Membaca Pedro Paramo

Leave a comment
Buku

Novel ini dibuka dengan pesan sang ibu yang sekarat kepada anaknya, Juan Preciado, untuk pergi ke sebuah kota bernama Comala mencari ayahnya. “Jangan minta apa2 selain milik kita. Yang seharusnya dia berikan kepadaku…” Demikian kira2 pesan sang Ibu dalam terjemahan saya. Ah, ternyata buku ini sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Ga nyangka. Sama ga nyangkanya ketika nemu terjemahan Burmese Days (George Orwell). 


Setibanya di Comala, Juan Preciado bertemu dengan Abundio, lalu kemudian dengan Eduviges Dyada. Eduviges sudah tahu bahwa Juan adalah anak Dolores Preciado. Dolores menghubunginya seminggu sebelum Juan Preciado ke Comala. 


Setelah itu bertemu Damiana Cisneros, orang yg merawatnya saat baru dilahirkan. Damiana mengatakan bahwa Eduviges Dyada sudah mati. Sampai di situ saya baru ngeh bahwa ini adalah novel soal orang2 yang sudah mati, tapi masih enggan meninggalkan atau tepatnya, tidak bisa meninggalkan dunia. 


Naratornya berganti2 antara Juan Preciado, Dorotea, dan Pedro Paramo sendiri. Dialog2nya bercampur antara dialog orang yg masih hidup dan dialog antara mayat di dalam kuburan mereka. 


Keanehan itu bercampur dengan kerumitan cerita; Pedro Paramo yang ternyata menikahi Dolores karena berhutang pada Fulgor Sedano sang pemilik ranch Media Luna, Susana San Juan kekasih Pedro Paramo, Eduviges yang nyaris jadi ibu Juan Preciado karena menggantikan Dolores di malam pertama setelah pernikahannya dengan Pedro Paramo tapi toh mereka ga ngapa2in krn Pedro cuma tidur dan ngorok semalaman, dan Miguel Paramo saudara kandung Juan yang menyandang nama keluarga bapakanya (tdk seperti Juan yang menyandang nama ibunya). 


Di sini lah surga, kata Dorotea pada Juan Preciado (hal.66), di Comala, bukan Comala yang hidup tapi Comala yang penuh dengan gema masa lalu (hal.44), yang ia tinggali sebagai arwah karena tidak diterima di surga. 
Beda seperti Macondo di Seratus Tahun Kesunyian (yang katanya terinspirasi dari Pedro Paramo) yang fiktif, Comala benar2 ada di Meksiko. 
Saya harus membaca lagi novel ini (seperti yang disarankan Susan Sontag di kata pengantar) untuk memahami apakah wasiat sang ibunda dipenuhi oleh Juan Preciado? Apakah cinta Dolores pada Pedro Paramo benar2 sia2 karena Pedro lebih mencintai Susana San Juan? Apakah kenangan itu membebani perjalanan manusia dan orang2 yang dia sayangi setelah dia mati? 


Untuk sementara saya simpan dulu semua pertanyaan itu, karena mau masak pokcoy dan doa Rosario di Kombas baru sa.

The Author

Sementara ini tinggal di Timika, Papua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s