Kita memang bukan bangsa tempe

Leave a comment
Current issues

Tentu kita tidak akan bisa dengan enteng menjelaskan konteks ungkapan “kita bukan bangsa tempe!” yang lantang diucapkan Soekarno dan masih bergaung hingga kini, seenteng kita menafsirkan ungkapan dan menggunakannya secara serampangan seperti banyak kita temui kini. Tempe kerap dikaitkan sifat kemalasan, dan mungkin dalam hati peminjam ungkapan itu dalam hati atau benaknya mempertentangkan tempe, buah karya leluhur kita, dengan jenis makanan bangsa lain yang mewakili karakter bangsa tersebut. Tapi peminjam kita yang agung tersebut selalu gagal. Semua orang seolah sepakat membenamkan konteks ungkapan dan bahkan ungkapanitu sendiri dalam lautan mitos yang tak terselami.

Tanyalah setiap orang yang dengan sembrono mengucapkan, “kita ini memang bangsa tempe!”. Lalu bangsa apa kita ini? Pilihlah sebuah makanan khas Indonesia yang tepat mewakili karakter bangsa ini. Dalam “bukan bangsa tempe”, yang disajikan kepada pembaca atau pendengar terutama adalah karakter fisik tempe yang kurang menawan dibandingkan tahu dan lembek jika belum diolah lebih lanjut. Jangan-jangan yang dimaksud Soekarno bukan karakter, tapi tempe dalam peta kuliner Indonesia, yang tidak pernah naik pangkat diolah menjadi bentuk lain dan benar-benar diperhatikan keberadaannya. Dari zaman Mataram sampai zaman modern ini bentuk tempe bisa jadi tidak pernah berubah.

Sujiwo Tejo pernah bilang bahwa kita ini bangsa soto. Orang Surabaya yang suka banget makan soto ternyata tidak menghasilkan Soto Surabaya, yang populer malah Soto Madura dan Soto Ambengan. Rasanya beda sekali dengan Soto Tulungagung (yang dalam lidah Surabaya saya sebenarnya lebih tepat disebut Sup Tulungagung), Soto Kadipiro dari Yogya, Soto Kudus, apalagi Coto Makasar.

Seperti itu, Bung, lebih cerdas dan bernas ketimbang sekedar menggunakan makanan kita untuk menggambarkan sifat-sifat buruk. Soto tidak serta merta dikaitkan dengan sifat atau karakter manusia. Sekilas ucapan itu akan langsung tertangkap di kepala kita sebagai “bangsa pemakan dan penggemar soto”. Sayangnya saya belum selesai baca buku tentang Onghokham. Sejarawan yang hobinya makan itu pasti punya ungkapan tersendiri semacam “bangsa tempe”.

Orang Jerman yang suka sekali makan Bratwurst itu rasanya ya nggak pernah kok mengatainya sesama orang Jerman yang malas seperti “Gandum” misalnya. Apalagi sembrono mengumbar ungkapan yang sebenarnya perlu direnungkan lebih jauh.

Belum lama ini kita tertegun bagaimana para petani kedelai menyita perhatian media yang sedang diharu-biru kondisi kesehatan Soeharto. Lalu kita baru sadar bahwa tempe kita ini sekarang diimpor dari Jepang, bahwa pemerintah terlalu all out mengurusi beras dan melupakan tanaman pangan lain termasuk kedelai.

Di Malang orang suka sekali makan Jangan Sambel. Pedas bukan main, Bung! Kapan-kapan kita main ke Malang dan cari sayur yang isinya didominasi tempe dan cabe itu. Dijamin kita sama-sama meringis kepedasan. Daripada kita sama-sama meringis kecut setelah melihat berita soal tempe dan petani kedelai yang sekarang hidupnya morat-marit, yang kemudian disusul iklan sebuah makanan ringan dari Jepang yang terbuat dari kedelai. Keponakan saya suka sekali sama iklan itu. Lucu memang bagi dia, kedelai yang bentuknya biasa kok bisa jadi seperti ninja dan bisa joget-joget. Tapi buat kita? Hehe. Miris mungkin kata yang tepat.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s