Mutilasi

comment 1
Papua

Suasana kantor sepi saat itu. Di ruangan cuma ada aku dan tiga orang auditor yang sibuk dengan pekerjaan mereka. Seperti biasa selalu ada meno-meno yang mengintip ruangan. Biasanya mereka mau ketemu Pak Yohan, untuk berbagai urusan. Kebanyakan urusan kuliah. Maklum ini kan ruang Biro Pendidikan.

Tapi banyak juga yang datang untuk urusan yang kurang jelas, seperti mengadu, marah karena anaknya tidak lulus ujian beasiswa, kesasar atau yang memang sengaja menyasarkan diri ke Biro Pendidikan. Seperti Pendeta Silas yang datang jauh-jauh dari Enarotali ini. Aduh, aku sudah mengembalikan kartu identitas pendeta-nya kah? Kalau tidak salah tadi aku pegang sambil mengajak dia ngobrol.

Gayanya sama, mengintip masuk ke dalam ruangan. Gesturnya penuh kesungkanan. Tapi sudah cukup untuk membuat tiga auditor itu kaget. Biasanya setelah itu mereka akan menghilang, tapi meno yang satu ini bertahan dan memandangku. Oke Bapa, bagaimana? Mau ketemu Pak Yohan kah? Sambutku setelah aku beranjak dari meja dan menemuinya.

Aku selalu kaget kalau ada tamu dari jauh. Pendeta Silas ini orang kedua yang bikin aku kaget setelah Pak Zackeus Dendegau guru SMP dari Tsinga.

Pendeta Silas kemudian menjelaskan bahwa dia adalah pendeta dari Enarotali sambil merogoh noken-nya dan menunjukkan kartu identitas pendeta. Datang ke Timika untuk mengantar salah seorang rekan kerjanya, guru sekolah minggu yang “hilang akal, iris ini pergelangan tangan, dan potong dia punya buah pelir…satu lepas satu sobek…”

Hfff…aku langsung menahan nafas. Kena tendang aja rasanya sakit apalagi dipotong. Edan macam apa meno itu kok memutilasi buah pelirnya. Aku memastikan kepada Pendeta Silas bahwa pelaku mutilasi adalah guru sekolah minggu dan menanyakan kondisi terkininya.

Menurut Pendeta Silas, sekarang guru malang itu sudah dirawat di RS Charitas Timika. Setelah itu dia menunjukkan surat keterangan dari RS Enarotali. Di bawah data pribadi guru yang bernama fam Tatagon itu (nama depan aku lupa), tertulis keterangan kondisi Pak Tatagon dalam bahasa medis yang dingin, “memotong scrotum selebar…” dan seterusnya.

Cerita mengerikan itu membuat aku mengajak Pendeta Silas menemui Pak Abraham, padahal mestinya ke Biro Kesehatan. Di dalam ruangan Pak Abraham, ternyata sedang ada tamu seorang mace dan meno. Setelah memberi sedikit pengantar, aku mempersilakan Pendeta Silas untuk duduk dan menjelaskan sendiri permasalahan kepada Pak Abraham yang menjadi pejabat sementara Kepala Biro Pendidikan karena Pak Yohan sedang perjalanan dinas.

Pendeta Silas mengulang kembali ceritanya dari bab yang sama, menceritakan seorang guru yang “hilang akal” sambil mengetuk dahinya, dan mengiris buah pelirnya. Meno-meno di ruangan Pak Abraham langsung kaget tercenung…ngeri membayangkan. Tapi tepat ketika Pendeta Silas menoleh ke mace yang duduk di sebelahku, si mace sontak tertawa keras…semua orang di ruangan jadi bingung…

Pendeta Silas meneruskan ceritanya, setelah memotong buah pelirnya guru itu menempelkan di tembok dan memaku buah pelirnya. Lagi-lagi si mace tertawa keras…Awalnya semua bingung, tapi lalu ikut tertawa keras. Pendeta Silas nampak pasrah.

Ternyata di Rumah Sakit Enarotali, semua mace juga tertawa terbahak-bahak mengetahui meno yang terbaring lemas itu ternyata memotong buah pelirnya…Hahaha…Kasihan…Apa ya ini. Balas dendam gender? Ah mbuh lah. Lucu aja pokoknya.

Setelah semua puas tertawa, Pak Abraham menjelaskan bahwa baiknya Pendeta Silas menemui Kepala Biro Kesehatan. Si mace masih saja tertawa, hingga hampir menangis. Besar kemungkinan dia akan membuat kisah mutilasi guru sekolah minggu ini jadi mop di kampungnya. Derai tawa sempat terhenti ketika Pendeta Silas menjelaskan runtutan peristiwa sebelumnya, bahwa si guru malang itu sempat melanggar sebuah tempat keramat. Kalau tidak salah dengan mengambil kayu dari sebuah pohon keramat. Oh kesurupan, batinku. Tapi kok dhemit-nya sadis banget ya sampai minta buah pelir. Di Jawa paling minta darah ayam atau diantar ke kuburan.

Ternyata benar saja. Mace itu ternyata kakak Pak Abraham dan hobinya cerita mop. Dia bahkan masih tertawa sambil keluar ruangan ketika Pak Abraham meminta Pendeta Silas untuk melakukan upacara adat.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s