Sama Rasa dan Sama Rata

Leave a comment
Tokoh

Marco

Sinar Djawa Rebo 10 April 1918 no. 81.

Sair inillah dari pendjara,

Waktoe kami baroe dihoekoemnja,

Di-Weltevreden tempat tinggalnja,

Doea belas boelan poenja lama,

Ini boekan sair Indie Weerbaar,

Sair mana jang bisa mengantar,

Dalam boei jang tidak sebentar,

Membikin hatinja orang gentar,

Kami bersair boekan krontjongan,

Seperti si orang pelantjongan,

Mondar mandir kebingoengan,

Jaitoe pemoeda Semarangan,

Doeloe kita soeka krontjongan,

Tetapi sekarang soeka terbangan,

Dalam S.I. Semarang jang aman,

Bergerak keras ebeng-ebengan.

Ini sair nama; “Sama rasa”

“Dan Sama rata” itoelah njata,

Tapi boekan sair bangsanja,

Jang menghela kami dipendjara.

Didalam pendjara tidak enak,

Tertjere dengan istri dan anak,

Koempoel maling dan perampok banjak,

Seperti bangsanja si pengampak.

Tapi dia djoega bangsa orang,

Seperti manoesia jang memegang,

Koeasa dan harta benda orang,

Dengan berlakoe jang tidak terang.

Ada perampoek aloer dan kasar,

Djoega perampok ketjil dan besar,

Bertopeng beschaving dan terpeladjar,

Dengan berlakoe jang tidak terang.

Dia itoelah sama perampoeknja,

Minta orang dengan lakoe paksa,

Tidak mengingat kebangsaannja,

Bangsa manoesia didoenia.

Hal ini baik kami koentjikan,

Lain hal jang kami bitjarakan,

Perkara jang mesti difahamkan,

Dan akhirnja kita melakoekan.

Banjak orang jang mengetahoei,

Doea kali kami kena doeri,

Artikel wetboek jang menakoeti,

Djoega panasnja seperti api.

Kakik kami soeda sama loekak,

Kena doeri jang koeintjak-intjak,

Djoega palang-palang jang koedoepak,

Soedah ada sedikit terboekak.

Haraplah soedarakoe di tendang,

Semoea barang jang malang-malang,

Soepaja kita berdjalan senang,

Ketempat kita jang amat terang.

Boeat sebentar kami berhenti,

Didjalan perempat tempat kami,

Merasakan ketjapaian diri,

Sambil melihati djalan ini.

Djangan takoet kami poetoes hasa,

Merasakan kotoran doenia,

Seperti anak jang beloem oesia,

Dan beloem bangoen dari tidoernja.

Kami sampe didjalan perempat,

Kami berdjalan terlaloe tjepat,

Temen kita jang berdjalan lambat,

Ketinggal misih djaoeh amat.

Kami berniat berdjalan teroes,

Tetapi kami berasa aoes,

Adapoen penharapan ta’ poetoes,

Kaloe perloe boleh sampe mampoes.

Djalan jang koetoedjoe amat panas,

Banjak doeri poen anginnja keras,

Tali-tali mesti kami tatas,

Palang-palang djoega kami papas,

Soepaja djalannja SAMA RATA,

Jang berdjalan poen SAMA me RASA,

Enak dan senang bersama-sama,

Ja’toe: “Sama rasa, sama rata.”

Sinar Djawa Rebo 10 April 1918 no. 81.

ooo0ooo

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s