Krisis Energi di Timika

comment 1
Papua

Baru sekarang aku merasakan yang namanya krisis energi. Di Jawa mungkin tidak terlalu terasa bahwa krisis energi itu hal nyata yang harus kita alami. Selama dua minggu ini, antrian panjang selalu terlihat di beberapa SPBU di Timika.

Di sebuah SPBU di jalan antara Kuala Kencana dan Timika misalnya, sejak pagi berbagai macam kendaraan sudah mengantri. Siang hari SPBU sudah tutup. Aneh kan?

Entahlah, mungkin kapal tanker pengangkut BBM sudah hilang tertelan gelombang di laut Arafuru atau sejak di Jawa memang sudah tidak ada bahan bakar. Aku dengar bahkan Jakarta juga mengalami pemadaman bergilir. Timika bukan cuma bergilir, tapi beregu. Satu kota padam total. Beberapa hari sempat kantor terancam libur selama dua hari akibat pemadaman ini. Berita di koran lokal menyebutkan bahwa persediaan solar di Timika hanya cukup untuk seminggu ke depan.

Sudah dua minggu ini mobil kantor yang aku pakai harus isi bensin eceran, beli di pinggir jalan depan lapangan Timika Indah. Lima liter harganya antara Rp. 40,000 sampai 50,000. Paling susah kalau lagi hujan deras. Isi bensin sambil kehujanan. Tangan ketumpahan bensin. Susah banget rasanya.

Tujuhbelasan

Leave a comment
Papua

Halo Ndul,

Gimana suasana tujuhbelasan di Surabaya? Sudah pada sibukkah kampung-kampung di Surabaya?

Orang Papua nampaknya tidak terlalu antusias merayakan tujuhbelasan. Di lapangan Timika Indah, hampir setiap hari ada acara persiapan perayaan kemerdekaan Indonesia. Tentara berlatih baris berbaris di panggung semi permanen, anak-anak sekolah berlatih drum band di jalan sekitar lapangan dan bahkan saat hujan deras. Kemarin dalam perjalanan dari kantor 3 aku terjebak macet di Timika untuk pertama kalinya. Penyebab macet sudah bisa aku duga, latihan drum band. Mereka semua terlihat penuh semangat dan bangga, mulai dari mayoret hingga pembawa umbul-umbul. Dan dari semua personil drum band itu, tidak satu pun aku lihat anak asli Papua.

Beberapa meno mengamati kegaduhan drum band itu dari pinggir jalan. Apakah mereka terkesima atau bingung aku tidak bisa membedakan. Bahkan tidak ada satu pun anak-anak kecil Papua yang berlarian mengikuti rombongan drum band itu. Mereka cuma berdiri saja di pinggir jalan.

Ah, aku yakin orang Surabaya juga tidak terlalu antusias merayakan kemerdekaan. Orang Surabaya rasanya lebih antusias merayakan Hari Pahlawan ketimbang Hari Kemerdekaan. Pada perayaan Hari Kemerdekaan, kampung-kampung memang ramai membuat perayaan. Biasanya dengan lomba dan renungan. Tapi Tugu Pahlawan tidak seramai saat Hari Pahlawan.

Semua kota yang pernah menjadi lokasi pertempuran hebat memang selalu seperti itu. Warga kota Somme di Belgia (atau Prancis?) lebih khidmat merayakan pertempuran Somme pada Perang Dunia I ketimbang pembebasan Belgia pada Perang Dunia II. Setiap hari seorang petugas sipil meniup trompet selama beberapa menit di sebuah gapura untuk mengenang para pemuda yang tewas. Selama trompet itu menggaungkan komposisi musik yang syahdu, para pejalan kaki dan pengunjung menghentikan semua aktivitas dan turut menjadi bagian dari usaha manusia yang paling luhur: mengenang sesamanya di atas semua hal.

Kenapa harus ada sosok pria berambut cepak dengan muka garang dan bambu runcing terhunus di kepala kita saat kita berpikir soal kemerdekaan? Kenapa tidak Nagabonar atau kakek kita sendiri yang diam di rumah menenangkan bapak atau ibu kita saat KNIL masuk ke kampung mencari Republiken.

Mungkin itu yang membuat perayaan tujuhbelasan yang dibuat pemerintah selalu terasa garing, seperti melihat diorama yang sudah usang. Apalagi jika perayaan semacam itu dipaksakan kepada saudara-saudara kita yang merasa identitasnya dilecehkan.

Merdeka!

Buku dalam Rekaman Lensa

Leave a comment
Buku
Aduh apa ya nama judul buku itu. Nama penulisnya aku juga tidak terlalu ingat..Tinuk…atau siapa ya. Buku kumpulan foto tentang keluarga Indonesia kontemporer itu menarik sekali, menampilkan potret keluarga Indonesia dari berbagai kalangan, mulai dari pensiunan tentara, seniman, hingga tukang becak.
Selain buku yang aku lupa namanya itu, buku yang akan aku potret adalah buku kumpulan fotonya (yang juga lupa judulnya, payah) Raharjo Waluyo Jati tentang keluarga korban penculikan 98. Kisah Mata-nya Seno Gumira Ajidharma juga boleh.
Yang dilakukan JPGMag ini bukan kompetisi. Kamu bisa ikutan. Cukup ikuti syarat-syaratnya dan kirimkan fotomu. Sudah itu aja. Baca aja di: http://www.jpgmag.com/themes/122.
Cara baru yang menarik untuk mendekati sebuah karya. Akan aku coba foto dengan buku yang ada di kamarku sekarang ini. Mungkin Granta edisi lawas, atau Mengenal Papua (Kal Muller).

Selamat memotret…

blog it

Pino dan Minul

Leave a comment
Keluarga


pino-mimi
Originally uploaded by absolute onie.

Yoke pasti kaget setengah mati melihat Pino tergeletak di dalam kardus dalam keadaan sekarat. Yu Seni mungkin sudah bersiap menguburnya. Menurut dokter yang merawatnya, diduga Pino menggigit/memakan bangkai hewan mati atau tikus yang sudah keracunan. Kasihan.

Anjing seperti Pino ini memang sebaiknya tinggal di dalam rumah, bukan di pekarangan. Tapi keberadaan Pino di dalam rumah selalu membuat semua orang was-was; dia bisa kencing di mana saja. Apalagi dia pejantan.

Di hari kedua opnamenya Pino bilang kalau kondisi perutnya sudah membaik. Sudah tidak sembelit lagi. Dia mau segera pulang, kangen dengan pohon mangga depan rumah katanya.

Sementara Pino keracunan, si Minul malah melahirkan. Lima ekor sekaligus! Pino tidak berkomentar apa-apa ketika ditanyai soal siapa yang bertanggung jawab atas kehamilan Minul. Seingatku sebelum berangkat ke Timika, Minul tidak terlihat sedang hamil. Aneh.

Semoga besok Pino sudah bisa melihat Mimi dan anak-anak Minul. Mimi pasti sudah khawatir sama bapaknya itu.

Nah Pino, kalau sudah pulang nanti sambut saudara-saudaramu. Pastikan mereka jadi anjing yang baik dan buktikan kalau dirimu adalah pejantan yang tangguh. Jangan kalah sama Mimi dan Minul.

Baik-baik ya, kalian semua.

Lonceng Gereja

Leave a comment
Papua

Tidak pace, sa tidak akan cerita tentang babi lagi. Ada kawan yang bilang kalau babi di papua itu dibawa orang-orang Dongson dari Cina Selatan.

Ah pace, sore ini sa mau cerita soal lonceng gereja. Barusan sa dengar ada lonceng gereja berdentang beberapa kali. Kemarin di Kaokaonao sa lihat lonceng dari zaman Belanda yang sudah teronggok tidak terpakai di depan pastoran. Nanti malam sa akan tulis cerita jalan-jalan ke Kaokaonao itu untuk pace. Tapi tolong jangan samakan Kaokaonao dengan Paperu. Kaokaonao bersembunyi di balik pulau-pulau kecil di pesisir selatan Mimika. Pohon kelapa di sana berkawan dengan pohon pakis, bakau, dan nelayan miskin, bukan dengan turis. Seorang bapa bilang dulu kalau pesawat Catalina datang mendarat di muara sungai, dia seperti melihat anak-anak kecil yang disakiti ibunya dan memilih jadi burung. Bapa itu tahu kalau anak-anak itu cuma dongeng, tapi Bapa sudah lama sekali tidak dengar dongeng. Apalagi sejak Trikora datang.

Lima tahun sejak Trikora datang, dongeng semakin terbenam, seperti kepiting raksasa di bawah lumpur pohon bakau di pulau seberang sana…

Ah, sana…kau lihat kah, pace?

Ya, dulu di sana bapa itu dilahirkan, di dalam hutan. Trada Kasuari dan Lau-lau yang menemani, hanya ikan kapas dan kepiting. Tapi dalam buku, Kasuari dan Lau-lau seolah-olah hidup juga di Kaokaonao. Sekarang dalam pikiran bapa, hanya laut lepas yang ada: kau tahu kau orang Papua tapi entah kenapa kau tidak tertarik melihat sekeliling. Hanya laut yang bisa menampung pertanyaan sepi itu.

Sepi bapa itu bukan sepi yang dicari orang di Paperu. Sepi bapa itu tak terkira heningnya, pace. Setiap hari minggu barulah lonceng gereja menyadarkannya, bahwa dia adalah orang Papua. Tapi sayangnya pace, lonceng itu sekarang rusak. Sandaran kayu yang menyangganya sudah tra kuat lagi.

Selamat sore, pace.

Babi…

Leave a comment
Papua

Ah Pace, di sini ada banyak babi. Tapi sampai sekarang aku belum ketemu babi yang naik angkot seperti kamu bilang dulu.

Di belakang sa pu kantor ada tiga kandang babi yang isinya paling tidak dua ekor babi. Setiap hari di jam-jam tertentu mereka menguik-nguik, mungkin karena jam tidurnya diganggu atau telat mendapatkan jatah makan. Besar sekali ya ternyata babi itu, Pace. Aku kira seukuran sama kambing.

Walaupun binatang peliharaan yang sangat berguna, mereka tidak berkeliaran di jalan seperti kambing di Jawa. Baru sekali aku melihat babi-babi berkeliaran di jalan, di SP 9.

Sang Mama tentu saja marah besar. Seharian Mama nongkrong di rumah temannya membicarakan anaknya yang dipaksa ikut ujian. Sampai babi-babinya dibiarkan berkeliaran kampung dan nyaris aku tabrak. Lucu sekali liat babi-babi itu berlarian.

Aku ga bisa bayangin kalo kamu ikut aku saat itu. Pasti ko su lari kejar babi-babi itu.

Asal-usul hewan itu misterius, Pace. Tra mungkin kan mereka hasil domestifikasi celeng. Menurut Dr. Kal Muller, sampai sekarang memang belum ada yang bisa menjawab asal-usul babi yang sekarang ini di Papua. Dia hanya berani memperkirakan bahwa babi yang ada sekarang ini bukan babi asli Papua, tapi datang ke Papua seiring dengan kedatangan orang Austronesia dan Melanesia. Tapi di lain halaman Dr. Kal Muller bilang kalau semua bangsa yang datang ke Papua pada masa prasejarah hanya membawa satu harta benda saja: api.

Kata Pak Titus, babi asli Papua itu ada, bentuknya beda dengan babi yang biasa dipelihara orang dan lebih mirip celeng. Ah babi, aku ini ngomong apa sih.

Buta blog

Leave a comment
Web 2.0

Hmm…

Sudah hampir sebulan di Timika. Begitu banyak yang aku lihat: tempat-tempat baru, orang-orang baru, dan kebudayaan baru. Sayang sampai sekarang masih belum kesampaian liat Lau-lau (Kangguru) di hutan di selatan Timika. Kata Pak Abraham gampang sekali memancing Kangguru, cukup dengan menyalakan lampu senter ke arah hutan. Mereka akan mengira sorot lampu senter itu teman mereka.
Tapi sejak di sini aku malah ga bisa lihat blogku. Di sini Blogger kena sensor. Tapi aku masih bisa nulis posting dan atur layout, ngecek statistik blog di Google Analytics.
Baru terasa dampaknya pas googling misalnya, banyak sekali sumber informasi dan hiburan yang tidak bisa diakses. Hal seperti itu tidak banyak aku temukan di WordPress. Prestasi terbesar wordpress adalah saat aku menemukan file-file MP3 basiyo, pelawak asal Yogyakarta dan beberapa tulisan menarik. Setelah itu bisa dibilang tidak ada.

Memang masih bisa unduh2 e-book atau mp3 dari beberapa web. Tapi gimana ya. Seperti kehilangan tempat untuk jalan-jalan. Internet jadi terasa kaku kaya dulu awal tahun 2000-an.

The Web Habits of Highly Effective People

Leave a comment
Web 2.0

The Internet has changed the way we consume information, what we know and when we know it. In the age of the iPhone and the BlackBerry, some people are cyber-slaves. Others have web rituals and routines. Granta asked some highly effective people in literature, journalism and publishing to reveal their web habits. Here’s what they had to say: read more