Penjual Emas

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Papua / Tentang kawan
dd

Bapak itu menumpang mobil kami ke Timika. Mau ke Timika Indah katanya. Dia berasal dari Nabire daerah gunung ke arah Homeyo. “Lewat Kilo 100?” tanya Vembri. “Ah, tidak, dari Homeyo lurus ke Enarotali, lurus ke Enaro, ke Dumada, ke Tembagapura. 1 minggu jalan kaki dengan John Kas.” Dia menjelaskan rute perjalanannya ke Timika. Perjalanan yang ditempuhnya 16 tahun yang lalu dengan John Kas (pendeta John Cutts maksudnya). Sejak itu dia tinggal dan bekerja di Timika.

Ketika mobil berbelok ke arah lapangan Timika Indah, Bapak itu (ah, kami dua lupa tanya namanya), menyodorkan sebuah kantong plastik berisi sebuk pasir berwarna keemasan. “Ini emas, harga dua ratus ribu, bos.” Aku dan Vembri tidak tertarik membelinya. Aku pernah dengar bahwa serbuk emas warnanya malah bukan kekuningan, tapi kehijauan. Dia tidak menjawab dengan jelas ketika Vembri tanya apakah itu hasil mendulang di sungai.

Tiga puluh menit sebelumnya. Kami tidak mengenal bapak itu. Dia datang di bengkel sekitar jam setengah sebelas siang, ketika sepeda motor adek DD hampir selesai diperbaiki dengan suku cadang yang dibeli di dekat bandara.

Keluarga DD yang datang ke bengkel ada beberapa orang, seorang perempuan adik DD, seorang perempuan tua usia kira-kira 40 tahun, seorang pemuda, dan seorang pria yang kemudian menumpang kami ke Timika. Semua orang Moni dan datang dari tempat tinggal mereka di sebuah lorong sebelum jembatan Selamat Datang. Tepat di jalan raya Timika – Kuala Kencana itu DD datang dari arah pasar, hendak berbelok masuk ke lorong, dan diserempet oleh mobil seorang dokter yang melaju dari arah Kuala Kencana.

“Saya sudah kasih sein kanan dan mobil itu balap-balap dari arah Kuala. Saya jatuh dan motor saya bawa ke pinggir,”kata DD di bengkel sekitar jam 8 pagi, setelah suasana hatinya lebih enak. Kira-kira sepuluh menit sebelumnya, dia menolak ketus ketika saya tanya namanya. “Buat apa tanya nama?” Saya balas supaya saling kenal dan menyebutkan nama. Sebuah tawaran yang dia balas dengan ketus, “tipu.”

Mendengar itu, bu dokter makin nampak gugup. Sama gugupnya ketika kami mendapatinya sedang memarkir mobil di depan lorong masuk. Di sebelah mobilnya, ada sebuah sepeda motor dan bu dokter nampak sedang bicara dengan beberapa orang. Melihat itu, kami menepikan mobil setelah jembatan Selamat Datang, menelfon bu dokter, dan berputar balik untuk memastikan keadaan. Di situ, pembicaraan berlangsung tenang, tidak ribut seperti yang aku duga. Seorang pemuda yang mengunyah pinang dan meludah berkali-kali menyarankan membawa motor ke bengkel untuk diperbaiki. Beberapa tukang ojek berdiri melihat-lihat. Bu dokter menanyakan kepada lokasi bengkel terdekat. Aku jawab di sana, sambil menunjuk ke arah SP2. Padahal sebenarnya yang terbayang adalah Bengkel Surabaya di Timika.

“Mama naik mobil saya. Motor dibawa tukang ojek ke bengkel,” kata bu dokter. Dia nampak menguasai keadaan. Setelah itu dia bisik saya, “saya tidak tahu apa-apa soal motor. Kamu ikut saya kah?” pinta bu dokter. Tanpa diminta pun sebenarnya saya akan temani dia ke bengkel. Hari ini kebetulan tidak ada acara penting, Vembri juga cuma perlu ke Bank Mandiri saja urus ATM. Bu dokter ada rapat jam 9.

Setiba di bengkel, kami langsung menyampaikan perbaikan yang harus dilakukan; plastik bagian depan yang pecah, stang miring, pijakan kaki dan rem sebelah kanan yang bengkok. Selebihnya, motor merk Honda tanpa plat nomor itu sudah nampak  rusak karena kurang perawatan. Menurut pemilik bengkel, biaya perbaikan sejumlah 425 ribu. “Saya bayar sudah. Tapi kamu bawa uang kah? Saya sepertinya tidak ada,” kata bu dokter. “Gampang, dok,” balasku.

DD masih nampak sewot akibat ditabrak. “Diajak bicara-bicara saja, dok,”saranku. Setelah itu bu dokter kembali kepadaku dan minta tolong beli alcohol swab, alkohol, betadine, dan tensoplast.  Aku dan Vembri bergegas ke Apotik di dekat pom bensin SP2. Sekembalinya di bengkel, baru sadar kalau lupa beli alkohol dan aku lihat darah mengalir dari telapak kaki kanan DD. “Mama, ini kasih bersih dulu, ya,” kata bu dokter was-was melihat luka itu. Dia sudah tidak sempat menanyakan botol alkohol yang harusnya aku beli. Dua bungkus kecil alcohol swab dicukup-cukupkan untuk membersihkan luka di kaki DD. Sebelum membersihkan, bu dokter bilang kalau alcohol swab biasanya untuk sterilkan lengan yang akan disuntik. Paling tidak seperti itulah pemahamanku dari cara dia menunjuk2 lengannya.

Sekitar jam 9:15, beberapa kolega bu dokter datang ke bengkel. Mereka dengar kabar dari grup WA bahwa bu dokter terlihat di jalan SP-2 sedang berurusan dengan “masyarakat.”

Suasana jadi agak mencair setelah Vembri cerita bahwa dia pernah ke Paniai dan Wamena. Mama itu, yang ternyata nampak masih muda dilihat dari jarak dekat, menyebutkan nama fam-nya. “Saudaranya Pak kepala sekolah D kah?” Tanyaku yang dijawabnya dengan senyum simpul.

Seorang pria berusia sekitar 30 tahun datang bergabung dengan kami. Dia orang Moni, tetangganya DD. Setelah bicara-bicara dengan DD dalam bahasa Moni, bapak itu bilang bahwa kami sebaiknya memberi sejumlah uang ke DD. Dengan uang itu, DD bisa pergi berobat jika nanti di rumah ada rasa sakit yang timbul akibat kecelakaan ini. “Saya juga pernah dapat tabrak seperti ini,” kenangnya.

“Sedikit saja. 150 ribu kah. Kalau bawa ke rumah biaya besar. Kalau di sini biaya sedikit saja,” imbuh bapak itu kemudian sambil mengayun-ayunkan palu di tangan kanannya.

Dengan sigap seorang kolega bu dokter menyodorkan padaku uang 150 ribu dalam pecahan 100 dan 50 ribu. Awalnya akan aku serahkan ke DD, tapi atas nasehat Vembri, akhirnya bu dokter yang menyerahkan ke DD sambil minta maaf. DD masih nampak belum terima akibat bu dokter yang “balap-balap.”

Bu dokter akhirnya bisa pergi meninggalkan bengkel. Ada rapat penting yang harus dia hadiri. Aku bilang ke DD bahwa bu dokter harus periksa orang. Sebelum bu dokter pergi bersama dengan rombongan kolega bu dokter, seorang kolega bu dokter sempat membisiki aku untuk segera meninggalkan bengkel. Dia khawatir anggota keluarga DD akan datang dan memperpanjang urusan. Aku cuma bilang, sambil setengah berbisik, “saya atur saja bagaimana supaya aman.”

Akhirnya tinggal kami bertiga, DD, aku, dan Vembri. Bapak tadi melanjutkan perjalanannya ke pasar SP2 untuk bekerja. Tak lupa dia meminta 50 ribu dari DD.

Perbaikan motor ternyata makan biaya lebih besar dari yang disepakati sebelumnya. Ganti plastik bagian depan motor biayanya 425 ribu, tapi karena harus beli satu bagian utuh di Timika dan harganya jadi 1.700.000. Bu dokter, yang aku hubungi via telepon, menyetujui kenaikan biaya itu. Dengan gembira aku sampaikan ke ade DD bahwa motor akan diperbaiki semua. Dia nampak senang. Pemilik bengkel juga nampak menikmati perjalanan ke Timika naik mobil sedannya yang bagus itu.

Tapi rasa senang itu memang selalu tidak awet. Karena tidak lama kemudian, Pak pemilik bengkel datang dan mengabarkan bahwa ternyata cuma dapat bagian setir saja dan biaya kembali jadi seperti yang disepakati di awal. DD sepertinya kurang paham atau kecewa dengan penjelasan dari aku dan Vembri. Sebagai solusi supaya tidak terlalu kecewa, Vembri mengusulkan untuk beli beras. Kebetulan di depan bengkel ada toko yang menjual beras berbagai macam karung. Kami beli yang 15kg seharga 145 ribu.

Motor mulai nampak kembali ke wujudnya semula ketika beberapa orang angggota keluarga DD datang. DD menjelaskan peristiwa yang dialaminya. Aku cuma paham kata “balap-balap” saja. Dia juga sepertinya menjelaskan bahwa bukan kami yang menabrak dia, tapi orang lain yang sudah pergi dan memasrahkan urusan ini kepada kami. Keluarga mulai berunding. Tidak lama kemudian, seorang pria yang nampak paling tua di antara mereka menasehati DD untuk berhati2 di jalan, tapi lalu mulai menyebut nilai uang, “dua ratus ribu,” “lima ratus ribu,” sampaiii “satu juta lima ratus.” Inilah yang dimaksud kolega bu dokter tadi. Tapi di angka 1.500.000 itu, sesuai dugaanku, mereka berhenti membahas.

Aku dan Vembri memilih untuk tidak ikut campur dalam obrolan mereka. Lagipula kami harus menyelesaikan pembayaran. Kami menambah uang 50 ribu untuk membeli sepasang spion.

“Ini kami tambah spion. Supaya ade bisa lihat belakang. Lihat apa ada yang balap-balap kah tidak,” kataku sambil melihat mekanik memasang spion. “Bisa tambah plastik bagian ini, bos?” Tanya bapak tadi sambil menunjuk bagian depan bawah lampu. Aku bilang bisa.

Dengan itu kami pamit pulang. ade DD akan pulang ditemani keluarganya. Di saat itulah, bapak penjual emas meminta menumpang ke Timika.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s