Muh. Muhaimin Syam Mengenai Paus Yohanes Paulus II

Leave a comment
Tentang kawan / Tokoh

Hands are the heart’s landscape. They split sometimes
like ravines into which an undefined force rolls.
The very same hands which man only opens
when his palms have had their fill of toil.
Now he sees: because of him alone others can walk in peace.
Hands are a landscape. When they split, the pain of their sores
surges free as a stream.
But no thought of pain–
no grandeur in pain alone.
For his own grandeur he does not know how to name.

(I. Material, Karol Wotjyla – Pope John Paul II)


soal romo paus, beliau memang bersahaja. saya pernah membaca darinya sebelum kepergiannya yang pedih minggu lalu; ‘tidak dari dunia tetapi tidak juga tercerabut dari dunia.’ sepertinya ini hanya bisa dimengerti oleh orang yang bergelut dengan amalan religiusitas yang tradisional. saat ziarah kuburku yang terakhir di cirebon ada yang mengatakan begini: ‘jika gusti pengeran pernah berkomunikasi dengan kanjeng nabi maka pilihannya ada dua; kanjeng nabi yang manusia itu diangkat sederajat dengan NYA, atau zat yang maha misterius itu menghambakan diri dan derajatnya setara dengan manusia.’

lalu dia menambahkan: ‘dalam forum para priyayi, antar priyayi berbicara dengan bahasa priyayi. dalam forum rapat akbar (ini jelas merujuk istilah zaman revolusi) saat priyayi bertemu dengan kerumunan kawula alit (rakyat), priyayi yang berapi-api di podium berbicara dengan bahasa kawula alit.’ saya menyimpulkan; tidak ada komunikasi tanpa kesetaraan antara dua pihak yang berkomunikasi. bung, ini bukan untuk berteori komunikasi tetapi sekedar kesimpulan pembicaraan cair di pekuburan mbah halim majalengka cirebon. dengan ini saya jadi bisa mengerti kenapa gusti allah harus menistakan diri di bukit golgota.ini terasa aneh bung, golgota bisa dipotret dengan jernih dari tanah pekuburan majalengka cirebon.

bagi orang kebanyakan yang sering semedi di pekuburan, perkara seperti ini tidak usah dimengerti dengan setumpuk logika yang rumit; bagaimana sang khalik yang mencipta bisa sederajat dengan makhluk yang diciptakannya? kalau bisa lalu lewat bahasa apa? bagi orang kebanyakan, pengetahuan seperti ini memang bukan lahir dari olah otak tetapi olah rasa. ngelmu iku lelaku. tidak sekedar cas cis cus.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s