Akhir Pekan

Leave a comment
Papua / Tentang kawan
From MIMIKA IWOTO

Tanpa terasa kalender sudah menunjukkan hari Jumat, mendekati penghujung minggu, akhir masa kerja dalam satu pekan. Bersyukurlah mereka yang tidak bekerja kantoran seperti aku. Mereka tidak perlu membagi diri kapan harus mengkhususkan diri untuk bekerja dan kapan harus memberikan waktu untuk mengerjakan hal yang disenangi.

Bagiku, akhir minggu sering kali dipenuhi dengan kegelisahan. Ada yang menyentil kepalaku dengan halus sekali, sehalus gelembung sabun, mengatakan “oke, sekarang waktunya menyelesaikan ini, itu, dll.” Tapi kepalaku kadang sudah terlanjur keras setelah seminggu sibuk di kantor. Keras susah diajak bergerak, keras sulit diminta memikirkan sesuatu, keras meminta istirahat dan dihibur.

Kalau sudah begitu, layar komputerku yang jadi saksi. Berbagai macam program pengolah gambar dan kata-kata muncul silih berganti, sekian banyak dokumen dibuka dan ditutup. Lalu kemudian rimba dunia maya yang jadi pelarian. Tempat istirahat dan membuang waktu kemudian adalah jejaring sosial keparat yang mempertemukan (dan sekaligus menyesatkan) banyak orang muda juga, facebook.

Tapi biarpun mumet begitu, banyak hal dari kesibukan di kantor yang sangat perlu dikenang dan dicatat seperti ini. Seperti misalnya, si Casianus Kamakawe yang datang jauh-jauh dari Potowayburu minta bantuan ikut “latihan jadi tentara” (maksudnya orientasi siswa baru di SMA tempatnya mendaftar sekarang yang dibimbing tentara) di Mile 32; Pak Titus yang langsung memegang koran seolah-olah itu cermin ketika Pak Kepala Biro meminta semua staf bercermin mematut diri sebelum menuduh orang lain; Pak Jack Dendegau Kepala Sekolah SD Tsinga yang mengantar anaknya sampai ke Semarang saking kepinginnya anaknya sekolah di Semarang; Pak Jelinus yang ketakutan ngeliat Google Earth.

Banyak hal dari kantor ini yang cukup komikal dan cenderung magis-surealis seperti yang aku sebutkan di atas. Dimana-mana memang pertemuan antara dunia modern dan “dunia lama” selalu menciptakan nuansa tidak dingin tidak panas yang lalu disepakati namanya magis-surealis.

Beruntung atau tidak diriku tergantung caraku menilai dan membingkai semua pengalaman itu.  Sejauh ini aku yakin bahwa aku sudah belajar untuk menilainya dengan hati, bukan dengan hitungan macam-macam.

Sayangnya ya itu, setiap akhir pekan selalu gelisah segala macam. Tapi sampai sekarang aku masih yakin bahwa semua pengalaman komikal bin magis-surealis itu bisa aku curahkan semua dalam satu bab yang kujamin membuatmu juga ingin menuliskan pengalamanmu bekerja di kantor.

Semoga Tuhan memberkati semua usahaku ini. Aminnn….

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s