Penumpang Nomor Empat D
(sebuah draft cerita) Di dekat Ngawi, dia sempat membuka mata, mengingat sebuah adegan di novel Putu Wijaya, yang sampulnya sangat dia suka; gambar sebuah kereta yang bergerak masuk ke pelataran stasiun. Dulu dia suka berbaring di bangku kosong Stasiun Tugu pada malam hari, menunggu kereta paling terakhir ke Surabaya, bersama dengan para pegawai Perumka, pedagang asongan, dan orang-orang yang dengan mudah kamu temui di kota itu: pengemis, pengembara (sungguh mereka masih ada), pemuda minggat. Orang-orang […]