakukan razia tempat penjualan Miras pabrikan dan oplosan. “Tergantung kita sendiri mau beli atau tidak, mau mati atau tidak,” tutur Pater Armandus (Kompas, 12 Januari 2011).

 

Namamu Sungguh Tak Tergantikan

comments 2
Web 2.0
screenshot instalasi awal wordpress for bb

screenshot instalasi awal wordpress for bb

Pada awalnya aku ingin menyebutmu dengan Bblogging. Blogging melalui BB (Blackberry). Atau bisa juga BB untuk blogging.

Hal itu berawal sejak aku membaca sebuah tulisan di situsweb tentang sebuah aplikasi yang memungkinkan membuat posting di wordpress melalui BB.

Lalu di BB baruku, kado natal dari seseorang, aku langsung mencoba mendownload aplikasi WordPress untuk BB.

Setelah beberapa kali mencoba akhirnya aku bisa mendownload dan mengaktifkan aplikasi ini.

Inilah saatnya. Aku tidak pernah membayangkan bertemu dirimu di tempat sesempit ini dan membentuk dirimu dengan tuts kecil yang sangat menyiksa.

Tapi toh aku sangat takjub akan kemungkinan baru masa depan yang bisa aku cicipi dengan perangkat ini.

Aku bisa menemukan dirimu dan bergumul dengan dirimu di mana saja. Bahkan di samping istriku yang sedang tertidur lelap di sampingku saat ini.

Karenamu aku bisa menempatkan semua peristiwa menjadi kisah dan kisah menjadi bagian bagian seperti dalam buku cerita.

Kamu membuatku menelusuri kedalaman diri di tengah kedangkalan hidup keseharian. Sekalipun jalanku tertatih-tatih seperti seorang pria yang kakinya sudah lama tidak menyentuh pasir pantai.

Di pantai itulah aku kerap menyadari diriku bahwa aku sedang berlibur dengan dirimu. Aku tidak lagi menemukanmu di dalam laporan atau uraian kerja.

Orang boleh menyebutmu dengan blogging, microblogging, tweeting. Bagiku, itu hanya nama julukanmu di tengah dunia yang semakin terlipat.

Aku minta izin untuk tetap menyebutmu sebagai tulisan dan kegiatan menemukanmu sebagai menulis. Dengan alat apa pun aku melakukannya.

Bayangkan Jika Bencana itu Menimpa Rumahmu

Leave a comment
Web 2.0

Ternyata seluas provinsi Jawa Timur!

Setahun yang lalu, di sebuah acara pentas seni di Surabaya yang diadakan untuk mengenang 3 tahun peristiwa lumpur Lapindo, seorang orator berteriak lantang;  “bayangkan jika desa Renakenongo adalah rumahmu, bayangkan jika lumpur Lapindo itu muncul di halaman depan rumahmu di manapun di Surabaya, apa yang akan kalian lakukan?”

Bagi kebanyakan hadirin di acara itu, pertanyaan itu sudah tidak perlu dipikirkan lagi. Sudah jelas Lapindo salah! Bakrie taek asu! SBY presiden bencong!

Tapi tentu tidak demikian dengan orang-orang yang sambil lalu lewat di depan Taman Apsari malam itu.

Bicara soal luas daerah yang tertimpa luapan lumpur Lapindo, kita kerap kali hanya melihat foto atau membaca di koran, atau melihat langsung di lokasi. Tapi kerap kali kita kurang bisa membayangkannya, atau membuat para pengambil keputusan di negeri ini jadi bisa membayangkan seberapa parahnya lumpur Lapindo.

Aku pernah baca di koran para korban lumpur Lapindo membawa lumpur Lapindo ke halaman DPR di Jakarta sana.  Usaha semacam itu yang perlu dilakukan. Mendekatkan mereka di Jakarta dengan bencana.

Rasanya di Indonesia perlu ada yang membuat situsweb seperti ifitweremyhome.com. Situsweb ini dibuat dengan tujuan untuk mendekatkan kita dengan besarnya dampak sebuah bencana, baik alam maupun akibat ulah manusia, dengan diri kita.

Bagi pengampu situsweb tersebut, mengajak orang membayangkan jika bencana itu menimpa daerah mereka jauh lebih mengena katimbang menyajikan sederet fakta.

Ada dua kejadian yang mereka tampilkan di situsweb, bencana tumpahan minyak BP di Teluk Meksiko dan bencana banjir Pakistan.

Setelah kita memilih tumpahan minyak BP misalnya, akan muncul tampilan Google Map. Lalu tulis nama daerah kita di kolom yang disediakan.

Surabaya, misalnya, lalu klik “move the spill” dan lihatlah hasilnya. Ternyata tumpahan minyak British Petroleum di Teluk Meksiko itu bisa menutup hampir seluruh provinsi Jawa Timur dan bahkan se-Kabupaten Mimika!

Selamat mencoba. Dan siapa tahu kamu mau menyempatkan waktu untuk menulis kepada mereka, meminta membuat fitur di situsweb itu untuk menggambarkan lumpur Lapindo.

Akhir Pekan

Leave a comment
Papua / Tentang kawan
From MIMIKA IWOTO

Tanpa terasa kalender sudah menunjukkan hari Jumat, mendekati penghujung minggu, akhir masa kerja dalam satu pekan. Bersyukurlah mereka yang tidak bekerja kantoran seperti aku. Mereka tidak perlu membagi diri kapan harus mengkhususkan diri untuk bekerja dan kapan harus memberikan waktu untuk mengerjakan hal yang disenangi.

Bagiku, akhir minggu sering kali dipenuhi dengan kegelisahan. Ada yang menyentil kepalaku dengan halus sekali, sehalus gelembung sabun, mengatakan “oke, sekarang waktunya menyelesaikan ini, itu, dll.” Tapi kepalaku kadang sudah terlanjur keras setelah seminggu sibuk di kantor. Keras susah diajak bergerak, keras sulit diminta memikirkan sesuatu, keras meminta istirahat dan dihibur.

Kalau sudah begitu, layar komputerku yang jadi saksi. Berbagai macam program pengolah gambar dan kata-kata muncul silih berganti, sekian banyak dokumen dibuka dan ditutup. Lalu kemudian rimba dunia maya yang jadi pelarian. Tempat istirahat dan membuang waktu kemudian adalah jejaring sosial keparat yang mempertemukan (dan sekaligus menyesatkan) banyak orang muda juga, facebook.

Tapi biarpun mumet begitu, banyak hal dari kesibukan di kantor yang sangat perlu dikenang dan dicatat seperti ini. Seperti misalnya, si Casianus Kamakawe yang datang jauh-jauh dari Potowayburu minta bantuan ikut “latihan jadi tentara” (maksudnya orientasi siswa baru di SMA tempatnya mendaftar sekarang yang dibimbing tentara) di Mile 32; Pak Titus yang langsung memegang koran seolah-olah itu cermin ketika Pak Kepala Biro meminta semua staf bercermin mematut diri sebelum menuduh orang lain; Pak Jack Dendegau Kepala Sekolah SD Tsinga yang mengantar anaknya sampai ke Semarang saking kepinginnya anaknya sekolah di Semarang; Pak Jelinus yang ketakutan ngeliat Google Earth.

Banyak hal dari kantor ini yang cukup komikal dan cenderung magis-surealis seperti yang aku sebutkan di atas. Dimana-mana memang pertemuan antara dunia modern dan “dunia lama” selalu menciptakan nuansa tidak dingin tidak panas yang lalu disepakati namanya magis-surealis.

Beruntung atau tidak diriku tergantung caraku menilai dan membingkai semua pengalaman itu.  Sejauh ini aku yakin bahwa aku sudah belajar untuk menilainya dengan hati, bukan dengan hitungan macam-macam.

Sayangnya ya itu, setiap akhir pekan selalu gelisah segala macam. Tapi sampai sekarang aku masih yakin bahwa semua pengalaman komikal bin magis-surealis itu bisa aku curahkan semua dalam satu bab yang kujamin membuatmu juga ingin menuliskan pengalamanmu bekerja di kantor.

Semoga Tuhan memberkati semua usahaku ini. Aminnn….

Rumah

comments 2
Current issues / Papua / Tentang kota

Sebenarnya ini adalah sebentuk pelampiasan pusing gara-gara istriku sudah mulai bicara soal “punya rumah”. Benar-benar topik idaman para pria beristri…Hehe.

Sebenarnya aku juga sudah punya bayangan tempat tinggal ideal. Aku suka sekali mengkoleksi referensi rumah yang nyaman. Sekalipun dalam hal memilih tempat tinggal sering salah pilih. Mulai dari kontrakan rumah yang ternyata gaduh suasana sekitar, berhantu, dan kebanjiran.

Beberapa hari lalu aku membeli edisi spesial majalah Rumah Ide di kios majalah langgananku di Timika. Di dalamnya ada artikel mengenai Eko Prawoto, seorang arsitek muda dari Yogyakarta. Nama Eko Prawoto aku kenal ketika masih di InsistPress. Kami menerbitkan sebuah buku tentang karya dan pandangan Eko Prawoto tentang arsitektur. Sayangnya sampai sekarang aku tidak memiliki buku itu. Mas Eko ini segaris dengan Romo Mangun. Bagi Mas Eko, arsitektur adalah dialog manusia beserta segenap kemampuannya dengan alam tempat manusia tinggal. Karena itu alam tidak dilihat sebagai ancaman dan bahan bangunan disikapi sebagai “keragaman sifat alami yang dipergunakan selaras dengan kebutuhan manusia”.

Karena tema edisi spesial majalah Rumah Ide yang aku beli adalah mengenai Sustainable construction, maka Mas Eko pun membagikan pandangannya mengenai arsitektur. Dalam konteks Mas Eko, arsitektur berkelanjutan bisa dijelaskan dalam tujuh poin, tapi yang menjadi garis besar Mas Eko sepertinya adalah bahan dan ketrampilan lokal, penggunaan bahan secara efektif dan daur-ulang bahan, penghargaan atas alam sekitar, serta ruangan rumah yang multifungsi. Tapi bukan berarti Mas Eko anti teknologi, lho.

Sebagian karya Mas Eko bisa dilihat di blog milik Mas Dwi Atmoko Adi.

Interior rumah karya Eko Prawoto. Foto©Binstudio

Arsitek seperti Mas Eko Prawoto ini yang rasanya perlu datang melihat Papua. Di sini banyak sekali proyek pembangunan perumahan yang tidak beranjak dari kondisi dan kearifan lokal.

Hasilnya? Lihat saja rumah-rumah orang Kamoro di Tipuka dan Ayuka yang semuanya kusam dan tak terawat. Orang Kamoro yang sebelum datangnya senjakala megaindustri tambang di Papua terbiasa hidup di rumah dengan bahan utama gaba-gaba dan bambu mendadak diberi rumah dengan konstruksi tembok. Rumah mereka seperti benda asing berwarna tembaga yang dibuang di tengah kehijauan rimba raya. Menyolok dan saling menganggu.

Perumahan di Ayuka, Timika

Rumah di Timika Pantai

Perawatan bangunan tembok tentu membutuhkan banyak hal. Perlu mengelupas dan membeli cat untuk tembok yang sudah kusam. Sedangkan rumah asli orang Kamoro bisa diperbaiki dengan dukungan alam sekitar.

Bagi aku sendiri, konsep Mas Eko ini seperti tawaran minum es teh di tengah gerah iklan perumahan. Bisa kubayangkan rumahku nanti dibangun secara bertahap, menggunakan bahan secara efisien, serta apik-selaras dengan lingkungan sekitar dan nyaman. Seperti rumah karya Mas Eko yang ada di blog ini.

Tentu saja, jika ingin membangun sendiri tentu saja tantangannya adalah tanah. Membeli tanah di kota seperti Surabaya, Malang, atau Yogyakarta harus siap pusing dengan lokasi dan harga. Di Timika pun rasanya sekarang masalahnya hamper sama dengan kota-kota di Jawa sana.

Belajar Mengelola Air dari Belanda

comments 8
Current issues / Web 2.0


Belum lama ini aku melihat sebuah acara menarik di Discovery Channel. Di acara itu dijelaskan bahwa kota-kota besar dunia sedang berusaha menata dirinya menghadapi perkembangan zaman. Kota besar seperti Chicago misalnya, untuk mengatasi cepatnya laju pertumbuhan kota dan penduduk, sedang membangun kota di bawah tanah.

Amsterdam, ibukota Belanda, sedang menata dirinya untuk membuat hal serupa. Tapi masalahnya, jika penggalian dilakukan seperti di Chicago, gedung-gedung kuno di kota itu terancam ambles karena kondisi tanah di bawah kota Amsterdam yang sangat rentan. Solusi mereka ternyata cukup hebat dan sederhana. Supaya tidak menimbulkan guncangan, maka mesin penggali diletakkan di kanal-kanal yang sudah dikeringkan. Di situlah penggalian dilakukan. Setelah selesai, kanal kembali dialiri air, dan voila, Amsterdam kembali unik seperti sedia kala.

Proyek itu kabarnya masih belum rampung dan akan butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Agak ragu juga sebenarnya; bisa selesai, ga? Tapi negara kecil berpenduduk 16 juta jiwa itu terkenal sebagai negara yang ulet serta konsisten dengan proyek jangka panjang.

Mereka sudah terbiasa mencari jalan keluar kreatif dan mengerjakan proyek-proyek ambisius, seperti Zuiderzeewerken yang dimulai tahun 1918. Bahkan sudah sejak lama, orang Belanda dipercaya mengerjakan proyek pengelolaan air di luar Belanda seperti pengeringan daerah di Cambridgeshire, Inggris dan pembangunan kanal kota Gothenburg, Swedia pada abad 17 hingga pemanfaatan daerah rawa-rawa dan gurun di sepanjang sungai Awash, Ethiopia pada tahun 1953.

Beberapa temanku berpendapat bahwa mahakarya Belanda dalam konstruksi adalah Afsluitdijk, kanal dan bendungan yang dibangun antara tahun 1927 dan 1933. Padahal ada lagi proyek pengelolaan air yang jauh lebih rumit dan bermanfaat di Belanda, Deltawerken.

Deltawerken adalah megaproyek yang dikerjakan dari tahun 1950 hingga 1997 (!) dan bertujuan untuk mengelola daerah delta tiga sungai besar di Eropa; Rhine, Meuse, dan Scheldt. Sepanjang sejarah Belanda, daerah delta tiga sungai besar tersebut adalah daerah langganan banjir.

Banjir melanda desa Serooskerke, Belanda

Studi awal dilakukan pada tahun 1937 oleh Rijkswaterstaat (Departemen Pekerjaan Umum). Hasilnya, banyak wilayah di Belanda rentan bencana akibat badai dan naiknya air laut, terutama di daerah muara sungai Rhine, Meuse, Schelde yang padat penduduk (dalam versi Belanda tentunya).

Daerah muara sungai Rhine-Meuse-Scheldt; berkah sekaligus bencana

Proyek ini sempat mangkrak beberapa saat akibat Perang Dunia II dan pro – kontra di masyarakat Belanda tentang salah satu bagian proyek Deltawerken, yakni rencana penghadang badai di Oosterschelde yang dipandang akan merusak lingkungan.

Akhirnya, pada 21 Februari 1953, komisi pembangunan Deltawerken dibentuk. Tujuannya cukup jelas; pengeringan dan perlindungan daerah langganan banjir dan perlindungan daerah supaya tidak menjadi daerah payau. Maka dimulailah proyek jangka panjang berbagai macam konstruksi seperti bendungan, kanal, pintu air, dan modifikasi aliran sungai. Megaproyek ini juga sangat memperhitungkan perencanaan urban dan ekologi serta keterlibatan para pemangku kepentingan.

Hasilnya, Belanda semakin aman terhadap banjir dan memiliki daerah baru yang dapat dimanfaatkan. Beberapa spesies ikan dan tanaman memang terpengaruh akibat pembangunan beberapa proyek Deltawerken, tapi kini ekosistem dan spesies baru muncul menggantikan yang hilang. Deltawerken kini diakui sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia modern oleh American Society of Civil Engineers.

Penghadang badai Oosterschelde, nampak pulau Neeltje Jans di kejauhan.

Tidak heran jika senator Mary Landrieu dari Negara bagian Louisiana, Amerika Serikat, memuji Belanda sebagai “pemimpin dunia dalam perlindungan banjir secara menyeluruh, memadukan perencanaan tanah, teknologi dan rekayasa sipil mutakhir, serta edukasi masyarakat secara ekstensif” (27 September 2008, www.hollandtrade.com)

Sekarang para insinyur Belanda sedang memikirkan pekerjaan selanjutnya setelah Deltawerken selesai, seperti memikirkan permasalahan seperti meningkatnya permukaan air laut akibat pemanasan global dan penurunan ketinggian tanah.

Seharusnya pemerintah Indonesia juga mulai memikirkan proyek serupa. Apalagi mengingat ibukota negara kita tercinta yang semakin sering kebanjiran serta daerah delta Sungai Bengawan Solo. Hitung saja berapa kota dan luas daerah produktif yang berada di delta sungai Bengawan Solo dan dampak yang akan kita rasakan jika Bengawan Solo sudah benar-benar rusak.