Author: Onny Wiranda

Liburan ke Rumah Nandan

Leave a comment
Tentang kawan / Tentang kota

Bahkan cuma untuk berkhayal mau berlibur ke mana kamu tidak bisa? Wah, ndul, hidupmu sudah sampai pada tahap yang mengerikan. Jalan-jalan ke Nandan, yuk. Udah lama ga ke sana. Suasana pagi di Gang Nandan, atau Gang Nanas ya, Dod? Kalo ga salah nama buah-buahan gitu kan? Setelah rumah sebelah kanan itu ada warung tempat kita biasa beli kebutuhan sehari-hari, mulai dari air mineral, rokok, kue keju bantal. Jalan lurus belok kanan kamu akan sampai di […]

Menyusuri Lorong-Lorong Dunia, Kumpulan Catatan Perjalanan (Jilid 2)

Leave a comment
Buku / Web 2.0

Judul: Menyusuri Lorong-Lorong Dunia, Kumpulan Catatan Perjalanan. Jilid-2Penulis: Sigit SusantoPenyunting: Puthut EAKolasi: I, Maret 2008, 5x21cm,xvi+477 hal.Harga: Rp. 45.000 Sampulnya tidak jauh berbeda dari jilid pertama. Kalau mau tahu artinya lebih baik tanya kawan-kawan INSISTPress saja. Kemarin mampir di Petra Togamas kok belum ada, ya? Piye iki, ban? Padahal sekarang kan lagi demam smart travelling. Bulb:Para petualang sejati adalah mereka yang bukan hanya melihat sebuah tempat dari sudut pesta raga: eksotika dan tamasya kuliner saja. […]

Jalanan Sepi Sekali

comment 1
Tentang kawan

Beberapa kawan menyampaikan hal yang cukup jadi pecutan buatku. Awang bilang soal ”romantisme cari duit”; Iwan mengutip Ali Shariati, menulis: make a meal for more than you; Puthut bilang “anak muda kok malem minggu pacaran.” Seperti kuda yang kena pecut aku terhenyak dan berlari. Lari kemana aku sungguh tak tahu… Aku cuma ingin berlari jauh, melihat kota berganti desa, wajah payah menjadi wajah cerah, air yang mampat di got menjadi air yang mengalir, padang rumput […]

Kembalikan Mereka

comments 2
Tentang kawan

Bila kau malu-malu mengakui dan mengenang “zaman perjuangan”, maka sejarah generasimu akan ditelan bulat-bulat oleh kemegahan Angkatan ’66. Bukan untuk meniadakan, tapi mengkritisi bahwa generasi kita jauh lebih “berdarah-darah” karena…tentara di depan kita dan bukan di belakang kita. Raudal Tanjung Banua

Jalan Semarang, Satu Lagi Lembaran Surabaya yang Hilang

comments 3
Tentang kota

Sebagai seorang mahasiswa jurusan desain, Hermawan merasa perlu mengembangkan pengetahuan grafisnya. Selain internet, tempatnya menimba ilmu adalah buku atau majalah desain dari luar negeri. “Kalau beli yang baru dan dari luar negeri, harganya mahal banget, deh.” tutur Hermawan di sebuah siang di Jalan Semarang. Dia berharap menemukan majalah Communication Art terbitan Amerika Serikat. Setelah menelusuri deretan lapak dan kios, Hermawan akhirnya menemukan majalah tersebut di sebuah kios buku seharga Rp.60.000. Harga yang akan baru akan […]

Jalan Semarang, Satu Lagi Lembaran Surabaya yang Hilang

Leave a comment
Tentang kota

Sebagai seorang mahasiswa jurusan desain, Hermawan merasa perlu mengembangkan pengetahuan grafisnya. Selain internet, tempatnya menimba ilmu adalah buku atau majalah desain dari luar negeri. “Kalau beli yang baru dan dari luar negeri, harganya mahal banget, deh.” tutur Hermawan di sebuah siang di Jalan Semarang. Dia berharap menemukan majalah Communication Art terbitan Amerika Serikat. Setelah menelusuri deretan lapak dan kios, Hermawan akhirnya menemukan majalah tersebut di sebuah kios buku seharga Rp.60.000. Harga yang akan baru akan […]

Menelusuri Jejaring Rahasia Exxon

comment 1
Current issues / Web 2.0

Berbeda dengan microsite bikinan Greenpeace Inggris Raya yang memaparkan penggunaan berbagai macam energi alternatif, microsite bikinan Greenpeace Amerika Serikat ini malah mengajak kita mengurai berbagai organisasi dan individu yang menentang pemanasan global. Mungkin karena di Amerika Serikat, Greenpeace harus menghadapi kekuatan korporasi-negara yang sangat solid dan tidak terlihat. Dalam hal ini yang coba diurai oleh Greenpeace AS adalah Exxon Mobil. Konferensi para pemimpin negara-negara di seluruh dunia di Bali beberapa bulan lalu berakhir dengan dramatis. […]

Penumpang Nomor Empat D

Leave a comment
Tentang kawan

(sebuah draft cerita) Di dekat Ngawi, dia sempat membuka mata, mengingat sebuah adegan di novel Putu Wijaya, yang sampulnya sangat dia suka; gambar sebuah kereta yang bergerak masuk ke pelataran stasiun. Dulu dia suka berbaring di bangku kosong Stasiun Tugu pada malam hari, menunggu kereta paling terakhir ke Surabaya, bersama dengan para pegawai Perumka, pedagang asongan, dan orang-orang yang dengan mudah kamu temui di kota itu: pengemis, pengembara (sungguh mereka masih ada), pemuda minggat. Orang-orang […]