Wakil Jagad Lain: Sebuah Catatan Perjalanan

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Tentang kawan

wordprocessingONIE | wordeditingGERY

 

Sesekali perlu juga aku melempar sauh. Sudah terlalu banyak kapal-kapal dengan muatan berat yang mondar-mandir di kepalaku, biasanya berisi rencana-rencana hidup jangka pendek dan jangka panjang. Dengan muatan berat itu mereka mengunjungi kota-kota pelabuhan di hatiku. Total ada dua puluh kota, tapi hanya dua yang punya pelabuhan cukup baik untuk menerima muatan-muatan berat dari kapal.

Sisanya sudah sesak dipenuhi makelar, birokrat-birokrat, dan pelacur-pelacur (lelaki maupun perempuan) yang tidak higienis dan tidak mendapatkan pendidikan seksual. Setiap malam pelacur-pelacur itu mengendap-endap di gelap pelabuhan dan meniduri partikel-partikel energi di tubuhku. Akibatnya fatal. Banyak partikel energi tubuhku jadi penyakitan, penyakit kelamin malah. Jagad kecil di diriku sedang mengalami degenerasi yang gawat, sama gawatnya seperti luruhnya peradaban Tibet di bawah penjajahan RRC.

Akhirnya datang juga kesempatan melempar sauh jauh-jauh. Di liburan semester kali ini.

22 Juli 2003

Setelah urusanku dengan BAAK beres, aku kantongi kwitansi pembayaran uang daftar ulang dan denda tunggakan pembayaran sambil mencari-cari sisa rokok di tas. Tidak ada yang lebih indah dari sebatang rokok seusai perang.

Aku bukan orang yang taat. Bukan Cuma dengan peraturan merokok di kampus. Bahkan kepada diriku sendiri, sudah tidak terhitung berapa kali janji yang aku ingkari. Tapi entah kenapa ada yang mendorongku untuk menepati janji dengan Gery di ILC, sekalipun terlambat tiga jam (malam sebelumnya aku janji ke kampus jam 9) Dan seperti yang aku duga, dia masih sibuk di depan komputer ILC. Sibuk mempraktekkan gaya mengetik 11 jarinya. Seperti membalas, dia hanya menyambutku dengan anggukan.

Yang dengan segera aku balas dengan sahutan kecil “aku di bawah”

Tidak lama kemudian Gery muncul. Satu hal yang aku kagumi diam-diam dari Gery adalah kemampuannya untuk merawat temannya dengan cerita-cerita. Apa saja, mulai dari digoda bencong di depan rumah, rute kehidupan Pak Bin (dekan kita yang tercinta) yang itu-itu saja, perjalanan hidup Eminem, salah naik bemo, sampai “kisah cinta” dengan anak pemilik wartel dekat rumahnya. Dengan kelebihannya ini, aku bisa mendapatkan cerita yang paling remeh temeh soal apa saja dan siapa saja di Fakultas Sastra.

Siang itu dia punya cerita baru, liburan ke Bandung! Liburan yang sudah lama aku rencanakan tapi selalu gagal. Tapi baru nanti malam Gery mau ceritakan rencana itu lebih detail kepadaku.

23 Juli 2003

11:40, Depan Ruang Teater

Ternyata yang Gery ceritakan sudah pernah dia ceritakan sebelumnya. Ke Bandung itu dalam rangka menjajagi kemungkinan kerjasama dengan kampus di sana soal pementasan teater mereka. Di tengah-tengah pembicaraan dengannya, sebuah lagu berdengung di kepalaku (Hush-nya Kula Shaker). Lagipula beberapa pertemuan yang lalu dia juga sudah pernah menunjukkan aku proposal teater itu. Tapi kali ini dia menegaskan siapa saja manusia-manusia yang bakal ikut; dia sendiri, Meilinda, dan Reza (bisa dilihat di ruang TU). Mendengar itu aku langsung mbatin “wah, bakal gak nyambung iki”. Maksudku gak nyambung di sini bukan karena mereka para aktor dan statusku yang hanya penikmat dalam dunia teater atau karena pertimbangan lain, tapi lebih karena tingkat pergaulan mereka sudah mencapai taraf yang tertinggi. Kalo soal diskusi soal teater aku masih agak nyambung. Dengan Gery, Meilinda, atau Reza aku juga nggak ada masalah dalam komunikasi tapi kalau sudah tiga orang itu digabung jadi satu, bakal ada tembok besar yang akan menempatkan aku jadi outsider.

24 Juli 2003

Dinihari

Tidak ada persiapan spesial untuk liburan ini, sama seperti liburanku yang dulu-dulu. Packing barang malah baru aku lakukan setelah membeli tiket. itupun baru aku lakukan lima jam sebelum kereta berangkat. Malam sebelumnya aku habiskan dengan main billyard dan mengajari Ipul menggunakan ICQ di kantor Walhi. Setelah Ipul bisa mengoperasikan program itu baru aku kirim SMS ke Gery; “Pace, aku jadi ikut. Kalian naik kereta apa? Di gerbong berapa?”

Di layar kecil handphone aku baca: pesan terkirim. Setelah menata tas dan sweater untuk alas tidur dan satu sachet Autan habis di kaki dan tangan (nyamuk di situ ganas-ganas) aku titip pesan ke Ipul untuk membangunkan aku jam 9 pagi.

17.10

Sampai di Stasiun Gubengpun hanya sekitar lima menit menjelang keberangkatan. Dari jauh aku sudah bisa melihat Gery dan Reza. Meilinda baru masuk penglihatanku setelah aku berjalan mendekati kereta. Jadi aku tidak punya banyak kesempatan untuk duduk-duduk dulu di bangku stasiun. Setelah menemukan kursi dan menaruh barang, aku dan Gery saling. Reza sibuk dengan barang-barang bawaannya, dan Meilinda, Meilinda sibuk melakukan ritual kecil sepasang kasih. Dari jauh kelihatan seperti adegan sinetron-sinetron di tv, tapi ada yang keliru; seharusnya si Perempuan yang menunjukkan wajah kecemasan bukan yang pria seperti ini. aku dan Gery Cuma tertawa-tawa kecil. Mei…Mei, kalau saja kamu tahu bahwa kuil yang dinamakan cinta itu dibangun di atas dasar dusta. Semakin dalam seorang manusia terlibat cinta semakin banyak dusta yang dia tabung demi mempertahankan cintanya itu.

Sebelum kereta berangkat, aku mengumpulkan ingatan tentang Bandung yang aku dengar selama hidupku; tentang Medan Prijaji, terbitan berkala pertama yang lahir dari tangan bumiputra Indonesia dengan redakturnya yang terkenal itu, Minke (sudah baca tetraloginya Pram khan?), tentang kemolekan gadis-gadisnya, tentang hawa kota yang ramah, gedung-gedung kuno yang masih tegak berdiri, dan seorang kenalan. Namanya Dede, pemain pantomim yang aku kenal saat pementasan Faust di kampus tapi mungkin dia sudah lupa denganku.

Akhirnya kereta bergerak pelan-pelan, untuk kesekian kalinya aku meninggalkan kota ini untuk membuang sauh. Au Revoir Surabaya!

Tanpa kami duga, kereta yang kami tumpangi ternyata sepi. Hanya beberapa kursi saja yang terisi, sisanya ompong, seperti jagung bakar yang dimakan dengan ngawur. Bangku yang kosong didepanku aku balik ke arahku dan jadilah sebuah arena kecil bagi kami berdua untuk mempertarungkan pengalaman-pengalaman hidup kami. Reza dan Meilinda ternyata juga memiliki arenanya sendiri di bangku sebelah, jauh lebih mesra dari kami berdua.

Dari kita berempat hanya aku yang kelaparan waktu itu. Mereka ternyata membawa bungkusan makanan dari Surabaya. Gery pamit makan ketika kereta sudah menjamah Nganjuk. Lapar memang daya yang hebat, karena dia Edgar Allan Poe bisa menulis bejibun cerita, Tolstoi bisa menulis cerita dengan ribuan kata, ibu-ibu di Prancis dan Rusia memporak-porandakan istana-istana milik kaum ningrat. Tapi bagi aku, manusia biasa, lapar membangkitkan insting survival diri. Untuk mencegah diri dari lapar aku dengarkan cerita-cerita Gery dan memutar otak. Habis sudah separuh bungkus rokok dan makanan kecil dari Meilinda (namanya aneh, aku lupa), lapar tidak juga hilang. Kereta bergerak diam-diam memasuki stasiun Ngawi yang sedang lelap tertidur, Max Havelaar pernah dipenjara di sini setelah tuntutannya kepada Bupati Lebak dan melawan Tuan Besar Gubernur Jenderal Van Den Bosch. Stasiun Ngawi mulai menumpahkan para pedagang asongan ke dalam kereta, mulai dari jualan obeng, TTS, Koran, sampai Wingko Babat. Sebentar, Wingko Babat? Lapar memacu otakku untuk melakukan analisa lebih dalam; setiap daerah punya makanan khasnya sendiri-sendiri, berarti aku bisa makan tidak lama lagi karena Madiun! Iya, Pecel Madiun yang biasa dijual sama mbok-mbok di luar kereta, sebagian besar dari mereka terlalu tua untuk bisa bergerak cepat di dalam kereta menjual Pecel sebelum kereta bergerak lagi.

“Madiun berapa jam lagi?” tanyaku ke Reza.

“Setengah jam kira-kira” tandasnya

Lapar…mampus kamu, aku menang lagi atas dirimu.

Dengan sebilah belati yang tertancap di perut Sang Lapar aku habiskan Pecel Madiunku.

Baru menjelang Yogyakarta, kami berempat duduk berhadap-hadapan. Meilinda membei hiburan dengan menggoda seorang anak kecil yang duduk di sebelahnya. Setelah menggoda anak kecil gantian Meilinda yang digoda (sama Gery).

“Coba Mei…sebutkan lima hal yang kamu benci dari kaum kami (cowok maksudnya)” Tanya Gery.

Dengan tergopoh-gopoh Meilinda menjawab pertanyaan itu. Rupanya sisi maskulin Meilinda yang lebih berperan dalam menjawab pertanyaan Gery, dengan nada yang meninggi dia sebutkan satu demi satu.

Dua orang yang sedang duduk di hadapanku baru aku bisa lihat sepenuhnya kali ini. kapan lagi? Di kampus kami hanya bertemu di ruang teater, bawah tangga gedung B, atau Kantin. Sekarang aku bisa melihat cara mereka melewatkan waktu dan mengatur dirinya. Mengenai Meilinda aku punya catatan tersendiri, sudah aku salinkan buat kalian dari buku catatanku, begini:

Manusia yang satu ini aku kenal pertama kali dengan penuh keganjilan. Kalau tidak salah tahun 2000, di sebuah demonstrasi di gedung B yang aku lupa tentang apa. Dia datang ke arah podium tempat Dwi sedang berorasi dengan wajah takjub tapi tetap menyandang senyum kenakalan anak yang baru bisa ngomong. Dan kalau tidak salah lagi, dia berorasi juga, tapi lebih mirip orang yang mabuk di bar sekalipun yang disampaikan sangat menarik. Aku dan Dimas (sekarang sudah lulus) cuma tertawa-tawa.

Setelah itu kosong. Dia Cuma aku kenal dari sekelibatan mata dan tulisan-tulisan yang dia kirim ke KESASAR. Selain itu juga waktu aku jadi pemeran pembantu di “Naomi in the Living Room”. Dia termasuk salah seorang pihak yang membuatku sukses jadi bencong di pementasan itu. Kemudian aku lebih banyak mengenalnya sebagai seorang aktris yang berbakat dan pelaku dunia teater yang penuh dedikasi. Bisa dibilang aku mengenal dia lebih dekat ketika masa-masa sibuk persiapan pementasan The Jakarta Fire.

Sama seperti Reza, bedanya mungkin aku mengenal Reza sejak SMA. Dia sudah berteater waktu aku masih sibuk-sibuknya mengenal mahkluk yang namanya perempuan.

02:30

Lepas dari Yogyakarta tidak banyak yang bisa aku ceritakan. Meilinda sudah capek menggoda anak kecil di sebelah dan memilih tidur, demikian juga Reza. Tapi ternyata Meilinda meninggalkan bom waktu buat aku. Anak kecil itu sudah terlanjur kepengen ngomong terus. Sebelumnya Meilinda mengajaknya diskusi tentang sastra. Jadi sekarang tinggal aku dan Gery yang masih melek, yang bertanggungjawab atas rasa ingin tahu anak itu. Sambil menenggak kopi susu yang aku beli di Kutoarjo, aku puaskan rasa ingin tahunya akan dunia sastra, sambil malas-malasan tentu saja. Tidak sampai setengah jam sudah aku akhiri diskusi janggal itu.

25 Juli 2003

Pagi datang dari balik bebukitan. Satu-persatu mulai bangun, yang paling awal mungkin Reza. Semakin kereta merangsek ke barat Pulau Jawa semakin meninggi dataran, tidak seperti di Jawa Timur yang landai-landai saja. Belum ada tanda-tanda kota besar, hanya kota-kota kecil dengan nama yang asing di telinga Jawa Timur kami dan dusun-dusun yang masih ngantuk yang kami lewati. Jam 7 pagi mestinya kereta sudah masuk Bandung, tapi jam 6 kami masih meliuk-liuk di bebukitan dan jurang-jurang yang jauh dari keserakahan manusia. Bandung masih satu jam lebih lagi.

Meilinda mulai sibuk dengan handycam-nya. Seperti syuting film perang, dia merekam gunung gemunung, sawah-sawah, dan muka kacau Gery, Reza dan tentu saja aku, yang terbangun paling akhir. Anak kecil itu juga sudah terbangun dari tadi rupanya, tapi aku acuhkan saja dia. Tapi angin segar dari luar dan tissue basah membuat kami segar dengan cepat.

Dari sini Bandung sudah mulai bisa kami cium kehadirannya. Seperti datang bertamu kami sudah sampai di teras rumah, di tanah Priangan. Aku jadi berpikir, pantas saja dulu kekuasaan asing mulai dari Belanda (Daendels), Inggris (Sir Thomas Stanford Raffles), hingga Belanda lagi (Gubernur Jenderal Idenburg) memusatkan dirinya di tanah ini, di Buitenzorg (Bogor sekarang). Hawanya cukup ramah bagi orang-orang Eropa.

Di stasiun ternyata sudah ada yang menunggu. Namanya Kang Edi, anggota Teater Matahari, kecil berkacamata dan berlindung di balik jaket tebal dan syal warna hijau di lehernya. Tangannya lebih banyak disembunyikan di saku celananya, dalam hati aku berpikir bahwa Bandung pasti lebih dingin dari yang aku kira, lha wong dia orang sini aja kedinginan apalagi aku yang dari kota berhawa panas. Tutur katanya ramah dan santun khas orang Bandung. Meilinda, Gery, dan Reza langsung menyambutnya dengan pembicaraan hangat, hanya aku yang nganggur sendirian. Maklum saja, waktu Kang Edi ke Surabaya untuk pementasannya aku malah sibuk dengan membantu reportase temanku dari sebuah majalah lifestyle dari Jakarta.

Akhirnya aku baru sadar bahwa ada jagad kecil di antara mereka, jagad dunia teater. Dan di dalam jagad itu aku hanyalah pendatang gelap.

Semalam di kereta hanya mimpi!

Wake up On!

Suara-suara itu terus menggangguku sampai di dalam mikrolet yang mengantar kami ke tujuan, ke kampus STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia). Di sepanjang perjalanan Meilinda berdiskusi dengan Kang Edi tentang teater, tentang proyek-proyek yang sedang dijalankan. Hanya ada beberapa kosakata yang nyangkut di otakku, Teater Payung Hitam (aku dengar dari mbah, anak teater Suket) dan Tea House.

Gedung Kampus STSI sangat ramah, 180 derajat kebalikan dari gedung Petra yang kaku. Aku jadi ingat gedung kampus ISI di Yogyakarta. Halaman depan kampus STSI dipenuhi pohon-pohon besar yang rindang, beberapa pohon yang dihiasi dengan lampion dan barang-barang unik lainnya. Di sekitar pohon banyak bangku-bangku dari semen. Dengan barang-barang bawaan yang banyak dan muka lusuh, kami langsung jadi hiburan tersendiri bagi anak-anak STSI. Kang Edi langsung mengenalkan kami ke banyak orang yang lagi duduk-duduk di taman.

Usai basa-basi di bangku depan kampus Kang Edi langsung mengajak kami ke kantin untuk sarapan. Di sana, sambil sarapan, kami dikenalkan lagi dengan beberapa orang, Kang Iman dan beberapa Akang-Akang yang aku lupa namanya. Kang Iman kemudian pamit pulang sambil mengundang kami untuk datang ke base camp komunitasnya, CCL (Centre de Culturel Ledeng). Katanya akan ada performance dari beberapa orang seniman, yang paling nyangkut di otakku cuma Afrizal Malna, penyair ngetop yang juga relawan di UPC (Urban Poor Consortium)

Kemudian Mumu…satu-satunya orang yang kami kenal di STSI dengan dandanan agak retro dan yang tidak kami panggil dengan sebutan Kang.

Tapi Mumu ini yang paling banyak berkorban, dia merelakan kamar kostnya kami rombak dan tempati selama tiga hari. Jauh dari dugaan kami, ternyata Mumu menempati kost-kostan yang asri dan campur! (cewek dan cowok). Belum sampai pintu kamar kami-yang cowok terutama- langsung menahan nafas…

Dua hari kemudian kami baru tahu kalau namanya semanis orangnya…Putri…

Meilinda memasuki kamarnya sendiri dengan sewot.

Nafas kami berhenti kembali…kali ini yang muncul mirip Lola Amaria

Wanita memang…

(pembaca yang terhormat, kami mohon maaf, bagian ini tidak bisa kami teruskan selama masih ada Meilinda)

Seusai mandi kami langsung ke kampus Maranatha untuk melakukan lobbying. Di sana kami ternyata sudah ditunggu oleh beberapa orang di Lobby Kampus (aneh khan, kampus kok ada lobbynya, tapi memang seperti itu adanya). Dari lima orang teman baru itu hanya satu yang kaum adam, dan dari lima nama itu tidak ada yang aku ingat sekarang. Tapi yang jelas merekalah orang yang memang paling tepat untuk dituju oleh Meilinda, Gery, dan Reza. Yang aku ingat hanyalah bahwa seseorang diantara mereka adalah pengurus teater, sisanya anggota kelompok ini dan itu.

Pembicaraan ternyata tidak dilakukan di kampus tapi di kantin, yang tempatnya di belakang toko sebelah kampus, kalo di Petra mungkin seperti di Pak Jo sebelah kampus. Tapi yang ini beribu kali lebih nyaman dan ramah, bebas dari suara mesin kendaraan bermotor dan debu. Begitu Kang Edi selesai memberikan “pembukaan”, Meilinda langsung menyemburkan isi otaknya dan memaksa aku sembunyi ke pedalaman hati. Iyalah! Siapa aku ini. Kali ini lagu yang berdengung di kepalaku Stop Crying Your Heart Out-nya Oasis, sebuah adegan pembukaan film dengan warna hitam putih berjalan. Dengan background wajah anak-anak Maranatha yang menyimak dalam pembicaraan Meilinda, suara Meilinda yang ditelan lagunya Oasis pelan-pelan muncul lagi secara lamat-lamat sampai mencapai klimaksnya: ”Kami bawa proposalnya kok, tapi harus diprint dulu, disketnya mana?” Dengan sigap aku keluarkan kotak disket yang dititipkan Reza ke dalam tas kecilku.

Demikianlah. Teman-teman Maranatha belum bisa menyanggupi 100% usulan itu sekalipun mereka menyetujuinya, ada hutan rimba birokrasi yang harus dilalui di depan. Maka kesepakatan awal pun tercapai: kalau memang jadi maka Project Media dengan Luv-nya akan main di auditorium Maranatha bulan Oktober 2003. Sambil menunggu Meilinda dan Reza ngeprint proposal, aku dan Gery berbasa-basi dengan teman-teman baru kami yang lain.

Dari Maranatha kami tidak langsung pulang ke kost Mumu, tapi berkeliaran mencari makan dulu di kampus STSI dan ngobrol-ngobrol dengan anak-anak STSI. Kampus ini memang tempat yang pas buat para penggiat teater seperti Gery, Meilinda, dan Reza. Bayangkan saja, setiap harinya kurang lebih ada lima latihan teater yang bisa ditonton, dengan berbagai gaya pula. Yang sedang eksplorasi bentuk teater absurd latihan di panggung belakang kampus, yang mempersiapkan teater realis latihan di auditorium, yang latihan nari di ruangan di bawah auditorium. Dan di kampus ini aku melihat daya hidup teman-temanku melonjak tinggi. Daya hidup yang di Petra seringkali harus kita jinakkan demi menyelamatkan diri dari kejaran SKS, Paper, IPK, dan Skripsi. Gery bahkan sampai bernazar akan datang lagi ke Bandung jika punya cukup waktu dan duit.

Daya hidup mereka itu yang rupanya semakin mempererat benang-benang tipis di antara jiwa mereka dan menghubungkan jagad-jagad kecil mereka. Daya hidup yang muncul dengan bantuan seni pertunjukan, teater. Kapal-kapal bermuatan api kehidupan yang berlayar dari hati Gery bisa dengan mudah masuk ke jagad kecil Meilinda dan Reza, demikian sebaliknya dan seterusnya.

Saat itu aku sadar kalau aku salah. Jika Meilinda, Reza, dan Gery jadi satu bukan tembok besar yang aku hadapi, tapi jagad baru yang merupakan paduan dari jagad-jagad kecil mereka. Seperti jagat raya besar tempat kita hidup ini, jagad kecil mereka juga terbuka untuk tamu dari jagad lain. Jadi yang benar, aku-seseorang dari jagad lain-sedang datang bertamu ke jagad mereka dan mengenalkan apa yang aku miliki kepada mereka. Berbeda tipis dengan mereka, daya hidupku muncul dengan bantuan seni penulisan, ranah yang keberadaannya saling bahu membahu dengan ranah seni pertunjukan.

Belum habis satu hari di Bandung, jagad kecilku yang semula hanya tamu semakin masuk ke ruang terdalam jagad mereka. Ruangan kecil yang hangat, dengan meja bundar dari kayu dan empat kursi mengelilinginya, di setiap kursi ada api kehidupan milik Gery, Reza, dan Meilinda. Tapi ada satu kursi tersisa, untuk siapa?

Entahlah, lebih baik aku bantu Gery menghubungi temannya di Bandung. Janjinya malam ini dia mau mengajak kami pelesir. Cihuy!

Malam pertama di Bandung kami habiskan di Lembang. Setelah menunggu kedatangan Norman hampir dua jam lebih. Dari dalam mobil Taft milik Norman kami kelupas kulit kota Bandung pelan-pelan dan sambil berdesak-desakan. Iya, bayangkan saja, ada kami yang dari Surabaya, ditambah Norman, Kang Edi, Kang Ajis, dan Mumu.

“Perlu gak Ger, aku jelasin Lembang di tulisanku nanti?”

“Gak usah, buat apa mikir gituan? Nikmatin dulu aja” sahut Gery

Kegembiraan kadang-kadang membuat orang jadi berat untuk menuliskannya, beda halnya dengan kesedihan-yang jadi sumur misterius bagi semua penulis. Hal itu juga berlaku buat aku. Di Lembang kami ngobrol dan bercanda seperti kami sudah saling mengenal sepuluh tahun lamanya. Lembang mungkin berpengaruh besar bagi kami, dengan hawa sejuknya dan pemandangan malamnya. Tempatnya tidak terlalu bagus, hanya tanah lapang di pinggir jurang yang dipenuhi gubuk-gubuk tempat para tamu lesehan tapi ada juga yang menyediakan kursi. Kalau di Surabaya mungkin seperti di Wapo (Deket Unair) dengan banyak coret-cemoret di dinding gubuk.

Dalam perjalanan pulang ke kost, Kang Edi meringkuk di pojok belakang mobil, perutnya mules. Tapi tidak satupun dari kami merasa bersalah dan mencari bala bantuan, malah sibuk ngomongin minyak kayu putih. Gery berseloroh kalau di rumah dia punya yang paling mujarab, Meilinda dengan seru mempertontonkan wawasannya dalam obat-obatan tradisional TiongHoa, Norman ngomongin bisnis sayurnya dulu di Lembang, Kang Ajis dan aku Cuma jadi pendengar, Reza malah sudah ngorok, Kang Edi perutnya tetep mules. Kasihan.

Mungkin karena capek, aku malah jadi susah tidur. Teman-teman sudah tidur semua. Untuk menunggu kantuk datang aku baca-baca lagi cerpen Garcia Marquez dan Virgilio Pinnera sambil merokok di depan kamar. Dari beberapa cerpen di buku itu, hanya milik dua penulis itu yang aku baca berulang-ulang. Akhirnya datang juga sang kantuk, sambil memakai sandal warna hijau. Disuruhnya aku menggosok gigi dan minum satu gelas air putih. Gagang pintu sudah di depan mataku ketika suara batuk berdehem dari kamar sebelah, kamarnya putri!

Putri tiba-tiba memanggil, sesepi ini, siapa lagi kalau bukan aku.

“Hei, sorry ngganggu”

“…”

“bisa pinjem odolnya nggak?”

“odol? Oo..bisa bisa”

“dari Surabaya?”

“kok tahu? Nguping yah kamu?”

“enak aja, aku diberitahu Mumu”

“…”

Seulas senyumku kemudian sudah cukup untuk membuatnya mengundangku ke kamarnya. Pada awalnya memang hanya pembicaraan biasa-kuliah dimana, asli mana, kesukaannya apa-tapi sebuah tangan turun dari langit membimbingku masuk ke sebuah ritual purba. Yang sudah dimainkan manusia beribu-ribu tahun lamanya, tanpa pernah tahu apa alasan sebenarnya; cinta? Nafsu? Kegelisahan? Atau gabungan semuanya?

Tapi toh kami berdua bukan model orang yang memikirkannya terlalu dalam..

Bibirnya yang membelah dalam di tengah mengalirkan partikel energi kecil sebentuk kristal salju yang mulai leleh ke bibirku. Lebat rambutnya aku susuri pelahan dengan jari jemari, kotor bekas kena debu dan sambal. Tanpa terasa bibirku sudah meninggalkan bibirnya-yang sekarang sedang mengeluarkan suarasuara asing-dan mulai menjamah halus lehernya, dan turun pelan-pelan ke dadanya.

Nafas kami tersebar di mana-mana.

Sebenarnya aku khawatir juga dengan Gery dan Reza, mereka bukan termasuk orang yang gampang tertidur. Tapi, begh! Peduli setan biarpun kepergok mereka, sesama pria lemah harus saling membantu bukan?

Dan toh hanya semalam ini saja, jagad kecilku tidak sedang berbatasan langsung dengan kenyataan, tapi membentuk kenyataannya sendiri. Kenyataan yang sekarang ini aku jalani dengan Putri.

Aku memang bukan orang yang berguna dalam hidup ini, tapi dengan menyadari diriku dan jagad kecil di pedalaman hatiku baik-baik saja, setiap malam aku bisa tidur nyenyak dengan keyakinan; esok pagi akan datang sesuatu yang baru, yang lebih baik.

Tanganku sekarang berada di seluruh tubuhnya.

Ketika ritual purba itu selesai, aku hanya sempat mengusapi rambutnya dan mencium keningnya sebelum Putri menyuruh aku balik ke kamarku sendiri “Besok pagi-pagi sekali pacarku dateng, sorry…” katanya

“On! Turu ae! Gelem Kopi nggak?”

Suara cempreng Meilinda memulai pagiku.

Ternyata Cuma mimpi.

Asu!

Di sebelah Gery yang sudah selesai mandi tiba-tiba tersenyum janggal.

Waduh!

Di depanku ternyata sudah tersedia secangkir kopi yang masih hangat. Ini di luar kebiasaanku, biasanya setiap pagi aku minum satu gelas air putih dingin baru kemudian disusul minuman hangat dan rokok.

Hari kedua di Bandung kami mulai dengan jalan-jalan ke Palasari, pasar buku bekas. Sedikit sekali buku yang menarik minat kami. Lagipula sudah banyak kios yang tutup, banyak yang memilih Jumatan daripada jualan buku. Perjalanan pulang ke kampus STSI kami pilih berjalan kaki daripada naik angkot, Meilinda ingin mencari objek buat mengisi kamera digitalnya. Bandung memang kota yang ramah, disediakannya bagi Meilinda banyak objek menarik untuk direkam, mulai dari mobil Jip kuno yang diparkir, toko penjual aneka assesoris Manchester United. Aku menyiapkan diri untuk workshop di STSI siang hari nanti, yang pasti akan berlangsung lama.

Sampai di STSI kami menunggu workshop teater dan performance grup musik Sawung Jabo. Di taman depan kampus banyak orang mulai berseliweran memasuki kampus, dan salah satunya Sawung Jabo.

Workshop ternyata diadakan di ruang tempat Kang Ajis kemarin latihan. Dan seperti biasa acaranya molor. Menurut penilaianku sendiri, acara itu lebih mirip diskusi daripada workshop. Acara dimulai dengan pembukaan oleh Kang Iman dan pengajar-pengajar STSI, dan dua orang bule (yang ternyata para pembuat film) kemudian film-film pendek dari Australia tentang Rasialisme dan Diskriminasi berseliweran di depan mata kami. Meilinda dan Reza duduk paling depan sendiri, Gery lebih memilih jadi fotografer, dan aku, seperti biasanya di semua diskusi; bermalas-malasan di belakang sambil makan kacang.

Performance grup musik Sawung Jabo ternyata tidak jadi diadakan. Kata Kang Iman para pemainnya-yang kebanyakan anak jalanan-ditangkap polisi dalam sebuah razia di daerah Ledeng. Begitu hal itu diumumkan, pengunjung yang sudah sedikit semakin bertambah sedikit.

Ledeng. Tempat kami bergerak di malam kedua kami di Bandung. Ternyata penuh dengan semangat, tapi bukan sejenis semangat yang ditunjukkan mahasiswa-mahasiswa yang teriak-teriak di jalanan. Semangat yang satu ini bangkit dari ketekunan Kang Iman yang sejak 1994 membimbing warga Ledeng untuk mencintai seni dan kebudayaan. Mulanya memang banyak anak muda yang biasa mabuk mencemooh pertunjukan teater di Ledeng, anak-anak kecil menonton sambil berlarian, ibu-ibu nonton sambil bergerombol. Tapi ketekunan memang selalu berbuah. Sekarang warga Ledeng jauh lebih menghormati seni dan kebudayaan dari mahasiswa Petra. Beneran ini! Kami yang datang terlambat (setengah jam dari janji kami ke Kang Iman, jam 20:00) dibuat terpana oleh antusiasme warga Ledeng yang menonton teater yang tergolong “berat”. Selain itu kami juga terpana melihat setting panggung yang bagian tengahnya digenangi air, dua orang pemainnya Cuma pake celana pendek. Aku sendiri memilih menerobos kerumuman orang dan berdiri di dekat pohon. Pertama memang aku lihat teaternya tapi pelan-pelan mataku mengarah ke jajaran anak kecil yang duduk rapi di barisan terdepan menonton teater itu. Ketika aku tanya ke Kang Iman, mereka memang datang dan duduk di depan dengan sukarela, bukannya dengan paksaan. Lagi-lagi aku ditunjukkan buah dari ketekunan.

Penyair itu namanya Ayi Kurnia. Dialah yang mengisi bagian malam kedua kami di Bandung setelah teater selesai, dengan puisi-puisi bahasa Sunda. Disusul kemudian dengan sebuah band.

Malam yang tersisa ditutup dengan penampilan Sawung Jabo. Aku tidak sempat menikmati pertunjukan itu gara-gara Meilinda yang terlalu sibuk ingin merekam seluruh Bandung di kamera digital dan handycam. Begitu pertujukan usai kami langsung berbaur dengan penonton dan pengisi acara, dan seperti biasa, kami foto-fotoan (hobi baru kami).

Hari Terakhir di Bandung, 27 Juli 2003

Tidak ada yang terlalu istimewa. Bangun pagi langsung packing barang terus pamitan ke teman-teman STSI. Jam 11:00 mestinya Norman datang untuk membawa kami jalan-jalan keliling Bandung sekali lagi. Tapi sampai jam 14:00-dan kami sudah lupa dengan janji itu karena sibuk foto-fotoan-pria gempal itu belum muncul juga.

Barang bawaan kami dibawa ke kampus dengan bantuan Mumu dan Kang Ajis (?). di kampus kami berkeliling minta pamit; ke ruang-ruang tempat ada latihan (teater dan tari), ke kantin, ke Veronica (kucing genit penunggu kantin STSI) Usai semua itu kami melewati taman kampus STSI dengan puluhan jabat tangan.

13:45, di atas angkot

Lima belas menit lagi sebelum kereta membawaku ke Jakarta, dari dalam angkot aku melihat air mulai bertetesan dari pucuk rerimbunan pohon di Bandung. Semakin lama semakin cepat, butiran air dimuntahkan dari langit seperti kereta memuntahkan kami di kota ini.

Meilinda menghabiskan waktu di angkot dengan membuat janji-janji pertemuan kembali dengan Kang Ajis (?), dan sesekali dengan Mumu. Gery, aku, dan Reza mendengarkan kisah Mumu berpantomim di Kampung Daun.

Sampai di depan stasiun kereta hujan semakin deras; aku turun duluan. Aku naik kereta sendirian, ke Jakarta. Sendirian. Di kereta. Sambil berjalan bergegas ke kereta aku langsung berjanji untuk melewatkan dua jam perjalanan Bandung-Jakarta dengan tidur.

Di dalam kereta aku mereka-reka apa yang dilakukan teman-teman sekarang, pasti sudah ribut tawar-menawar barang dengan pedagang.

Sambil menunggu makan siang aku baca-baca lagi cerpen Marquez, aku baca ulang pengalaman Florentino Ariza menyusuri sungai di daerah yang dilanda epidemi penyakit kolera sambil memimpikan datangnya kembali Fermina Daza-kekasihnya-ke dalam kehidupannya. Tiba-tiba saja aku jadi pusing. Seperti tercebur ke air aku gelagapan melihat tanganku berubah menjadi hijau dan mengeluarkan sulur-sulur, kakiku menancap di besi kereta api, dan segalanya mencair, melumat dan membentuk ulang semua yang aku lihat jadi lautan dengan muara sungai besar di ujung sebelah barat.

Kalau saja tidak ada suara burung Kakaktua dan gigitan nyamuk seukuran lalat, aku tidak akan sadar bahwa sungai itu adalah sungai yang ditempuh oleh Florentino Ariza. Dan sungai yang ditempuh Florentino Ariza itu ternyata berujung di lautan luas dengan dua matahari di atasnya. Lautan itu sudah aku kenal sepanjang hidupku yang menyedihkan ini, bahkan sejak di rahim ibu. Lautan dengan kapal-kapalnya, biduk-biduk kecil yang berseliweran lepas, yang dibatasi dengan kota-kota pelabuhan.

Ternyata itu jagad kecilku sendiri, yang sudah sembuh dari segala penyakitnya. Kapal-kapal bisa berlayar bisa dengan tenang, penduduk yang tinggal di kota pelabuhan bisa menikmati pesta setiap malam akibat panen ikan yang tak terduga. Dan para pelacur? Mereka juga ikut berpesta, setelah sebelumnya menyembuhkan diri mereka dari segala macam penyakit kelamin dengan berdoa di lereng pantai sebelah barat.

Tidak percuma ternyata sauh aku buang jauh-jauh. Ke Bandung.

Dengan susah payah aku terobos kerumunan orang yang sedang berpesta. Aku harus ke dermaga terdekat, mencari kapal dengan lunas dari kayu yang dirahasiakan asal-usulnya oleh para leluhur, mencari jalan untuk pulang. Sampai di dermaga aku dikejutkan oleh sosok perempuan berkerudung hitam, matanya seperti laci yang menyimpan berkardus-kardus dokumen pernikahan dan kematian. Di tangannya tergenggam segumpal daging yang masih meneteskan darah, sepertinya burung merpati yang tewas dicengkram.

Sambil berdiri tegang aku tunggu uluran tangannya mencapai tanganku dan mulutnya yang seperti terjahit tiba-tiba mengumam keras:

“Mas, sudah mau nyampe Gambir nih”

Oalah, ternyata aku mimpi lagi.

“mmm…makasih” sahutku sekenanya sambil mencari-cari tissue basah.

Dengan perasaan yang sama setiap bangun hari senin pagi aku lewati semua wajah-wajah di stasiun Gambir dan langsung ke tempat Bajaj biasa mangkal.

“Ke Kwitang bang, tigaribu yah?”

“lima deh!”

Tanpa menyahut aku langsung masuk ke Bajaj. Tidak sampai sepuluh menit Bajaj sudah sampai tujuan. Seusai membersihkan diri aku tuliskan semua ini buat kalian semua. Sekedar untuk memastikan bahwa semua yang aku tulis di atas bukanlah mimpi, seperti yang aku alami dua kali berturut-turut (dengan Teh Putri dan di dalam alam Florentino Ariza).

Apalagi yang menyangkut diriku sebagai wakil jagad lain di dalam jagad Meilinda, Gery, dan Reza.

Ingat itu!

Aku tunggu balasan kalian.

(tulisan ini tidak akan selesai tanpa dua hal: perjalanan melelahkan ke Madura dan kengerian semester baru)

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s