Tahun yang Tak Pernah Berakhir

Leave a comment
Buku
From infonie

Buku ini dulu aku dapat dari Asep. Dia nemu di Shopping. Awalnya nyaris menyerah karena hampir semua toko buku di Yogya udah aku masuki dan tidak nemu juga. Dulu cari buku ini gara-gara apa, ya? Kalau tidak salah pas teman-teman mau bikin workshop nulis atau pas nulis sejarah lisan desa di Gunung Kidul.

Buku yang terbit tahun 2004 ini berisi kumpulan esai sejarah lisan tentang pengalaman para korban 1965. Penerbitnya  Institut Sejarah Sosial Indonesia bersama Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) dan Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK).

Tapi yang paling aku suka justru esai bergambar karya Gumelar (Sketsa Gumelar, Hal.203).

Entah kenapa sekarang kok digratiskan di internet. Unduh saja di http://sejarahsosial.blogspot.com

Asik Ga Asik

Leave a comment
Tentang kawan

Di RT 4 Kuala Kencana ini kebanyakan rumah sudah jadi milik pribadi. Bukan lagi milik PTFI. Karena itu setiap rumah yang sudah dibeli dimodifikasi oleh sang pemilik rumah. Kebanyakan ditambah bangunan baru di belakang rumah inti. Seperti halnya rumah yang aku tempati ini. Sang pemilik, Bu Marpaung, menempati rumah yang dia bangun di belakang. Tepat menempel di rumah utama. Karena itu rumah ini, dan banyak rumah lainnya di RT 4 tidak memiliki halaman belakang.

Selain rumah tinggal di bagian belakang rumah utama, ada juga yang menambahkan warung di sisi kanan atau kiri rumah utama. Seperti rumah di depanku ini. Selain berfungsi sebagai warung, bangunan itu juga berfungsi sebagai teras rumah.

Biasanya jam 8 sudah tutup. Tapi dua malam ini warung buka hingga jam 10 dan ada dua orang laki-laki yang ngobrol.

Hari ini, setiap kali aku melangkah keluar dari rumah untuk merokok di teras, mereka masih saja nongkrong. Semakin malam rupanya semakin gayeng. Sedangkan suasana di Kuala Kencana, seperti biasanya, semakin malam semakin sepi. Malam dihiasi oleh suara jangkrik, dan sesekali suara gonggongan anjing.

Dan hal itu yang membuat obrolan mereka nampak semakin hangat. Lampu di teras mereka mengeluarkan pendar aneh yang hanya akan kamu lihat jika pelupuk matamu terbasahi oleh air mata.

Untuk beberapa saat mereka tidak bertukar kata-kata. Hanya terdiam memandangi asap rokok yang membubung ke lampu. Asap yang datang ke pusat cahaya ternyata tidak membuat pendar aneh itu berkurang. Pendar itu justru semakin kuat dan nuansa yang muncul semakin tak bisa digolongkan dalam semua kompartemen perasaan kita.

Sesaat kemudian mereka kembali ke dalam pembicaraan. Aku sebenarnya ingin terus mengamati mereka, sambil menikmati batang rokok yang kedua. Tapi aku kira sudah cukup. Sudah cukup membuatku teringat akan obrolan-obrolan kita di teras rumah Malang dan di sebuah malam di Kaliurang.

Coba kau ingat-ingat apa yang kita obrolkan sebenarnya di kedua kesempatan itu? Tidak ada sebenarnya. Tidak ada yang penting tepatnya. Di teras rumah di Malang kita cuma ngobrol soal togel dan masalah-masalah desa sambil memandangi ikan arwana yang berenang malas di dalam akuarium. Di Kaliurang obrolan digerakkan oleh permainan kartu jenis yang paling ecek-ecek, minuman. Hahaha.

Bedanya, obrolan teras di Malang berlanjut ke pencarian warung kopi hingga ke Turen, lalu kita menikmati pagi di kota kecil itu dan kebablasan hingga ke hamparan sawah yang mulai menguning padinya di selatan Turen. Sedangkan di Kaliurang kita mencari bir dan semangkok bakso di dalam areal wisata Kaliurang.

Kamu benar kawan. Kita mungkin terlalu kuno buat dia. Ga asik. Apa asiknya nongkrong di kota kecil. Kurang eksotik gitu loh. Ke Nepal kek. Traveling ke pulau-pulau kecil di bentangan wilayah laut Indonesia. Atau minimal ke Bali lah.

Tapi ya udah. Tidak perlu diperdebatkan mana yang asik dan yang ga asik. Ngobrolin hal yang asik saja seringkali malah membosankan, dan bikin capek hati. Apalagi mengangankan hal-hal yang asik.

Justru obrolan yang ”kosong” seperti di Malang dan Kaliurang itu malah yang buat hidup terasa asik banget.

Met jalan-jalan….

Picasa Name Tag

Leave a comment
Web 2.0
From infonie

Picasa semakin top saja. Sekarang ada name tag untuk menandai semua foto individu di dalam album foto kita. Prosesnya mudah saja, Picasa memindai semua foto individu yang ada lalu mempersilakan kita untuk menamainya dan diintegrasikan dengan daftar kontak di akun Gmail. Nah siapa yang duluan nih. Picasa atau Facebook? Aku kok percaya yang pertama ya yang duluan bikin.

Melihat dari jarak dekat

Leave a comment
Foto
Makro

Masih banyak sekali fitur di kameraku yang belum aku kenal. Selama ini cuma pakai mode P dan belum banyak mengeksplorasi yang lain. Apalagi setelah baca review dan lihat contoh foto Canon Powershot G5 di Digital Preview. Sama sekali tidak ada masalah dengan 5MP.
Kalau soal obyek aku sudah memfokuskan diri pada manusia. Sekalipun masih harus banyak belajar. Tapi sejak di Papua ini aku jadi suka motret dari jarak dekat, biasanya bunga dan serangga. Kenapa ya. Apa karena keanekaragaman hayati Papua? Di sini aku banyak melihat tumbuhan dan serangga yang tidak pernah aku lihat di Jawa. Bisa jadi karena memang tidak ada atau mungkin sudah punah. Kalau bisa akan aku lengkapi dengan nama setempat dan nama latin bunga/serangga yang dipotret.

Selamat menikmati…

Minder

Leave a comment
Tentang kawan

Malam itu adalah pesta ulang tahun kongregasi suster PRR dari Palembang yang berkarya di kabupaten Mimika. Ada banyak sekali hadirin, mulai dari pejabat pemda, pater-pater dari pedalaman, karyawan LPMAK, dan umat gereja. Rumah transit tempat tinggal Uskup dan pejabat keuskupan Mimika yang biasanya lengang malam itu ramai sekali. Mungkin karena yang punya gawe adalah para suster, suasana pesta terasa begitu meriah tapi hangat-bersahaja menusuk ke dalam hati.

Aku kira usai misa akan langsung disambung dengan acara makan-makan. Ternyata masih harus menunggu sesi testimonial dari para suster. Bergantian mereka menceritakan perjalanan karyanya. Waduh. Dari pelataran, hamparan sajian makan malam di depan ruang serba guna tempat diadakannya misa tampak sangat menggoda.

Untung sekali niat serakah itu bisa diredam dengan obrolan.

Seperti biasa, Pak Lody yang jadi dalangnya. Dengan gampangnya dia jadikan satu seorang pejabat Pemda, seorang Pater (aduh siapa ya namanya) dari Dekanat Akimuga, dan seseorang yang aku lupa identitasnya. Kita larut dalam berbagai topik yang menurutmu pasti tidak penting, seperti pengalaman ketinggalan pesawat di Surabaya dan cara terbaik memasak anjing.

Tidak lama kemudian, tinggal aku dan pejabat Pemda itu yang tersisa. Pak Lody sudah berpindah ke kerumunan lain. Ramai sekali dia bicara.

Mungkin karena sama-sama merasa belum kenal dan tidak mau ketinggalan acara makan-makan aku dan pejabat Pemda itu sempat saling mendiamkan diri selama beberapa saat.

Obrolan baru mulai setelah dia menggeser kursi plastiknya mendekati tempatku duduk. Gesturnya canggung sekali. Entah kenapa. Bahkan ketika dia cerita bahwa dia pernah kuliah S2 di Surabaya. Sambil menggoyang-goyangkan kursi plastik warna merah di depannya dia cerita bahwa dulu dosen pembimbingnya pak siapa gitu pejabat Bapeda Jawa Timur. Bisa jadi karena dia merasa terjebak denganku padahal ada orang lain yang mau dia ajak bicara. Apakah karena aku menanyakan tempat pembuangan akhir sampah kota Timika? Sementara Timika dipenuhi sampah di banyak sudut kota dan dia adalah pejabat dinas yang mengurusi sampah. Atau karena minder?

Benar Pace, tidak kali itu saja aku merasakan sikap yang aneh itu. Sering sekali aku bertemu orang yang sangat tidak pantas untuk bersikap canggung atau minder, mengingat kemampuan yang dia miliki.

Pace. Kalau memang itu sikap minder, aku kira sikap minder di Timika sini berbeda dengan di Jawa. Minder di Jawa adalah hasil dari ratusan tahun penghinaan dan rekayasa sosial Belanda terhadap nilai-nilai Jawa. Sedangkan di sini sikap minder itu semacam perlawanan pasif terhadap nilai-nilai dari Jawa yang dipaksakan masuk ke Papua.

Mungkin di Jawa dulunya sikap itu juga perlawanan pasif tapi begitu terinternalisasinya hingga jadi sikap kalah dan penerimaan buta atas keunggulan yang belum terbukti benar.

Jangan kau kira pace-pace di sini kagum melihat tentara-tentara berwajah sangar berbaris dan upacara. Justu mereka malah tertawa. Mereka menertawakan keangkuhan nilai.

Itu jika bersama. Dalam perjumpaan empat mata dengan orang yang datang dari masyarakat yang angkuh, gestur canggung itulah yang kamu hadapi. Pemahaman yang salah akan membuat gestur canggung itu dianggap sebagai sikap tunduk-kalah, padahal itu adalah cemoohan dan sikap jengah.

Lihatlah itu, orang-orang mulai berduyun-duyun masuk ke ruang serba guna. Acara makan malam dimulai. Yuhu…Tapi aku mau ke kamar mandi dulu sebelum mengantri makanan.

Usai makan aku dan pejabat Pemda itu kembali bertemu. Kali itu tidak hanya aku dan dia saja, tapi juga ada beberapa orang lain. Dan sikap aneh yang tadi dia sajikan untukku hilang tak berbekas. Mungkin aku dianggap jadi bagian dari budaya yang dia kenal.

Jadi Pace, jika denganku kau bilang”aku minder…”, aku merasa harus membuka lagi kitab sejarah keluargamu. Seingatku tidak ada kakekmu yang namanya Munajat atau Ngatiman.

Pieta

comments 2
Tentang kawan

(untuk Fidel juga)

From infonie

Mungkin ini Pieta model baru, model generasi kini; seorang teman yang membopong temannya yang sekarat karena mabuk atau sakauw berat, yang digerogoti sejenis penyakit yang tidak pernah dia mengerti: kenapa dia seolah menanggung penderitaan umat manusia, penderitaan kawan sebayanya; wajah-wajah yang dia temui di trotoar, di pasar, di mal, di kantin-kantin kampus dan kantor, di balik pendar gelas bekas vodka atau miras murahan yang mulai dirubung semut, di balik genangan air mata dan air liurnya sendiri: air mata yang dia tumpahkan dalam keadaan yang entah bagaimana; pedih dan lega begitu menyatu dia tidak tahu apa namanya itu, dia hanya membiarkan tawa dan tangis datang silih berganti; hancur dan hilang dia merasa kini bisa berteriak keras dalam sunyi bahwa dia sudah sebegitu siapnya mati tapi begitu perihnya berpisah dengan kehidupan.

Kupegang jasadmu kawan, yang sepanjang hidup telah gagal menyuarakan penderitaan sesama dan generasinya, yang dipaksa menelan sendiri semua itu untuk kemudian dimuntahkan di seprei warna hijau di kamar seorang kawan atau di ubin yang dingin.

Kawan, sehancur-hancurnya dirimu, akan selalu ada orang yang bisa merasakan tanganmu yang pernah mengalami masa muda dan masa kecilnya, sebelum akhirnya terluka begitu dalam hingga tangan-tangan mungil itu meleleh menjadi air mata yang beku, semacam stalakmit yang kau bawa ke mana-mana.

Ampunilah diriku dan kita semua, yang selalu saja gagal menangis di pemakamanmu, dan tanpa mengharap kebangkitan dirimu.

Amole!

comments 2
Catatan Perjalanan

(Sebuah Catatan Perjalanan)

Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Sebuah mobil Toyota Hilux di samping mobil yang kami tumpangi bergerak perlahan berbelok ke timur. Menyusul di belakang mobil, serombongan motor bergerak tergesa-gesa. Hampir semua pengendara motor mengenakan jas hujan berwarna kuning dengan tanda silang warna perak di punggungnya. Mas Eko sedang menggaruk-garuk dagunya ketika aku menaikkan kecepatan kendaraan dan wiper. Hujan semakin deras.

Mungkin dia sudah tahu bahwa aku memiliki cara sendiri dalam menikmati hujan. Bukan dengan melamun di beranda rumah dan merangkai kata-kata, tapi memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Semakin deras hujannya semakin asyik.

Baca lebih lanjut

Enak Ga Enak

Leave a comment
Papua

Di dekat rumah kontrakanku ada sebuah tempat yang menjadi tempat kegiatan sehari-hari warga Kuala Kencana. Namanya kurang jelas. Tapi beberapa orang menyebutnya “terminal”. Di tempat itu memang ada terminal angkot jurusan Kuala Kencana-Timika. Tapi selain itu juga gedung serba guna, deretan kantor kecil yang salah satunya menjadi kantor cabang BPD Papua, dan sederet toko kecil yang menjual kebutuhan sehari-hari. Di depan deretan toko itu ada sederet stan penjual makanan. Bentuk deretan stan dan suasana sekeliling stan itu selalu mengingatkanku pada kantin Fisipol UGM yang akrab disebut Bonbin.

Sekalipun ada lima stan yang tersedia, hanya ada tiga stan yang buka dan hanya ada satu yang buka sampai jam sepuluh malam. Kata Fredy, nama stan itu Bintik-bintik. Ah, nama pemilik stannya kah?

”Bukan. Ya itu nama stannya” jawab Fredy sambil melangkah turun dari mobil. Setelah itu kita memesan dua porsi nasi capjay dan dua gelas teh hangat.

Sebelum dengan Fredy aku sudah makan di stan itu. Pak Pangkie yang asli Makassar itu selalu menyambut semua orang dengan sebutan bos; ”makan apa, bos?” atau ”hormat, bos”. Tapi anehnya susah sekali mengajak dia bicara. Pengalamanku selama ini menunjukkan orang asing yang memanggil kita dengan sebutan bos itu biasanya ada beberapa kemungkinan; dia memang orang yang hangat, lingkungan sekitarnya menggunakan panggilan bos sebagai panggilan akrab, atau penipu.

Posisi pak Pangkie sebagai penjual makanan tidak lantas membuat aku mengecap dia sebagai penipu. Yah, masakannya kurang sedap. Apalagi nasi goreng dan mie goreng. Padahal dua menu itu yang paling sering aku pesan karena tidak butuh waktu lama untuk membuatnya.

Dalam hal sikap penjual makanan kepada pelanggan, aku masih berpegang pada ”falsafah”nya Dodi (sekalipun menurut Dodi pendapat itu dia dapat dari Rahmat); penjual makanan (di Yogyakarta) yang ramah itu biasanya masakannya tidak enak, yang judes itu justru yang enak. Tapi nasi capjaynya boleh juga kok. Masakan yang lain juga terlihat enak.

Sampai di Timika sekarang ini, aku masih suka ngawur menerapkan falsafah itu. Penjual ramah makanan tidak enak, penjual judes makanan enak. Repot, lha wong para penjual makanan yang kebanyakan dari Jawa itu ya ramah-ramah, apalagi kalau ketemu orang Jawa atau yang menggunakan bahasa Jawa. Di depan kantor judes tapi ga enak dan di dekat Gelael enak tapi ramah orangnya. Apalagi tahu dan tempenya yang padat dan gurih.

Warung makan Makassar dan Manado umumnya tidak terlalu menekankan pelayanan kepada pelanggan. Pernah di sebuah depot Coto Makassar dekat kantor, aku dan beberapa teman dicuekin selama seperempat jam. Padahal suasana depot tidak terlalu ramai. Rasa makanan… yah… bisa dibilang enak. Kuah cotonya kental dengan bumbu tapi tidak enek, seperti kuah soto Madura. Komposisi bumbu pas.

Rumah makan Nyiur Melambai yang menyajikan masakan Manado dan jadi langganan orang Freeport agak susah diukur. Menu yang didominasi ikan dan dukungan sambal memang mantap. Saranku, lebih baik beli untuk bawa pulang saja. Kalau nunggu di sana bisa habis rokok Gudang Garam dua batang.

Banyak teman bilang selera makanku buruk. Di Timika ini mungkin jadi tambah buruk. Dari semua tempat yang aku sebutkan tadi, tempat makan favoritku justru di Bintik-bintik. Suasananya enak. Lebih enak lagi kalau beberapa gerombol anak muda yang mendiskusikan filsafat dan hal-hal ga penting lainnya. Kaya Bonbin. Hehe.

Pak Pangkie juga jadi faktor penentu pilihanku. Jika suasana stan tidak ramai, dia akan duduk terdiam di sebuah bangku panjang di depan toko. Di bangku itu dia mengistirahatkan tubuhnya yang subur sambil mengamati kegiatan di stannya dari kejauhan. Tidak merokok, tidak bermain hape, tidak berbicara dengan meno-meno yang lewat (hanya menyapa sekedarnya saja). Seolah dia mengamati seluruh kehidupannya.

Dia sudah di Kuala Kencana sejak kota ini baru berdiri tahun 1995 lampau. Mungkin juga sejak itu dia istirahat di bangku panjang.

Kemarin aku mencobanya, melihat apa yang dia lihat di bangku panjang. Setelah menandaskan nasi capjay, aku beranjak ke tempat Pak Pangkie sambil membawa teh hangatku. Kita kemudian bicara-bicara sebentar. Beberapa saat kemudian aku baru ingat akan misiku; apa yang dia ”lihat” kok bisa betah duduk ga ngapa-ngapain di bangku itu?

Pembicaraan kita terhenti setelah aku menanyakan musim. Pak Pangkie bilang, tidak ada musim di Kuala Kencana, siang panas malam hujan, sepanjang tahun. ”Hutan ini yang bikin banyak hujan…” katanya sambil menunjuk ke rimbunan hutan yang mengelilingi ”terminal” ini.

Ketika itu, pelataran terminal basah oleh hujan besar tadi sore, perlahan nampak sosok seorang meno berjalan di setapak kecil yang membelah hutan menuju ke terminal, seekor anjing berjalan ke tong sampah, dan dari dalam hutan terdengar suara burung dan serangga-serangga yang tidak pernah aku dengar, suara kodok, suara langkah kaki seorang meno yang berjalan telanjang kaki, suara gerimis, suara penjual martabak yang berbicara di hape dengan temannya di Jawa sana.

Tanpa sadar aku juga ikut terdiam seperti Pak Pangkie. Pembicaraan tetap hangat, sekalipun hanya diwarnai suara korek dan dentingan gelasku di bangku panjang. Misiku sudah tidak penting lagi. Mungkin Pak Pangkie sedang mendengarkan begitu banyak hal, bukan sekedar melihat.

Apapun yang dia rasakan, sekarang ini aku kira stan Bintik-bintik dan ”terminal” dan adalah tempat makan dan nongkrong terbaik di Kuala Kencana.

Timika Gempa?

Leave a comment
Papua
From infonie

Belum lama ini di ANTV ada liputan mengenai kota Timika. Sang pembawa acara mengatakan bahwa curah hujan di Timika 3 kali lebih tinggi dibandingkan Bogor. Saat itu dia sedang jalan-jalan di Jalan A. Yani, dan mampir di sebuah toko yang menjual berbagai macam hasil kerajinan masyarakat. Lalu sambil tergopoh-gopoh karena diguyur hujan, dia lari masuk ke mobil dan melaju ke Mware. Setelah itu ditayangkanlah beberapa sudut kota Timika yang basah terguyur hujan.

Padahal saudara-saudara, kalau langit tidak sedang berawan, Timika itu panasss sekali. Aku berpengalaman kena panas Surabaya selama bertahun-tahun hingga otak nyaris gosong. Tapi panas Timika ini bukan main. Panas sekali. Sayangnya tidak ada termometer di kantor. Di situsweb BMG juga tidak ada keterangan suhu udara Timika. Hanya Biak, Jayapura, Manokwari, Merauke, dan Sorong saja yang ada. Berita soal Timika di situsweb BMG malah berita tentang gempa yang terjadi di Timika pagi ini.

Menurut beberapa meno, cuaca di Timika memang seperti ini. Hujan dan panas bergantian menghiasi langit Timika. Ada juga yang bilang bulan September ini hujan akan semakin jarang. Tapi kok sama saja, ya. Kemarin seharian hujan besar (deras), tapi hari ini panas sekali. Saking panasnya, Pak guru Tabuni yang datang dari Arwanop tidak lekas pulang setelah menemui Pak Abraham.

Dalam liputan di ANTV disebutkan kalau mau datang ke Timika, lebih baik membawa jas hujan atau jaket yang anti air. Menurutku bawa juga kemeja lengan panjang atau jaket tipis, untuk menyambut cuaca panas Timika.

Mutilasi

comment 1
Papua

Suasana kantor sepi saat itu. Di ruangan cuma ada aku dan tiga orang auditor yang sibuk dengan pekerjaan mereka. Seperti biasa selalu ada meno-meno yang mengintip ruangan. Biasanya mereka mau ketemu Pak Yohan, untuk berbagai urusan. Kebanyakan urusan kuliah. Maklum ini kan ruang Biro Pendidikan.

Tapi banyak juga yang datang untuk urusan yang kurang jelas, seperti mengadu, marah karena anaknya tidak lulus ujian beasiswa, kesasar atau yang memang sengaja menyasarkan diri ke Biro Pendidikan. Seperti Pendeta Silas yang datang jauh-jauh dari Enarotali ini. Aduh, aku sudah mengembalikan kartu identitas pendeta-nya kah? Kalau tidak salah tadi aku pegang sambil mengajak dia ngobrol.

Gayanya sama, mengintip masuk ke dalam ruangan. Gesturnya penuh kesungkanan. Tapi sudah cukup untuk membuat tiga auditor itu kaget. Biasanya setelah itu mereka akan menghilang, tapi meno yang satu ini bertahan dan memandangku. Oke Bapa, bagaimana? Mau ketemu Pak Yohan kah? Sambutku setelah aku beranjak dari meja dan menemuinya.

Aku selalu kaget kalau ada tamu dari jauh. Pendeta Silas ini orang kedua yang bikin aku kaget setelah Pak Zackeus Dendegau guru SMP dari Tsinga.

Pendeta Silas kemudian menjelaskan bahwa dia adalah pendeta dari Enarotali sambil merogoh noken-nya dan menunjukkan kartu identitas pendeta. Datang ke Timika untuk mengantar salah seorang rekan kerjanya, guru sekolah minggu yang “hilang akal, iris ini pergelangan tangan, dan potong dia punya buah pelir…satu lepas satu sobek…”

Hfff…aku langsung menahan nafas. Kena tendang aja rasanya sakit apalagi dipotong. Edan macam apa meno itu kok memutilasi buah pelirnya. Aku memastikan kepada Pendeta Silas bahwa pelaku mutilasi adalah guru sekolah minggu dan menanyakan kondisi terkininya.

Menurut Pendeta Silas, sekarang guru malang itu sudah dirawat di RS Charitas Timika. Setelah itu dia menunjukkan surat keterangan dari RS Enarotali. Di bawah data pribadi guru yang bernama fam Tatagon itu (nama depan aku lupa), tertulis keterangan kondisi Pak Tatagon dalam bahasa medis yang dingin, “memotong scrotum selebar…” dan seterusnya.

Cerita mengerikan itu membuat aku mengajak Pendeta Silas menemui Pak Abraham, padahal mestinya ke Biro Kesehatan. Di dalam ruangan Pak Abraham, ternyata sedang ada tamu seorang mace dan meno. Setelah memberi sedikit pengantar, aku mempersilakan Pendeta Silas untuk duduk dan menjelaskan sendiri permasalahan kepada Pak Abraham yang menjadi pejabat sementara Kepala Biro Pendidikan karena Pak Yohan sedang perjalanan dinas.

Pendeta Silas mengulang kembali ceritanya dari bab yang sama, menceritakan seorang guru yang “hilang akal” sambil mengetuk dahinya, dan mengiris buah pelirnya. Meno-meno di ruangan Pak Abraham langsung kaget tercenung…ngeri membayangkan. Tapi tepat ketika Pendeta Silas menoleh ke mace yang duduk di sebelahku, si mace sontak tertawa keras…semua orang di ruangan jadi bingung…

Pendeta Silas meneruskan ceritanya, setelah memotong buah pelirnya guru itu menempelkan di tembok dan memaku buah pelirnya. Lagi-lagi si mace tertawa keras…Awalnya semua bingung, tapi lalu ikut tertawa keras. Pendeta Silas nampak pasrah.

Ternyata di Rumah Sakit Enarotali, semua mace juga tertawa terbahak-bahak mengetahui meno yang terbaring lemas itu ternyata memotong buah pelirnya…Hahaha…Kasihan…Apa ya ini. Balas dendam gender? Ah mbuh lah. Lucu aja pokoknya.

Setelah semua puas tertawa, Pak Abraham menjelaskan bahwa baiknya Pendeta Silas menemui Kepala Biro Kesehatan. Si mace masih saja tertawa, hingga hampir menangis. Besar kemungkinan dia akan membuat kisah mutilasi guru sekolah minggu ini jadi mop di kampungnya. Derai tawa sempat terhenti ketika Pendeta Silas menjelaskan runtutan peristiwa sebelumnya, bahwa si guru malang itu sempat melanggar sebuah tempat keramat. Kalau tidak salah dengan mengambil kayu dari sebuah pohon keramat. Oh kesurupan, batinku. Tapi kok dhemit-nya sadis banget ya sampai minta buah pelir. Di Jawa paling minta darah ayam atau diantar ke kuburan.

Ternyata benar saja. Mace itu ternyata kakak Pak Abraham dan hobinya cerita mop. Dia bahkan masih tertawa sambil keluar ruangan ketika Pak Abraham meminta Pendeta Silas untuk melakukan upacara adat.