Tadi malam nonton Istirahatlah, Kata-kata di Titikdua, Ubud. Film biografi penyair Wiji Thukul. Penyair yg hilang di akhir masa Orde Baru.
“Jadi buron itu jauh lebih menakutkan daripada menghadapi sekompi kacang ijo bersenapan lengkap yang membubarkan demonstrasi,” begitu kata Wiji Thukul dalam salah satu kamar persembunyiannya di Pontianak. Film karya sutradara Yosep Anggi Noen ini memang lebih banyak merekam kehidupan Thukul sebagai buronan aparat di era Orde Baru.
Film ini menunjukkan, jadi buronan ga cuma perkara sembunyi atau menghindari kejaran aparat negara, tapi juga menghadapi kejengkelan dan kebosanan2 sehari2 seperti lagi enak2 ngetik di komputer tau2 mati lampu, bayi yg nangis krn takut gelap, toilet umum yg bobrok, antri cukur rambut lalu diserobot tentara, atau berjalan pelan2 di jalanan yg becek dan gelap.
Rasanya kok itu kisah sehari2 kita ya? Padahal kita ini bukan buronan. Di masa Orde Baru, antara buronan politik dan warga taat pajak itu sepertinya beda tipis2 aja.
Satu2nya ketegangan yg saya rasakan di film ini adalah saat Thukul yg ditemani Martin Siregar lagi cukur rambut tiba2 diserobot seorang tentara. Saya mengira adegan berikutnya adalah Thukul ditanya2 oleh pak tentara dgn penuh curiga. Ternyata cuma ditanya dengan santai asalnya dari Jawa bagian mana. Semarang, Solo, Jogja?




Thukul diam saja. Diam di balik topi belel yg menutupi rambutnya yg menggondrong dan luka akibat kena popor senjata di pelipis mata kanannya. Martin yg menjawab santai, mas ini mau pulang ke Jawa karena usaha baksonya habis kena rampok.
Setelah mendapatkan identitas barunya dgn nama Paul, Thukul semakin berani jalan2 di kota persembunyiannya itu. Puncaknya adalah ketika Thukul, Martin dan Thomas nongkrong di pinggir Sungai Kapuas.
Thukul yg lagi pamit kencing diledek oleh Martin, jangan kau pamerkan kami burung kau yg kecil itu!
Dari kegelapan pinggiran Sungai Kapuas Thukul menyahut, wasyuuu!!!
Obrolan lucu itu berakhir dgn Thukul membaca puisinya, kemerdekaan adalah nasi, dimakan jadi tai! Disambut gelak tawa Martin dan Thomas.
Rasanya seperti beneran lagi nongkrong dengan Wiji Thukul atau dengan Gunawan “Cindhil” Maryanto di Blimbingsari, Jogja.
Tapi di Solo, Mbak Sipon istri Thukul masih belum bisa tertawa. Hampir setiap hari rumahnya disatroni polisi dan intel. Bukan cuma aparat negara yg dihadapi Mbak Sipon tapi juga stigma masyarakat sbg istri yg ditinggal pergi suaminya.
Thukul akhirnya memutuskan pulang ke Solo. Sebuah tindakan yang sangat berani utk ukuran saat itu. Thukul sangat tahu resiko yg dihadapinya. Kecemasan akan anak istri dan kegentaran utk menghadapi resiko itu ditunjukkan dari adegan2 yg penuh simbolisme seperti segelas air putih yg dirubung semut atau mimpi Thukul diserbu sekelompok serdadu.
Di akhir film, Mbak Sipon yg diperankan Marissa itu menangis. Menangis tdk tahu apakah dgn Thukul pulang itu dia harus senang atau sedih. Yang Mbak Sipon mau cuma Thukul harus ada.
Menanggapi itu, Thukul cuma terdiam lalu menawari Mbak Sipon segelas air putih lalu kembali ke ruang belakang.
Wiji Thukul kemudian kembali ke Pontianak. Pada tahun 1997 dia ke Jakarta utk ikut bergabung dgn demonstrasi2. Thukul terakhir berkomunikasi dgn keluarganya pada Mei 1998 tdk lama sebelum Soeharto lengser.
Setelah itu tdk ada kabar lagi hingga skrg.
Mbak Sipon skrg sudah meninggal dunia. Kedua anak Thukul sdh besar. Seusai pemutaran film, Mas Anggi sang sutradara bilang kalau film ini seharusnya sdh tdk relevan. Tapi skrg ternyata malah makin relevan.
Bagi saya, film ini masih akan semakin relevan, sekalipun sdh ada mahar perdamaian, sekalipun soeharto sdh dipahlawankan oleh prabowo, sekalipun pemerintah sdh siap dgn KUHAP baru dan seperti tdk ada perlawanan nyata di jalanan. Karena seperti tulis Wiji Thukul:
istirahatlah kata-kata
jangan menyembur-nyembur
orang-orang bisu
kembalilah ke dalam rahim
segala tangis dan kebusukan
….
tidurlah, kata-kata
kita bangkit nanti
menghimpun tuntutan-tuntutan
yang miskin papa dan dihancurkan
nanti kita akan mengucapkan
bersama tindakan
bikin perhitungan
tak bisa lagi ditahan-tahan