Kanal News Room – Saluran Informasi Kasus Lumpur Lapindo Perspektif Korban

Leave a comment
Current issues

Kanal News Room – Saluran Informasi Kasus Lumpur Lapindo Perspektif Korban.

Kanal News Room (KNR) adalah dapur berita dan data yang menyajikan fakta lapangan, data, dan analisis tentang kasus lumpur Lapindo dengan menitikberatkan pada perspektif pemulihan hak-hak korban. KNR lahir atas inisiatif aliansi masyarakat sipil untuk korban Lapindo pada pertemuan Ciputat 12-13 Juli 2008. Setelah dibentuk tim kecil yang menindaklanjuti dengan langkah-langkah konkrit, KNR berdiri di Porong, Sidoarjo, sebagai lembaga induk yang melahirkan tiga bentuk media, yakni website korbanlumpur.info, buletin Kanal dan Kanal Radio (audio feature).
Pada 2010, bersama warga Besuki Timur dan beberapa mitra, KNR mendirikan Kanal Besuki Timur FM (KBT FM), radio komunitas yang berkedudukan di Desa Besuki Timur, sebelah timur tanggul lumpur Lapindo.
KNR dikelola oleh tim media Posko Keselamatan Korban Lapindo, Porong, Sidoarjo. KBT FM dikelola pemuda/i Desa Besuki Timur. KNR telah melakukan berbagai kerjasama di antaranya dengan Yayasan Tifa, Lapis Budaya, Walhi Jawa Timur, Air Putih, MediaLink dan Combine Resource Institute.

Masalah yang ingin diatasi:
Praktik-praktik pemberitaan kasus lumpur Lapindo di media mainstream ternyata tak cukup mampu mengambil posisi supportive, apalagi memihak, terhadap pemulihan hak-hak warga korban. Ini mengakibatkan posisi warga korban kian terjepit. Oleh karena itu, representasi media yang mencerminkan, atau lebih mendekati, realitas kasus dan situasi warga korban, yang meliputi hidup sehari-hari akibat luberan lumpur itu sendiri atau akibat kebijakan dan penanganan yang ada, hingga pergulatan mereka memperjuangkan hak-hak dengan berbagai bentuk tuntutan yang berbeda antara satu kelompok warga dan kelompok lainnya, sangat dibutuhkan.
Di sinilah KNR diharapkan menjadi saluran informasi yang mengedepankan pemulihan hak-hak korban, di satu sisi, dan menjadi rujukan informasi bagi publik yang concern pada kasus ini di sisi lain. KNR telah mampu menjalankan misinya hingga saat ini, dengan melakukan kerjasama-kersajama dengan berbagai lembaga. Namun, saat ini kami mengalami kesulitan finansial, padahal kami bermaksud untuk memperkuat kelembagaan dan mengembangkan KNR sehingga misi bisa dijalankan lebih solid, kokoh dan kontinu.

Cara mengatasi dan masyarakat yang diuntungkan:
Sebagai bagian dari upaya menjawab kebutuhan di atas, kami ingin memperkuat dan mengembangkan KNR dan lini-lini produknya, melalui kegiatan:

  1. Penguatan kelembagaan. Agar pola organisasi dan pengelolaan lebih efektif, efisien, produktif dan kontinu. Ini meliputi set-up rapat kebijakan keredaksian dan rekrutmen SDM baru (terutama dari kalangan pemuda/i korban)
  2. Re-Desain website. Agar lebih user friendly, interaktif, dan cepat diakses. Ini termasuk maintanance rutin dan streaming KBT FM.
  3. Pelatihan dan pengembangan kapasitas. Ini mencakup pelatihan penulisan (bagi kontributor baru), pengembangan kapasitas (kru lama), dan pelatihan kru radio komuntias (baru dan lama).
  4. Produksi dan operasi reguler. Ini mencakup teks, foto, dan audio (website www.korbanlumpur.info, audio feature dan KBT FM).

Proyek ini akan memberikan manfaat bagi warga korban lumpur Lapindo di 3 kecamatan (Porong, Tanggulangin, Jabon) Sidoarjo, dan publik

Ukuran kesuksesan:

  • Meningkatnya ‘like’ pada fanpage facebook menjadi minimal 2.000 pada akhir program
  • Terlibatnya minimal 15 peserta dari pemuda/i korban Lapindo dalam pelatihan dan lahirnya minimal 3 jurnalis warga yang aktif dalam KNR
  • Meningkatnya produksi teks, foto, audio 20 % dari sebelumnya, dengan presentasi 60% produksi KNR dan 40% sumber luar, selama 7 bulan terakhir program (Sebagai perbandingan rentang 7 bulan Desember 2009-Juni 2010, KNR mempublikasi 129 item presentase 48% produk KNR 52% sumber luar)
  • Munculnya 3 acara baru dalam KBT FM

Ziarah ke Pohsarang

comment 1
Catatan Perjalanan / Keluarga

Perjalanan lumayan melelahkan selama kurang lebih 3 jam dari Surabaya itu mulai terasa impas ketika mobil yang kami kendarai akhirnya menyentuh jalanan aspal halus di jalan ke arah Kediri. Jalan itu akan kamu temui setelah lepas dari kota Jombang.

Tidak ada lagi jalanan bergelombang dan berlubang serta bis dan truk yang melaju kencang. Pengendara motor tidak banyak dan hampir semuanya berkendara dengan tertib tidak terburu-buru. Istriku bisa tidur setelah selama 3 jam menjadi navigatorku menghadapi rute yang tidak terlalu aku kenali ini. Sekalipun demikian, kamu masih harus waspada, apalagi di malam hari, karena tidak ada lampu jalan yang membantu penglihatan.

Ini adalah perjalanan pertamaku ke Kediri setelah bertahun-tahun silam, di masa kecilku. Yang aku ingat dari Kediri saat itu hanyalah sebuah jalan yang dihiasi gapura Majapahit  serta warna dan rasa khas tahu Kediri. Sebelum berangkat aku sempat bertanya ke beberapa orang, adakah jalan semacam itu di Kediri? Kebanyakan menjawab tidak pernah melihatnya. Entahlah, mungkin itu adonan ingatan masa kecil yang terlalu banyak tercampur mimpi.

Menjelang memasuki kota Kediri, aku dan istriku dikejutkan oleh deretan pagar yang panjang sekali. Rupanya itu kompleks pabrik sebuah merek rokok yang aku gemari. Kompleks bangunan itu baru berakhir di sebuah jalan yang sepertinya adalah jalan lingkar luar kota Kediri. Kami terus melaju, melewati jalan menikung ke kanan yang mengarah ke Pohsarang. Ada kota yang ingin aku kunjungi terlebih dahulu.

Jalanan kotanya cukup bersih, dihiasi barisan pepohonan dan trotoar yang cukup lebar. Istriku senang sekali melihat Kediri. Saking senangnya bahkan sampai bilang kalau mau tinggal di Kediri. “Apalagi kalau ada mal, pasti lebih asyik…” imbuhnya kemudian.

Tidak lama kemudian kami mengarah ke sebuah jalan yang mirip sekali dengan kawasan Pecinan kota Malang, tapi lebih bersih dan teratur. Lalu kemudian sebuah bangunan yang mirip mal. Istriku senang sekali. Tapi semakin dekat nampak bahwa itu ternyata bukan mal. Dia masih senang, tapi agak lesu.

Sebuah alun-alun dan jembatan besi besar menggiring kami ke jalan menuju Pohsarang. Jalan semakin mengecil hingga akhirnya kami melihat sebuah papan bertuliskan Goa Maria Lourdes dan penunjuk untuk berbelok ke arah kiri. Jarak dari kota Kediri ke Pohsarang kurang lebih 10 km.

Kami tiba di tempat peziarahan Pohsarang sekitar jam 8 malam. Di luar dugaanku, gereja dengan arsitektur menarik yang sering aku lihat di buku dan internet itu ternyata pas berdiri menghadap jalan. Gereja yang didirikan tahun 1936 itu didesain oleh Ir. Henricus Maclaine Pont. Adalah Romo Jan Wolters, CM yang meminta Ir. Henricus untuk mengintegrasikan kebudayaan Jawa dalam bangunan gereja.

Atap gereja Pohsarang

Tidak banyak aku lihat bangunan Belanda yang sangat berhasil memadukan keanggunan arsitektur Jawa dan kekokohan arsitektur Eropa. Gereja Pohsarang tidak sekedar menempatkan ornamen Jawa, tapi alam pikiran budaya Jawa.

Kecintaan Romo Wolters akan budaya sepertinya lestari hingga kini. Tidak jauh setelah memasuki jalan kecil yang memisahkan gereja dan susteran, kita akan bertemu sebuah ruang terbuka dengan kanopi dengan struktur baja yang menyerupai tenda dan atap yang memiliki kesamaan bentuk dengan gereja Pohsarang. Sayang aku lupa memotret bangunan itu.

Gereja Pohsarang

Kami agak kaget bahwa di sisi kanan dan kiri jalan menuju bangunan itu, terletak sebuah pemakaman. Kaget yang tidak menimbulkan rasa ngeri.

Setelah itu kami kembali ke jalan setapak menuju Gua Maria. Deretan kios penjual suvenir dan kebutuhan peziarah mulai nampak. Hal yang maklum kita temui di tempat peziarahan semua agama. Di sebuah kios, kami berhenti untuk membeli lilin dan bertanya lokasi Columbarium (tempat persemayaman abu jenazah).

Pemakaman

Columbarium itu terletak di dataran yang lebih rendah dari jalan setapak yang kami tempuh. Di situ bersemayam abu jenazah umat Katolik serta makam para Romo dan Uskup. Di siang hari, kita bisa melihat-lihat makam para romo dan uskup Keuskupan Surabaya.

Bunga untuk Mama

Istriku dengan mudah menemukan kotak tempat bersemayamnya abu jenazah mamanya. Aku menyalakan dan menaruh dua lilin di depannya. Suasana tenang menjadi latar kami mengenang dan memanjatkan doa bagi mama.

Usai menengok mama, kami pergi ke Gua Maria Lourdes. Ada beberapa peziarah lain yang sedang datang malam itu. Tidak banyak kursi yang tersedia di area luas depan patung Bunda Maria. Jika ingin berdoa atau meditasi, baiknya membawa alas sendiri.

Patung Bunda Maria di Taman

Keesokan harinya, sebelum kembali ke Surabaya, kami menyempatkan diri ke Pohsarang lagi. Gereja dengan arsitektur unik itu nampak anggun dan selaras dengan alam budaya Jawa. Penempatan lokasinya juga pas. Dia seolah memangku kompleks pekuburan yang berada di dataran lebih rendah dan menjadi gerbang sebelum menuju Gua Maria. Tapi sayangnya, komplek pekuburan masyarakat umum itu kondisinya agak kurang terawat. Ada beberapa nisan yang rusak tertimpa batang pohon.

***

Sementara Pohsarang berusaha selaras dengan kebudayaan dan alam Jawa, pertumbuhan daerah sekitarnya menunjukkan kebalikannya. Di sepanjang jalan mulai banyak berdiri rumah-rumah besar, tempat belanja oleh-oleh khas Kediri, kantor perusahaan dan sebuah hotel (sepertinya bintang tiga) yang sedang menyelenggarakan pertemuan para salesman sebuah perusahaan MLM.

Jika tidak ditata dengan baik, bukan tidak mungkin dalam waktu 10 tahun, tempat peziarahan ini akan benar-benar dikepung oleh geliat komersialisme. Perubahan memang tidak bisa dielakkan, tapi coba bayangkan jika semua tempat di dataran tinggi Jawa berubah seperti kawasan Puncak yang gaduh. Akankah kita ziarah ke luar negeri saja, sementara di negara kita sendiri ada begitu banyak tempat yang bisa dijadikan daerah peziarahan. Dan rasanya, seperti kata Ir. Johan Silas, Pohsarang bukan hanya monumen kebudayaan gereja, tapi juga monumen negara yang layak dipertahankan.

Harapan di Jita

comments 9
Papua

Halimun yang menyelimuti langit Mimika pagi itu tak kunjung sirna juga. Untunglah ini bukan perjalanan ke dataran tinggi. Peralatan navigasi yang paling canggih dan pilot yang nekad pun tidak akan bisa menaklukkan pegunungan tengah Papua.

Kurang lebih 20 menit kemudian helikopter kami mulai mencapai tujuan. Pilot mulai mencari lokasi pendaratan. Jalanan kampung mulai dipenuhi anak-anak yang girang melihat helikopter. Kami langsung berlompatan keluar dari helikopter disambut deru angin kencang dari helikopter dan rumput yang basah. Di sekeliling kami sudah banyak orang. Tidak lama kemudian helikopter langsung melanjutkan perjalanan ke Akimuga.

Yang turun di Jita antara lain; aku dan Bu Vonny dari Biro Pendidikan LPMAK, Pak Paul dari Yayasan Binterbusih Semarang dan Bu Linda dari SMU Lokon Manado.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami mendatangi beberapa sekolah di daerah pedalaman untuk melakukan rekrutmen peserta beasiswa LPMAK. Menurut informasi dari Kepala sekolah SMPN Jita, ada 12 siswa kelas 3 di Jita yang kiranya bisa ikut rekrutmen beasiswa LPMAK.

Setiba di rumah Pak Donatus untuk menaruh barang-barang, kami diberitahu bahwa beberapa anak kelas 3 sudah pergi ke Sumapro, kampung sebelah yang jaraknya kira-kira dua jam perjalanan lewat sungai. Beberapa lagi sudah ke Timika menumpang pesawat. Ada juga yang ke Akimuga mengikuti acara peresmian gereja. Sisanya hanya ada 3 anak saja. Itu pun masih harus dicari.

Akhirnya kami putuskan untuk menunda tes hingga keesokan hari. Sekalian memberi waktu bagi seorang guru yang pergi berangkat ke Sumapro untuk mencari anak-anak. Setelah disepakati demikian, rombongan kami mengatur barang-barang bawaan di rumah pak guru. Di saat seperti itu, kami akan mendapatkan banyak sekali informasi dari masyarakat. Dan inilah beberapa hal tentang Jita yang sempat aku catat:

Jita adalah distrik paling timur di wilayah dataran rendah Kabupaten Mimika. Perjalanan dua jam dengan speedboat ke arah timur kita sudah akan tiba di Agats, Asmat. Kampungnya cukup bersih. Bahkan bisa dibilang asri, karena hampir di sepanjang jalan kampung dihiasi oleh tanaman hias. Jalannya juga tidak becek. Mungkin karena ada parit di kedua sisi jalan.

 

Halaman sekolah SD Inpres Jita

 

Jalan kampung di Jita; bagus dan bersih

Bukan hanya orang Kamoro yang tinggal di Jita. Orang Amungme dan Nduga juga banyak yang tinggal di Jita. Menurut cerita, mereka adalah orang-orang Amungme yang meninggalkan Akimuga pada masa konflik tahun 1974-1975. Ada seseorang yang menuturkan, dengan menurunkan nada suaranya, bahwa orang-orang Amungme di Jita adalah orang-orang hutan yang kurang suka dengan pemerintah Indonesia. Aku pernah dengar ungkapan semacam itu, lebih halus malah, seperti “saudara-saudara kita yang tinggal di hutan”.

Dari rumah pak guru nampak kantor distrik yang sepertinya masih baru, pos tentara 754/Eme Neme Kangasi, kantor Koramil Jita, dan dua buah bangunan sekolah. Satu buah bangunan sekolah nampak sudah tidak terawat, satu lagi masih nampak bagus.

Di SD itulah, Pak Donatus bertugas sebagai guru sekaligus menyandang jabatan Kepala Sekolah SD dan SMP sekaligus sementara karena katanya Pak Kepala Sekolah sedang sakit. Pak Donatus dibantu beberapa bu guru muda yang penuh semangat, antara lain Bu Juwita dan Bu Marlin.

Keesokan harinya, beberapa anak dari Sumapro dan dari Jita sendiri sudah berkumpul di sekolah. Tes penerimaan beasiswa LPMAK akhirnya bisa dimulai. Sementara tes, aku dan Bu Vonny berjalan melihat-lihat bangunan SD dan SMP.

Di halaman SD, Bu Marlin rupanya sedang mengumpulkan anak-anak SD di depan sekolah untuk kerja bakti. Anak-anak itu berlarian dari arah kampung sambil membawa parang. Uniknya, ada satu anak perempuan yang membaw a buku dengan warna cerah yang sepertinya aku kenal. Ternyata benar, anak itu membawa Buku Pengharapan, buku sekolah minggu yang juga sedang aku bagikan di Timika. Buku itu kiriman dari seorang teman di Makassar.

Anak-anak Jita

Menurut Bu Marlin, dia juga mendapatkan buku itu dan mengedarkannya untuk anak-anak di Jita. Dari buku itu, selain belajar agama, anak-anak juga terbantu belajar membaca. Guru juga memiliki semacam media yang lebih mengena bagi pengajaran anak-anak. Kenapa lebih mengena? Tanyaku pada bu guru yang sudah mengajar sejak tahun 2005 itu. “Karena anak-anak suka gambar dan kisah-kisah yang diceritakan,” kata Bu Marlin.

Media belajar memang masalah tersendiri di sekolah pedalaman di Papua. Sering sekali aku melihat sekolah yang sebenarnya memiliki buku dan alat peraga yang lumayan, tapi karena konteks dalam buku-buku pelajaran kurang nyambung dengan konteks di Papua; guru jadi ragu mengajar, murid jadi seret ilmu. Kalau Anda bilang bahwa sebenarnya dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sudah ditetapkan pemerintah, guru mestinya harus lebih kreatif, Anda perlu melihat penerapannya di sekolah-sekolah seperti di Jita ini.

Di Jita ini, modal awal sebenarnya sudah cukup, dengan adanya guru-guru muda yang bersemangat seperti Bu Marlin dan Bu Juwita. Tapi tanpa dukungan buku dan media belajar yang sesuai dengan konteks Papua maka tugas guru-guru itu akan semakin berat.

Kakak adik

 

Di perpustakaan SMP Negeri Jita misalnya, tumpukan buku di rak ternyata lebih banyak diisi buku-buku umum dan buku pelajaran untuk Kejar Paket A dan B. Aku tidak sampai hati bertanya soal dana BOS yang mestinya bisa digunakan untuk beli buku. Seharusnya para pengawas sekolah yang mampir ke sekolah ini dan para pembuat kebijakan pendidikan di Jakarta sana yang berpikir bahwa guru dan buku yang berkualitas jauh lebih berharga bagi masyarakat katimbang gedung dan seragam merah putih.

Di akhir obrolan, Bu Marlin menitipkan pesan kepadaku untuk mendapatkan buku pengharapan, khususnya buku pegangan guru. Bu Juwita juga meminta hal yang sama. Aku jadi sungkan. Lha wong yang di Timika, aku belum tahu pasti apakah buku yang sudah aku bagi ke beberapa teman itu sudah efektif terpakai atau belum.

Usai tes penerimaan beasiswa LPMAK, langit Jita kembali diselimuti halimun. Anak-anak SD dan SMP mulai pulang ke rumah masing-masing. Semoga mereka masih bisa meraih masa depan sekalipun kabut menutup jalan mereka.

Buku Foto-foto Papua

comment 1
Buku / Papua

Ini sepertinya buku kumpulan foto tentang Papua dalam format “coffee table book” pertama yang aku lihat.

Halaman-halaman luas di dalam buku ini kebanyakan diisi satu foto saja, dengan keterangan yang minim. Pembaca seolah diajak mengisi sendiri caption foto di dalam otak mereka.

Saking besar dan hegemoniknya foto-foto di buku ini, aku dengan enaknya melewatkan halaman prolog dan epilog. Tindakan yang cukup goblog, semoga tidak kamu ikuti jika kebetulan membeli atau membaca buku ini suatu saat.

Sepertinya buku ini lebih cocok dibeli pemilik usaha warung kopi atau bidang jasa apapun yang memiliki ruang tunggu yang nyaman. Sambil menunggu giliran, kamu bisa melihat panorama danau Sentani hingga rumah panggung orang Korowai. Aku sendiri membaca buku ini sambil menunggu pertemuan dengan Uskup Timika, Mgr. John Philip Saklil di rumahnya.Bagaimanapun juga, buku ini sangat efektif untuk membuka awal ketertarikan terhadap Papua. Apalagi di tengah minimnya buku-buku tentang Papua di Indonesia.

Yang bikin namanya Bekto Suprapto. Seorang fotografer tentunya.

Satu Tanah Beda Kisah; Antara Sepik dan Mamberamo

comments 2
Papua

Ini sudah kedua kalinya aku nonton acara di Natgeo soal kehidupan masyarakat di bantaran sungai Sepik, Papua Nugini. Yang pertama adalah orang Inggris yang sudah lama tinggal di sebuah kampung di Sepik lalu ganti mengajak beberapa orang Sepik ke Inggris. Sedangkan yang kedua adalah tiga pemuda Kanada yang menelusuri Sungai Sepik dan tinggal di sebuah kampung.

Kebudayaan masyarakat Sepik kaya sekali. Karya kriya mereka sama cantiknya dengan karya orang Asmat dan Kamoro di Papua. Sekalipun sebenarnya varian bentuk dan warnanya sepertinya lebih banyak ragam. Yang paling membuat bule-bule itu tercenung adalah rumah adat “Haus Tambaran” dan tradisi inisiasi masyarakat Sepik. Haus Tambaran itu seperti rumah bujang yang sering aku lihat di Timika sini. Bedanya Haus Tambaran lebih kaya ornamen katimbang rumah bujangnya orang Amungme. Sedangkan tradisi inisiasi itu adalah tradisi tato. Secara teknis bisa dibilang tato, tapi tanpa tinta dan dibuat dengan mencacah kulit hingga ketika kering meninggalkan bilur-bilur yang abadi di badan.

Dengan bahasa Pidgin (Bahasa Inggris ala Papua Nugini) yang unik itu, seorang pria menjelaskan bahwa bilur-bilur yang membujur dari pundak hingga pundak itu motif buaya. Motif khas di kebudayaan Papua yang dihidupi sungai, seperti orang Kamoro di Papua.

Menurut keterangan di Wikipedia, sungai Sepik ini adalah sungai yang terpanjang di seantero Tanah Papua. Bahkan sebagian anak sungai Sepik mengalir hingga ke Papua sisi Indonesia.  Hulu sungai terletak di dataran tinggi Papua Nugini. Uniknya, sungai ini tidak memiliki delta. Langsung saja aliran sungai itu menumpahkan diri ke laut Bismarck di utara Papua Nugini.

Di akhir acara soal sungai Sepik, saat tiga pemuda Kanada itu kembali ke kota dengan pesawat, aku jadi mikir; bukankah di Papua juga ada sungai Mamberamo, yang tentunya tidak kalah menariknya dengan sungai Sepik di Papua Nugini? Tapi kenapa yang sering muncul di Natgeo sungai Sepik dan bukannya sungai Mamberamo?

Sungai Mamberamo mengalir dari pegunungan Van Rees ke utara hingga ke Samudra Pasifik. Berbeda dengan Sepik, sungai Mamberamo memiliki daerah delta sungai yang cukup luas. Sungai Mamberamo adalah tlatah beberapa suku dan banyak sekali flora-fauna. Di muara sungai Mamberamo inilah, seorang penjelajah Spanyol bernama Ynigo Ortiz de Retez pada tahun 1545, memberi nama Nueva Guinea dan mengklaimnya sebagai daerah kekuasaan Kerajaan Spanyol.

Konon, pemerintah Indonesia pernah berniat membangun bendungan besar di sungai Mamberamo. Tapi niat itu digagalkan krisis ekonomi 1998. Andaikan niat itu terwujud, entah seperti apa dampaknya pada sungai Mamberamo dan Papua secara keseluruhan.

Dalam sebuah perjalanan dengan pesawat dari Jayapura ke Manokwari, aku pernah melihat langsung sungai Mamberamo. Dari atas nampak seperti serombongan ibu-ibu Papua yang pergi ke pasar dengan tenang. Sementara itu samudra Pasifik dengan tenang menanti di utara.

Rasanya berlebihan jika berharap bahwa pemerintah Indonesia atau pemerintah provinsi Papua akan melihat sungai Mamberamo dari sudut pandang yang berbeda. Terlebih di saat pemerintah provinsi Papua begitu gencarnya memodernisasi daerahnya dengan pemekaran dan penetrasi modal ke daerah-daerah pedalaman.

Dengan cara pandang macam itu, keanekaragaman hayati dan kekayaan kebudayaan sungai akan macet tak lagi mengalir, seperti halnya sungai Ajkwa di Timika. Padahal masih ada jalan tengah pemanfaatan sungai dengan lebih bijak.

Bagaimanapun juga, sekalipun satu tanah, Mamberamo di barat dan Sepik di timur telah memiliki jalur sejarahnya sendiri-sendiri. Entah di mana muaranya.

Di Bantimurung

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Tentang kota
Teks: Aan Mansyur
Foto: Onny Wiranda

Di Bantimurung, tadi pagi, aku bertemu banyak bunga, hujan, dan kupu-kupu. Semua nampak murung.

Di Gua Mimpi, entah kenapa namanya seperti itu, aku melihat sepasang kekasih berciuman.

 

Di Museum Kupu-Kupu, ada ratusan jenis kupu-kupu langka beku di dalam kotak kaca.

 

Di dekat tempat parkir, di kios-kios kecil, banyak kupu-kupu jadi gantungan kunci dan baju kaos.

 

Di gerbang, ada monyet dan kupu-kupu raksasa yang mengangkang di atas mobil-mobil yang lewat.

 

Di bawah sungai terjun Bantimurung banyak gadis-gadis risih karena baju mereka basah dan lengket.

 

Di antara tebing-tebing batu yang tinggi dan diam, di Bantimurung, banyak pasangan bermesraan. – (Sayang lupa bawa kamera. :D)

Di tangga, dekat air terjun, ada seorang ibu terpeleset, jatuh, dan menangis. 😦

Mahasiswa Papua Jadi Guru Les di Jawa

Leave a comment
Papua

Oleh: Rm. Aria Prabantara

Catatan: Tulisan ini berasal dari sebuah milis dan dimuat di sini atas seizin Rm. Teguh Budiarto, Sj. Selain penambahan keterangan tempat dan proofreading, tidak ada perubahan yang saya lakukan atas tulisan ini.

Senin, 4 April 2011
Ketika saya mengunjungi Universitas Sanata Dharma kampus Paingan, Yogyakarta saya bertemu dengan Agustian Tatogo, anak asrama, lulusan SMA Adhi Luhur, Nabire, Papua, angkatan 2010. Saya bermain ke kos-nya di dekat Wisma Paingan. Setelah kami ngobrol lama Agus bercerita bahwa nanti sore dia akan memulai kegiatan les untuk anak-anak SD kelas 3. Pembicaraan mulai menjadi lebih menarik. Agus berinisiatif untuk memberi les pada anak2 SD sbg persiapan kelak kalau dia harus KKN atau praktik mengajar. Dia mulai menawarkan jasanya ini pada ibu penjual makanan di warung. “Bu, apakah saya bisa membantu memberi les anak ibu?” Dan sang ibu itu dengan senang menyambut tawaran Agus. “Bayarnya berapa, mas?” Agus menjawab, “Oh kali ini belum bayar, bu.”

Usaha Agus tidak hanya sampai di situ. Dia mendatangi pak RT dan mengutarakan niatnya ini, dan pak RT membantu Agus  mencarikan anak-anak seusia kelas 3 SD. Jadilah Agus menjadi guru les.Maka sore itu saya terdorong untuk mengikuti dari dekat sepak terjang pak guru Agus ini. Pukul 15.30 Agus mulai menjemput murid-muridnya itu, dari rumah ke rumah. Saya menunggu di kosnya. Dari jauh terlihat Agus datang dengan membawa 2 orang muridnya, Ali dan Rama.

Sore itu saya melihat pemandangan indah. Agus yang dulu adalah salah satu murid di SMA Adhi Luhur, Nabire, sekarang mulai muncul sebagai guru muda yang memulai langkahnya. Ali dan Rama tidak terlihat canggung. Mereka dengan bebas “bermain” di kamarnya Agus. Agus juga sudah mulai mengenal beberapa kata dalam Bahasa Jawa, dan seringkali dia menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi dengan anak-anak itu. “Piye isa po ra? Endi sing angel?”.

Agus berusaha dengan segenap upayanya untuk menerangkan penjumlahan dan pengurangan. Memang masih terlihat kaku namun Agus berusaha untuk memberikan yang terbaik. Tidak ada meja, tidak ada papan tulis besar. Mereka duduk di lantai yang beralaskan plastik dan sebuah whiteboard kecil.

Maka sore itu Agus, Muh. Ali, dan Ramandani memulai perjalanan baru mereka sebagai komunitas masyarakat belajar.

Salam.

#Fiksiminthi

Leave a comment
Current issues / Web 2.0

© Lantip

Layaknya di rimba Papua sini, jagat Twitter dipenuhi berbagai macam kicauan. Mulai dari yang merdu hingga yang parau, ada yang mengalun tertata ada juga yang seperti racauan tanpa pola. Ada juga sepertinya yang kepengen jadi burung elang atau burung hantu, menjerit dan mengeluarkan suara aneh di saat-saat tertentu. Di saat tertentu malah terdengar kayak suara kodok. Meriah lah pokoknya.

Tapi semenjak beberapa minggu ini, ada sekelompok pekicau aneh yang muncul. Kemunculannya diawali oleh beberapa pemuda dengan latar belakang berbeda-beda; ada yang penulis, petualang, wartawan, musisi, praktisi IT,  dan pekerja biasa.

Aku sudah tidak bisa melacak diskusi awal mereka dengan lebih jelas hingga akhirnya mulai ramai kicauan yang diberi tagar #Fiksiminthi.

Nama itu jelas-jelas mengingatkan orang pada Fiksimini, gerakan kicauan yang sudah sangat populer di Twitter. Anehnya, sekalipun aku suka membaca dan menulis, aku tidak pernah ikut membuat Fiksimini. Aku hanya membaca dan mencoba menemukan semacam pola yang bisa aku ikuti agar bisa membuat Fiksimini.

Bedanya dengan Fiksimini, #Fiksi yang diikuti dengan kata minthi ini tidak memiliki akun Twitter sendiri. Mungkin para pencetusnya ingin fiksi ala mereka jadi seperti minthi (Bhs Jawa; anak bebek), bebas bermain dan berkeliaran kemana saja sesuka mereka.

Nah itu juga perlu aku jelaskan, “fiksi ala mereka”. Mereka yang aku maksud itu tentu saja sekelompok orang yang aku jelaskan sebelumnya dan nampak bukan seperti sekumpulan orang yang menggilai fiksi. Mereka punya dunianya sendiri-sendiri.

Fiksi dalam dunia mereka adalah bagian keseharian yang berfungsi seperti gambar bongkar pasang; bisa ditemukan dalam kepingan kenyataan/perjumpaan yang aneh atau sebagai tambal bagi kolom berita atau siaran televisi yang semakin lama semakin janggal.

#Fiksiminthi bahkan punya manifesto. Begini bunyinya; ‘boleh SARA, boleh ngawur, boleh ga ikut, yang penting ga boleh serius”. Manifesto itu lalu diperjelas oleh surat edaran seorang mantan Juri #Fiksiminthi, katanya; sastra itu terlalu penting jika hanya dipercayakan pada sastrawan.

Mau ga mau, yang diimani #Fiksiminthi ini membuatku teringat pada sebuah majalah sastra. Semangat majalah itu dan para penulisnya memiliki pemahaman yang mirip #Fiksiminthi ini, suka sastra atau nulis ga harus jadi orang yang “nyastra”, yang penting bisa menemukan cara baru pengungkapan dan penulisan.

Bagiku, #Fiksiminthi ini cara baru ngudari dan ngunyah berbagai kejadian yang membingungkan di indonesia; bom buku, penindasan Ahmadiyah, pembakaran gereja. Semua kelihatannya acak tapi setelah dikunyah-kunyah sambil tiduran atau ngobrol sama istri, ternyata bisa juga dipahami dengan akal sehat.

Dipahami thok? Ya karepmu. Yang jelas pemahaman itu akan membantumu melakukan sesuatu, mulai dari diskusi, nulis, demo sampe nge-twit.

Selamat berminthi-minthi….

???

VP Book Club

Leave a comment
Buku / Web 2.0

Tampilan situsweb VP Book Club

Halaman awal situsweb penerbit Viking ini mengingatkanku pada sebuah kafe di Yogya. Kalo ga salah namanya Deket Rumah. Entah sekarang masih ada atau ga. Kalau kamu di Yogya tolong cek dan kabari aku.

Yang jelas kafe itu dipenuhi buku. Terkadang di meja ada buku dari pengunjung sebelumnya yang belum sempat atau malas mengembalikan, yang terus akan aku baca-baca. Kalau tidak menarik aku akan bergerak ke rak-rak buku.

Bedanya dengan kafe itu, situsweb ini tidak meminjamkan buku tapi menjual, dan hanya dari penerbit Penguin dan Viking Press.

Selamat menjelajah, selamat membaca di akhir pekan…

Pasar Bagi Mama-mama Papua

Leave a comment
Papua

Terakhir kali aku ke Jayapura dua tahun lalu, lahan kosong di depan Gelael Supermarket dipenuhi mama-mama Papua yang berjualan sayur dan hasil kebun lainnya.  Seperti layaknya mama-mama Papua yang aku lihat di Timika, mereka menggelar dagangan di tanah beralaskan terpal. Lesehan kalau orang Jawa bilang.

Jumlah barang yang mereka perdagangkan tidak banyak. Misalnya; kalau jual sayur ya paling cuma tiga jenis sayur saja, kalau jual pinang ya cuma pinang dan pendukungnya. Saat itu aku jadi membayangkan, apa jadinya pasar ini kalau hujan turun.

Pasar Sementara Mama-mama Papua di Jayapura

Tapi sepertinya orang Jayapura lebih memilih pergi ke pasar di Jl.Percetakan untuk mendapatkan kebutuhan mereka. Di situ memang ada jauh lebih banyak yang bisa dibeli, mulai dari sayur mayur yang sangat segar, ikan asar, buah merah, sarang semut, kornet dari Papua Nugini, dll.

Sama seperti di depan Gelael, penjual sayur di pasar Jl.Percetakan itu sepertinya didominasi mama-mama dari Wamena. Kabarnya, mereka sekarang banyak bermukim dan membuka kebun di bukit-bukit di sekitar Jayapura. Sedangkan yang berjualan ikan sepertinya orang Jayapura sendiri.

Saat itu, aku membeli beberapa ekor ikan asar lima sebagai oleh-oleh untuk teman di Timika. Tapi kali ini aku tidak memilih untuk tidak membeli apa-apa. Tujuanku cuma satu; beli buku dan kartu pos di Gramedia. Tapi dalam perjalanan dari hotel menuju Gramedia, ada satu bangunan di sebelah kanan jalan yang menarik perhatianku, sebuah tenda besar berwarna putih. Di depannya ada papan besar bertuliskan “Pasar Sementara Mama-mama Papua”. Seingatku lokasi berdirinya tenda besar putih dulunya bangunan. Sepertinya sengaja dirubuhkan untuk pendirian tenda itu.

Tenda Putih Pasar Sementara Mama-mama Papua

Kata temanku, pasar yang dipayungi tenda itu belum lama dibuka. Tenda itu didatangkan dari Singapura. Acara peresmian sempat diwarnai demonstrasi para mama-mama yang katanya tidak puas dengan pasar itu. Saat itu, aku mengira karena lokasinya yang kalah strategis dibandingkan lokasi sebelumnya. Setelah baca-baca di internet, ternyata karena fasilitas pendukungnya yang kurang memadai, seperti air dan listrik. Sekalipun tenda bagus itu membuat mama-mama Papua terlindung dari hujan dan panas, bisa dibayangkan repotnya berjualan tanpa ada air bersih dan listrik.

Pasar Jl. Percetakan (Pasar Hamadi?) Jayapura

Terlepas dari berbagai kekurangan kedua pasar yang aku kunjungi di Jayapura, kondisinya masih jauh lebih bagus dari Pasar Swadaya di Timika yang kini sudah rata tanah. Di Pasar Swadaya, mama-mama Papua menggelar dagangannya di pelataran pasar yang becek dan berdebu. Sementara kios-kios di bagian dalam pasar ditempati oleh para pendatang.

Pasar Swadaya yang legendaris itu akhirnya tak berdaya menghadapi gempuran kebakaran bertubi-tubi (pada tahun 2009 saja pasar itu terbakar dua kali!). Dalam sebuah kebetulan yang aneh, kebakaran yang kedua kali pada tahun 2009 bertepatan dengan selesainya pembangunan Pasar Sentral Timika.

Pasar Sentral Timika

 

Mama penjual sayur di Pasar Sentral Timika

Pasar Sentral Timika dibangun sejak 2007 di atas lahan seluas lima hektar di kawasan Sempan, pinggiran Timika. Rencananya, Pasar Sentral mampu menampung sekitar 700 pedagang.

Sepeninggal Pasar Swadaya, jumlah pasar “semi-sentral” di Timika ternyata malah bertambah. Untuk mereka yang tinggal di utara Timika, bisa menjual hasil buminya atau membeli kebutuhan di pasar SP 2 yang ramai setiap sore. Sedangkan bagi yang tinggal di Timika, bisa pilih ke Pasar Sentral atau lapak-lapak pedagang yang tersisa di sekitar bekas lahan Pasar Swadaya.

Kondisi pasar-pasar itu serupa dengan almarhum Pasar Swadaya; kotor dan becek. Entah kapan Pemerintah Kabupaten Mimika membenahi pasar-pasar itu. Yang jelas, mama-mama Kamoro dan Amungme akan terus setia membawa hasil bumi dari pantai dan gunung ke Timika.