Minder

Leave a comment
Tentang kawan

Malam itu adalah pesta ulang tahun kongregasi suster PRR dari Palembang yang berkarya di kabupaten Mimika. Ada banyak sekali hadirin, mulai dari pejabat pemda, pater-pater dari pedalaman, karyawan LPMAK, dan umat gereja. Rumah transit tempat tinggal Uskup dan pejabat keuskupan Mimika yang biasanya lengang malam itu ramai sekali. Mungkin karena yang punya gawe adalah para suster, suasana pesta terasa begitu meriah tapi hangat-bersahaja menusuk ke dalam hati.

Aku kira usai misa akan langsung disambung dengan acara makan-makan. Ternyata masih harus menunggu sesi testimonial dari para suster. Bergantian mereka menceritakan perjalanan karyanya. Waduh. Dari pelataran, hamparan sajian makan malam di depan ruang serba guna tempat diadakannya misa tampak sangat menggoda.

Untung sekali niat serakah itu bisa diredam dengan obrolan.

Seperti biasa, Pak Lody yang jadi dalangnya. Dengan gampangnya dia jadikan satu seorang pejabat Pemda, seorang Pater (aduh siapa ya namanya) dari Dekanat Akimuga, dan seseorang yang aku lupa identitasnya. Kita larut dalam berbagai topik yang menurutmu pasti tidak penting, seperti pengalaman ketinggalan pesawat di Surabaya dan cara terbaik memasak anjing.

Tidak lama kemudian, tinggal aku dan pejabat Pemda itu yang tersisa. Pak Lody sudah berpindah ke kerumunan lain. Ramai sekali dia bicara.

Mungkin karena sama-sama merasa belum kenal dan tidak mau ketinggalan acara makan-makan aku dan pejabat Pemda itu sempat saling mendiamkan diri selama beberapa saat.

Obrolan baru mulai setelah dia menggeser kursi plastiknya mendekati tempatku duduk. Gesturnya canggung sekali. Entah kenapa. Bahkan ketika dia cerita bahwa dia pernah kuliah S2 di Surabaya. Sambil menggoyang-goyangkan kursi plastik warna merah di depannya dia cerita bahwa dulu dosen pembimbingnya pak siapa gitu pejabat Bapeda Jawa Timur. Bisa jadi karena dia merasa terjebak denganku padahal ada orang lain yang mau dia ajak bicara. Apakah karena aku menanyakan tempat pembuangan akhir sampah kota Timika? Sementara Timika dipenuhi sampah di banyak sudut kota dan dia adalah pejabat dinas yang mengurusi sampah. Atau karena minder?

Benar Pace, tidak kali itu saja aku merasakan sikap yang aneh itu. Sering sekali aku bertemu orang yang sangat tidak pantas untuk bersikap canggung atau minder, mengingat kemampuan yang dia miliki.

Pace. Kalau memang itu sikap minder, aku kira sikap minder di Timika sini berbeda dengan di Jawa. Minder di Jawa adalah hasil dari ratusan tahun penghinaan dan rekayasa sosial Belanda terhadap nilai-nilai Jawa. Sedangkan di sini sikap minder itu semacam perlawanan pasif terhadap nilai-nilai dari Jawa yang dipaksakan masuk ke Papua.

Mungkin di Jawa dulunya sikap itu juga perlawanan pasif tapi begitu terinternalisasinya hingga jadi sikap kalah dan penerimaan buta atas keunggulan yang belum terbukti benar.

Jangan kau kira pace-pace di sini kagum melihat tentara-tentara berwajah sangar berbaris dan upacara. Justu mereka malah tertawa. Mereka menertawakan keangkuhan nilai.

Itu jika bersama. Dalam perjumpaan empat mata dengan orang yang datang dari masyarakat yang angkuh, gestur canggung itulah yang kamu hadapi. Pemahaman yang salah akan membuat gestur canggung itu dianggap sebagai sikap tunduk-kalah, padahal itu adalah cemoohan dan sikap jengah.

Lihatlah itu, orang-orang mulai berduyun-duyun masuk ke ruang serba guna. Acara makan malam dimulai. Yuhu…Tapi aku mau ke kamar mandi dulu sebelum mengantri makanan.

Usai makan aku dan pejabat Pemda itu kembali bertemu. Kali itu tidak hanya aku dan dia saja, tapi juga ada beberapa orang lain. Dan sikap aneh yang tadi dia sajikan untukku hilang tak berbekas. Mungkin aku dianggap jadi bagian dari budaya yang dia kenal.

Jadi Pace, jika denganku kau bilang”aku minder…”, aku merasa harus membuka lagi kitab sejarah keluargamu. Seingatku tidak ada kakekmu yang namanya Munajat atau Ngatiman.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s