Menyusuri Lorong-Lorong Dunia, Kumpulan Catatan Perjalanan (Jilid 2)

Leave a comment
Buku / Web 2.0
Judul: Menyusuri Lorong-Lorong Dunia, Kumpulan Catatan Perjalanan. Jilid-2
Penulis: Sigit Susanto
Penyunting: Puthut EA
Kolasi: I, Maret 2008, 5x21cm,xvi+477 hal.
Harga: Rp. 45.000

Sampulnya tidak jauh berbeda dari jilid pertama. Kalau mau tahu artinya lebih baik tanya kawan-kawan INSISTPress saja. Kemarin mampir di Petra Togamas kok belum ada, ya? Piye iki, ban? Padahal sekarang kan lagi demam smart travelling.

Bulb:
Para petualang sejati adalah mereka yang bukan hanya melihat sebuah tempat dari sudut pesta raga: eksotika dan tamasya kuliner saja. Buku ini memaparkan banyak hal: nyali bertualang, perjalanan intelektual, pergolakan batin, dan kaya akan bahan-bahan acuan. Semua itu diramu menjadi tulisan yang renyah, mengalir dan enak dibaca. Pembaca akan diajak berkelana, bukan hanya menyusuri sebuah kota dari sudut wadaknya saja, namun diajak untuk lebih berani lagi memasuki bilik batin dan ruang pemikiran yang tak kasat mata dari sebuah kota . Buku ini lebih dari sekadar buku perjalanan. Dan para petualang sejati akan segera mengamininya.

Daftar isi

  • Ulysses Dibaca Selama Tiga Tahun
  • Bloomsday
  • Jejak James Joyce di Dvblin
  • Palu & Arit di Budapest
  • Lintas Portugal
  • Membuka Memori Maroko
  • Kisah Seorang Paman di Viet Nam
  • China Berwajah Dua

Jalanan Sepi Sekali

comment 1
Tentang kawan

Beberapa kawan menyampaikan hal yang cukup jadi pecutan buatku. Awang bilang soal ”romantisme cari duit”; Iwan mengutip Ali Shariati, menulis: make a meal for more than you; Puthut bilang “anak muda kok malem minggu pacaran.”

Seperti kuda yang kena pecut aku terhenyak dan berlari. Lari kemana aku sungguh tak tahu… Aku cuma ingin berlari jauh, melihat kota berganti desa, wajah payah menjadi wajah cerah, air yang mampat di got menjadi air yang mengalir, padang rumput berganti menjadi gumuk-gumuk pasir pantai dan lautan. Setelah di pantai, dengan pasir hitam yang sangat kamu benci, aku berhenti dan menoleh ke arah kamera, lalu freeze frame, film berhenti (asu, kita seharusnya ke Parangtritis waktu itu). Seperti itulah kamu akan melihatku dan mengingatku, sebagai dia yang terlalu dikuasai oleh yang-mendorong-dia-untuk-berlari-dan-berhenti-kapan saja, dan mungkin sebagai dia yang cukup mengetahui apa yang mendorongnya tapi tak tahu apa dan mana tujuannya.

Aku selalu bangga dengan kawan-kawan yang seperti memiliki tujuan dalam hidup mereka, yang setia pada jalur perjalanan mereka, yang mengolah rasa cinta pada kehidupan menjadi sesuatu yang nyata.

Beberapa lubang yang terlihat di depan dengan mudah aku hindari.Marka jalan semakin sesekali mengabur untuk kemudian jelas kembali, begitu tidak jelas, tapi toh ada saja kejadian menarik yang kamu lihat di jalanan sesepi ini…

Sebenarnya aku teringat sesuatu ketika aku mematikan pendingin udara dan membuka kaca jendela mobil. Tapi ketika aku menyalakan rokok seketika hilang. Kalau tidak salah aku ingin tidur ditemani Kunti seperti dulu. Rasanya aman dan tenang sekali. Beban apapun yang menunggumu di pagi hari seolah terasa begitu ringan. Bulir-bulir air mata menghiasi kelopak matanya ketika dia terbangun. Kehidupan yang selalu dibuka dan ditutup dengan air mata ini kamu jalani apa adanya tanpa berharap apapun selain menemukan begitu banyak hal di dalamnya.

Kembalikan Mereka

comments 2
Tentang kawan

Bila kau malu-malu mengakui dan mengenang “zaman perjuangan”, maka sejarah generasimu akan ditelan bulat-bulat oleh kemegahan Angkatan ’66. Bukan untuk meniadakan, tapi mengkritisi bahwa generasi kita jauh lebih “berdarah-darah” karena…tentara di depan kita dan bukan di belakang kita.

Raudal Tanjung Banua

Jalan Semarang, Satu Lagi Lembaran Surabaya yang Hilang

comments 3
Tentang kota

Sebagai seorang mahasiswa jurusan desain, Hermawan merasa perlu mengembangkan pengetahuan grafisnya. Selain internet, tempatnya menimba ilmu adalah buku atau majalah desain dari luar negeri. “Kalau beli yang baru dan dari luar negeri, harganya mahal banget, deh.” tutur Hermawan di sebuah siang di Jalan Semarang.

Dia berharap menemukan majalah Communication Art terbitan Amerika Serikat. Setelah menelusuri deretan lapak dan kios, Hermawan akhirnya menemukan majalah tersebut di sebuah kios buku seharga Rp.60.000. Harga yang akan baru akan dia dapat jika ada toko buku besar yang cukup gila untuk membanting harga buku impor hingga 70%. “Sekalipun edisi tahun lalu dan second-hand, majalah ini masih cukup berguna untuk dijadikan referensi desain…” ujarnya sambil menimang majalah itu.

Di sebuah lapak yang lebih sederhana di seberang jalan, Bu Ririn dan anaknya yang duduk di bangku SMP sedang berkeliling mencari buku pelajaran. Dibandingkan dengan di toko buku besar, harga buku pelajaran di Jalan Semarang bisa jauh lebih murah dan pilihan yang disajikan lebih beragam. Beberapa saat kemudian terlihat kantung plastik yang diberikan penjual kepada ibu dan anak itu tidak hanya berisi buku pelajaran yang dibutuhkan, tapi juga sebuah buku cerita.

Menurut Samirin, yang akrab dipanggil Cak Rin, Pasar buku yang terletak di dekat Stasiun Kereta Api Pasar Turi ini sudah ada sejak tahun 1975. Saat itu jumlah lapak buku di Jalan Semarang sudah sama banyaknya dengan yang ada sekarang. Berbeda dengan Pasar Blauran dan Tugu Pahlawan, pasar buku di Jalan Semarang tidak hanya menjual buku bekas dan majalah.

Selain harga yang cukup terjangkau, di Jalan Semarang bisa ditemukan berbagai macam bacaan, mulai dari buku pelajaran dan pegangan kuliah, kamus, sastra, dan berbagai macam majalah, baik dari dalam dan luar negeri.

Pada tahun 1990-an para pedagang buku Jalan Semarang juga sempat menghadapi penggusuran karena pendirian sebuah komplek rumah toko (ruko). Namun setelah itu para pedagang buku masih bisa membuka kembali lapak-lapak mereka.

***

Jika Malang dan Yogyakarta punya Jalan Sriwijaya dan Shopping Center, kenapa Surabaya yang kota besar malah menggusur pusat penjualan buku murah yang bisa diakses banyak kalangan? Keluh Cak Rin.

Cak Rin semakin miris ketika mengetahui bahwa di Yogyakarta, Shopping Center kini sudah semakin berkembang sejak dilakukannya peremajaan. Lapak-lapak dan kios buku ditempatkan dalam bangunan yang, sekalipun baru, tidak menghilangkan kesan sebagai pusat penjualan buku murah. Sekilas perhatian besar pemerintah kota Yogyakarta adalah tindakan yang wajar dan tepat, terutama jika mengingat predikat Yogyakarta sebagai kota pelajar. Surabaya sebagai kota industri dan perdagangan tentu tidak perlu memiliki pusat buku murah

Menyerah kepada stereotip Surabaya sebagai kota industri dan perdagangan dengan minat baca rendah menyimpan bahayanya tersendiri. Jika memang demikian adanya, mengapa Jalan Semarang masih bertahan sejak tahun 1975?

Bahkan kota besar seperti Jakarta masih memiliki kawasan Kwitang dan Toko Buku Jose Rizal Manua di TIM tempat orang bisa menemukan buku bekas dan murah.

Tak usahlah kita mengajak Cak Rin membandingkan Indonesia dengan negara-negara Eropa. Kalau saja Cak Rin tahu bahwa di negara-negara seperti Kuba dan India, masyarakatnya bisa dengan mudah mendapatkan berbagai macam buku di alun-alun kota dan pasar dengan harga yang cukup terjangkau. Di kota dan negara mana pun, pusat buku murah dan bekas memang selalu menjadi tempat terjadinya interaksi kreatif warga kota, baik dengan sesama warga kota, maupun dengan identitas kotanya.

Di luar pertimbangan harga, seseorang yang menjual koleksi buku dan kamusnya di Jalan Semarang dan bukan ke tukang rombeng sebenarnya tanpa sengaja telah menjalin interaksi dengan warga kota lainnya: berharap ada orang lain yang meneruskan membaca dan merawat buku-bukunya.

Jika dikelola dengan baik, Jalan Semarang bisa membantu menguatkan identitas Surabaya, dengan menjadi kawasan wisata baca Surabaya bersama dengan pusat penjualan buku murah lainnya seperti Pasar Blauran. Lebih jauh lagi bisa diintegrasikan dengan jenis wisata yang sekarang mulai marak di Surabaya, yang tidak melulu perkara membeli tapi lebih semacam penyegaran nalar, seperti wisata sejarah dan wisata kuliner.

Selama ini saja, pelanggan Jalan Semarang tidak hanya warga Surabaya, tapi juga dari berbagai kota di sekitar Surabaya, seperti Gresik, Lamongan, Pasuruan, Malang, dan Jember.

***

Menjelang sore, arus lalu lintas di Jalan Semarang semakin riuh. Para pembeli buku yang kebetulan sedang berada di dekat pertigaan dekat Stasiun Pasar Turi harus berhati-hati terhadap mobil-mobil pribadi dan angkutan kota yang merubung orang-orang yang baru beranjak keluar dari stasiun Pasar Turi.

Cak Rin kembali melayani beberapa pembeli yang mencari buku bahasa Inggris dan seorang kakek yang ingin menjual koleksi Ensiklopedia. Sementara Hermawan dan seorang temannya, tertegun memandangi bentangan spanduk berisi tanda tangan dan dukungan warga Surabaya terhadap pedagang buku murah Jalan Semarang. Mungkin itu kali terakhir dia melihat begitu banyak buku murah di sebuah tempat.

Dalam lembaran-lembaran perencanaan Surabaya, pendapat warga Surabaya seperti Cak Rin dan Hermawan, mungkin tidak pernah ada. Yang ada mungkin hanyalah sketsa perencanaan kota nan dingin dan matematis dari para pengembang dan pemain bisnis properti. Dalam bayangan mereka, lembaran-lembaran kota yang lusuh seperti Jalan Semarang harus dihapus dari babakan sejarah kehidupan Surabaya.

Jalan Semarang, Satu Lagi Lembaran Surabaya yang Hilang

Leave a comment
Tentang kota

Sebagai seorang mahasiswa jurusan desain, Hermawan merasa perlu mengembangkan pengetahuan grafisnya. Selain internet, tempatnya menimba ilmu adalah buku atau majalah desain dari luar negeri. “Kalau beli yang baru dan dari luar negeri, harganya mahal banget, deh.” tutur Hermawan di sebuah siang di Jalan Semarang.

Dia berharap menemukan majalah Communication Art terbitan Amerika Serikat. Setelah menelusuri deretan lapak dan kios, Hermawan akhirnya menemukan majalah tersebut di sebuah kios buku seharga Rp.60.000. Harga yang akan baru akan dia dapat jika ada toko buku besar yang cukup gila untuk membanting harga buku impor hingga 70%. “Sekalipun edisi tahun lalu dan second-hand, majalah ini masih cukup berguna untuk dijadikan referensi desain…” ujarnya sambil menimang majalah itu.

Read more

Menelusuri Jejaring Rahasia Exxon

comment 1
Current issues / Web 2.0

Berbeda dengan microsite bikinan Greenpeace Inggris Raya yang memaparkan penggunaan berbagai macam energi alternatif, microsite bikinan Greenpeace Amerika Serikat ini malah mengajak kita mengurai berbagai organisasi dan individu yang menentang pemanasan global. Mungkin karena di Amerika Serikat, Greenpeace harus menghadapi kekuatan korporasi-negara yang sangat solid dan tidak terlihat. Dalam hal ini yang coba diurai oleh Greenpeace AS adalah Exxon Mobil.

Konferensi para pemimpin negara-negara di seluruh dunia di Bali beberapa bulan lalu berakhir dengan dramatis. Setelah pergantian pemimpin, Australia yang sebelumnya menolak Protokol Kyoto akhirnya berubah haluan dengan menerima protokol yang mengatur emisi tersebut. Menjadikan Amerika Serikat sebagai satu-satunya negara yang tidak menerima protokol tersebut dan tidak menerima road map untuk mengatasi perubahan iklim yang akan menjadi acuan gerakan selanjutnya. Penggunaan istilah ”climate change” dan bukan ”global warming” sebenarnya sudah cukup jadi penanda bahwa ada yang menang dalam pertarungan awal; pertarungan antar manusia, sebelum akhirnya manusia mempertaruhkan nasibnya menghadapi buah keserakahan mereka sendiri.

Climate change (perubahan iklim) berangkat dari pandangan bahwa ada proses alami yang sedang terjadi, sama seperti zaman es kecil. Dengan menggunakan istilah itu maka peran manusia sama sekali tidak ada. Jadi, mungkin ada dua posisi yang hendak ditawarkan dalam preposisi di atas: umat manusia tidak bersalah dan semua manusia bersalah dalam terjadinya perubahan cuaca.


Sekilas microsite Greenpeace Amerika Serikat ini mungkin terlihat kontraproduktif. Terutama jika dibandingkan dengan microsite bikinan Greenpeace Inggris. Buat apa kita menelusuri jejaring rahasia para penentang Global Warming, yang ternyata terbentang luas dari para politisi di Gedung Putih, lembaga pemerintahan AS, pengusaha, dan ilmuwan di lembaga yang terlihat netral.


Dalam disclaimer disebutkan bahwa informasi dalam microsite tersebut tidak sepenuhnya akurat dan lengkap. Pengecekan paling lengkap dan menyeluruh terakhir kali dilakukan pada tahun 2004. Disebutkan pula bahwa microsite ini diprakarsai oleh riset mengenai gerakan anti lingkungan hidup yang dilakukan CLEAR,(the Clearinghouse on Advocacy and Environmental Research).


Tapi jika kita tempatkan pada konteks gerakan menghadang global warming, materi yang disuguhkan microsite ini cukup kontekstual, dari mana lagi selain dari Amerika Serikat datangnya sekumpulan orang dengan cukup uang untuk menepis wacana dan kenyataan global warming dan untuk mengamankan posisi dan tambang uang mereka.


Dari sisi komunikasi, microsite ini usaha yang bagus untuk memvisualkan berbagai entitas yang selama ini tidak terlihat dan pengemasan informasi yang menarik.


Selamat menelusuri….

Penumpang Nomor Empat D

Leave a comment
Tentang kawan

(sebuah draft cerita)

Di dekat Ngawi, dia sempat membuka mata, mengingat sebuah adegan di novel Putu Wijaya, yang sampulnya sangat dia suka; gambar sebuah kereta yang bergerak masuk ke pelataran stasiun.

Dulu dia suka berbaring di bangku kosong Stasiun Tugu pada malam hari, menunggu kereta paling terakhir ke Surabaya, bersama dengan para pegawai Perumka, pedagang asongan, dan orang-orang yang dengan mudah kamu temui di kota itu: pengemis, pengembara (sungguh mereka masih ada), pemuda minggat. Orang-orang malam itu. Kapankah mereka akan pulang.

Sekarang dia sudah jarang melakukan perjalanan jauh dengan kereta. Kali ini dengan mobil, dia melihat pemandangan yang biasanya selalu dia lewatkan dari dalam kereta api karena membaca atau sengaja menidurkan diri.

Lalu seperti semua penumpang lainnya, dia membiarkan kegelisahan menembusi dadanya, menyeretnya ke sebuah bangku keras berwarna hijau. Tertidur atau tidak sungguh bukan masalah buat dia. Dari arah bordes seorang penjaja penganan membangunkan semua penumpang yang tertidur, tanpa mampu membuat mereka membuka mata.