CRUISING THE STREETS OF JAKARTA

comments 4
Catatan Perjalanan / Tentang kota


Catatan-catatan ini aku ambilkan dari buku bloknot kecil yang aku beli di Gramedia Margonda. Biasanya aku isi sambil menunggu bus atau taksi sampai di tujuan. Kedatangan ke Jakarta kali ini sebenarnya cuma untuk urusan launching ON/OFF di Aksara Kemang. Tapi jadi agak beda, dan sedikit bermanfaat, karena ada titipan tugas. Buat aku pribadi, hasilnya hanya catatan-ctatan kecil di bawah ini.

Juli 31, 2005. Rumah Alex.
Jakarta again. So many dogs this time, and itches in my foot.
Got here by plane and headed directly to Alex’s place. Nice comfy house. Take some sip of coffee, read some interesting books (about food and personal maps), got so many names in my head. Put them in my phone list.
I think i lost few kilos of my weight in YK. I can hear my bones cracking in this wooden chair.
Try to recall someone i knew back then, who live in this kinda house, and fail. Shes way too far away.
Agustus 2, 2005. PIM
Stuck di Pondok Indah Mall. Gara-gara salah naik angkot, aku jadi telat nyampe di PIM. Niatnya sih pengen merakyat. Siapa dulu yang pernah bilang, “jika ingin paham demokrasi, naiklah bus kota”. Tambah telat ketika aku memilih memulai pekerjaan di Pasaraya Blok M. Setahuku dulu ada Toko Buku Kinokuniya di situ, sekarang cuma ada toko buku lesu dengan pencahayaan muram. Aku cuma baca2 komik impor di situ. Setelah aku naik metromini jurusan Pondok Indah, baru aku sadar bahwa ada bangunan yang namanya Blok M Plaza. Asu.

Agustus 1, 2005. Mall Taman Anggrek
Ketemu Edo kondologit. Perutnya buncit sekali orang itu. So Pace. Jadi inget pace yang sekarang lagi di Ambon. Rasanya baru kemaren aku ketemu dia di bawah tangga sambil ngomongin hal-hal yang nggak bermutu. Bagaimana sekarang sore-sore harimu, pace? Ary punya gambar mengenai sore yang bagus sekali. Coba kau lihat di blognya. Seperti itukah kamu mengingat sore-sore kita? Dengan warna-warna pastel yang mendesak semua kenangan keluar dan menghantam dadamu. Jika cahayanya pas, aku bisa mengingat sore-sore kita, dulu, dengan begitu jelas. Ada warna merah yang melayang-layang diantara cahaya sore dan gelas-gelas kosong kita. Sayang, sore-soreku selama beberapa hari ini hanya di dalam ruangan (dengan komputer) dan di mall.

Aku lagi suka lagu baru Coldplay nih. Mana telingamu?
All that noise, and all that sound,
All those places I got found.
And birds go flying at the speed of sound,
to show you how it all began.
Birds came flying from the underground,
if you could see it then you’d understand?

Sebetulnya siapa yang memisahkan diri? Aku atau kalian? Dengan warna apa kamu mengingat sore-sore itu? Aku akan mengingatnya dengan warna-warna monokrom dan merah sebagai aksentuasinya.

Agustus 2, 2005. Terminal Blok M
(Latar Belakang Catatan:Aku lupa membawa chargerku. Aku kira di rumah Depok ada pemakai Nokia, ternyata tidak ada. Seharian penuh hpku hidup terengah-engah. Komunikasi jadti tidak lancar)
Dengan terpaksa aku mencharge baterei hp-ku di terminal Blok M. Awalnya pengen beli baterei baru. Tapi setelah deal harga (30.000, ya aku tahu, mahal), dibuka bungkusnya dan dicoba ke hpku ternyata ga bisa. Aku emoh beli, sang pemilik kios hp marah.
Mereka minta aku bayar setengah dan aku minta hpku dicharge. Rasanya seperti kalah perang dan kehilangan provinsi paling penting. Ya, inilah charge hp dengan charge termahal yang pernah aku alami.
Moral: Jangan terburu2 dalam melakukan sesuatu.

Di kios itu ada dua orang penjaga. Secara fisik, mereka seperti orang Cina. Seorang diantaranya, yang dari awal hanya duduk di pojok, memakai kopiah. Setelah mereka tahu aku dari Yogya dan apa yang aku kerjakan, situasi menjadi melunak. Bisa juga karena mereka sudah puas bisa mengganti kerugian. Karena pemilik kios pergi, maka aku beramah-ramah dengan orang itu.
Nama aku tidak tahu, dan tidak perlu tahu rasanya. Mengaku berasal dari Yogya, dari “Suhhonatan” dengan sengau di huruf h. Mungkin huruf R yang gagal diucapkan. Siapa dan apa yang menyabotir keluarnya R itu aku hanya bisa menyalahkan darah Cinanya. Rasis yah? Ga ah. Biasa aja menurutku.
“Dimana itu?” tanyaku.
“Dekat Malioboro”. Balasnya. Kali ini Rnya keluar, renyah, garing. RRR.
“Dekat Jl. Sosrowijayan?” Balasku, sambil menerima koran yang disodorkannya.
“Nggih..Ngih” (Iya, Iya)]
?
“Sudah lama di Jakarta?” Aku berusaha meluruskan keadaan.
“Saget” Balasnya sambil menyeringai.

Maka sampai disitulah akhir pembicaraan kami. Aku membaca sebentar koran pemberiannya, koran aneh yang memajang ucapan duka cita bagi meninggalnya Raja Fahd di dua halaman. Akhirnya aku putuskan untuk mengundur rencana ke Mall Kelapa Gading. Capek. Lebih enak ketemuan sama Ipul dan Dody di Walhi.

Up Up and Away.
Took No. 75,
Straight to Mampang.


Agustus 2, 2005. Mampang, dekat TransTV. Sambil nunggu Ipul.

Those TransTV gals looks kinky with their black uniform. Gotta wild imagination about unbuttoning them, and lay them down. Behind those buttons lay a very wet body waiting to be touch. Bah! Waiting is such a fucking thing!

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

4 Comments

  1. nina d'alexia says

    it feels weird, but you inspire me, somehow, while i’m living a different kind of life.

  2. perempuanku says

    ibu kota lebih kejam dari ibu tiri.
    mo, tulisanmu kok apik. ajari jema’at iki mo. miss u beneran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s