| Horoscope for Libra 08 Sep 2004 |
| Take care of any dealings with government agencies. Problems with colleagues are likely. Be tactful if you see flaws in someone else’s work. |
| CHOOSE…AriesTaurusGeminiCancerLeoVirgoLibraScorpioSagittariusCapricornAquariusPisces |
| Kwiz.Biz Daily Horoscopes for your Blog |
Mimpi Yang Melelahkan di Hari Minggu
Hari minggu yang melelahkan. Sepanjang hari aku isi dengan tiduran, membaca cerpen di beberapa koran, dan bermain game komputer. Setelah 12 jam diregang kecemasan khas urban di dalam kamar, aku putuskan untuk keluar rumah. Sekedar keluar dari dunia cemas ini dan mencari tempat untuk melepas semua ketegangan. Seperti biasa pilihanku adalah pergi ke warung kopi.
Aku tidak seperti teman-teman lain yang punya warung kopi favorit, tempat mereka bertemu dengan kawan-kawan, ngobrol ini itu. Bagiku, warung terbaik, selain tempatnya yang nyaman, adalah karena keberjarakanku dengan warung itu, aku tidak mengenal satupun di antara pengunjung. Dengan tetap menjadi orang asing, aku punya banyak waktu berpikir (Tentang kamu? Mungkin juga). Sungguh, berpikir sambil melihat manusia berlalu-lalang jauh lebih menyehatkan daripada berpikir melihat suasana kamar yang itu-itu saja. Mungkin karena itu lebih banyak ide-ide cemerlang di dunia ini yang lahir di keramaian warung/café/pasar/selasar kampus daripada di dalam kepengapan perpustakaan atau ruang baca.
***
Selesai cuci muka, aku langsung berangkat ke daerah Pucang, ke warung kopi kesukaanku. Warung kopi ini baru buka setelah toko kain di depannya tutup. Lokasinya di perempatan Pasar Pucang berseberangan langsung dengan warung makan emperan yang populer. Banyak pembelinya datang naik mobil bagus-bagus. Kalo ada perempuan yang turun dari mobil, bisa dipastikan parasnya cantik. Dari warung ini mereka terlihat jelas. Tidak hanya itu, di sebelah warung makan itu ada warung rokok yang memutar televisi, dan selalu ramai setiap ada acara bola atau film India tengah malam. Karena dipisahkan oleh jalan yang lumayan besar, pelbagai kegiatan yang berlangsung di warung makan itu tidak terlalu mengganggu suasana di warung kopiku.
Benar saja. Ketika aku tiba di warung kopi itu, hanya ada dua kelompok pembeli. Kelompok pertama, di sebelah kananku, sepertinya sedang mempersiapkan band aliran gothic atau dark metal. Yang paling dominan di antara mereka bertiga, si gondrong, mengusulkan kepada si kurus di sebelahnya untuk meminjam kostum daripada membelinya, menyuruh si kurus untuk menghubungi si irex untuk meminjam masker. Di sebelah kiriku, sepasang kekasih yang sepertinya berusaha membuang kesumpekan mereka di warung ini. Si cewek tiduran beralaskan paha si cowok. Sementara si cowok hanya duduk memandang keramaian warung seberang sambil memegangi sebuah pulpen. Di depan mereka terbengkalai sebuah buku TTS, di halaman buku yang terbuka itu tak satupun baris terisi. Ketika aku baru menginjakkan kaki di warung, si cewek terlihat sedang membetulkan rambutnya, sia-sia, wajahnya tetap terlihat kacau. Persis seperti kamu.
Aku tidak habis pikir. Kenapa kamu kecewa dengan jalan yang tidak dewasa sama sekali. Selama ini aku memandangmu sebagai manusia dewasa yang memendam kekecewaan dan menanamnya gundukan tanah di atasnya dengan bebungaan. Kamu melakukannya karena kamu tahu aku akan selalu melewati jalanmu, dan gundukan-gundukan tanah bukanlah sesuatu yang indah untuk dilihat. Apalagi untuk dilewati. Pasti rasanya seperti melewati jalanan Surabaya yang penuh lubang.
Tapi kali ini mungkin semuanya begitu mendera bagimu. Aku sangat paham. Aku selalu mencoba untuk paham. Bahkan di saat pertengkaranmu dengannya. Mungkin itu yang namanya karma. Setiap perbuatan yang kita perbuat akan selalu kembali pada diri kita dengan cara apapun. Dia tidak pernah mau mengaku padamu bagaimana dia “jajan” di lokalisasi Dolly. Sekalipun dia akhirnya melakukannya juga atas paksaan rekan-rekan bisnisnya, dan dia membayangkan wajah-tubuhmu ketika menyentuh tubuh pekerja seks itu, dia tidak pernah berani bercerita padamu. Hanya padaku dia berani. Itupun karena dia tahu aku punya mimpi-mimpi yang menunjukkan kejadian-kejadian sebenarnya di dunia nyata.
Aku jadi mengerti bagaimana susunan wajahmu kala itu, ketika sedang mabuk berat dan semua masalah merubung di kepala. Kemudian ketika di depanmu kenyataan sudah menyingkap semua tabirnya akibat desakan alkohol, kamu tidak lagi mampu menahan kepala dan tubuhmu, mabuk dan muntah. Semua permasalahan mengintip dari luar dirimu sepeti hantu yang melayang-layang di atas air, mulai dari uang kontrakan rumah, gaji yang tidak layak, uang kuliahku yang mahal, biaya pesta slametan nenek yang lumayan besar. Lalu pelan-pelan satu persatu teman-teman cowokmu melucuti pakaianmu dan mengajakmu berpesta orgy.
Aku sudah pernah beritahu kamu khan kalau aku melihat semua kejadian itu di dalam mimpiku? Bahkan sampai pada saat tiba suatu pagi kamu terbangun di sebuah kamar, telanjang bulat, hanya dibalut selimut. Aku melihat hampir semuanya.
Aku begitu marah ketika kamu tidak mengakui perbuatanmu itu. Tapi aku tidak mengancammu bukan? Aku yakin dia akan segera mengetahui perbuatanmu itu, cepat atau lambat. Karena aku tahu perasaan manusia manapun, jika diasah dengan telaten, jauh lebih tajam dari kemampuan indrawi dukun manapun. Sampai kemudian di hari Sabtu yang lembab kamu menelponku dan mengakui perbuatanmu dengan tidak langsung. Dalam pembicaraan telpon itu kepalaku memutar kembali cuilan-cuilan mimpi yang masih tersisa di otakku.
Dalam mimpiku semua kejadian itu terlihat begitu erotis dan estetis. Tapi dalam kenyataan, aku yakin sekali, pasti berlangsung dalam salah satu pojok kehidupanmu yang paling menyedihkan. Selimut yang menutupimu pastilah selimut tipis murahan sudah berlubang di sana-sini, kamar yang pengap dengan cat tembok kusam, lantai kamar yang kotor, semuanya begitu lesu. Menawarkan padamu tidak lain hanya kelesuan.
Setibamu di rumah, kelesuan pasti tidak juga menyingkir. Jika tepat saatnya mungkin dia akan menyambutmu seperti adegan-adegan dalam kisah anak durhaka yang pulang ke rumah karangan Andre Gide. Ah, berlebihan sekali aku ini. Pasti semua akan berlangsung bisa saja, tidak ada yang dramatis. Dia akan menyambutmu dengan pelukan hangat sepeti biasanya begitu kamu menginjakkan kaki di teras rumah. Baru kemudian setelah kamu selesai mandi dan menyiapkan makan malam, dia memulai pembicaraan dan menyeretmu dalam pertengkaran.
Entahlah. Aku begitu muak akan semua ini. Aku begitu muak melihat bagaimana angkatanku, sekumpulan manusia-manusia muda, digiring masuk ke semacam rumah jagal raksasa. Angkatanku terus menerus kalian salahkan, entah karena narkoba, free sex, teknologi, dekadensi moral, kebudayaan barat, dan lainnya. Tapi kalian yang lebih tua, yang menudingkan jari kalian terus menerus ke kami ternyata tidak kalah remuk kehidupannya dengan kami.
Begitu rumitnya semua pengalaman ini, aku tidak pernah tahu cara yang tepat untuk mengungkapkannya. Aku menginginkan semacam versi cetak dari Bohemian Rhapsody atau Exit Music (For A Film) dan versi modern dari Hamlet, Wuthering Heights, atau Scarlet Letters. Sesuatu yang kental dengan kondisi kekinian zamanku, yang mengingatkan aku dan sesamaku dan anak cucuku kelak secara terus menerus akan kepahitan yang sedang kita jalani. Tapi jangan-jangan kawanku ada benarnya. Dalam bentuk puisi dia berbicara padaku; “Seperti itukah dunia? Aku kamu terpaku / Di etalase, diam mencari makna, entah sebab kita / Sekedar pajangan / Sampai lupa, kita berdiri di mana?” *
Diam-diam tanpa kalian sadari aku sedang merekam semuanya dan berusaha memindahkan hasil rekamanku menjadi sebuah (aku malu sebetulnya mengakui ini) novel. Tapi menulis novel bukan perkara yang gampang. Banyak sekali manusia dengan berjuta pengalaman menyerah pada keangkeran menyusun ribuan kata. Mungkin aku juga akan seperti itu. Aku selalu mencoba melatih ketangguhanku menembus jajaran teks dengan menulis cerpen, tanpa peduli dimuat di media atau tidak.
***
Sebelum pulang aku sempatkan mampir ke warnet, membalas beberapa email dan melihat-lihat situs-situs band kesukaanku. Belum sampai di ruang keluarga, papa sudah mencegatku di pintu, berdiri hanya mengenakan kaos singlet dan sarung sambil menghisap rokok kreteknya. Bau rokok kretek yang hangat dan sarungnya membuat aku tenang dan menjawab pertanyaannya dengan penuh kesopanan, tidak kasar seperti yang tadi aku rencanakan.
Daru, mama dimana? Tanya papa
Oh, di rumah temannya.
Siapa? Tahu dari mana kamu?
Kemaren Daru telpon. Katanya besok pagi mama pulang, tapi di rumah siapa Daru nggak tahu.
Ayo temeni papa berdoa, semoga mama baik-baik saja dan mau pulang ke rumah lagi.
Iya pa, Daru cuci muka dulu.
Ah, semoga semua kejadian ini mimpi belaka. Dan jika bangun kelak aku baca kisah ini di kolom budaya di sebuah koran. ***
Pesisir Kenjeran, Juli 2004
Membaca Frida Kahlo, Membaca Potret Diri
“aku memberi kalian potret diriku agar kalian dapat merasakan kehadiranku sepanjang hari dan malam, sekalipun aku telah tiada”
Frida Kahlo
Frida Kahlo adalah sebuah perwakilan dari kesedihan yang mendalam, yang selalu memunculkan dirinya di setiap malam menjelang tidur,di mimpi,di setiap lamunan.
Kalau saja Frida memendam semua kesedihannya, dunia tidak akan memiliki seseorang yang begitu mempercayai kesedihan seperti orang yang mempercayai kebahagiaan untuk menjadi aksesoris hidupnya. Dan tidak seperti pelukis lainnya, Frida hanya mempercayai satu figur yang bisa menjadi representasi bagi dunia di dalam dirinya dan dunia di luar dirinya, yaitu dirinya sendiri. Seakan-akan pada dirinyalah, seluruh dunia yang mengelilingi dirinya berpusat dan mengadakan sebuah pesta besar.
Frida hanya mempercayai keseluruhan fisiknya sebagai obyek yang bisa menjadi medan pergerakan semua perangkat kreatif dan kumpulan memori. Kejadian traumatis yang menimpa diri Frida mungkin menjadi alasan bagi Frida yang selalu menggunakan dirinya sebagai obyek utama dalam setiap lukisannya. Kehidupannya selalu diwarnai dengan penderitaan fisik. Pada umur 5 tahun,dia menderita Polio. Sebuah kecelakaan bus yang menimpa Frida pada tahun 1925 melukai dirinya mulai dari perut hingga panggul. Teknologi kedokteran Mexico yang masih belum maju pada masa itu menyebabkan penderitaan yang luar biasa bagi Frida karena harus mengalami 32 kali operasi berat. Pun, setelah kesembuhannya, Frida Kahlo tidak dapat memiliki anak seumur hidup karena parahnya luka yang diderita
Dengan kondisi fisiknya yang seperti ini lukisan-lukisannya lebih banyak diproduksi di atas tempat tidur.
Banyak orang mengira Frida Kahlo adalah seorang surrealis, terlebih apabila ketika melihat lukisan potret dirinya, dalam keadaan terluka,tersayat, atau terinfiltrasi benda-benda asing. Frida sendiri menyangkal anggapan ini dengan mengatakan “orang selalu mengira bahwa diriku adalah seorang surrealis. Aku tidak pernah melukis impian. Aku selalu melukiskan kenyataan”.
Kebanyakan hasil karya Frida Kahlo menggambarkan pengalaman hidup pribadinya,mulai dari penderitaan yang harus ditanggungnya akibat kecelekaan bus ketika dia masih berumur 18 tahun,hubungannya yang penuh konflik dengan Diego Rivera hingga keterlibatan dirinya dalam gerakan Kiri dan Revolusi Mexico.
Lukisan Frida seperti “Two Fridas” ( Dua Diri Frida ), menggambarkan dua potret dirinya yang saling duduk berdampingan, namun dengan dada yang berlubang di Frida yang pertama dan Frida yang kedua sedang memegang jantung Frida pertama tersebut. Tema yang serupa dengan “Two Fridas” bisa kita temukan lukisannya seperti “My Nurse and I” ( Suster dan Diriku ). Dalam “The Wounded Deer” ( Rusa yang Terluka), Frida menampilkan dirinya sebagai binatang. Dalam “Portrait on the borderline between Mexico and The United States” ( Potret di perbatasan Amerika dan Mexico ) Frida menampilkan dirinya sebagai sebuah benda di tengah-tengah benda yang lain, sebagai patung dengan baju berwarna merah muda yang berdiri di antara benda-benda yang mewakili kondisi sosial Mexico yang masih tradisional di salah satu sisi dan sisi lain yang menggambarkan keunggulan teknologi Amerika.
Frida Kahlo dilahirkan pada 6 Juli 1907. Sekalipun demikian,Frida sering mengaku bahwa dia dilahirkan pada tahun 1930,tahun pecahnya Revolusi Mexico karena dia ingin hidupnya dimulai berbarengan dengan dimulainya era modern Mexico.
Frida Kahlo memiliki kehidupan asmara yang menarik. Dia pernah memiliki hubungan dekat dengan Leon Trotsky dan istri Andre Breton. Sekalipun pada akhirnya dia memilih untuk menikah dengan Diego Rivera, seorang pelukis.
Frida bertemu untuk pertama kalinya dengan Diego Rivera pada saat Diego sedang menyelesaikan seni muralnya di Amphitheater Bolivar, Mexico city pada tahun 1922. Sementara Diego sendiri masih berstatus suami dari Lupe Marin,yang juga merangkap sebagai model untuk lukisan-lukisa Diego Rivera. Mereka sempat bercerai setelah 10 tahun perkawinan mereka dan menikah kembali hingga Frida Kahlo meninggal dunia
Mereka akhirnya menikah pada tahun 1929,sekembali Diego Rivera dari Soviet Uni pada tahun 1928. Pada saat itu Lupe Marin sudah menjadi bagian dari masa lalu Diego.
Ketika Frida Kahlo meninggal pada tahun 1954, Rakyat Mexico memiliki cara tersendiri untuk menungkapkan duka mereka. Dengan sebuah frase :” temanku,sahabat rakyat Mexico, engkau masih hidup”
as bold as emptiness, as slow as laziness
siapa yang butuh untuk ditolong jika kita terlalu malas untuk terlibat dalam masalah?
i have been manipulated and permanently distorted
LAST CALL DURATION
introductory comments: u know it’s all about her
00:00:00
(THANKS TO MELODY CLUB)
Jempol menempel di tombol. Semua sudah direncanakan matang, aku yakin aku bisa mengontrol semua kata yang akan kuucapkan. Beberapa topik bahan pembicaraan telah rapi tersusun dalam pikiran, aku yakin kali ini tidak akan jadi konyol. Kalimat-kalimat apik telah kulatih untuk kuucapkan dengan suara dan lafal yang yang jelas dan tepat. Aku yakin kata ini dan kata itu akan kedengaran natural dan spontan seperti tak direncanakan. Namun waktu masih banyak, tunggu beberapa menit lagi, aku akan benar-benar siap. Nanti tepat pada pukul 7, 7:15, 7:30, 8 dan seterusnya. Tak kurasa aku telah cuku lama mmemegangi tombol kecil itu. Di layar sudah terpampang nomormu, hasil percobaan usahaku yang pertama beberapa menit yang lalu. Itu selalu kulakukan, aku memutusnya sebelum sempat tersambung. Mengamati deretan angka-angka yang belum juga bisa kuhafal dengan tepat, tak seperti nomormu yang dulu-dulu. Hanya itu? Tidak, berulangkali aku juga menghapus deretan nomor itu dan menuliskannya kembali, berulang-ulang dengan cara yang sama, memutus sebelum tersambung, sebelum nomorku muncul di layar hp mu.
Sesaat aku kembali ragu, seperti biasa. Apakah ini penting untukmu? Apakah ini saat yang benar-benar tepat? Apakah kau akan mengangkatnya? Aku mengerti jika barangkali kau sudah begitu jengah, setiap kali namaku, yang entah kautulis seperti apa (tapi aku tahu kau tulis biasa saja, karena memang tak ada yang luar biasa dari nomor ini) muncul di hp mu yang bergetar dan menyala.
Aku kembali ragu, aku takut kecewa, aku takut jika saat ini kau sedang ada acara dan tak dapat atau tak harus menjawab panggilanku, atau mungkin kau sedang bersama seseorang yang bisa membuatmu merasa tak perlu menjawab panggilan dari nama yang muncul di layar hp mu. Yang lebih manusiawi dan netral, mungkin kau sedang tidur saat ini, kau pusing dengan segala pikiran dan bebanmu, kau ingin istirahat, kau sedang tak mau diganggu apalagi oleh aku yang sangat jarang membawa berita yang bermutu dan perlu, persis seperti yang dulu aku lakukan namun toh kau masih selalu sabar dan betah menghadapinya.
Aku kembali ragu, mungkin sebaiknya aku SMS saja, tentunya dengan mengubur dalam-dalam kemungkinan untuk dibalas. Tidak! Aku tak mau. Kali ini aku ingin mendengar suaramu. Suara yang selalu terdengar sembab itu. Kau sering bilang kalau hidungmu pun mudah mengalami alergi sepertiku, namun suaraku sama sekali tak mirip suaramu. Suaramu begitu khas, aku begitu menyukainya walau mungkin tak sesexy milik Shirley Manson, Nina Personn, Sarah Blackwood dan Kelly Dayton, tak seindah Bjork, atau sejernih Mazzy Starr dan Nicola Hitchcock. Sayang sekali aku tak pernah dengar kau menyanyi, bersenandungpun jarang. Tapi aku kira aku lebih dan sudah cukup senang mendengarmu berbicara daripada bernyanyi.
Kembali aku sadar betapa lama aku memegang tombol handphoneku, nomormu pun masih ada di sana seolah bingung sendiri, dibawah nomor itu terpampang kata OK untuk memulai pengalaman yang selalu membuatku lemas dan berdebar ini. Sudah lebih dari satu jam lalu aku terus menggenggamnya. Benda-benda di sekelilingku terasa seperti sedang menatapku sambil menahan tawa. Akupun merasa seperti seorang badut amatir di sebuah pesta seorang kaya yang mengundangku hanya atas dasar kasihan. Walaupun begitu, sejujurnya saat ini adalah saat yang juga sangat aku sukai, bahkan setiap waktu aku selalu menunggu semua ini. Sekarang dalam hitungan detik, aku bisa segera merealisasikannya, semua bergantung pada jempolku ini. Meskipun bisa saja dalam sesaat setelah aku memencet tombol ini, aku lagi-lagi meutuskannya sebelum tersambung ke nomormu dan semua akan kembali seperti semula.
Terkadang aku sendiri malu dan menyesal bila aku melakukannya lagi. Beberapa menit berlalu. Aku pikir akan sia-sia bila aku menghubungimu sekarang, entah kenapa. Aku putuskan untuk keluar dari menu ini dan berpindah ke menu SMS. Aku lihat ke bagian inbox yang diantaranya masih terdapat SMS darimu yang sudah demikian lama namun terlalu sayang untuk kuhapus. Sebentar kenudian aku mencoba menuliskan pesan untukmu, aku tidak ingin hanya sekedar mengirimmu SMS tapi tetap aku lakukan. Aku ketik tiap kata-kata sebaik dan sejelas mungkin sehingga bisa dimengerti olehmu sebelum akhirnya, aku hapus kembali.
Jam telah menunjukkan bahwa hampir satu setengah jam aku menunggu jempol sialan ini memencet nomormu dan kemudian menempelkan benda yang disebut handphone ini ke telingaku untuk mendengar setiap nada-nada yang mungkin setiap jarak diantaranya dapat memuat sekitar lima puluh kali degup jantungku. Tapi lihat apa yang kulakukan? Lima belas menit terakhir ini aku malah terdampar di menu games yang sejujurnya sangat membosankan itu. Sementara perutku juga telah kembali lapar. Aku ingin segera bisa memutuskan untuk keluar makan dan menunda rencana menelponmu besok saja. Aku masih tak percaya aku telah menghabiskan waktu selama ini hanya untuk bimbang dalam menelpon seseorang saja, untuk memberitahu atau menanyakan suatu hal yang mungkin tak begitu penting bagiku dan terutama juga bagimu. Akan tetapi, aku juga selalu teringat cerita seorang teman. Bagaimana setiap kali ia menelpon seseorang sepertimu, ia bahkan hanya bermodalkan pertanyaan “baru ngapain?” tentu saja tujuanku kali ini jauh lebih penting dari pertanyaan mengada-ada itu. Aku juga teringat seorang teman yang lain, yang terkadang hanya menelpon untuk bertanya “kamu tahu nomor teleponnya si anu atau si itu nggak?”, itu saja, dan mungkin akan disambung dengan pertanyaan temanku yang pertama tadi. Sejujurnya aku sangat bisa meniru kedua temanku itu, toh yang lebih utama sebenarnya bukanlah beritanya, semua hanya untuk mendengar suaramu saja. Aku juga telah berulangkali membuktikan bahwa mendengar suaramu jauh lebih mujarab dan lebih nikmat sebagai pengantar tidur ke mimpi yang indah daripada bergelas-gelas minuman keras yang akan membuatku kesiangan dan pusing pada keesokan harinya. Terkadang aku bahkan punya impian untuk merekan suaramu atau lebih lagi merekammu selama beberapa saat lewat kamera atau handycam yang akan menjadi kenang-kenangan paling berharga saat aku benar-benar sudah tak mungkin bertemu dirimu lagi. Mungkin kaupun tak keberatan melakukannya untukku suatu saat. Namun saat ini hanya menelponmulah yang bisa membuatku lebih gembira saat beranjak tidur nanti, lagipula sekarang aku merasa punya topik yang lebih berbobot dari sekedar menanyakan kegiatanmu atau nomor telepon si anu tadi.
Dua jam telah berlalu, pulsaku masih utuh, perutku semakin terasa lapar sementara aku masih terus menimbang-nimbang cara apa yang harus kutempuh untuk mencoba berkomunikasi denganmu lewat benda kecil yang terus kugenggam dari tadi ini.
Pikiranku semakin tak terfokus, semua persiapan telah hilang, semua kata-kata yang coba kuingat-ingat kini terdengar begitu konyol. Berulangkali aku membayangkan bila aku berada di posisimu dan berulangkali pula aku menganggap bahwa aku dan beritaku sungguh membosankan dan sama sekali tidak penting apalagi berguna untukmu. Akupun tahu itu, akhir-akhir ini semua yang kubicarakan memang tak pernah terlalu jauh dari masalah kuliah atau pengerjaan skripsi. Semua telah begitu membosankan dan datar, tak ada yang bisa dikembangkan. Aku merasa seperti kembali ke masa sekolah dasar, saat aku sering menelpon dan ditelpon teman hanya untuk bertanya mengenai PR atau untuk mendiktekan pertanyaan atau jawaban dari PR itu.
Kembali aku merasa malu pada diriku. Kali ini bahkan aku hampir mengurungkan niatku. Sudahlah, aku hanya akan menelponmu jika ada kabar mengenai seorang teman dekat yang meninggal dunia, jika aku divonis hukuman mati, jika aku melihat UFO mendarat di atas atap kamarku atau jika aku mendengar kabar menggemparkan tentangmu. Begitu naif!
Malam sudah semakin larut. Aku tak yakin kau akan menerima teleponku lagi, tapi aku tak yakin kau sudah tidur, kau mungkin baru saja pulang dari apapun kegiatan yang kaulakukan beberapa saat yang lalu. Kali ini aku rasa tak ada salahnya aku kembali jadi seperti dulu, menjadi pengganggu setiamu. Aku ambil kembali HP ku, kutekan salah satu nomor yang telah kusave untuk nomormu, dadaku kembali berdegup walau hanya sebentar dan tak seperti dulu lagi, aku kini lebih santai. Kutunggu setiap nada ”….tuut……tuut……tuut…”, sekitar tujuh kali beriringan dengan harapanku yang serasa semakin mengecil dan pada nada ke delapan, aku dengar suara seorang wanita “Selamat datang di layanan……” segera kututup dan kuulangi sekali lagi untuk hasi yang sama…
Tak lama akupun segera tertidur dengan pulas……
surf by, plenty of stories here:
sekedar menjawab sebuah pertanyaan atau memang ini yang kuinginkan. but its actually good, let’s have a cup of coffee, make a toast and embrace
just wonder why, sometimes i cant get nowhere
just wonder why, do nothing is a well business
just wonder, and i wont stay at my bed any longer to waste my time, over react and mad, watch the strange spiderweb caught the sunshine.
i will dive on the deep ocean and keep wonder why.
tonight another funny poser performed, today the professor’s spectacle run over his head and stay all night.
no one even care… no one even wonder why