Lalu Johan Menulis Puisi

comments 3
Tentang kawan

remind me of johan
Originally uploaded by absolute onie.

Aku tidak pernah bisa menjelaskan kepada diriku sendiri, seperti apa sebenarnya hubungan perkawananku dengan Johan.
Teman kuliahku ini kadang-kadang terlihat begitu tegang, penuh dan ingin meledak. Tapi begitu diajak ngobrol, ternyata ketegangannya, sesak pikirannya itu seolah memiliki banyak kanal, bisa dipastikan kamu akan mengalir dari serius ke sarkas dan jatuh ke guyonan pasar. dan semuanya itu tetap dalam satu topik pembahasan.
Yang tidak boleh dilupakan dari ciptaan Tuhan yang bernama Johan ini adalah mimik wajahnya. Kadang, dalam sebuah pembicaraan, dia terlihat begitu bersahaja, namun kadang terlihat bersikukuh mempertahankan pemikirannya. Semua orang memang seperti itu, tapi di Johan kamu akan melihatnya dengan jelas.
Dulu pernah aku dengan Johan dan dengan Geri kalau tidak salah, duduk-duduk di dalam sebuah gereja di dekat kampus. Kami cuma saling diam dan menghadap ke deretan lilin-lilin dan patung Bunda Maria. Waktu itu Johan sedang mengalami kebangkitan rohani yang, untungnya, membawa Johan ke sebuah agama yang sudah berevolusi dari agama yang god-oriented ke human-oriented (Note: penggolongan bikinanku sendiri dan sangat debatable).
Iren sungguh tidak salah menjadikan Johan sebagai Final Projectnya. Dari Iren aku baru tahu bahwa Johan ternyata menulis puisi, dan banyak sekali ternyata. Sayangnya hanya ada dua puisi Johan yang bisa aku baca. Salah satunya adalah yang di bawah ini:

The White Empty Page

the white empty page
is unbelieveable innocent

like a lake of morning summer
we can face ourselves on
with tens of imaginery friends,
daycaring nurses shaver lambs

a fountain of laugh
cause the birds to perch
just to feel the splashes
of baptism urge

every step is wonderland
every glance is golden band
the rhymed swing of cherubim
so naive and supreme

the white empty page
once was scared to be printed

Cukup manis bukan? Itulah Johan. Dia memang sungguh sangat pas untuk disandingkan dengan kutipan dari Allen Ginsberg yang bisa kamu lihat di gambar yang aku sertakan di posting kali ini.

Oke Johan, seperti yang kamu bilang; semoga nasib akan mempertemukan kita di warung soto dekat katedral di sebuah minggu pagi.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s