Enak Ga Enak

Leave a comment
Papua

Di dekat rumah kontrakanku ada sebuah tempat yang menjadi tempat kegiatan sehari-hari warga Kuala Kencana. Namanya kurang jelas. Tapi beberapa orang menyebutnya “terminal”. Di tempat itu memang ada terminal angkot jurusan Kuala Kencana-Timika. Tapi selain itu juga gedung serba guna, deretan kantor kecil yang salah satunya menjadi kantor cabang BPD Papua, dan sederet toko kecil yang menjual kebutuhan sehari-hari. Di depan deretan toko itu ada sederet stan penjual makanan. Bentuk deretan stan dan suasana sekeliling stan itu selalu mengingatkanku pada kantin Fisipol UGM yang akrab disebut Bonbin.

Sekalipun ada lima stan yang tersedia, hanya ada tiga stan yang buka dan hanya ada satu yang buka sampai jam sepuluh malam. Kata Fredy, nama stan itu Bintik-bintik. Ah, nama pemilik stannya kah?

”Bukan. Ya itu nama stannya” jawab Fredy sambil melangkah turun dari mobil. Setelah itu kita memesan dua porsi nasi capjay dan dua gelas teh hangat.

Sebelum dengan Fredy aku sudah makan di stan itu. Pak Pangkie yang asli Makassar itu selalu menyambut semua orang dengan sebutan bos; ”makan apa, bos?” atau ”hormat, bos”. Tapi anehnya susah sekali mengajak dia bicara. Pengalamanku selama ini menunjukkan orang asing yang memanggil kita dengan sebutan bos itu biasanya ada beberapa kemungkinan; dia memang orang yang hangat, lingkungan sekitarnya menggunakan panggilan bos sebagai panggilan akrab, atau penipu.

Posisi pak Pangkie sebagai penjual makanan tidak lantas membuat aku mengecap dia sebagai penipu. Yah, masakannya kurang sedap. Apalagi nasi goreng dan mie goreng. Padahal dua menu itu yang paling sering aku pesan karena tidak butuh waktu lama untuk membuatnya.

Dalam hal sikap penjual makanan kepada pelanggan, aku masih berpegang pada ”falsafah”nya Dodi (sekalipun menurut Dodi pendapat itu dia dapat dari Rahmat); penjual makanan (di Yogyakarta) yang ramah itu biasanya masakannya tidak enak, yang judes itu justru yang enak. Tapi nasi capjaynya boleh juga kok. Masakan yang lain juga terlihat enak.

Sampai di Timika sekarang ini, aku masih suka ngawur menerapkan falsafah itu. Penjual ramah makanan tidak enak, penjual judes makanan enak. Repot, lha wong para penjual makanan yang kebanyakan dari Jawa itu ya ramah-ramah, apalagi kalau ketemu orang Jawa atau yang menggunakan bahasa Jawa. Di depan kantor judes tapi ga enak dan di dekat Gelael enak tapi ramah orangnya. Apalagi tahu dan tempenya yang padat dan gurih.

Warung makan Makassar dan Manado umumnya tidak terlalu menekankan pelayanan kepada pelanggan. Pernah di sebuah depot Coto Makassar dekat kantor, aku dan beberapa teman dicuekin selama seperempat jam. Padahal suasana depot tidak terlalu ramai. Rasa makanan… yah… bisa dibilang enak. Kuah cotonya kental dengan bumbu tapi tidak enek, seperti kuah soto Madura. Komposisi bumbu pas.

Rumah makan Nyiur Melambai yang menyajikan masakan Manado dan jadi langganan orang Freeport agak susah diukur. Menu yang didominasi ikan dan dukungan sambal memang mantap. Saranku, lebih baik beli untuk bawa pulang saja. Kalau nunggu di sana bisa habis rokok Gudang Garam dua batang.

Banyak teman bilang selera makanku buruk. Di Timika ini mungkin jadi tambah buruk. Dari semua tempat yang aku sebutkan tadi, tempat makan favoritku justru di Bintik-bintik. Suasananya enak. Lebih enak lagi kalau beberapa gerombol anak muda yang mendiskusikan filsafat dan hal-hal ga penting lainnya. Kaya Bonbin. Hehe.

Pak Pangkie juga jadi faktor penentu pilihanku. Jika suasana stan tidak ramai, dia akan duduk terdiam di sebuah bangku panjang di depan toko. Di bangku itu dia mengistirahatkan tubuhnya yang subur sambil mengamati kegiatan di stannya dari kejauhan. Tidak merokok, tidak bermain hape, tidak berbicara dengan meno-meno yang lewat (hanya menyapa sekedarnya saja). Seolah dia mengamati seluruh kehidupannya.

Dia sudah di Kuala Kencana sejak kota ini baru berdiri tahun 1995 lampau. Mungkin juga sejak itu dia istirahat di bangku panjang.

Kemarin aku mencobanya, melihat apa yang dia lihat di bangku panjang. Setelah menandaskan nasi capjay, aku beranjak ke tempat Pak Pangkie sambil membawa teh hangatku. Kita kemudian bicara-bicara sebentar. Beberapa saat kemudian aku baru ingat akan misiku; apa yang dia ”lihat” kok bisa betah duduk ga ngapa-ngapain di bangku itu?

Pembicaraan kita terhenti setelah aku menanyakan musim. Pak Pangkie bilang, tidak ada musim di Kuala Kencana, siang panas malam hujan, sepanjang tahun. ”Hutan ini yang bikin banyak hujan…” katanya sambil menunjuk ke rimbunan hutan yang mengelilingi ”terminal” ini.

Ketika itu, pelataran terminal basah oleh hujan besar tadi sore, perlahan nampak sosok seorang meno berjalan di setapak kecil yang membelah hutan menuju ke terminal, seekor anjing berjalan ke tong sampah, dan dari dalam hutan terdengar suara burung dan serangga-serangga yang tidak pernah aku dengar, suara kodok, suara langkah kaki seorang meno yang berjalan telanjang kaki, suara gerimis, suara penjual martabak yang berbicara di hape dengan temannya di Jawa sana.

Tanpa sadar aku juga ikut terdiam seperti Pak Pangkie. Pembicaraan tetap hangat, sekalipun hanya diwarnai suara korek dan dentingan gelasku di bangku panjang. Misiku sudah tidak penting lagi. Mungkin Pak Pangkie sedang mendengarkan begitu banyak hal, bukan sekedar melihat.

Apapun yang dia rasakan, sekarang ini aku kira stan Bintik-bintik dan ”terminal” dan adalah tempat makan dan nongkrong terbaik di Kuala Kencana.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s