Soal Hasif Amini,

comment 1
Tokoh

dan sedikit tentang puisi

Setelah sekian lama aku diamkan, tadi malam aku baca-baca koleksi tulisan Hasif Amini. Sekarang rasanya Hasif Amini sudah tidak pernah menulis di Kompas lagi. Kok bisa, ya. Aku selalu kesulitan memahami puisi. Tapi membaca tulisannya Hasif Amini, aku jadi suka puisi, atau tepatnya perpuisian. Seolah esai Hasif Amini itu sendiri adalah puisi yang sedang bercerita tentang puisi. Tidak hanya puisi di Indonesia, tapi juga di Islandia (aku paling suka esai Hasif Amini yang judulnya ‘Es’), Eropa (tentang Maria Rilke kalo ga salah).

Populasi buku puisi di rak bukuku tidak banyak. Mungkin cuma ada 10 buku. Buku puisi terakhir yang aku beli adalah antologi lengkap puisi-puisinya Joko Pinurbo (mulai dari ‘Pacar Kecilku’, ‘Di Bawah Kibaran Sarung, dan apa ya… ‘Di Celana’ apa ya?). Sebelumnya aku cuma fotokopi ‘Arsitektur Hujan’nya Afrizal Malna. Dari 10 buku itu hanya punya Joko Pinurbo dan Hasta Indriyana yang sering aku baca. Buku-buku yang lain cuma jadi pemenuh rak bukuku yang sekarang semakin hancur diserang ngengat dan hawa pantai.

Mungkin aku harus pergi ke pantai membawa beberapa buku puisi yang aku suka dan yang sekiranya pas dengan suasana pantai. Aku pernah mencoba sebenarnya. Tapi apa yang hendak kamu tulis jika kepalamu lebih ingin merekam semua yang kamu lihat dalam bentuk yang lebih menyerupai sebuah potret? Bangkai seekor kucing yang mengapung tetap sebagai bangkai seekor kucing yang mengapung di sebuah pantai berpasir hitam di sebuah sore yang tenang. Seseorang berusaha melemparkan puntung rokok ke laut, tapi gagal.

Setelah membaca dua esai aku putuskan untuk mengganti judul file yang dulu aku rubah jadi satu nama semua ‘hasifaminis’. Ada dua yang aku baca, ‘Derau’ dan ‘Es’.

Leave a comment
Tentang kawan

Yang Lebih Tua dan Mendukungmu

Adakah orang-orang semacam itu di sekitarmu? Bukan. Bukan orang tuamu, tapi orang di sekitarmu, kawan, kakak kelas, tetangga, atau kakak kawanmu. Aku kurang tahu bagaimana pengelompokan usia “yang lebih tua” menurutmu. Tapi kalau aku sendiri, aku cenderung tidak menganggap anak-anak Angkatan 94 ke atas sebagai senior. Sedangkan angkatan 95 ke bawah, hingga angkatan 97, sebagai sebayaku. Lho kamu lupa aku Angkatan berapa? Aku mulai kuliah tahun 1997. Lebih tua dua tahun dari kamu, lho.

Ada baiknya kamu mulai mengingat siapa dulu seniormu atau kawanmu yang usianya jauh lebih tua tapi memiliki pandangan yang cukup terbuka. Kalau aku, yang langsung teringat adalah Eri. Koko seniorku ini adalah mahasiswa jurusan Teknik Mesin angkatan 94 kalau tidak salah.

Aku lupa kapan pastinya mengenal Eri. Yang jelas pada bulan April 1998, aku sudah melihatnya dan mengenalnya. Saat itu aku sedang berdiri bersama banyak orang di atrium tower Petra. Beberapa orang memegang megaphone dan beberapa lagi membawa bendera Petra dan bendera Indonesia. Dia berjalan dengan tenang dari arah ATM Lippo dan melihat ke arah kerumunan orang tempatku berdiri. Perawakannya biasa saja. Agak gemuk sedikit. Tidak terlalu tinggi. Raut mukanya tenang dan membuat orang yang
melihatnya juga menjadi tenang. Kacamatanya seolah menjadi satu dengan dirinya. Mungkin karena dia sudah terlalu memakai kacamata, atau mungkin karena dia sudah memilih dengan tepat bingkai kacamata yang pas dengan raut muka. Dia tidak menggabungkan diri dengan kerumunan, hanya berdiri beberapa meter saja dan mengamati. Biasanya aku benci dengan orang semacam itu (apalagi di bulan-bulan itu). Tapi entah kenapa, dengan Eri aku tidak merasakan kebencian itu. Raut mukanya benar-benar menenangkan. Tidak seperti mengamati, tapi juga tidak menampakkan perasaan tertentu seperti mengagumi atau membenci.

Yeah, kamu benar. Bulan April 1998 adalah bulan-bulan ”panas” dalam sejarah republik kita yang masih muda ini. Dan mungkin aku agak salah dalam mengenal konsep ”crowd” atau ”kerumunan”. Mestinya aku mengenalnya di pentas kesenian atau nonton konser sebuah band. Bukannya di demonstrasi. Tapi dalam ingatan keremajaanku, baru di sekitar bulan April-Mei 1998 itulah aku merasakan kerumunan orang yang diikat oleh perasaan dan pikiran yang sama. Tidak ada seorang pun yang akan terlempar ke bilik kesendirian mereka. Semua orang adalah satu gagasan, semua orang terhubung. Sebelum bulan itu aku sempat merasakan apa itu kerumunan. Yang pertama adalah ketika nonton konsernya Firehouse di JW Marriott (ehmm…kamu tahu kan, aku nonton sama siapa). Yang kedua adalah saat di mana aku sering ke Colors bareng sama Aldi, Dirun, (Alm.) Didik, dan Ambon nonton sebuah band Top 40 yang suka membawakan lagu-lagunya Radiohead dan Rage Against the Machine. Tapi kedua pengalaman itu sama sekali tidak sebanding dengan ”pengalaman mengerumun” yang aku rasakan pada bulan April-Mei 1998.

Baik, kembali ke Eri. Eh, bagi rokoknya, dong.

Semenjak itu aku sering melihatnya dengan Ardi, mahasiswa Teknik Arsitektur ’95. Mereka mengajakku untuk melihat keadaan dengan lebih tenang. Semua hal yang terlihat spontan saat itu tidak terjadi dengan sendirinya. Ada begitu banyak penyebab dan urutan kejadian yang terentang di belakangnya, tak terlihat dan tersadari olehku. Aku baru tahu bahwa ada beberapa kelompok anak muda pemberani yang melawan rezim. Semenjak itu aku sering bertemu dengan wajah-wajah baru, yang sama sekali tidak terbayang olehku bahwa ada orang-orang semacam mereka di dunia ini.

ayu nikah

Leave a comment
Foto / Tentang kawan


dokar-2
Originally uploaded by absolute onie.

akhirnya ayu nikah. setelah melalui masa gundah gulana dan kegelisahan, kini ayu bisa dengan tenang melihat hidupnya. selamat, ayu. sori ayu anak2 cuma bisa datang pas resepsi. tapi sumpah itu tidak direncanakan. semata karena semua pada sibuk. padahal mestinya bisa jadi bahan testimonial kaya yang diputer di resepsi itu ya. aku ga bisa bayangin seperti apa testimonialnya malonda, pak min, dwi, dan anak2 lain. pasti isinya puja-puji semua. hahaha.

foto2 ini hasil jepretan pak men semua. aku sesuaikan ukurannya supaya gampang diunggah. aslinya sekitar 3024×2346. gede banget kan.

dari proses mengunggah semua foto ini aku jadi membanding2kan flickr dengan picasa. flickr lebih meriah dan ada banyak foto2 asik di situ dan banyak komunitas. kendalanya adalah koneksi. kadang2 agak lambat pas mengunggah foto.
proses mengunggah di picasa tergolong cepat. tapi rasanya tidak banyak foto menarik di situ. picasa terintegrasi dengan aku gmailku. sedangkan flickr dengan yahoo.
baik di flickr dan picasa ada geotag. aku belum tahu apa gunanya. atau mungkin untuk negara dengan bandwidth kecil kaya indonesia gini fitur2 semacam itu tidak terlalu berguna.

jadi bingung mau terus pake flickr atau pindah ke picasa. yawislah, selamat honeymoon. oh ya jangan lupa kirim ungkapan bela sungkawa untuk keluarga pak leo dan pak bin. keduanya orang baik yang sudah mewarnai hari-harimu di kampus. aku merasa berhutang dengan pak bin, karena tidak mengenal dia dengan baik.

Membaca Danziger’s Britain

Leave a comment
Buku / Tentang kota


Aku jadi lebih bisa memahami beberapa video klip yang menampilkan pabrik yang nampaknya sudah mati dan jadi tempat nongkrong anak-anak muda. Halifax, Leicester, Brixton, semuanya sekarang pingsan dilibas perkembangan industri dan teknologi informasi. Seolah kota-kota yang menyimpan pabrik-pabrik dan galangan kapal dari masa awal Revolusi Industri itu tidak layak dilestarikan sebagai semacam ”Athena”nya Kapitalisme. Mungkin pemandangan semacam itu yang dilihat Emen di Krembung dan Tulangan, Sidoarjo. Aku membayangkan dia berkeliling memotret pabrik-pabrik lama, mesin-mesin yang sekarang teronggok, ruang-ruang administrasi dengan jendela-jendela dan meja-meja besar. Tapi ternyata Emen datang dengan membawa satu foto saja tentang papan pabrik gula Tulangan, yang dia potret pagi hari.

Suatu Siang di RSUD Dr. Soetomo

Leave a comment
Tentang kawan / Tentang kota

Banyak sekali yang ingin aku bicarakan padamu siang itu, tentang kengerian “mati potensi”, tentang “your work does not define you”, tentang makanan terenak di kota ini, tentang hubungan antara rokok dan pertemanan, tentang Henry Miller, dan tentang bir Tiger yang rasanya ga jelas itu.
Tapi mungkin aku terlalu sibuk mendengarkan ceritamu tentang keluargamu, dan peristiwa “kelilipan” yang baru saja kamu alami (ternyata kecil saja ya debu yang nyaris melukai retina matamu itu).
Atau mungkin aku terlalu terpana dengan seekor kucing kecil yang berhenti melintasi taman tempat kita ngobrol. Dia berhenti begitu saja dan duduk menikmati teduhnya suasana di bawah pohon. Kamu cuma bisa melihat dua ujung telinganya yang membuat kucing itu nampak seperti pelapis tutup toples.

comments 3
Tentang kawan / Tokoh


Magic Displacement

Hari ini aku pulang lebih malam, melewati gedung Bala Keselamatan di Pregolan yang dari dulu ingin aku kunjungi sekedar untuk memotret dua ekor anjing yang selalu mengonggong. Suara gonggongannya terdengar seperti anjing kampung. Aku berhenti untuk menyalakan rokok dan mencoba melihat mereka. Sia-sia. Gelap sekali malam itu. Kegelapan menelan mereka seperti berbungkus-bungkus rokok yang perlahan-lahan menelan paru-paruku.

Dulu biasanya di malam hari seperti ini aku mampir beli burger Monalisa di Jalan Kaliurang. Terus duduk sendirian melihat keramaian jalan. Selesai makan kalau masih malas pulang ke kosan biasanya muter-muter dulu. Terus sampai di kos baca-baca buku sampai ketiduran. Aku kangen dengan semua perasaan ringan itu.

Aku ingin membacakan sebuah surat yang dibaca Anais Nin di sebuah majalah. Surat itu ditulis oleh Antonin Artaud dari rumah sakit jiwa di Ville Ervard, Prancis. Bagus sekali. Pasti kamu suka:

You came to help me last Monday, Tuesday, and Wednesday, but through a magic displacement I lost you in front of the Matin at the angle of the Rue de Faubourg Montmartre for the illness prevented you from maintaining your self there and you had to be in Morocco and take the boat, that is, follow what are called the normal ways. But the Bohemians who were at Palais de Justice Tuesday evening and who burned it after having massacred the judge cannot follow the normal ways, they must penetrate our world from the same level and as one passes from ship to quai and their world which is the OTHER world will be installed in our own at the moment they come to meet me.

Selamat jalan, kawan. Semoga dunia barumu lebih menyenangkan. Selamat berakhir pekan.

What is Design Can Change?

comments 2
Web 2.0


designcanchange
Originally uploaded by absolute onie.

Situs bagus ini aku temukan dari sebuah situs yang direkomendasikan sondhit. Bagus dari apanya, ya? Menurutku sih dari kesederhanaannya mengungkapkan ide besar seperti pemanasan global.

Soal jargon bahwa ‘desain bisa membawa perubahan’, terasa agak sedikit ironis. Bukankah desainer bekerja di industri periklanan, yang tujuannya untuk membuat orang mengonsumsi?

Yah kamu nilai sendiri, deh. Benar ngga desain bisa membawa perubahan. Teman-temanku yang penulis sudah nyaman dalam lindungan kenyataan bahwa kata-kata bisa membawa perubahan.

Warung di Embong Malang

Leave a comment
Tentang kota / Tokoh


Di warung itu gorengannya masih hangat semua, lengkap dengan petisnya; ada kue lumpur yang selalu jadi tusukan garpu si pemilik warung setiap ada yang membelinya untuk dimakan di kantor; ada banyak macam krupuk, bahkan kripik kodok yang dulu biasa dibeli anak-anak untuk tambul mabuk; ada beberapa jenis kacang; ada banyak bungkusan nasi yang siap disantap sebagai sarapan dan mungkin makan siang juga; ada banyak pegawai bank dan pekerja swasta yang mampir sarapan; ada ibu-ibu yang membawa setumpuk gorengan hangat dan karena dia agak memaksa membuat segelas teh tumpah dan menyiram seorang pria; ada aku yang duduk melihat jalan raya ditemani segelas kecil teh hangat dan sebatang marlboro yang pagi itu rasanya jadi aneh sekali, sebatang gudang garam inter rasanya jauh lebih pas untuk mengawali hari daripada rokok penunggang kuda yang bisu itu, memikirkan Roland Barthes dan pleasure of text yang dia gambarkan seperti pengalamannya makan Sukiyaki serta perjumpaannya dengan Jepang atau tepatnya mungkin di negara yang dia sebut Jepang. Di seberang warung sebuah logo raksasa pusat perbelanjaan timbul tenggelam ditelan atap rumah-rumah sebuah perkampungan, tergantung bagaimana posisi dudukmu.