Jalan Semarang, Satu Lagi Lembaran Surabaya yang Hilang

comments 3
Tentang kota

Sebagai seorang mahasiswa jurusan desain, Hermawan merasa perlu mengembangkan pengetahuan grafisnya. Selain internet, tempatnya menimba ilmu adalah buku atau majalah desain dari luar negeri. “Kalau beli yang baru dan dari luar negeri, harganya mahal banget, deh.” tutur Hermawan di sebuah siang di Jalan Semarang.

Dia berharap menemukan majalah Communication Art terbitan Amerika Serikat. Setelah menelusuri deretan lapak dan kios, Hermawan akhirnya menemukan majalah tersebut di sebuah kios buku seharga Rp.60.000. Harga yang akan baru akan dia dapat jika ada toko buku besar yang cukup gila untuk membanting harga buku impor hingga 70%. “Sekalipun edisi tahun lalu dan second-hand, majalah ini masih cukup berguna untuk dijadikan referensi desain…” ujarnya sambil menimang majalah itu.

Di sebuah lapak yang lebih sederhana di seberang jalan, Bu Ririn dan anaknya yang duduk di bangku SMP sedang berkeliling mencari buku pelajaran. Dibandingkan dengan di toko buku besar, harga buku pelajaran di Jalan Semarang bisa jauh lebih murah dan pilihan yang disajikan lebih beragam. Beberapa saat kemudian terlihat kantung plastik yang diberikan penjual kepada ibu dan anak itu tidak hanya berisi buku pelajaran yang dibutuhkan, tapi juga sebuah buku cerita.

Menurut Samirin, yang akrab dipanggil Cak Rin, Pasar buku yang terletak di dekat Stasiun Kereta Api Pasar Turi ini sudah ada sejak tahun 1975. Saat itu jumlah lapak buku di Jalan Semarang sudah sama banyaknya dengan yang ada sekarang. Berbeda dengan Pasar Blauran dan Tugu Pahlawan, pasar buku di Jalan Semarang tidak hanya menjual buku bekas dan majalah.

Selain harga yang cukup terjangkau, di Jalan Semarang bisa ditemukan berbagai macam bacaan, mulai dari buku pelajaran dan pegangan kuliah, kamus, sastra, dan berbagai macam majalah, baik dari dalam dan luar negeri.

Pada tahun 1990-an para pedagang buku Jalan Semarang juga sempat menghadapi penggusuran karena pendirian sebuah komplek rumah toko (ruko). Namun setelah itu para pedagang buku masih bisa membuka kembali lapak-lapak mereka.

***

Jika Malang dan Yogyakarta punya Jalan Sriwijaya dan Shopping Center, kenapa Surabaya yang kota besar malah menggusur pusat penjualan buku murah yang bisa diakses banyak kalangan? Keluh Cak Rin.

Cak Rin semakin miris ketika mengetahui bahwa di Yogyakarta, Shopping Center kini sudah semakin berkembang sejak dilakukannya peremajaan. Lapak-lapak dan kios buku ditempatkan dalam bangunan yang, sekalipun baru, tidak menghilangkan kesan sebagai pusat penjualan buku murah. Sekilas perhatian besar pemerintah kota Yogyakarta adalah tindakan yang wajar dan tepat, terutama jika mengingat predikat Yogyakarta sebagai kota pelajar. Surabaya sebagai kota industri dan perdagangan tentu tidak perlu memiliki pusat buku murah

Menyerah kepada stereotip Surabaya sebagai kota industri dan perdagangan dengan minat baca rendah menyimpan bahayanya tersendiri. Jika memang demikian adanya, mengapa Jalan Semarang masih bertahan sejak tahun 1975?

Bahkan kota besar seperti Jakarta masih memiliki kawasan Kwitang dan Toko Buku Jose Rizal Manua di TIM tempat orang bisa menemukan buku bekas dan murah.

Tak usahlah kita mengajak Cak Rin membandingkan Indonesia dengan negara-negara Eropa. Kalau saja Cak Rin tahu bahwa di negara-negara seperti Kuba dan India, masyarakatnya bisa dengan mudah mendapatkan berbagai macam buku di alun-alun kota dan pasar dengan harga yang cukup terjangkau. Di kota dan negara mana pun, pusat buku murah dan bekas memang selalu menjadi tempat terjadinya interaksi kreatif warga kota, baik dengan sesama warga kota, maupun dengan identitas kotanya.

Di luar pertimbangan harga, seseorang yang menjual koleksi buku dan kamusnya di Jalan Semarang dan bukan ke tukang rombeng sebenarnya tanpa sengaja telah menjalin interaksi dengan warga kota lainnya: berharap ada orang lain yang meneruskan membaca dan merawat buku-bukunya.

Jika dikelola dengan baik, Jalan Semarang bisa membantu menguatkan identitas Surabaya, dengan menjadi kawasan wisata baca Surabaya bersama dengan pusat penjualan buku murah lainnya seperti Pasar Blauran. Lebih jauh lagi bisa diintegrasikan dengan jenis wisata yang sekarang mulai marak di Surabaya, yang tidak melulu perkara membeli tapi lebih semacam penyegaran nalar, seperti wisata sejarah dan wisata kuliner.

Selama ini saja, pelanggan Jalan Semarang tidak hanya warga Surabaya, tapi juga dari berbagai kota di sekitar Surabaya, seperti Gresik, Lamongan, Pasuruan, Malang, dan Jember.

***

Menjelang sore, arus lalu lintas di Jalan Semarang semakin riuh. Para pembeli buku yang kebetulan sedang berada di dekat pertigaan dekat Stasiun Pasar Turi harus berhati-hati terhadap mobil-mobil pribadi dan angkutan kota yang merubung orang-orang yang baru beranjak keluar dari stasiun Pasar Turi.

Cak Rin kembali melayani beberapa pembeli yang mencari buku bahasa Inggris dan seorang kakek yang ingin menjual koleksi Ensiklopedia. Sementara Hermawan dan seorang temannya, tertegun memandangi bentangan spanduk berisi tanda tangan dan dukungan warga Surabaya terhadap pedagang buku murah Jalan Semarang. Mungkin itu kali terakhir dia melihat begitu banyak buku murah di sebuah tempat.

Dalam lembaran-lembaran perencanaan Surabaya, pendapat warga Surabaya seperti Cak Rin dan Hermawan, mungkin tidak pernah ada. Yang ada mungkin hanyalah sketsa perencanaan kota nan dingin dan matematis dari para pengembang dan pemain bisnis properti. Dalam bayangan mereka, lembaran-lembaran kota yang lusuh seperti Jalan Semarang harus dihapus dari babakan sejarah kehidupan Surabaya.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

3 Comments

  1. puguh ardiyanto says

    hikz…hikz…smg para petinggi yg da d surabaya lebih mendengar jeritan rakyat khususnya mhsiswa…jika mhsswa ksulitan dalam mncari buku, pa mungkin bs mnjadi lu2san terbaik?????

    • mas puguh yg lagi sedih. setahu saya sekarang lapak2 buku di jalan semarang dipindahkan ke lokasi yg ga jauh dari situ. taman ilmu kah kalo ga salah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s