Pesta Natal Berujung Maut

Leave a comment
Papua / Tentang kota

Karnaval peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-65 itu diikuti sekolah-sekolah, institusi pemerintah, dan kelompok masyarakat. Yang menarik, ada sebuah rombongan yang tidak menampilkan keceriaan , tapi kemarahan. Rombongan itu terdiri dari mama-mama yang mengenakan ikat kepala “anti miras” dan memegang botol air mineral yang diisi cairan berwarna pekat kemerahan. Seorang mama menuangkan isi kaleng Coca-Cola ke dalam botol sambil berteriak-teriak dan mengacungkan gelas plastik ke arah penonton karnaval di pinggir jalan.

Mereka adalah para ibu rumah tangga yang tergabung dalam Koalisi Rakyat Anti Miras (KRAM). Kelompok yang dipimpin mama Theresia Magal ini gencar melakukan kampanye ganyang Miras (Minuman Keras) di Timika dan beberapa kali melakukan penggerebekan tempat-tempat yang dikenal sebagai tempat penjualan Miras seperti di Koperapoka dan Gorong-gorong.

Saking marahnya bahkan beberapa di antara terlihat seperti mabuk beneran. Mungkin bersama beberapa orang di pinggir jalan saat itu, aku tersenyum dan ikut mengamini salah satu stigma yang diberikan kepada orang Papua, tukang mabuk.

Langsung terbayang di benakku adegan-adegan seperti seorang meno yang sudah “mabuk tinggi” di Rimba Golf Kuala Kencana mengancam temannya yang berusaha mengajaknya pulang, “he, ko tahu, saya ini guru!” atau orang Kamoro yang dalam keadaan mabuk menumpang mobilku dan menolak turun dari mobil setibanya di tujuan.

Selama ini sepertinya semua orang, sekalipun prihatin, merasa tenang-tenang saja dengan penggambaran orang Papua seperti itu. Kecuali ya mama-mama anti miras yang di tengah siang bolong berteriak-teriak menghujat Miras.

Hingga pada akhirnya di suatu hari di awal tahun 2011 ini aku memahami benar kenapa mama-mama itu tidak hanya sekedar prihatin, tapi marah besar.

***

Orang Papua selalu menyambut Natal dengan penuh suka cita. Tapi dalam suatu kebetulan yang aneh, pesta yang diadakan IPMAMI (Ikatan Persaudaraan Mahasiswa Mimika) di Bandung pada 30 Desember 2010 hingga 1 Januari 2011 dan pesta yang diadakan masyarakat Kamoro di Nayaro, Timika, berakhir dengan perih duka cita.

Kegiatan yang diawali dengan ceramah tentang organisasi dan ibadah itu pada awalnya berlangsung lancar, sekalipun beberapa peserta yang datang dari berbagai kota di Jawa dan Manado sudah nampak mabuk.

Acara yang berlangsung di Hotel Lembang, Bandung itu semakin lama nampak semakin tidak terkontrol. Jadwal acara yang sudah disiapkan panitia tidak berjalan. Bahkan panitia acara sempat bersitegang dengan beberapa kelompok mahasiswa dan pelajar. Hingga akhirnya pada 31 Desember 2011 panitia benar-benar kehilangan kendali atas keadaan.

Para mahasiswa dan pelajar berkumpul di kelompok-kelompok kecil dan mengkonsumsi Miras dalam jumlah yang sangat banyak. Menurut Pascalis Abner, Kepala Biro Pendidikan LPMAK (Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro), jenis minuman yang dikonsumsi antara lain adalah bir, anggur, dan minuman oplosan lokal.

Usai pesta pada 1 Januari 2011, semua peserta acara kembali ke kota studi mereka masing-masing. Keesokan harinya, hampir semua peserta acara tersebut mengalami gejala keracunan Miras seperti pusing, mual, dan badan terasa panas. Akibat terlalu parahnya tingkat keracunan dan lambatnya penanganan, dua orang mahasiswa, Anastasius Pogolamun dan Benyamin Magal akhirnya meninggal dunia di Bandung. Sedangkan Hubertus Maurumako meninggal dunia di Jakarta dan seorang lagi, Felix Soway, meninggal dunia di Yogyakarta.

Selain itu 38 mahasiswa dan pelajar asal Mimika harus mendapatkan perawatan intensif di berbagai rumah sakit di Jawa. Seorang lagi, Roby Tsolme, kemungkinan akan mengalami kebutaan permanen.

Ironisnya, salah satu korban, Benyamin Magal, adalah putra dari mama Theresia Magal, pimpinan Koalisi Rakyat Anti Miras (KRAM). Padahal mama Theresia sengaja menyekolahkan anaknya ke Jawa untuk menghindari pengaruh Miras di Timika.

Sebagian mahasiswa dan pelajar asal Timika adalah penerima beasiswa dari LPMAK (Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro). Sekalipun demikian, LPMAK tidak membiayai perayaan Natal yang berubah jadi pesta Miras itu.

LPMAK membantu pemulangan jenazah dan kini tengah melakukan penyelidikan atas peristiwa tersebut serta melakukan sosialisasi bersama dengan tokoh masyarakat, tokoh gereja, dan pemerintah kepada peserta beasiswa LPMAK dan kepada orang tua.

Sementara itu pada hari yang sama, di Nayaro, kampung orang Kamoro di sebelah timur Timika, perayaan Natal juga melibatkan Miras. Hasilnya, lima warga kampung Nayaro tewas dan seorang mengalami kerusakan syaraf setelah mengonsumsi racikan spiritus, kuku bima, dan air kelapa. Bahkan ada yang mengatakan bahwa salah satu bahan racikan minuman maut itu adalah minyak rem.

***

Peredaran di Miras di Timika selama ini memang tidak terkendali. Sekalipun pemerintah daerah setempat sudah mengesahkan Perda No 5 tahun 2007 tentang larangan Memproduksi, Menjual, Mengedarkan dan Mengonsumsi Minuman Beralkohol, berbagai jenis Miras masih bisa dengan mudah didapatkan di Timika. Tinggal pilih mau apa: Sopi, Cap Tikus, Saguwer, atau minuman oplosan seperti yang diracik warga Nayaro.

Sekalipun tercatat sebagai Perda tahun 2007, Perda anti Miras itu baru efektif dilaksanakan pada tahun 2010. Pada pertengahan 2010 kalau aku tidak salah, beberapa tempat penjualan Miras yang cukup terkenal seperti di Gorong-gorong, Koperapoka, dan SP IV memang sempat tiarap. Tapi setelah itu mereka bisa berdagang dengan bebas seperti biasa. Bahkan pada bulan Juli 2010, Koalisi Rakyat Anti Miras (KRAM) sempat mendapatkan perlawanan dari sekelompok mama-mama.

Peredaran Miras bahkan sudah mencapai kampung-kampung di daerah pesisir selatan Mimika. Seorang guru di Timika Pantai menceritakan bagaimana dia beberapa kali mengusir perahu yang berjualan Miras dari kampung ke kampung. “Tapi mungkin sudah terlambat, orang sudah telanjur suka…” keluhnya.

Menurut Pater Vincent Suparman, Scj, rohaniwan Katolik yang lama bertugas di Mimika, orang Papua, khususnya Amungme dan Kamoro, tidak mengenal minuman beralkohol seperti orang Flores atau Jawa dengan minuman araknya dan Batak dengan Tuaknya (korespondensi pribadi, 15 Januari 2011).

Peredaran Miras memang hanya satu poin saja dari daftar panjang dampak laju modernisasi dan segala nilai-nilai barunya yang terus mendesak tatanan budaya masyarakat Amungme dan Kamoro. Walaupun kelihatan mendengarkan khotbah di gereja, masyarakat sebenarnya enggan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan gereja, tutur Pater Vincent.

Bukan hanya gereja , pemerintah dan lembaga adat juga merasa tidak berdaya. Menurut Cantius Amareyau, salah satu tokoh masyarakat Kamoro, peristiwa pesta Miras di Bandung penghujung 2010 itu sebenarnya bukan peristiwa baru. Hampir setiap tahun ada saja pesta Miras sekalipun tidak menyebabkan jatuhnya korban jiwa sebanyak peristiwa di Bandung. “Kebiasaan minum Miras itu dimulai di Timika…” tutur Cantius Amareyau.

Pater Vincent berharap, peristiwa ini membuka mata semua pihak di Timika, mulai dari pemerintah, gereja, dan tokoh masyarakat untuk saling bekerjasama membangun generasi muda.

Hal ini senada dengan ajakan Pater Armandus Rahadet, Pr, yang sekalipun merasa sangat prihatin dengan peristiwa jatuhnya korban akibat miras, melarang umat setempat untuk melakukan razia tempat penjualan Miras pabrikan dan oplosan. “Tergantung kita sendiri mau beli atau tidak, mau mati atau tidak,” tutur Pater Armandus (Kompas, 12 Januari 2011).

 

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s