Tujuhbelasan

Leave a comment
Papua

Halo Ndul,

Gimana suasana tujuhbelasan di Surabaya? Sudah pada sibukkah kampung-kampung di Surabaya?

Orang Papua nampaknya tidak terlalu antusias merayakan tujuhbelasan. Di lapangan Timika Indah, hampir setiap hari ada acara persiapan perayaan kemerdekaan Indonesia. Tentara berlatih baris berbaris di panggung semi permanen, anak-anak sekolah berlatih drum band di jalan sekitar lapangan dan bahkan saat hujan deras. Kemarin dalam perjalanan dari kantor 3 aku terjebak macet di Timika untuk pertama kalinya. Penyebab macet sudah bisa aku duga, latihan drum band. Mereka semua terlihat penuh semangat dan bangga, mulai dari mayoret hingga pembawa umbul-umbul. Dan dari semua personil drum band itu, tidak satu pun aku lihat anak asli Papua.

Beberapa meno mengamati kegaduhan drum band itu dari pinggir jalan. Apakah mereka terkesima atau bingung aku tidak bisa membedakan. Bahkan tidak ada satu pun anak-anak kecil Papua yang berlarian mengikuti rombongan drum band itu. Mereka cuma berdiri saja di pinggir jalan.

Ah, aku yakin orang Surabaya juga tidak terlalu antusias merayakan kemerdekaan. Orang Surabaya rasanya lebih antusias merayakan Hari Pahlawan ketimbang Hari Kemerdekaan. Pada perayaan Hari Kemerdekaan, kampung-kampung memang ramai membuat perayaan. Biasanya dengan lomba dan renungan. Tapi Tugu Pahlawan tidak seramai saat Hari Pahlawan.

Semua kota yang pernah menjadi lokasi pertempuran hebat memang selalu seperti itu. Warga kota Somme di Belgia (atau Prancis?) lebih khidmat merayakan pertempuran Somme pada Perang Dunia I ketimbang pembebasan Belgia pada Perang Dunia II. Setiap hari seorang petugas sipil meniup trompet selama beberapa menit di sebuah gapura untuk mengenang para pemuda yang tewas. Selama trompet itu menggaungkan komposisi musik yang syahdu, para pejalan kaki dan pengunjung menghentikan semua aktivitas dan turut menjadi bagian dari usaha manusia yang paling luhur: mengenang sesamanya di atas semua hal.

Kenapa harus ada sosok pria berambut cepak dengan muka garang dan bambu runcing terhunus di kepala kita saat kita berpikir soal kemerdekaan? Kenapa tidak Nagabonar atau kakek kita sendiri yang diam di rumah menenangkan bapak atau ibu kita saat KNIL masuk ke kampung mencari Republiken.

Mungkin itu yang membuat perayaan tujuhbelasan yang dibuat pemerintah selalu terasa garing, seperti melihat diorama yang sudah usang. Apalagi jika perayaan semacam itu dipaksakan kepada saudara-saudara kita yang merasa identitasnya dilecehkan.

Merdeka!

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s