PARCE QUE L’HOMME EST UN ANIMAL

comments 2
Film

PARCE QUE L'HOMME EST UN ANIMAL

IRREVERSIBLE

Ini bukan resensi. Aku hanya akan memberikan semacam teaser buat kalian. Dari adegan-adegan di film yang menurutku jadi inti cerita.

Film dibuka dengan adegan menyerahnya manusia di tangan waktu. Marcus (?) duduk di sebuah ranjang sempit dengan perut buncit,nyaris telanjang,dan ditemani seorang teman.Kemudian dia menyodorkan sebuah kata bagi kawannya; le tempt detruits tout (waktu menghancurkan semuanya). Belum sempat aku berpikir, adegan sudah berpindah ke sebuah lorong-lorong kota, dengan gerakan kamera yang seperti sengaja diambil dari “flies point of view”. Seperti lalat yang terbang tidak beraturan,film ini juga tidak berdiri di atas sebuah alur cerita yang linear. Kalau saja saat itu aku terus mendengarkan ocehan teman-teman mungkin aku sudah kehilangan alur cerita yang dibangun dengan tidak karuan itu.

Kata Carol; fokus di satu titik aja. Waktu itu aku sudah tidak bisa mengikuti gerakan kamera yang kacau. Aku duduk dan memilih melihat pantulan lampu rumah carol di layar tv-nya daripada aku bingung mengikuti gerakan yang berlatar kota nan gelap itu. Mendadak satu-persatu pertanda muncul, sebuah scene mengerikan disajikan kepadaku. Perlahan dari balik kegelapan muncul suara-suara dan gerak persetubuhan, antar sesama jenis. Seorang pria mengoral pria lain yang sedang diikat dengan rantai, sekerjap kemudian suara lenguhan memuncaknya birahi, kemudian pria-pria telanjang dada berdiri bergerombol di sebuah sudut gelap. Kenalkan saudara-saudara, orientasi seksual yang sudah ada sejak zaman Sodom-Gomora, Alexander Agung, yang senantiasa terhujat rapat tapi perlahan mulai diterima, homoseksualitas.

Dengan intens, aku terus diseret masuk tidak hanya ke dalam klub gay yang bernama Rectum itu, tapi juga ke dalam dunia para gay tersebut. Aku menolak masuk, dan mengambil teh hangat di meja makan Carol. Sama intensnya dengan adegan pemerkosaan Alex di sebuah penyeberangan bawah tanah. Bedanya saat itu aku tidak terlalu tegang. Hanya Victor yang tidak tega melihat adegan pemerkosaan yang sangat buas itu. Aku dan Ary tenang-tenang saja. Sasi dan Nina sama tidak teganya dengan Victor.

Baru setelah itu aku menyadari bahwa gerakan kamera berpindah ke sudut pandang seorang pria marah, namanya Marcus. Ya, Marcus yang kita temui tadi di awal film. Marcus mengamuk menelusuri Rectum. Menurut Ary, Rectum adalah nama latin bagi anus, dubur. Seperti menelusiri anus, Marcus melihat banyak keliaran di dalam “Rectum”; orgy, sado-masochism, fetishism, tapi dia terus berjalan mencari seseorang bernama Tenia.

Mundur lagi ke belakang, ke sebuah pesta. Alex dan Marcus hadir di situ. Aku suka dengan gaya jogetnya Alex (Monica Bellucci, hmmm). Marcus yang sudah teler menawarkan Alex untuk menemaninya pulang, tapi Alex menolak. Alex leboh memilih berjalan kaki. Di sebuah jalanan Paris (?) yang sepi, Alex mencoba menyeberang tapi seorang perempuan menyarankan dia untuk mengambil underpass. Lebih aman, katanya. Di underpass itu Alex berpapasan dengan seorang lelaki yang tengah menganiaya seorang perempuan. Ketika Alex mencoba berjalan terus ternyata pria itu mengalihkan agresinya ke tubuh Alex. Maka terjadilah pemerkosaan itu, yang tadi sempat aku ceritakan di atas.

Semakin mundur ke belakang aku tidak bisa banyak bercerita lagi. Alex dan Marcus ternyata memiliki hubungan, yah semacam domestic partnership gitu lah. Kalian harus lihat sendiri.

Moral Cerita
Seorang teman pernah bilang; waktu itu pedang, impian kita yang meninggi akan ditebas. Alex sebenarnya menginginkan anak dari hubungannya dengan Marcus tapi ternyata Marcus tidak terlalu menganggap serius. Film kemudian diakhiri dengan adegan dan pengambila gambar yang sangat bertolak belakang dengan apa yang kita lihat di awal film. Alex sedang tiduran di sebuah taman yang dipenuhi anak-anak kecil yang berlarian. Itulah satu-satunya penggambaran di dalam film dimana Alex bisa dengan tenang tiduran, selain di ambulans setelah wajahnya hancur dipukuli oleh si gay Tenia. Benarkah waktu itu pedang? Yang siap menghancurkan dan menebas apa saja yang kita punya? Mungkin Marcus punya jawabannya.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

2 Comments

  1. vivin says

    Congrats Bung Wiranda, untuk ‘This Machine Will Not Communicate’-nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s