Mahasiswa Papua Jadi Guru Les di Jawa

Leave a comment
Papua

Oleh: Rm. Aria Prabantara

Catatan: Tulisan ini berasal dari sebuah milis dan dimuat di sini atas seizin Rm. Teguh Budiarto, Sj. Selain penambahan keterangan tempat dan proofreading, tidak ada perubahan yang saya lakukan atas tulisan ini.

Senin, 4 April 2011
Ketika saya mengunjungi Universitas Sanata Dharma kampus Paingan, Yogyakarta saya bertemu dengan Agustian Tatogo, anak asrama, lulusan SMA Adhi Luhur, Nabire, Papua, angkatan 2010. Saya bermain ke kos-nya di dekat Wisma Paingan. Setelah kami ngobrol lama Agus bercerita bahwa nanti sore dia akan memulai kegiatan les untuk anak-anak SD kelas 3. Pembicaraan mulai menjadi lebih menarik. Agus berinisiatif untuk memberi les pada anak2 SD sbg persiapan kelak kalau dia harus KKN atau praktik mengajar. Dia mulai menawarkan jasanya ini pada ibu penjual makanan di warung. “Bu, apakah saya bisa membantu memberi les anak ibu?” Dan sang ibu itu dengan senang menyambut tawaran Agus. “Bayarnya berapa, mas?” Agus menjawab, “Oh kali ini belum bayar, bu.”

Usaha Agus tidak hanya sampai di situ. Dia mendatangi pak RT dan mengutarakan niatnya ini, dan pak RT membantu Agus  mencarikan anak-anak seusia kelas 3 SD. Jadilah Agus menjadi guru les.Maka sore itu saya terdorong untuk mengikuti dari dekat sepak terjang pak guru Agus ini. Pukul 15.30 Agus mulai menjemput murid-muridnya itu, dari rumah ke rumah. Saya menunggu di kosnya. Dari jauh terlihat Agus datang dengan membawa 2 orang muridnya, Ali dan Rama.

Sore itu saya melihat pemandangan indah. Agus yang dulu adalah salah satu murid di SMA Adhi Luhur, Nabire, sekarang mulai muncul sebagai guru muda yang memulai langkahnya. Ali dan Rama tidak terlihat canggung. Mereka dengan bebas “bermain” di kamarnya Agus. Agus juga sudah mulai mengenal beberapa kata dalam Bahasa Jawa, dan seringkali dia menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi dengan anak-anak itu. “Piye isa po ra? Endi sing angel?”.

Agus berusaha dengan segenap upayanya untuk menerangkan penjumlahan dan pengurangan. Memang masih terlihat kaku namun Agus berusaha untuk memberikan yang terbaik. Tidak ada meja, tidak ada papan tulis besar. Mereka duduk di lantai yang beralaskan plastik dan sebuah whiteboard kecil.

Maka sore itu Agus, Muh. Ali, dan Ramandani memulai perjalanan baru mereka sebagai komunitas masyarakat belajar.

Salam.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s