Surabaya jadi Hijau

comments 5
Kliping

Langit hitam pekat menyelimuti Surabaya di suatu sore. Hujan turun disertai tiupan angin kencang. Dari balik gorden jendela ruang kerjanya, Tri Rismaharini mengintip keluar. Wajahnya tegang. “Saya selalu panik kalau ada angin kencang, khawatir pohon di jalanan pada roboh,” kata Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya itu.

Sore itu, Tri Risma–sapaan akrabnya–lalu bersiap berkeliling memantau kondisi kebersihan Kota Surabaya. Setelah cuaca lebih baik, Tri Risma beranjak pergi. Mengenakan celana panjang dan kaus biru lengan panjang serta bersandal plastik, perempuan berjilbab itu menyetir sendiri kendaraan dinasnya.

Langsung terjun ke lapangan bukan hal seremonial bagi perempuan 46 tahun ini. Keliling kota tidak hanya dia lakukan menjelang peringatan hari besar, misalnya. Jika tidak ada rapat di kantornya, dia memilih memantau kebersihan jalan, saluran air, dan kondisi taman-taman kota, sekaligus langsung menilai kinerja bawahannya. Bila ada tempat yang masih kotor, anak buahnya yang bertanggung jawab di wilayah itu segera dipanggil untuk membenahi.

Tak jarang dia turun dari mobilnya, memperbaiki tanaman-tanaman yang rusak atau membersihkan spanduk yang terpasang sembarangan. “Petugas kebersihan adalah manusia. Kalau terus diperintah, bisa tersinggung, jadi saya memilih memberi contoh,” katanya.

Sejak diangkat sebagai kepala dinas, dua tahun silam, Tri Risma langsung tancap gas. Dia memimpin anak buahnya menanami jalan-jalan protokol Surabaya dengan aneka jenis tanaman dari kebun bibit Wonorejo. Sebanyak 300 pegawainya yang biasa bekerja di kantor juga dikerahkan. “Mereka saya suruh kerja bakti dua kali seminggu,” katanya. Hasilnya bisa dinikmati sekarang. Sepanjang jalan Ahmad Yani-Darmo-Urip Sumoharjo hingga tengah kota terlihat asri.

Untuk menambah kesejukan, dibangun 13 air mancur di beberapa lokasi strategis, seperti di Monumen Bambu Runcing di Jalan Taman Ade Irma Suryani Nasution serta di perempatan Jalan Pemuda, Gubernur Suryo, Yos Sudarso, dan W.R. Supratman. Ini sedikit mengurangi teriknya suhu udara kota yang rata-rata mencapai 30 derajat Celsius itu.

Tangan dingin perempuan kelahiran Kediri ini juga berhasil menyulap wajah Taman Bungkul, yang dulunya kumuh, menjadi salah satu tempat favorit warga kota. Semula, meski bernama taman, Taman Bungkul tak lebih dari lahan tak terurus, tempat menginap para gelandangan dan pengemis.

Sekarang, rumputnya tertata rapi dikelilingi bunga dan pohon rindang. Taman ini juga dilengkapi sejumlah fasilitas, seperti sarana bermain anak, arena skateboard, jogging track, serta fasilitas akses Internet tanpa kabel. Para pemain saham di dunia maya pun menjadi pengunjung tetap tempat dengan hotspot itu.

Kini, Tri Risma tengah menangani Taman Flora di kawasan Bratang dan mengincar kawasan seluas delapan hektare di Kecamatan Lakarsantri. Area itu rencananya hendak diubah menjadi hutan kota dan pusat flora.

Beberapa lahan kosong yang selama ini terbengkalai, seperti bekas tempat stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), dibenahi. Ada 11 lahan bekas SPBU yang sedang dihijaukan. Hasilnya sudah tampak di Jalan Sulawesi dan Biliton.

Bantaran sungai juga lebih bersih. Tengok saja pinggiran Kali Mas di sepanjang Jalan Ngagel. Tepi sungai yang awalnya hanya semak-semak kini menjadi taman, lengkap dengan tempat jogging dan bangku-bangku semen untuk kongko warga.

Yang terpenting dari semua itu adalah upaya lulusan teknik arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember ini melibatkan warga. Ada yang diajak menjadi “jaga kali” dan “jaga got”. Tugas mereka adalah menjaga agar sesama warga tidak membuang sampah di kali atau selokan. Warga yang tertangkap basah tiga kali membuang sampah sembarangan akan ditangkap dan disidang. Warga juga diajak memilah sampah kering dan basah untuk dijadikan kompos. Usaha ini cukup ampuh mengurangi volume sampah.

Kerja kerasnya menuai berbagai penghargaan, seperti penghargaan pengelolaan lingkungan dari pemerintah Austria dan Green Apple Award London untuk penghijauan kota. Warga yang bermukim di perkampungan padat kini mulai meminta Tri Risma juga menjamah tempat mereka. “Sekarang saya banyak diprotes warga, mengapa yang dibenahi hanya tengah kota,” ujarnya.

(Sumber: Tempo, 31 Desember 2007 – 6 Januari 2008)

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

5 Comments

  1. Salut buat Bu Rismaharini. Semoga Taman Kota di Surabaya tetap asri dan lestari meskipun sudah tidak diawasi bu Ris lagi.
    Salam kenal Bu, saya sekarang lagi buat proposal tesis yang menyangkut Taman Kota. Kasus studi yang saya ambil di Kota Malang. Gagasannya adalah memberi peluang kepada masyarakat untuk ikut menangani masalah Taman Kota secara lebih profesional dengan menyediakan Program Studi Pertamanan di Sekolah Menengah Kejuruan. Produk lulusannya sebagai tenaga madya di bidang taman kota, diharapkan mampu mencari solusi masalah Kebersihan dan Pertamanan di kota-kota (besar) di Indonesia yang rata-rata kurang perhatian terhadap fungsi atupun peranan Taman dalam kehidupan perkotaan.
    Salam.
    Totok Sugiarto
    Mhs Perencanaan Pendidikan.
    PPSUB Universitas Brawijaya, Malang.

  2. yuli says

    buat Bu Rismaharini.

    terimakasih bu.. atas kerja keras nya.. kami warga surabaya.. merasa sangat berterima kasih serta dapat merasakan hasil kerja keras ibu…
    dan juga terima kasih buat artikelnya kita jadi tau siapa yg dibalik pembuatan kota sby jadi indah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s