Penumpang Nomor Empat D

Leave a comment
Tentang kawan

(sebuah draft cerita)

Di dekat Ngawi, dia sempat membuka mata, mengingat sebuah adegan di novel Putu Wijaya, yang sampulnya sangat dia suka; gambar sebuah kereta yang bergerak masuk ke pelataran stasiun.

Dulu dia suka berbaring di bangku kosong Stasiun Tugu pada malam hari, menunggu kereta paling terakhir ke Surabaya, bersama dengan para pegawai Perumka, pedagang asongan, dan orang-orang yang dengan mudah kamu temui di kota itu: pengemis, pengembara (sungguh mereka masih ada), pemuda minggat. Orang-orang malam itu. Kapankah mereka akan pulang.

Sekarang dia sudah jarang melakukan perjalanan jauh dengan kereta. Kali ini dengan mobil, dia melihat pemandangan yang biasanya selalu dia lewatkan dari dalam kereta api karena membaca atau sengaja menidurkan diri.

Lalu seperti semua penumpang lainnya, dia membiarkan kegelisahan menembusi dadanya, menyeretnya ke sebuah bangku keras berwarna hijau. Tertidur atau tidak sungguh bukan masalah buat dia. Dari arah bordes seorang penjaja penganan membangunkan semua penumpang yang tertidur, tanpa mampu membuat mereka membuka mata.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s