Kisah Anton Pinimet

Leave a comment
Papua / Tentang kawan

“Anak perempuan (saya) dua sudah ke Moanemani, sekarang mau bawa anak bungsu laki ke Kaokanao? Jangan, Pater” Tukas Mama Julita Deikme sambil mendekap anaknya. Pater Frankenmollen, pastur paroki Akimuga, dengan sabar melanjutkan penjelasannya. Beberapa saat kemudian, dengan bantuan Pak Marten Katagame, Mama Julita akhirnya mengizinkan Anton Pinimet untuk melanjutkan sekolah kelas 3 SD di Kaokanao.

Di Kaokanao, Anton tinggal di asrama di bawah binaan para pater. Sayangnya, Anton hanya setahun saja di Kaokanao. Menjelang naik kelas 4 SD, Anton harus pulang ke Akimuga karena ayahnya meninggal dunia. Anak bungsu dari tiga bersaudara itu kemudian menyelesaikan pendidikan dasarnya di SD YPPK Bulujaulaki, Akimuga. Karena sudah sempat merasakan sekolah di Kaokanao, Anton kecil kemudian berinisiatif sendiri melanjutkan pendidikan di SMP YPPK Lecoq d’Armanville Kaokanao hingga lulus.

Anton kemudian pergi ke Timika untuk sekolah di SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas) Petra Timika. Setelah lulus pada tahun 2004, pemuda kelahiran kampung Aramsolki, Akimuga, 24 November 1983 ini kemudian memberanikan diri untuk mengikuti tes beasiswa LPMAK. Anton dinyatakan lulus dan diterima di IKOPIN Bandung. Sebelum berangkat ke Bandung, Anton menyempatkan pamit ke Mama di Akimuga.

Di kampus IKOPIN, Anton harus mengikuti program Matrikulasi. Awalnya Anton meragukan dirinya. karena semasa SMA, Anton merasa tidak belajar dengan baik. “Di Timika, teman banyak yang ajak hal tidak baik. Akhirnya lupa belajar dan buat tugas sekolah,” kenang Anton. Tapi Anton tidak ingin terus menyesali yang sudah lalu.

Selama setahun ikut Matrikulasi, Anton mengikuti semua mata kuliah bersama penerima beasiwa lain dari Timika. “Awalnya bingung, karena pelajarannya beda sekali dengan di Timika,” kata Anton. Seiring dengan berjalannya waktu, Anton semakin terbiasa dengan semua materi dan tidak ragu menghadapi kuliah.

Selain menyiapkan diri untuk kuliah yang sebenarnya, Anton juga mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ada banyak cara yang digunakan, mulai dari ikut membantu berkebun masyarakat sekitar hingga berteman dengan tukang ojek.

Karena itu, Anton tidak menemukan kesulitan berarti ketika mulai kuliah di Jurusan D3 Manajemen Pemasaran IKOPIN Bandung. Hal itu juga ditambah dengan dukungan teman-teman. Menurut Anton, bedanya dengan di Timika, “teman-teman kuliah di Bandung datang untuk bahas materi kuliah, tidak untuk ajak hal tidak baik.”

Setelah lulus kuliah pada tahun 2011, Anton pulang ke Timika. Sayangnya, Ibunda Anton, Mama Julita tidak bisa ikut secara langsung menemani kegembiraan Anton. Mama Julita meninggal dunia dengan tenang di rumahnya di Akimuga ketika Anton sedang ujian skripsi.

Tidak banyak penerima beasiswa yang menempuh jalan yang dipilih Anton, yang tidak mengarahkan orang menjadi tokoh politik atau pejabat. Jalan yang ditempuh Anton adalah jalan menuju pribadi yang bermartabat. Pemuda Amungme itu memilih untuk jadi wirausahawan.

Semua ilmu pemasaran yang didapat semasa kuliah langsung dipraktekkan. Anton berjualan sepatu yang dibeli dari Bandung. Kenapa sepatu? Karena “belum ada orang Papua yang jualan sepatu dan karena ada banyak sepatu bagus di Bandung,” jawab Anton.

Setelah setahun berjalan, usaha Anton makin maju. Anton jadi cukup percaya diri untuk mengajukan pinjaman ke bank untuk meningkatkan usahanya. Pada tahun 2012, Anton semakin sering menjajakan dagangannya dengan sepeda motor kesayangannya. Dengan sepeda motor itu Anton berjualan di berbagai tempat di Timika, bahkan hingga ke kantor Bupati Mimika.

“Kam (kamu) orang Papua tanah sendiri, baru, kenapa jualan macam pendatang saja?” protes seorang teman kepada Anton. “Banyak teman yang bilang seperti itu. Tong (Mereka) heran,” kata pemuda yang ramah senyum itu.

Anton terus berdagang hingga pada tahun 2013 Anton mendapat tawaran kerja di LPMAK sebagai administrator bagian Monitoring Evaluasi Biro Ekonomi LPMAK. Selain menjadi admin, Anton juga dipercaya menjadi asisten bagian kesehatan hewan. Anton banyak belajar dari dokter hewan  mengenai cara vaksin hewan ternak hingga cara menghitung makanan.

Sekalipun sudah sibuk bekerja di LPMAK, Anton masih ingin punya usaha sendiri. Anton kini meluangkan waktu membimbing adik-adik sepupunya berwirausaha. Bagi adik-adik dari suku Amungme yang sedang kuliah di luar Papua, Anton hanya bisa berpesan, “merantau itu cari kawan, bukan cari lawan, dan untuk mendapatkan ilmu.”

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s