LAST CALL DURATION

Leave a comment
Tentang kawan

introductory comments: u know it’s all about her

00:00:00

(THANKS TO MELODY CLUB)

Jempol menempel di tombol. Semua sudah direncanakan matang, aku yakin aku bisa mengontrol semua kata yang akan kuucapkan. Beberapa topik bahan pembicaraan telah rapi tersusun dalam pikiran, aku yakin kali ini tidak akan jadi konyol. Kalimat-kalimat apik telah kulatih untuk kuucapkan dengan suara dan lafal yang yang jelas dan tepat. Aku yakin kata ini dan kata itu akan kedengaran natural dan spontan seperti tak direncanakan. Namun waktu masih banyak, tunggu beberapa menit lagi, aku akan benar-benar siap. Nanti tepat pada pukul 7, 7:15, 7:30, 8 dan seterusnya. Tak kurasa aku telah cuku lama mmemegangi tombol kecil itu. Di layar sudah terpampang nomormu, hasil percobaan usahaku yang pertama beberapa menit yang lalu. Itu selalu kulakukan, aku memutusnya sebelum sempat tersambung. Mengamati deretan angka-angka yang belum juga bisa kuhafal dengan tepat, tak seperti nomormu yang dulu-dulu. Hanya itu? Tidak, berulangkali aku juga menghapus deretan nomor itu dan menuliskannya kembali, berulang-ulang dengan cara yang sama, memutus sebelum tersambung, sebelum nomorku muncul di layar hp mu.

Sesaat aku kembali ragu, seperti biasa. Apakah ini penting untukmu? Apakah ini saat yang benar-benar tepat? Apakah kau akan mengangkatnya? Aku mengerti jika barangkali kau sudah begitu jengah, setiap kali namaku, yang entah kautulis seperti apa (tapi aku tahu kau tulis biasa saja, karena memang tak ada yang luar biasa dari nomor ini) muncul di hp mu yang bergetar dan menyala.

Aku kembali ragu, aku takut kecewa, aku takut jika saat ini kau sedang ada acara dan tak dapat atau tak harus menjawab panggilanku, atau mungkin kau sedang bersama seseorang yang bisa membuatmu merasa tak perlu menjawab panggilan dari nama yang muncul di layar hp mu. Yang lebih manusiawi dan netral, mungkin kau sedang tidur saat ini, kau pusing dengan segala pikiran dan bebanmu, kau ingin istirahat, kau sedang tak mau diganggu apalagi oleh aku yang sangat jarang membawa berita yang bermutu dan perlu, persis seperti yang dulu aku lakukan namun toh kau masih selalu sabar dan betah menghadapinya.

Aku kembali ragu, mungkin sebaiknya aku SMS saja, tentunya dengan mengubur dalam-dalam kemungkinan untuk dibalas. Tidak! Aku tak mau. Kali ini aku ingin mendengar suaramu. Suara yang selalu terdengar sembab itu. Kau sering bilang kalau hidungmu pun mudah mengalami alergi sepertiku, namun suaraku sama sekali tak mirip suaramu. Suaramu begitu khas, aku begitu menyukainya walau mungkin tak sesexy milik Shirley Manson, Nina Personn, Sarah Blackwood dan Kelly Dayton, tak seindah Bjork, atau sejernih Mazzy Starr dan Nicola Hitchcock. Sayang sekali aku tak pernah dengar kau menyanyi, bersenandungpun jarang. Tapi aku kira aku lebih dan sudah cukup senang mendengarmu berbicara daripada bernyanyi.

Kembali aku sadar betapa lama aku memegang tombol handphoneku, nomormu pun masih ada di sana seolah bingung sendiri, dibawah nomor itu terpampang kata OK untuk memulai pengalaman yang selalu membuatku lemas dan berdebar ini. Sudah lebih dari satu jam lalu aku terus menggenggamnya. Benda-benda di sekelilingku terasa seperti sedang menatapku sambil menahan tawa. Akupun merasa seperti seorang badut amatir di sebuah pesta seorang kaya yang mengundangku hanya atas dasar kasihan. Walaupun begitu, sejujurnya saat ini adalah saat yang juga sangat aku sukai, bahkan setiap waktu aku selalu menunggu semua ini. Sekarang dalam hitungan detik, aku bisa segera merealisasikannya, semua bergantung pada jempolku ini. Meskipun bisa saja dalam sesaat setelah aku memencet tombol ini, aku lagi-lagi meutuskannya sebelum tersambung ke nomormu dan semua akan kembali seperti semula.

Terkadang aku sendiri malu dan menyesal bila aku melakukannya lagi. Beberapa menit berlalu. Aku pikir akan sia-sia bila aku menghubungimu sekarang, entah kenapa. Aku putuskan untuk keluar dari menu ini dan berpindah ke menu SMS. Aku lihat ke bagian inbox yang diantaranya masih terdapat SMS darimu yang sudah demikian lama namun terlalu sayang untuk kuhapus. Sebentar kenudian aku mencoba menuliskan pesan untukmu, aku tidak ingin hanya sekedar mengirimmu SMS tapi tetap aku lakukan. Aku ketik tiap kata-kata sebaik dan sejelas mungkin sehingga bisa dimengerti olehmu sebelum akhirnya, aku hapus kembali.

Jam telah menunjukkan bahwa hampir satu setengah jam aku menunggu jempol sialan ini memencet nomormu dan kemudian menempelkan benda yang disebut handphone ini ke telingaku untuk mendengar setiap nada-nada yang mungkin setiap jarak diantaranya dapat memuat sekitar lima puluh kali degup jantungku. Tapi lihat apa yang kulakukan? Lima belas menit terakhir ini aku malah terdampar di menu games yang sejujurnya sangat membosankan itu. Sementara perutku juga telah kembali lapar. Aku ingin segera bisa memutuskan untuk keluar makan dan menunda rencana menelponmu besok saja. Aku masih tak percaya aku telah menghabiskan waktu selama ini hanya untuk bimbang dalam menelpon seseorang saja, untuk memberitahu atau menanyakan suatu hal yang mungkin tak begitu penting bagiku dan terutama juga bagimu. Akan tetapi, aku juga selalu teringat cerita seorang teman. Bagaimana setiap kali ia menelpon seseorang sepertimu, ia bahkan hanya bermodalkan pertanyaan “baru ngapain?” tentu saja tujuanku kali ini jauh lebih penting dari pertanyaan mengada-ada itu. Aku juga teringat seorang teman yang lain, yang terkadang hanya menelpon untuk bertanya “kamu tahu nomor teleponnya si anu atau si itu nggak?”, itu saja, dan mungkin akan disambung dengan pertanyaan temanku yang pertama tadi. Sejujurnya aku sangat bisa meniru kedua temanku itu, toh yang lebih utama sebenarnya bukanlah beritanya, semua hanya untuk mendengar suaramu saja. Aku juga telah berulangkali membuktikan bahwa mendengar suaramu jauh lebih mujarab dan lebih nikmat sebagai pengantar tidur ke mimpi yang indah daripada bergelas-gelas minuman keras yang akan membuatku kesiangan dan pusing pada keesokan harinya. Terkadang aku bahkan punya impian untuk merekan suaramu atau lebih lagi merekammu selama beberapa saat lewat kamera atau handycam yang akan menjadi kenang-kenangan paling berharga saat aku benar-benar sudah tak mungkin bertemu dirimu lagi. Mungkin kaupun tak keberatan melakukannya untukku suatu saat. Namun saat ini hanya menelponmulah yang bisa membuatku lebih gembira saat beranjak tidur nanti, lagipula sekarang aku merasa punya topik yang lebih berbobot dari sekedar menanyakan kegiatanmu atau nomor telepon si anu tadi.

Dua jam telah berlalu, pulsaku masih utuh, perutku semakin terasa lapar sementara aku masih terus menimbang-nimbang cara apa yang harus kutempuh untuk mencoba berkomunikasi denganmu lewat benda kecil yang terus kugenggam dari tadi ini.

Pikiranku semakin tak terfokus, semua persiapan telah hilang, semua kata-kata yang coba kuingat-ingat kini terdengar begitu konyol. Berulangkali aku membayangkan bila aku berada di posisimu dan berulangkali pula aku menganggap bahwa aku dan beritaku sungguh membosankan dan sama sekali tidak penting apalagi berguna untukmu. Akupun tahu itu, akhir-akhir ini semua yang kubicarakan memang tak pernah terlalu jauh dari masalah kuliah atau pengerjaan skripsi. Semua telah begitu membosankan dan datar, tak ada yang bisa dikembangkan. Aku merasa seperti kembali ke masa sekolah dasar, saat aku sering menelpon dan ditelpon teman hanya untuk bertanya mengenai PR atau untuk mendiktekan pertanyaan atau jawaban dari PR itu.

Kembali aku merasa malu pada diriku. Kali ini bahkan aku hampir mengurungkan niatku. Sudahlah, aku hanya akan menelponmu jika ada kabar mengenai seorang teman dekat yang meninggal dunia, jika aku divonis hukuman mati, jika aku melihat UFO mendarat di atas atap kamarku atau jika aku mendengar kabar menggemparkan tentangmu. Begitu naif!

Malam sudah semakin larut. Aku tak yakin kau akan menerima teleponku lagi, tapi aku tak yakin kau sudah tidur, kau mungkin baru saja pulang dari apapun kegiatan yang kaulakukan beberapa saat yang lalu. Kali ini aku rasa tak ada salahnya aku kembali jadi seperti dulu, menjadi pengganggu setiamu. Aku ambil kembali HP ku, kutekan salah satu nomor yang telah kusave untuk nomormu, dadaku kembali berdegup walau hanya sebentar dan tak seperti dulu lagi, aku kini lebih santai. Kutunggu setiap nada ”….tuut……tuut……tuut…”, sekitar tujuh kali beriringan dengan harapanku yang serasa semakin mengecil dan pada nada ke delapan, aku dengar suara seorang wanita “Selamat datang di layanan……” segera kututup dan kuulangi sekali lagi untuk hasi yang sama…

Tak lama akupun segera tertidur dengan pulas……

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s