Kesimpulan

comments 2
Tentang kawan

Terkadang kita terlalu gampang menarik kesimpulan yang kaku dari sebuah perjumpaan sesaat dengan sesuatu. Misalnya dengan kisah Bu Ponirah, seorang penarik becak perempuan dari Yogyakarta, yang kisahnya diabadikan dengan indah oleh Sindhunata di Waton Urip (Nineartpublishing, Yogya, 2005). Setelah uraian panjang yang tidak melebar hingga jadi klise penceritaan kehidupan rakyat kecil, sampailah kita di halaman 69 dimana Ponirah menceritakan kegiatannya di waktu senggang:

Saya ini orang miskin. Sudah miskin, mengapa harus nyetel yang susah-susah. Nanti malah tambah susah. Karena itu saya nyetel yang enak-enak dan senang-senang saja.

Dalam pembicaraan yang dilakukan tergesa-gesa, ungkapan Bu Ponirah itu akan dengan serta-merta disimpulkan bahwa orang kecil itu memang sudah menyerah sama sekali di dalam dunia yang dikuasai modal ini.

Kemarin saya baru saja bertemu dengan seorang teman, dulu dia aktivis sebuah partai yang cukup ditakuti oleh Orde Baru, bahkan hingga sekarang. Lama saya tak jumpa dengannya. Hanya dari kabar saya dengar bahwa ternyata latar belakangnya sebagai aktivis cukup menunjang kehidupannya. Karirnya bergerak dari LSM besar satu ke LSM besar lainnya, hingga kini dia menjadi anggota sebuah lembaga pemerintah yang mengurusi pemilihan umum. Entah bercanda atau tidak, dia bilang bahwa ”sudahlah, saya ini sudah keliling Indonesia dan kesimpulannya: orang Indonesia itu bodoh-bodoh!” Kesimpulannya lagi: sepuluh tahun reformasi ini sia-sia belaka.


Seketika hati saya langsung hancur, karena merasa menjadi bagian dari kesia-siaan yang dia katakan. Saya masih ragu apakah saya tidak buru-buru menarik kesimpulan semacam itu, bahkan hingga saya beranjak meninggalkan kawan-kawan yang berkumpul di warung donat di sebuah pusat pelesir di Surabaya.


Sia-sia karena ternyata dia telah tumbuh menjadi orang biasa saja dan sekaligus orang sok pintar yang merasa selalu punya jawaban atas apa saja. Apa bedanya dia dengan politikus-politikus karbitan Indonesia sekarang ini? Hanya baca satu buku saja dan modal ketenaran sudah merasa tahu politik. Saya tidak pernah bisa berkawan dengan orang semacam itu. Latar belakang dan pengalaman kerjanya seharusnya membuat dia memiliki penjelasan dan kesimpulan yang jauh lebih baik ketimbang sekedar ”sudah keliling Indonesia”.


Saya yakin bahwa sutradara the Motorcycle Diaries tidak sembarangan membuat adegan penutup film tersebut. Ketika Ernesto Che Guevara dan Alberto Granada akhirnya berpisah di Venezuela, bukan kesimpulan Che yang ditekankan tapi perenungan Che akan semua hal yang dia temui selama dalam perjalanan, dan dalam penyampaian yang puitis sama sekali jauh dari jargon politik. Apakah sebenarnya yang disampaikan oleh pekerja tambang di Chile, reruntuhan bangsa Inca di Peru, dan para penderita kusta di Sungai Amazon? Bahwa ada sebuah proses penelanjangan manusia dari kemanusiaannya yang berlangsung selama berabad-abad dan membuatnya terlihat begitu alami, seperti halnya tumpukan bebatuan yang ditemui Che di Cuzco. Nyaris tidak terlihat beda antara batu yang disusun oleh bangsa Inca dan yang ditumpuk oleh bangsa Spanyol.

Kembali ke Bu Ponirah. Akan seperti apa kesimpulan yang akan kamu tarik jika membaca paragraf lanjutannya, masih di halaman 69:


Apa dengan menyetel pemandangan dan kehidupan yang kaya itu, Ponirah juga ingin kaya? ”Dari mana saya bisa? Bagi saya, kaya itu ya kalau saya tidak punya utang lagi. Tapi kapan?” katanya.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

2 Comments

  1. Aryan Adia (ian) says

    pembahasan yang khas nie ya bang.

    Tapi emang bagaimana lagi, ga hanya bu ponirah saja yang pesimis di negara seperti sekarang.
    Para penginjak pedal2 mobil pun kalau bisa mereka boyong semua keluarganya keluar dari Indonesia.

    Masalah temannya bang Onie yang mengatakan sudah berkeliling Indonesia, dan menemui banyak orang bodoh serta obrolannya yang pesimis tetang kemajuan Indonesia setelah reformasi. mungkin ada benarnya juga selama tidak ada rekontruksi besar-besaran di kabinet indonesia dan mengubah sudut pandang para pekerja pemerintah.

    Kita ini kan hanya apa sie bang siapa hari ini yang mau mendengarkan kita mengobrol dan berbicara?

  2. onie says

    setuju…
    memang perlu perubahan besar-besaran. dan harus berdarah-darah dikit. biar tuntas semua yang selama ini menghalangi pembentukan indonesia yang baru. wih kok ngeri ya, maklum capek mas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s