Bahasa Jawa dan Indonesia

comments 2
Current issues

(Sebuah Kado Ulang Tahun untuk Panjul)

Kemarin aku baru saja membaca sebuah tulisan, judulnya the instance of letter in the unconscious. Tulisan itu mencoba memaparkan pemikiran Jacques Lacan. Letter yang dimaksud di situ ternyata adalah huruf, bukan surat. Huruf, jika dipandang sebagai medium material, tidak bisa dimanipulasi untuk menyesuaikan bahasa. Lacan memuji sikap Stalin yang menolak gagasan menciptakan bahasa komunis yang spesifik, karena memandang bahwa bahasa bukan bagian dari struktur atas. Tulisan itu juga menjelaskan intersubjektivitas. Yah, bisa diduga, dengan cepat aku tersesat di belantara pemikiran Lacan. Aku bahkan belum juga beranjak jauh dari pemikiran Lacan soal mirror stage.

Dalam pemikiranku yang cupet ini dan dalam konteks Bahasa Indonesia, huruf seringkali aku pikirkan dalam kaitannya dengan perubahan tata bahasa Indonesia pada tahun 1970-an. Menurut Clifford Geertz (atau Ben Anderson?), bahasa Indonesia seolah “ditaklukkan” ketika ejaan kita disesuaikan dengan bahasa Melayu.

Mungkin rasa dari “berdjedjalan di dalam roemah” pernah begitu kuatnya tercangkul di dalam hati dibanding “berjejalan di dalam rumah”. Mungkin karena itu hingga kini Ben Anderson lebih suka menggunakan ejaan lama daripada Ejaan Yang Disempurnakan yang sekarang aku gunakan ini, dan sudah begitu dalamnya tertanam di kepalamu.

Seorang teman membuat pembahasan menarik soal hal ini. Menurut dia, bahasa Indonesia begitu kosong. Bahasa Indonesia tidak mampu menandingi kemampuan bahasa Jawa dalam membuat sikap kasar menjadi terasa begitu beradab. “Kados pundi sampean niki…” terasa masih berada dalam batasan peradaban dibandingkan dengan “Bagaimana kamu ini…”

Aku memahaminya seperti ini: sebagai orang Jawa dia kehilangan posisi dan struktur hirarki masyarakat. Dalam berbahasa Jawa kepada sesama orang Jawa, ungkapan itu ditujukan bisa kepada orang dari tingkatan yang sama, atau orang dari tingkatan yang lebih tinggi. Temanku itu jengah dengan anomali masyarakat kontemporer Indonesia. Biar orang Prancis bilang sekarang kita hidup di kebudayaan dan masyarakat postmodern, orang Jawa akan selalu tinggal dalam dan memiliki kenyataan mereka sendiri. Dan bahasa adalah ruang sekaligus alat operasi kenyataan kebudayaan Jawa.

Kita pernah terlibat dalam usaha memisahkan bahasa Indonesia dari penggalan masa lalunya yang kelam. Saat bahasa menjadi bagian dari sebuah struktur yang menindas, di masa Orde Baru. Aku yakin sampai sekarang kamu percaya bahwa usaha ini harus terus dilakukan dan dijaga.

Bahasa Indonesia seperti apa yang mampu membantu bangsa Indonesia memberikan sumbangsih kepada dunia? Dari ranah Jawa yang kau tinggali mungkin kamu bisa memberikan jawaban, seperti halnya Pram atau Cindhil.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

2 Comments

  1. ian_freaky says

    Hmm…
    pembahasan yang menarik tentang perkembangan sebuah tata bahasa Indonesia, yang dikendalai oleh perkembangan jaman dan lifestyle.

    Perkembangan bahasa Indonesia menjadi seperti ini, menurut saya tidak terlepas dari kebutuhan negara akan identitas. Sama seperti kita melihat batik dan wayang, dimana ikon2 tersebut telah mampu mewakili karakteristik bangsa Indonesia di kancah internasional.

    Coba kita kembali pada tahun 70an, dimana bahasa Indonesia berasal dari bahasa melayu. Jika kita tetap mempertahankan ejaan lama kita(bahasa melayu), apakah kita rela hari ini kita akan disebut sebagai negara yang terlahir dari Malaysia? (disini saya berbicara tanpa mengetahui latar belakang dari pembicaraan Clifford Geertz atau Ben Anderson).

    Budaya postmodern tidak bisa dituding sebagai salah satu alasan perubahan makna dan tata bahasa Indonesia. Justru dengan adanya budaya dan masyarakat yang heterogen, malah membuat bahasa tersebut berdiri sama jajar di dunia yang pararel.

    bahasa-bahasa tersebut akan kekal bertahan di dunia, serta masyarakatnya masing-masing. Tanpa meninggalkan essensi dalam berkomunikasi terhadap siapapun.

  2. panjul says

    wah…
    oke… on suatu hari akupun akan mencatat beberapa kalimat disini. untuk membantumu menguraikan bahasa jawa dan indonesia. tapi masalahnya aku bukan orang sastra. nah… aku akan baca ulang dulu bahan-bahan .pdf dari kamu itu. semoga ada yang membantu. aku senang kalau bisa membaca tulisan Umberto Eco lagi. tapi aku bingung mana dulu yang harus dibaca?

    ada pembahasan menarik lagi mengenai prasasti di peninggalan purbakala di asia tenggara. bagaimana huruf menjadi kata, kata memnjadi mantra, mantra menjadi kalimat keterangan.

    Kalau masalah basaha, kemudian tidak bisa kita mengabaikan politik bahasa dan pengaruhnya terhadap kekuasaan. siapa yang berkuasa akan mampu menelusupkan bahasanya kedalam kepala yang di bawahnya. Begitu banyak bahasa terbalik pengucapan dan maksudnya, dari sunda, jawa dan bali. apakah ini juga termasuk dalam politik kekuasaan yang mempengaruhi bahasa yang dulu pernah berlangsung. kemudian mana yang berkuasa maka itulah yang akan di akui. karena ada unsur kekuasaan yang bergerak dengan kebudayaannya yang terus mendesak kebudayaan yang lain. ini semua bergerak secara logis, hanya bagaimana orang bisa menyampaikan bahasanya dengan tingkah laku yang di nilai oleh kalangan awam. kemudian bahasa mana yang akan dihormati dan di agungkan? kita tidak menilik dari bahasa manapun tapi kita lihat saja. Bagaimana bahasa bergerak bersama dengan tingkah-laku budaya dan manusianya.

    perjalanan bahasa sama dengan perjalanan pemikiran. sangat dialektis sebenarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s