Ziarah ke Pohsarang

comment 1
Catatan Perjalanan / Keluarga

Perjalanan lumayan melelahkan selama kurang lebih 3 jam dari Surabaya itu mulai terasa impas ketika mobil yang kami kendarai akhirnya menyentuh jalanan aspal halus di jalan ke arah Kediri. Jalan itu akan kamu temui setelah lepas dari kota Jombang.

Tidak ada lagi jalanan bergelombang dan berlubang serta bis dan truk yang melaju kencang. Pengendara motor tidak banyak dan hampir semuanya berkendara dengan tertib tidak terburu-buru. Istriku bisa tidur setelah selama 3 jam menjadi navigatorku menghadapi rute yang tidak terlalu aku kenali ini. Sekalipun demikian, kamu masih harus waspada, apalagi di malam hari, karena tidak ada lampu jalan yang membantu penglihatan.

Ini adalah perjalanan pertamaku ke Kediri setelah bertahun-tahun silam, di masa kecilku. Yang aku ingat dari Kediri saat itu hanyalah sebuah jalan yang dihiasi gapura Majapahit  serta warna dan rasa khas tahu Kediri. Sebelum berangkat aku sempat bertanya ke beberapa orang, adakah jalan semacam itu di Kediri? Kebanyakan menjawab tidak pernah melihatnya. Entahlah, mungkin itu adonan ingatan masa kecil yang terlalu banyak tercampur mimpi.

Menjelang memasuki kota Kediri, aku dan istriku dikejutkan oleh deretan pagar yang panjang sekali. Rupanya itu kompleks pabrik sebuah merek rokok yang aku gemari. Kompleks bangunan itu baru berakhir di sebuah jalan yang sepertinya adalah jalan lingkar luar kota Kediri. Kami terus melaju, melewati jalan menikung ke kanan yang mengarah ke Pohsarang. Ada kota yang ingin aku kunjungi terlebih dahulu.

Jalanan kotanya cukup bersih, dihiasi barisan pepohonan dan trotoar yang cukup lebar. Istriku senang sekali melihat Kediri. Saking senangnya bahkan sampai bilang kalau mau tinggal di Kediri. “Apalagi kalau ada mal, pasti lebih asyik…” imbuhnya kemudian.

Tidak lama kemudian kami mengarah ke sebuah jalan yang mirip sekali dengan kawasan Pecinan kota Malang, tapi lebih bersih dan teratur. Lalu kemudian sebuah bangunan yang mirip mal. Istriku senang sekali. Tapi semakin dekat nampak bahwa itu ternyata bukan mal. Dia masih senang, tapi agak lesu.

Sebuah alun-alun dan jembatan besi besar menggiring kami ke jalan menuju Pohsarang. Jalan semakin mengecil hingga akhirnya kami melihat sebuah papan bertuliskan Goa Maria Lourdes dan penunjuk untuk berbelok ke arah kiri. Jarak dari kota Kediri ke Pohsarang kurang lebih 10 km.

Kami tiba di tempat peziarahan Pohsarang sekitar jam 8 malam. Di luar dugaanku, gereja dengan arsitektur menarik yang sering aku lihat di buku dan internet itu ternyata pas berdiri menghadap jalan. Gereja yang didirikan tahun 1936 itu didesain oleh Ir. Henricus Maclaine Pont. Adalah Romo Jan Wolters, CM yang meminta Ir. Henricus untuk mengintegrasikan kebudayaan Jawa dalam bangunan gereja.

Atap gereja Pohsarang

Tidak banyak aku lihat bangunan Belanda yang sangat berhasil memadukan keanggunan arsitektur Jawa dan kekokohan arsitektur Eropa. Gereja Pohsarang tidak sekedar menempatkan ornamen Jawa, tapi alam pikiran budaya Jawa.

Kecintaan Romo Wolters akan budaya sepertinya lestari hingga kini. Tidak jauh setelah memasuki jalan kecil yang memisahkan gereja dan susteran, kita akan bertemu sebuah ruang terbuka dengan kanopi dengan struktur baja yang menyerupai tenda dan atap yang memiliki kesamaan bentuk dengan gereja Pohsarang. Sayang aku lupa memotret bangunan itu.

Gereja Pohsarang

Kami agak kaget bahwa di sisi kanan dan kiri jalan menuju bangunan itu, terletak sebuah pemakaman. Kaget yang tidak menimbulkan rasa ngeri.

Setelah itu kami kembali ke jalan setapak menuju Gua Maria. Deretan kios penjual suvenir dan kebutuhan peziarah mulai nampak. Hal yang maklum kita temui di tempat peziarahan semua agama. Di sebuah kios, kami berhenti untuk membeli lilin dan bertanya lokasi Columbarium (tempat persemayaman abu jenazah).

Pemakaman

Columbarium itu terletak di dataran yang lebih rendah dari jalan setapak yang kami tempuh. Di situ bersemayam abu jenazah umat Katolik serta makam para Romo dan Uskup. Di siang hari, kita bisa melihat-lihat makam para romo dan uskup Keuskupan Surabaya.

Bunga untuk Mama

Istriku dengan mudah menemukan kotak tempat bersemayamnya abu jenazah mamanya. Aku menyalakan dan menaruh dua lilin di depannya. Suasana tenang menjadi latar kami mengenang dan memanjatkan doa bagi mama.

Usai menengok mama, kami pergi ke Gua Maria Lourdes. Ada beberapa peziarah lain yang sedang datang malam itu. Tidak banyak kursi yang tersedia di area luas depan patung Bunda Maria. Jika ingin berdoa atau meditasi, baiknya membawa alas sendiri.

Patung Bunda Maria di Taman

Keesokan harinya, sebelum kembali ke Surabaya, kami menyempatkan diri ke Pohsarang lagi. Gereja dengan arsitektur unik itu nampak anggun dan selaras dengan alam budaya Jawa. Penempatan lokasinya juga pas. Dia seolah memangku kompleks pekuburan yang berada di dataran lebih rendah dan menjadi gerbang sebelum menuju Gua Maria. Tapi sayangnya, komplek pekuburan masyarakat umum itu kondisinya agak kurang terawat. Ada beberapa nisan yang rusak tertimpa batang pohon.

***

Sementara Pohsarang berusaha selaras dengan kebudayaan dan alam Jawa, pertumbuhan daerah sekitarnya menunjukkan kebalikannya. Di sepanjang jalan mulai banyak berdiri rumah-rumah besar, tempat belanja oleh-oleh khas Kediri, kantor perusahaan dan sebuah hotel (sepertinya bintang tiga) yang sedang menyelenggarakan pertemuan para salesman sebuah perusahaan MLM.

Jika tidak ditata dengan baik, bukan tidak mungkin dalam waktu 10 tahun, tempat peziarahan ini akan benar-benar dikepung oleh geliat komersialisme. Perubahan memang tidak bisa dielakkan, tapi coba bayangkan jika semua tempat di dataran tinggi Jawa berubah seperti kawasan Puncak yang gaduh. Akankah kita ziarah ke luar negeri saja, sementara di negara kita sendiri ada begitu banyak tempat yang bisa dijadikan daerah peziarahan. Dan rasanya, seperti kata Ir. Johan Silas, Pohsarang bukan hanya monumen kebudayaan gereja, tapi juga monumen negara yang layak dipertahankan.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

1 Comment

  1. nadiasa says

    Kalau masuk ke pusat kota, sudah ada beberapa shopping mall🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s