Jalanan Sepi Sekali

comment 1
Tentang kawan

Beberapa kawan menyampaikan hal yang cukup jadi pecutan buatku. Awang bilang soal ”romantisme cari duit”; Iwan mengutip Ali Shariati, menulis: make a meal for more than you; Puthut bilang “anak muda kok malem minggu pacaran.”

Seperti kuda yang kena pecut aku terhenyak dan berlari. Lari kemana aku sungguh tak tahu… Aku cuma ingin berlari jauh, melihat kota berganti desa, wajah payah menjadi wajah cerah, air yang mampat di got menjadi air yang mengalir, padang rumput berganti menjadi gumuk-gumuk pasir pantai dan lautan. Setelah di pantai, dengan pasir hitam yang sangat kamu benci, aku berhenti dan menoleh ke arah kamera, lalu freeze frame, film berhenti (asu, kita seharusnya ke Parangtritis waktu itu). Seperti itulah kamu akan melihatku dan mengingatku, sebagai dia yang terlalu dikuasai oleh yang-mendorong-dia-untuk-berlari-dan-berhenti-kapan saja, dan mungkin sebagai dia yang cukup mengetahui apa yang mendorongnya tapi tak tahu apa dan mana tujuannya.

Aku selalu bangga dengan kawan-kawan yang seperti memiliki tujuan dalam hidup mereka, yang setia pada jalur perjalanan mereka, yang mengolah rasa cinta pada kehidupan menjadi sesuatu yang nyata.

Beberapa lubang yang terlihat di depan dengan mudah aku hindari.Marka jalan semakin sesekali mengabur untuk kemudian jelas kembali, begitu tidak jelas, tapi toh ada saja kejadian menarik yang kamu lihat di jalanan sesepi ini…

Sebenarnya aku teringat sesuatu ketika aku mematikan pendingin udara dan membuka kaca jendela mobil. Tapi ketika aku menyalakan rokok seketika hilang. Kalau tidak salah aku ingin tidur ditemani Kunti seperti dulu. Rasanya aman dan tenang sekali. Beban apapun yang menunggumu di pagi hari seolah terasa begitu ringan. Bulir-bulir air mata menghiasi kelopak matanya ketika dia terbangun. Kehidupan yang selalu dibuka dan ditutup dengan air mata ini kamu jalani apa adanya tanpa berharap apapun selain menemukan begitu banyak hal di dalamnya.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

1 Comment

  1. daru dewanto says

    Hmmmmm…kawanku yang gundah…
    Kegundahan itu seperti serum… kalo dunia penuh keramaian dan tertawaan dan ktia terlecut oleh kesepian, gundah adalah serum untuk menikmati hidup yang memang perlu kegundahan biar mucul nasehat dan wisdom…

    Btw, si Kunti sopo iku? Kunti Lanak yo? huehehheeee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s